Truyen3h.Co

BLUE JEANS

6

authoriya

ANGIN sepoi-sepoi ini sungguh menyenangkan daripada sebuah benda pendingin buatan di rumahku. Aku serius. Yah walaupun pada kenyataannya aku lebih memilih berada di dalam kamar seharian daripada harus keluar rumah mencari udara—kalau Myungsoo suka bilang—segar.

Mungkin karena suasana baru yang pertama kali kulihat ya yang nyatanya memang bisa isi kepalaku diam sebentar. Aku tidak munafik, di sini memang menenangkan sekali. Apakah Myungsoo dan teman-temannya suka ke tempat-tempat seperti ini? Hmm... aku jadi iri.

Tapi, jika di minta untuk memilih pun rasanya aku tidak akan memilih ikut klub fotografi, selain karena aku tidak mahir mengutak-atik kamera, aku juga tidak suka bergaul dengan sembarang orang. Nah kan... yuck!

Aku langsung merinding ketika melihat salah seorang anggota klub ini yang sedang memakan roti isiannya dengan sangat lahap. Saking lahapnya aku bahkan bisa melihat roti-roti itu dalam setiap kunyahannya. Oh my god, ew!

Dengan cepat aku langsung mengalihkan pandanganku dari orang itu. Sialan, kenapa juga dia bukannya seperti ikut yang lain hunting foto tapi malah asyik makan di sini. Aneh sekali.

“Suzy-ssi, kau mau?” suaranya terdengar menawariku dengan mulutnya yang masih mengunyah.

Oh my god. Jangan sampai aku muntah ya.

Kulirik dia tanpa meliriknya dengan benar sambil menggelengkan kepalaku. “Tidak.”

“Aku masih ada. Aku serius menawarimu.” Ucapnya lagi masih bersikeras menawariku. Pikiranku berkhianat dengan membayangkan mulut orang itu yang penuh dengan roti isi dan seketika rasa mual langsung mengaduk-aduk perutku.

Kali ini aku menyesal kenapa tidak mengekori Myungsoo saja daripada duduk di sini sambil melamun. Sialan, kalau tahu orang ini yang akan menemaniku aku pasti akan langsung mengubah pilihanku tadi.

"Tidak." kataku, kali ini aku tidak menoleh ke arahnya. Aku jelas di maklumi karena ini termasuk pertahanan diri, tahu?

“Kau yak—“

Sialan!” Kataku sambil berdiri. Aku langsung mengambil topi dan kacamataku—kemudian kupakai—dan langsung melangkah pergi. Selain aneh dia juga berisik sekali. Kenapa dia tidak peka coba? Aku kan sudah menjawab pertanyaannya dengan singkat dan jelas.

Meskipun aku tidak tahu mau kemana, yang jelas sekarang aku lebih lega karena terbebas dari si rakus itu.

Pandanganku lurus ke depan, tidak sampai satu meter dari tempatku berdiri terdapat jembatan dengan sungai buatan di bawahnya. Pohon sakura berguguran memenuhi sepanjang jalanku sampai ke jembatan itu. Aku langsung mengeluarkan ponsel dan mengambil foto.

“Cantik sekali.” Kataku sambil mengetikan keterangan sebelum mengunggahnya ke SNS-ku. Hashtag FaceofSuzy Hahstag Sakura Hashtag Wanitacantik.

Tidak menunggu semenit kolom komentar pada unggahanku langsung dipenuhi oleh komentar positif dan membangun. Mantap. Aku benar-benar suka teman dunia mayaku yang solid begini.

Senyumanku terbit seraya kedua mataku membaca komentar-komentar itu.

Kau cantik sekali!

Bagaimana bisa ada orang memiliki garis wajah secantikmu! T-T  iri!

Aku suka bunga sakura, tapi ketika melihatmu foto dengan bunga favoritku aku jadi lebih menyukaimu!

Mundur semua. Dia punyaku!

         -          Gila

         -          Psikopat

         -          Mimpimu tinggi sekali, teman.

Kau punya pacar?

Bau uang sampai ke sini.

Mesin ATM sedang berfoto dengan sakura.

Unnie, aku ingin bertemu denganmu!

Kalau dia sampai mengambil endorsement, aku akan membeli semua yang dia kenakan!

Salfok, kalungmu beli dimana?

Pandanganku langsung turun dan menatap ke arah kalung yang sepanjang hari selalu kupakai, biasanya aku selalu memasukkannya ke dalam baju, tapi sepertinya kali ini dia tidak sengaja kelihatan. Aku segera menyembunyikan kalung itu lagi.

Itu adalah kalung pemberian Myungsoo pada ulang tahun dua tahun lalu. Dia membeli ini dengan uang yang dia menangkan dari lomba fotografinya di London. Kalung putih dengan bandul berbentuk hati ini sangat mahal dan edisi terbatas. Mereka hanya menjual 10 di dunia dan aku berhasil mendapatkannya satu. Maksudku Myungsoo yang berhasil mendapatkannya satu, dan dia berikan kepadaku sahabatnya yang paling cantik sedunia.

Klik!

Suara bidikan kamera membuatku seketika langsung menoleh, kupikir ada paparazi yang sampai ke sini mengikutiku—aku menyebut fans adalah paparazi—tapi saat kutemukan senyuman super lebar dari pria berjaket cokelat yang berdiri tak jauh dariku, aku langsung melotot.

“Aku tidak suka diambil foto sembarangan.” Kataku pada Jinu.

Masih dengan senyumannya dia melangkah mendekatiku. “kau cantik. Sangat fotogenik.”

“Aku memang cantik,” kataku. Tidak usah pakai embel-embel fotogenik juga aku tetap saja cantik. Sama seperti ketika dilihat langsung maupun dari foto. “hapus foto itu.”

“Jadi, kau benar benci difoto?” Jinu menatapku dengan alis terangkat. Bukannya langsung menghapus saja foto itu dia malah banyak tanya. “bukankah pengikutmu banyak di sosial media? Dan kau aktif mengunggah fotomu.” Lanjutnya. Dia memperhatikanku eh?

Aku bilang juga apa, dia dan Mino itu sama saja suka menganalisa perempuan. Mereka berselancar terlalu jauh untuk mendapatkan target. Ckck, dasar musang!

“Aku merasa terganggu jika orang lain mengambil fotoku. Kau tahu dengan wajah sepertiku semua orang jelas punya fantasi mereka.” Jawabku seraya memasukkan ponsel ke dalam tas. Aku tidak asal bicara soal yang satu ini, sekarang kan lagi marak-maraknya hal seperti itu. Tidak ada rasa malu dan rasa kemanusiaan, mereka hanya memikirkan hawa napsu-nya saja. Tidak heran banyak sekali oknum-oknum yang ditangkap oleh polisi karena hal seperti itu. Menjijikkan.

“Ada benarnya.” Jinu  mengangguk-anggukan kepala. Dia mungkin setuju dengan apa yang kukatakan—atau pura-pura setuju—entah lah, dia kan laki-laki. Dan dia sama seperti Mino. Well, meskipun aku tidak bisa memukul rata sifat liar laki-laki karena di dunia ini aku mengenal tiga laki-laki dengan akhlak terpuji tanpa cela; kesatu, ayahku. Kedua, ayah Myungsoo. Ketiga, Myungsoo.

Ketiga orang itu adalah orang-orang yang jelas tidak akan menyakiti, mengganggu, dan melakukan hal-hal tidak terpuji pada wanita. Aku bahkan pernah menguji Myungsoo dengan mencium bibirnya ketika umur kami 17 tahun. Itu kuberikan sebagai hadiah ulang tahun untuk Myungsoo karena aku tahu Myungsoo belum pernah melakukan ciuman pertamanya. Dia memang kuno sekali. Dan lebih kuno karena dia langsung mendorongku dan pergi begitu saja. Saat itu kalau diingat-ingat, akulah sepertinya yang punya sikap tidak terpuji ya...? hmm, baru sadar.

Tapi, aku kan melakukan itu supaya Myungsoo tidak diejek oleh teman-temannya karena belum pernah ciuman. Aku hanya membantu Myungsoo, yah walaupun bantuanku sepertinya sia-sia karena Myungsoo bahkan tidak kelihatan berkencan dengan siapa-siapa. Dan teman-temannya (selain di klub photografi tentu saja!) sangat amat...kutu buku. Mereka lebih baik membahas bagaimana bisa menaiki pesawat sampai ke planet lain daripada membahas soal ciuman pertama. Haduh.

“Suzy?”

Aku menoleh. Sepertinya aku mulai gila dengan berbicara dalam hati begini. Kutatap Jinu yang sudah berdiri dalam jarak sentuhku. Lelaki ini jelas tampan dan berkarisma, dia punya selera fashion yang bagus, dia tinggi, dan tampan. Kameranya juga sama seperti milik Myungsoo—berarti dia tidak kekurangan uang—yang lumayan mahal. Jinu menata rambutnya dengan sangat hati-hati dia jelas suka berdandan. Aku suka karena dia tidak bau badan.

“...boleh?”

Apanya yang boleh?

Menolak untuk di cap sebagai wanita bengong, aku langsung menjawab satu dari dua pilihan jawaban yang pasti. Boleh atau tidak boleh.

“Boleh saja, tapi—“

“Ini,” Jinu menyodorkan ponselnya dengan senyuman lebar. Aku bingung sekali sekarang. Sepertinya aku harus memilih di cap sebagai wanita bingung daripada pura-pura mengerti.

“Huh?”

Jinu menggoyangkan ponsel ditangannya. “Katanya aku boleh mengirimi foto yang kuambil tadi kepadamu. Jadi aku minta nomormu.”

“Aku tidak memberikan nomorku ke sembarang orang.” Jawabku sambil mengerutkan dahi. Apa yang dia pikirkan coba?

“Tapi, bukankah aku bukan sembarang orang?”

Pede sekali. Kuangkat kedua alisku. Kalau dia punya alasan cukup menarik, aku bisa mempertimbangkan untuk memberikan nomor ponselku kepadanya. Karena biasanya aku memakai nomor Myungsoo untuk apa-apa—bahkan untuk belanja online—jadi nomorku ini sangat khusus, paham?

“Kita sudah mengobrol tiga kali. Kukatakan mengobrol bukan hanya saling menyapa. Bahkan orang asing tidak menjadi asing ketika mereka mengobrol di pertemuan pertama mereka, ‘kan?”

Masuk akal, tapi... “Tapi kita bukan teman.” Kataku kepada Jinu.

Jinu diam. Kedua matanya lurus menatapku, pelan-pelan, dia menyunggingkan senyumnya. Bukan jenis senyuman menggoda atau senyuman geli. Tapi senyuman yang serius? Ntahlah aku pusing memikirkannya. Pokoknya dia tersenyum kepadaku.

Lalu, dia berkata. “Kalau begitu bagaimana kalau aku meminta nomormu sebagai seorang pria yang tertarik padamu?”

“Maksudmu kalu ingin pendekatan denganku?”

Jinu langsung mengangguk.

Aku menggeleng. Dia sudah gila rupanya. Bukankah aku sudah pernah mengatakan kalau aku tidak mau berhubungan dengan sirkelnya Mino lagi. Kuembuskan napas, kemudian membenarkan rambutku yang terbang mengenai wajah karena tertiup angin.

“Kau bisa mengirimkan di DM SNS-ku kalau kau mau. Atau kau bisa langsung menghapusnya, Jinu.” Kataku. Lalu melanjutkan langkah. Aku benar-benar heran kenapa banyak laki-laki seperti Jinu dan Mino. Harusnya perbanyak yang seperti Myungsoo yang bisa kuandalkan dan kumanfaatkan.

“Jadi, aku boleh mengirimimu pesan di sana?”

Aku kaget, kupikir Jinu tidak akan mengikutiku dan berhenti sampai pembicaraan yang tadi. Ternyata dia pantang menyerah juga ya orangnya... hmm. Satu poin yang berbeda dari Mino.

“Mm.” Kuanggukan kepala singkat.

“Tidak masalah, aku akan merangkak dari bawah untuk bisa sampai di level yang kau anggap teman itu.” Katanya. Aku melihat dari ekor mata kalau dia sedang mengeluarkan cengiran bodohnya. Oh my god.

Aku tidak mau komentar lagi.

“Kau dan Myungsoo sudah berteman lama ya? Kalian nampak akrab, awal sebelum tahu kalau kau bersama Mino, kupikir kau kekasihnya Myungsoo.”

“Kami teman sejak kecil.”

Myungsoo bahkan tahu hari pertama aku menstruasi karena aku sedang di kamarnya ketika tiba-tiba aku pendarahan dahsyat. Kupikir aku akan mati karena kehabisan darah saat itu, tapi kata Myungsoo aku sedang mestruasi. Iya, benar, Myungsoo yang malah lebih tahu daripada aku.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya sahabatku satu itu sedikit lebih paham soal wanita daripada aku yang wanita ini ya?

“Kau pernah jatuh cinta dengannya?” tanya Jinu.

“Tidak.” Jawabku cepat. Pertanyaan yang aneh.

Aku mengerutkan dahi ketika pandanganku dipenuhi oleh dua orang yang sedang asyik dengan dunia mereka—maksudku mengobrol, tertawa, sambil memotret—sendiri. Woah, aku bahkan tidak ingat kapan Myungsoo tertawa denganku. Maksudku, selain dia menertawai kecerobohanku ya. Tertawa bersama maksudku.

Aku langsung cemberut, dengan cepat aku memanggil Myungsoo sampai orang itu menoleh. Aku mati kebosanan dan dia malah tertawa-tawa di sini. Woah... teman terbaik memang.

“Suzy?”

“Iya aku Suzy. Belum berubah menjadi Miranda Kerr.” Jawabku seraya melangkah mendekat. Aku mendelikkan mata pada wanita yang tadi menumpang di mobil Myungsoo juga itu yang kuketahui bernama Eunha. Aku benar-benar tidak suka dengannya sekarang. Dia bahkan tidak menegorku dan sibuk mencari topik untuk bicara dengan Myungsoo sepanjang perjalanan.

Myungsoo menatap ke arah Jinu, lalu kembali menatapku. “Katamu tadi tidak mau ikut.”

“Aku berubah pikiran.” Jawabku singkat. “Apa yang kau foto?”

“Banyak.”

Sungguh jawaban yang menjawab pertanyaanku.

“Jinu tadi memotretku di jembatan sana. Lumayan juga. Kenapa kalian tidak memotret pemandangan di sana, bunga sakura yang mekar jelas semakin mempercantik pemandangan.”

“Kami memang akan ke sana.” Itu suara Eunha. Ew, demi Tuhan aku tidak bertanya tuh!

Aku mencoba tidak menganggapnya ada, lalu bicara lagi ke Myungsoo. “Aku lapar sekali...”

“Sebentar lagi kita pulang.” Jawabnya.

Aku tersenyum. “Aku ingin makan ayam pedas.”

“Terakhir kau makan ayam pedas kau kena diare, Suzy. Tidak boleh.”

Aku cemberut. Dia kumat lagi menyebalkannya. Kutolehkan kepala ke arah Jinu. “Jinu, kau mau makan ayam peda—“

“Suzy.”

Kuembuskan napas, kemudian kembali menatap Myungsoo yang kini nampak sedang memelototiku. Aku ini persis anak kecil yang berada dibawah pengawasannya. Heran.

“Iya, iya. Kau bisa cepat tua kalau suka cerewet begitu. Tetanggaku meninggal karena terlalu cerewet.”

“Tetangga yang mana. Tidak ada tetangga kita yang meninggal, Suzy.”

Oh iya, aku lupa kalau kami punya tetangga yang sama...

***

 kalian apa kabarr? Maaf ya agak lama. Hehehe

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co