Truyen3h.Co

BLUE JEANS

9

authoriya

             

https://www.youtube.com/watch?v=-e4klwJJwAg

9Tahun kemudian.

"AKU INGIN melihat laporan keuangan bulan ini, bisa?" kataku sambil mengembalikan dokumen laporan penjualan kepada Juri, staff finance Perusahan.

Juri menganggukan kepala. "Segera setelah kami menyelesaikannya."

"Baik," kuanggukan kepala. "Kau boleh pulang." Kataku kepadanya.

Setelah Juri pamit keluar, aku bersandar pada kursi yang kududuki dan memijat keningku pelan. Jujur saja aku sudah pusing sekali perkara hal-hal semacam ini dan aku ingin sekali liburan keluar negeri, tapi aku tidak punya waktu. Bukan karena aku ikut bekerja—ayolah aku bosikan kalengan sekarang—tapi karena aku sepertinya sudah mendedikasikan sebagian dari hidupku pada perusahaan ini. Jujur saja, aku bahkan tidak percaya kalau aku berakhir di sini bahkan sebelum aku menemukan cita-cita baruku—menjadi ibu-ibu sosialita masih menjadi tujuanku saat itu—namun keadaan memaksaku untuk mengubur dalam-dalam impianku.

Aku dipaksa untuk menjadi Suzy yang lain oleh dunia. Aku dipaksa tumbuh lebih cepat dengan mengurus perusahaan peninggalan keluargaku yang kini sudah semakin pesat. Namaku masuk di forbes 30 under 30, aku berhasil memecahkan rekor dunia, menjadi kover di majalah-majalah bisnis dan fashion dalam tiga bulan berturut-turut. Fotoku terpajang di New York Time Square sebagai salah satu orang paling berpengaruh termuda dengan pencapaianku sekarang. Aku mencetak sejarah yang bahkan tadinya, kupikir, kalau sahabat laki-lakiku itu yang akan melakukannya. Itu bayanganku kepada Myungsoo dulu, tapi malah aku yang ada di sini sekarang... hidup selucu itu.

Ibuku pensiun dini dari posisinya karena tumoryang ia derita, aku baru tahu kalau Ibu sakit ketika dia tiba-tiba pingsan dan di larikan ke rumah sakit. Asisten Ibu mengatakan kalau Ibu memang sudah mengidap penyakit itu sejak satu setengah tahun yang lalu, namun Ibu sengaja merahasiakannya kepadaku. Aku tidak sempat marah karena aku menangis sejadi-jadinya.

Ponselku berdering. Aku mengambilnya dan menemukan nama Hayang di layar. Kugeser ikon pada layar dan menggangkat.

"Ap—"

"Kau di mana?"

"Ruanganku laa, di mana lagi."

"Cepat turun sekarang. Aku menunggumu di lobi."

"Kau sudah pulang dari Jeju?" tanyaku heran. Hayang jelas tidak seperti biasanya.

"Sudah."

Aku menaikkan alis, tumben sekali diatidak sibuk minta di susul. Biasanya Hayang ini selalu merepotkanku, memintaku mengirim Personal Asistenku untuk menjemputnya di Bandara tiap kali dia pulang dari dinas di luar kota. Aku jelas tahu betul itu cuma akal-akalan Hayang saja karena si tulang lunak itu naksir berat dengan PA-ku. Hah!

Makanya aku sekarang jadi keheranan karena dia "tidak seperti biasanya".

Aku langsung memutuskan panggilan telepon kami, dan membereskan meja sebelum mengambil tas dan segera keluar menuju lift. Pandanganku ke atas menatap nomorator yang bergerak turun sesuai dengan nomor yang kupencet tadi. Aku menunggu hingga bunyi ding!! terdengar, lalu pintu lift dibuka. Kulangkahkan kaki keluar dan pendengaranku langsung dipenuhi dengan suara Hayang yang tidak merdu itu. Oh my god!

"SUZZ!" teriak Hayang seraya berlari kearahku dengan cara berlebihan.

Aku mengaduh ketika tubuhku sudah masuk kedalam pelukan eratnya. Bisa kulihat beberapa pegawaiku yang berada di sana nampak tersenyum kecil melihat pemandangan yang sudah biasa ini. Hayang ini membuatku jadi bos yang suka ditertawai oleh pegawainya. Kurang ajar memang!

"OMG OMG rindu sekali!" katanya, semakin mengeratkan pelukannya padaku sampai-sampai membuatku sesak.

"Sedikit lagi kau akan membunuh wanita paling berpengaruh di Negeri ini."

"Maaf, maaf," Hayang tersenyum seraya melepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan wajah berbinarnya. "Seminggu disana membuatku sadar kalau hidup tanpamu itu benar-benar membosankan!" keluhnya.

Aku menaikkan alis, berpikir sebentar. Hmm, ulang tahunnya jelas masih lama, jadi dia mengatakan ini bukan karena ingin diberikan hadiah mahal.

Tumben sekali...

"Kau sedang kerasukan hantu laut ya?" kataku menyipitkan mata, telapak tanganku kuarahkan di kening Hayang, memeriksa.

"Aih," dia menyingkirkan telapak tanganku dengan menggerutkan dahi. Menatapku. "Aku serius."

"Aku tahu aku memang ngangenin."

"Tapi, kau harus menikah."

"Apa hubungannya?"

Hayang mengangkat alis. "Menurut keluarga Asiaku wanita kisaran umur 29-30an walaupun sudah sesukses apapun kalau belum menikah ya tidak bisa dikatakan sukses."

Kuputar bola mata, lalu melangkahkan kaki ke lobi. "Aku tidak peduli omongan keluarga Asiamu."

Hayang mengikutiku dari samping. "Aku juga sebenarnya tidak peduli."

"Tentu saja, kau kan laki-laki."

"Aku feminim."

"Feminim hanya untuk wanita, Hayang." Kataku. Menunggu asistenku yang sedang mengambil mobil.

"Ugh! Dasar menyebalkan!" gerutu Hayang.

Aku tersenyum. Lalu meliriknya. "Kautumben sekali tidak minta dijemput Asahi?"

Hayang menaikkan bahunya. "Aku hanya tidak ingin dia lelah. Wajahnya lelah sekali ketika kulihat di status SNS."

"Asahi mengunggahnya?"

"Bukan," Hayang menggeleng. "temannya yang kerja di sini juga, aku kan menstalk."

"Bukan main." Aku geleng-geleng. "Kau menstalk karyawanku?"

Hayang mengangguk santai dengan wajah kusutnya. Dia jelas kelihatan lelah juga, tapi anehnya bukannya dia pulang, dia malah menghampiriku di sini.

"Nah itu dia!" tunjuk Hayang dengan mata berbinar. Tak lama mobilku kelihatan lalu berhenti tepat di depan kami berdiri. Asahi muncul dari dalam mobil dan Hayang langsung seperti cacing kerasukan. "Hai, Asahi!"

Asahi tersenyum, tidak menjawab. Aku menahan diri untuk tidak tertawa.

Asahi membukakan pintu untukku dan mempersilakan aku untuk masuk. Kulirik Hayang sebentar, lalu kembali menatap Asahi. "Kau boleh pulang."

"APA!?"

Itu suara Hayang. Dia menatapku melotot—kalau aku anak kecil aku jelas akan langsung teriak kabur karena ketakutan—seram. Aku tersenyum, lalu menatap Asahi lagi. "Kau kelihatan lelah sekali, jadi kau boleh pulang. Lagipula ada Hayang yang bisa menyetiriku, kami akan pergi dulu."

"Aku bisa mengantarmu. Aku tidak lelah." Kata Asahi.

Kulirik kembali Hayang yang memberikan kode-kode aneh dengan mengedipkan mata seperti orang cacingan kepadaku. Aku sih mengerti apa maksudnya, tapi aku tidak akan mengabulkan keinginan Hayang. Suruh siapa dia tadi tidak minta di jemput Asahi, kesempatannya sudah habis sekarang.

"Pulanglah, Asahi."

Asahi nampak ingin menolak karena tidak enak, tapi melihatku mengangguk final, dia akhirnya mengangguk dan sedikit membungkuk. "Aku akan pulang setelah melihat Bu bos pergi."

Kuanggukan kepala. Lalu, menatap Hayang. "Ayo."

"Aku malas menyetir." Gerutu Hayang, lalu masuk ke dalam kursi penumpang.

Sialan si tulang lunak ini.

"Hei, memangnya aku supirmu?"

"Memangnya aku juga supirmu?" seru Hayang dari dalam mobil.

Aku berdecak. Menatap Asahi sebentar.

"Aku saja yang—"

"Tidak perlu." Kupotong kalimatnya, lalu naik ke dalam mobil.

Asahi menunduk memberikan hormat sampai mobil keluar lingkungan perusahaan.

Aku menatap Hayang yang duduk dengan bibirnya yang maju sampai lima senti itu. "Kau kan bilang kalau kau kasihan melihat Asahi kelelahan."

"Ya tapi buka disuruh pulang juga kali, aku kan ingin bertemu dengannya dan diantar pulang."

"Suruh siapa kau bilang begitu, aku manatahu." Jawabku.

"Aish, kau memang menyebalkan."

"Seseorang mungkin sedang rindu berat dengan sifat menyebalkanku ini, Hayang."

"Orang itu mungkin sudah menikah. Siapa yang mau menunggu balasan pesan selama 2 tahun."

"Kalau dia menikah ya aku tinggal menikah denganmu."

"Tidak." Hayang menggeleng keras. "Meskipun kau kaya raya, aku tetap akan memilih mulai dari nol bersama Asahi."

"Dia punya pacar. Perempuan."

"Dan aku akan menjadi pacar laki-lakinya."Jawab Hayang dengan santai.

Dasar sinting.

"SUZZ, kau bisa menyetir tidak? Astaga, aku hampir kiamat!" seru Hayang dengan panik saat tiba-tiba aku mengerem mendadak. Ini bukan salahku, ini salah mobil di depanku yang ugal-ugalan dan berhenti mendadak. Membuatku menekan klakson panjang.

"Aku tidak bisa menyetir. Kau kan tahu."

"Aish!"

"Harusnya kau tadi yang membawanya."

"Aku lupa disetiri olehmu sama saja seperti menyerahkan diri pada kematian."

Kuanggukan kepala, aku mengerutkan dahi ketika pengendara mobil di depanku tidak juga keluar dari mobilnya untuk meminta maaf. Ck, dasar orang udik!

Kulepas safetybelt-ku dan membuka pintu.

"Suzz, kau mau kemana?"

"Mendatangi si pemilik mobil itu laa!" kataku.

"Tidak usah macam-macam deh, ayo pergi saja. Aku malas adu mulut."

"Dia yang salah, kalau tadi kita sampai masuk berita dan masuk rumah sakit, bagaimana coba?"

Hayang mendesah. "Kita juga salah karena tidak menjaga jarak."

"Kau pikir kita sedang karantina sampai menjaga jarak segala?"

"Aduh, pantas saja kau tidak lulus-lulus ujian menyetir." Hayang menggerutu. "Hei, kau mau kemana, Suzz!?"

Aku sudah menutup pintu. Tidak lagi kudengar suara Hayang di dalam sana karena langkah kupercepat ke arah mobil hitam sialan di depanku ini. Awas saja! Aku akan memarahiny—

...

Pandanganku lurus menatap kepada seseorang yang keluar dari dalam mobil itu. Berdiri dengan jas hitam yang membalut sempurna. Dia melepas kacamata hitamnya dan kami bertatapan lama.

Itu dia.

Dalam jarak sentuh seperti sekarang, aku bisa mengenali aroma parfumnya dan juga wajahnya yang tidak berubah. Dia tetap dia, tidak kurang sedikitpun.

  

***

 Sori ya klo misalnya ni dempet2 ga berspasi,aneh bgt ni wp:( mana aku gabisa buka lewat aplikasi huhu😞

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co