Truyen3h.Co

BLUE JEANS

7

authoriya

“SEPERTINYA temanmu yang namanya Eunha-Eunha itu menyukaimu.” Ucapku kepada Myungsoo sambil mengaduk es lemon tea milikku kemudian menyesapnya. Cairan dingin langsung membasahi tenggorokanku membuatku mendesah lega. Aku seperti zombie sedang kehausan tadi. Bayangkan saja, napsu makan dan minumku lenyap karena teman satu ekskul Myungsoo yang tadi itu. Oh my god, sepertinya jika lebih lama lagi di sana aku bisa kehilangan napsu makan sampai sebulan. Aku tidak akan mau ikut Myungsoo lagi kalau ada anak itu. Ugh!

Myungsoo memberikan piring steak yang sudah ia iris ke depanku, menukarnya dengan punyaku. Aku tersenyum menatapnya yang kini fokus dengan irisan steak miliknya. “Andai saja semua mantan pacarku seperti kau, aku yakin aku akan langgeng sampai meninggal.”

Myungsoo menatapku dengan tatapan horornya, aku langsung menambahkan. “Aku tidak akan memintamu menikahiku. Tenang saja.” Kataku setengah menggerutu. “Cih, kau takut sekali.”

“Makanlah. Kau tidak suka makanan dingin kan?”

Aku mengangguk. Lalu menyuapkan seiris daging ke mulutku. “Kau tidak menyukainya kan?”

“Siapa?” tanya Myungsoo menatapku. Dia menyesap minuman dingin di gelasnya dengan santai persis seperti sedang syuting iklan minuman. Harus kuakui sahabatku ini memang tidak jelek.

“Eunha.” Kataku kembali memasukkan garpu ke mulut.

Myungsoo nampak berpikir—aku tahu karena dia mengernyit sebentar—sebelum menjawab pertanyaanku. “Dia baik.”

“Satpam kompleks kita juga baik. Pelayan di resto ini juga baik.” Kataku. Benar-benar jawaban yang aneh.

“Benar.”

Geez... serius?

“Jadi kau menyukainya?”

“Aku menyukai orang yang baik. Eunha juga ramah.”

Kutancapkan garpu ke potongan steakku sambil melotot menatap Myungsoo. “Aku tidak akan merestui ya kalau kau berkencan dengan dia.”

Myungsoo menatapku. “Makanlah, kau sejak tadi hanya menggigiti garpumu tanpa memakan steaknya.”

Memang iya? Aku menunduk dan menyadari kalau potongan steakku memang masih banyak. Tuh kan, ini semua karena membicarakan wanita itu, aku jadi tidak fokus. Menyebalkan!

Tapi, aku menolak mengakui. Kumakan seiris steakku masih dengan membubuhkan tatapanku kepada Myungsoo. Dia juga menatapku dengan pandangan anehnya. Dia senang sekali membuatku naik darah, ck, sahabat macam apa itu!

“Jawab.”

“Apa?”

“Jangan berkencan dengan Eunha.”

Myungsoo diam.

Nah kan, nah kan, dia tidak langsung menjawab. Biasanya Myungsoo akan langsung menuruti omonganku dalam sekali anggukan. Tapi sekarang dia tidak menurut. Aku benar-benar sebal sekali. Jangan bilang dia jatuh cinta juga dengan wanita itu? Duh.

“Kau tidak mau menjawab?”

“Iya.”

“Jadi kau benar-benar tidak mau menjawab!?” aku melolot. Jujur, aku terluka. Baru kali ini Myungsoo tidak mau menjawab—

“Kan aku sudah menjawabnya.”

Hah? Belum.

“Kapan.”

Myungsoo geleng-geleng dan membuka mulutnya kembali. “Iya, kataku.”

Oh... jadi itu jawaban pertanyaan sebelumnya.

Kuanggukan kepala. “Lalu?”

“Lalu apalagi?”

“Kau menyukainya?” tanyaku. Myungsoo membuka mulut, tapi aku buru-buru memotong. "bukan karena dia baik. Maksudku bukan suka yang seperti itu.”

“Tidak. Puas?”

“Puas.” Aku tersenyum. Kuambil sedotan di gelasku dan mengarahkannya ke mulut, lalu aku kembali bertanya. Karena sudah terlanjur membahas soal ini aku akan mengulik dulu. Siapa tahu Myungsoo benar-benar sedang menyukai seseorang kan, jadi aku bisa cari tahu siapa orang itu. Myungsoo ini terlalu polos, aku takut dia jatuh ke tangan yang salah. “Jadi, siapa yang kau sukai?”

“Kau.” Katanya tanpa berpikir.

Aku terbatuk. Sialan. Kutatap Myungsoo dengan kesal. “Aku serius.”

Dia berhenti makan. Meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring, dan menatapku. “Aku serius.”

Aku mengerjap. “Aku tahu kau menyukaiku. Tapi maksudku bukan itu... aduh, aku jadi bingung. Maksudku menyukai lawan jenis.”

“Kau kan lawan jenis.”

Benar juga sih...

“Menyukai wanita yang ingin kau jadikan pacar.” Kataku lagi. Polos sekali sahabatku ini Ya Tuhan...

Dia menatapku lama, lalu menggeleng dan menyesap minumannya langsung dari gelas. “Tidak ada. Aku belum berencana untuk menjalin hubungan romantis sekarang. Aku ingin langsung mengajaknya serius ketika aku sudah menemukan orang yang tepat.”

“Kau harus mengatakan padaku kalau kau sedang jatuh cinta. Janji?”

“Mm.”

“Bagus, anak yang baik.” Aku memujinya.

“Cepat habiskan makananmu. Kita harus pulang sebelum jam 7.”

“Memangnya ada apa?”

“Kita ada janji dengan ibumu.”

“Kita?”

Myungsoo mengangguk santai. Hmm, aku jadi was-was. Kupicingkan mata ke arahnya. “Kau tidak mengatakan soal kejadian tadi kan?”

“Tidak.”

Aku mengembuskan napas lega.

“Tapi, sepertinya asisten ibumu yang mengatakannya.”

Ugh, sial.

***

Kira-kira apa yang harus kukatakan pada ibuku ya? Aku tahu kalau ibu tidak akan memarahiku, tapi aku juga tidak berani jamin soal ini. Ibuku jelas tidak memberikanku izin untuk naik mobil sendiri karena dia trauma—aku juga tapi mencoba denial saja. Makanya kami selalu punya supir pribadi. Hanya saja, aku tidak memiliki supir lagi karena aku kan punya Myungsoo. Ibu juga lebih percaya kalau aku bersama Myungsoo ketimbang dengan supir atau bawa mobil sendiri.

Dan... siapa yang membocorkan kalau aku sampai ke kantor polisi segala coba? Kusipitkan mata, lalu menoleh ke arah Myungsoo di sebelahku.

“Aku tidak memberitahu siapapun.” Katanya seolah tahu kalau aku sedang mencurigainya.

Myungsoo ini sangat peka dan cepat tanggap. Wajar kalau ibuku menyukainya. Tapi, aku tidak bisa langsung percaya dong? Siapa yang tahu kalau Myungsoo ternyata kaki tangan ibu. Ugh, padahal aku tidak pernah mengadu pada ibunya atau ayahnya tiap kali Myungsoo—hm kuingat-ingat dia memang tidak pernah membuat ulah sih...

“Aku benar-benar tidak melakukannya, Suzy.” Ucap Myungsoo dengan menatapku. Aku tahu dia sungguh-sungguh.

Aah... lalu apa yang harus kulakukan coba?

“Ibu tidak akan marah.”

“Tapi dia akan kecewa.” Aku mengeluh. Jujur saja, orang kecewa lebih berefek buruk di ingatanku daripada orang yang marah. Aku pasti akan overthinking setiap detik.

“Aku akan bantu menjelaskannya. Tenang, ya?” Myungsoo meraih tanganku dan menggenggamnya. Kutatap genggaman tangan kami dan langsung menemukan kehangatan di sana. “Aku juga salah karena tidak menjemputmu tadi. Jadi, bukan salahmu sepenuhnya.”

Huff, ibu tidak akan marah pada Myungsoo. Myungsoo itu tidak pernah salah dimata ibuku, nama baiknya itu sangat harus semerbak. Aku tidak melebih-lebihkan, tapi ini benar adanya.

“Ayo.” Ajak Myungsoo keluar setelah mobil berhenti cukup lama di depan rumah.

Aku menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan, lalu menunduk. “Ayo. Aku yakin kalau panggilan ini bukan karena hal yang tadi.”

“Mungkin saja ibumu memberikan kejutan dengan mendatangkan santa claus?”

“Hei, kau pikir aku anak TK? Tidak ada santa claus.”

“Tapi keinginanmu selalu terwujud ketika hari natal.” Ujar Myungsoo.

“Itu karena aku punya Santa Claus-ku sendiri.”

Myungsoo tersenyum lebar, dia jelas kepedean. Tapi aku membiarkannya karena memang itu adalah yang sebenarnya. Langkah kami tepat sampai di depan pintu rumahku, tangan Myungsoo hendak terulur untuk membuka pintu namun kutahan. Aku meraih kedua tangannya dalam genggaman. Kami tatap-tatapan. Dia menatapku heran, tapi aku tidak peduli.

Kujinjitkan sedikit kakiku untuk menyamai tinggi kami, lalu aku mengecup pipinya.

Aku tersenyum. Myungsoo mematung.

“Kau harus terus menjadi santa claus-ku. Mengerti?” kataku, lalu membuka pintu. “Ayo masuk.”

***
Suzy, lo sebenernya tau kan? Ngaku deh!🤨

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co