8
MYUNGSOO itu kepunyaanku. Satu-satunya laki-laki yang ucapannya aku turuti selain Ayahku. Aku jarang membantah tiap kata-katanya kalau sedang kepepet—tentu saja—dan dia tidak pernah mendebatku. Kalau bisa dibilang kami seperti memiliki koneksi khusus dan perjanjian tak kasat mata dan tak terucap. Dulu, ayah Myungsoo selalu mengatakan kalau aku adalah putrinya juga dan jangan sungkan untuk menganggapnya sebagai ayahku. Anggap saja kalau beliau adalah ayah keduaku. Tapi Myungsoo marah dan mendiamiku, kurasa dia takut kasih sayang ayahnya terbagi—maklum lah anak tunggal kaya raya—jadi aku tidak pernah mengeluh pada ayah Myungssoo. Alhasil, aku selalu mengeluh pada Myungsoo. Well, dia memang bisa diandalkan sejak dulu kalau boleh kukatakan. Mungkin karena itu juga kenapa aku sampai sekarang selalu mengandalkan Myungsoo.
"Myungsoo, kau jangan terus membela Suzy. Banyak hal yang dilakukan Suzy itu tidak benar, kau diancam olehnya ya?" tanya ibuku. Ibu duduk sambil bersandar pada sofa panjang di ruang kerjanya, sementara aku dan Myungsoo duduk bersebelahan disofa bersebrangan dengan ibu.
Ini namanya di sidang. Dan aku jelas jadi tersangka utamanya.
aku jarang sekali masuk ke ruangan ini, karena selain ini ruang sakral—tempat ibu banyak menghabiskan waktu atau tamu yang datang selalu diajak ke sini jika itu rekan bisnis—tempat ini menurutku terlalu...tenang. kelewat tenang malah, dan jelas ruangan ini amat sangat sepi.
Aku tidak suka. Menurutku sepi adalah kata yang harus jauh-jauh dariku, karena sepi adalah elegi. Karena sepi bisa menjelaskan yang buram, mengingatkan ingatan yang mulai hilang. Kehilangan dan kesepian adalah dua kolaborasi penghasil mimpi buruk paling mujarab, keduanya adalah hal yang tidak aku sukai.
"Aku tidak membela Suzy karena tidak sepenuhnya salah Suzy, ibu."
"Lalu kenapa sampai ke kantor polisi?" Ibu menatapku dengan pandangan mengintrogasi sebelum kembali menatap Myungsoo dengan kedua tangan masih dalam posisi menyilang di depan dada. "Kenapa kau tidak langsung memberitahu ibu?"
"Ibu," aku menginterupsi. Kasian sekali Myungsoo jadi ikut dimarahi gara-gara aku. Aku gini-gini kan masih punya hati, mana mungkin aku sampai tega membiarkan orang yang tidak bersalah ikutan dimarahi. "Jangan memarahi Myungsoo karena ini adalah salahku."
"Ibu tidak memarahi Myungsoo."
Kutatap Myungsoo, kemudian menghela napas. "Kenapa kau diam saja?" bisikku.
"Aku tidak mau kau dimarahi."
"Tapi, jadi kau yang dimarahi."
"Tidak masalah selagi itu bukan kau. Lagipula ibumu tidak marah."
Aku mendengus. Kudengar Myungsoo kembali bicara, kali ini kepada ibu. "Paman -paman itu yang ngotot ingin ke kantor polisi."
Ibu menghela napas. Sepertinya dia lelah, sama aku juga, jadi lebih baik kita lupakan ini dan pergi tidur. Tapi... sepertinya ibu berpikir berbeda karena beliau kembali bertanya persis seorang petugas polisi. Ugh.
"Lalu, kenapa kau malah bawa mobil? Bukannya ibu sudah bilang kalau kau bersama pak Lee?"
"Bu, dia bau badan. Aku bisa pingsan kalau diantar dia." Kataku, keningku mengerutu tak suka. Bagaimana ibu tidak pernah peka dengan penjelasanku tiap kali ditanya itu coba?
"Hanya karena itu?"
Kuputar bola mata. "Itu tidak hanya karena. Duh, tunggu sampai ibu disopiri dia ibu akan merasakan apa maksudku."
Alih-alih memberikan respons percaya atau respons prihatinnya, ibu malah geleng-geleng tak percaya menatapku. "Kau harus mulai terbiasa Suzy, tidak ada orang lain yang akan mengantarmu."
"Ada Myungsoo," jawabku santai. Ibu lupa ya kalau Myungsoo ini supir terbaikku.Ckck.
"Myungsoo akan pindah."
"APA?" seperti disambar petir di siang bolong, aku melotot kaget dengan apa yang baru saja kudengar. Kutatap ibuku dan Myungsoo dengan pandangan tak percaya. "Myungsoo apa?"
"Kau belum menceritakan pada Suzy?" tanya ibu kepada Myungsoo alih-alih menjawabku.
Belum menceritakan? Jadi, apa yang kudengar itu benar? Myungsoo? Mau pindah?
Ini adalah hal yang sama sekali tidak pernah kubayangkan. Aku bahkan tidak pernah mendengar seseorang membicarakan ini—tidak ada mencoba memberitahuku tentang ini sebelumnya—sejauh ingatanku. Kutatap Myungsoo yang menghela napas, baik, aku sepertinya tidak perlu penjelasannya lagi karena dengan melihat bagaimana Myungsoo sekarang aku tahu kalau apa yang dikatakan ibu, benar.
Aku berdiri. Lalu menatap ibuku, "Aku mendadak hilang konsentrasi, kalau boleh kita lanjutkan pembicaraan ini besok saja, Ibu."
Diluar dugaan Ibu mengangguk dan menyuruh kami untuk keluar. Tatapannya lembut menatapku dan Myungsoo secara bergantian sebelum suaranya mengudara lagi." Kalian punya waktu untuk bicara berdua."
Aku lebih dulu melangkah menuju pintu, menarik gagang pintu sambil mendengar suara Myungsoo yang berpamitan dengan ibu. Aku merasa di kecewakan, tahu tidak? Rasanya bahkan lebih sakit daripada ditinggal pacar.
Kulangkahkan kaki menuju anak tangga pertama sebelum lenganku di sentuh Myungsoo dan suara beratnya yang khas terdengar. "Kita harus bicara."
Kutolehkan kepala. Rasa kesal memenuhi kepalaku. "Aku tidak ingin bicara."
"Suzy,"
"Berhenti memanggil namaku." Aku menahan tangisku supaya tidak pecah. Untuk segala hal yang telah kami lalui bersama sejak kecil, apakah hanya aku yang menganggap hubungan kami begitu penting? Dia tidak? Luar biasa.
Dia bahkan tidak menganggapku sahabat dengan merahasiakan kepergiannya. Dia akan meninggalkanku, padahal dia pernah berjanji kalau dia akan selalu bersamaku.
Kurasakan tangan Myungsoo turun dan menggenggam erat—aku merasakannya—ke sepuluh jemariku. Meskipun nampak remang, aku bisa tahu kalau dua manik mata tajam itu sedang menatap jauh ke dalam manik mataku. Menguncinya.
Aku tidak boleh menangis.
"Aku ingin menceritakan ini padamu sejak dua minggu yang lalu, tapi aku selalu senang saat aku sedang bersamamu. Aku tidak ingin kita berubah seperti ini kalau aku tiba-tiba menceritakan tentang kepindahan kami," katanya berusaha menjelaskan dengan nada super lembut dan pelan. Dia seolah takut kalau dia salah bicara dan membuat kecanggungan ini semakin menjadi. "Kau tahu kan posisimu di dalam hidupku seperti apa?"
"Aku tidak yakin sekarang," aku menggeleng. "Kau harusnya mengatakan padaku sejak awal. Atau memang kau sebenarnya tidak berniat mengatakan itu kepadaku..."
"Suzy,"
"Kau akan meninggalkanku." Aku menunduk, mencoba tidak berkedip agar air mataku tidak jatuh turun. Kutahan napasku hingga membuat penuh di dada, lalu kuembuskan pelan-pelan. Trik ini selalu berhasil membuat air mataku membeku dipelupuk mata.
"Aku janji akan kembali."
"Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak pasti."
"Kau percaya aku kan?"
"Entahlah, aku selalu percaya denganmu, tapi kali ini berbeda."
"Kau harus percaya aku, Suzy," ucapnya. Dia maju satu langkah. "Saat sudah settle, aku akan kembali. Aku akan mengatakan padamu siapa orang yang kusukai."
"Itu tidak penting," aku menggeleng. "Kau boleh dengan siapa saja. Aku tidak akanmelarang, tidak bisakah kau tetap tinggal? Uh?"
Myungsoomengusap puncak kepalaku, dia tidak menjawab, tapi lagi-lagi aku tahu jawabannya. Mendadak airmataku pecah, aku tidak bisa menahannya. Kenapa hari ini begitu berat sih? Apakah ini tandanya aku sudah menjadi dewasa? Atau akusaja yang lebay? Kenapa aku harus melewati hal-hal seperti ini lagi?
Jujursaja, aku merasa ditinggal suami sekarang. Mungkin ini perasaan Min Hyorin saat ditinggal wamil oleh Taeyang ketika mereka baru saja menikah. Tapi masalahnya, Myungsoo dan aku sudah tumbuh bersama sejak kecil, jadi perasaanku jauh lebih kehilangan. Dan bedanya jelas sekali, jika kakak itu tahu kapan suaminya akan pulang, sementara aku harus menunggu dengan ketidakpastian. Entah dia akan kembali, atau dia malah akan berakhir sebagai kenangan yang abadi.
Kulihat Myungsoo mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celana jeans birunya, sebuahamplop surat berwarna biru langit yang sedikit lecak. Dia menadahkan tanganku dan memberikan surat itu untukku genggam. "Aku ingin memberikanmu kenang-kenangan agar kau terus mengingatku."
"Kau pikir aku tidak punya kegiatan lain selain mengingatmu? Jangan salahkan aku kalau saat kau kembali posisimu sudah digantikan orang lain ya?" akumengancamnya.
Myungsoo menatap sendu. "Aku harap aku tetap menjadi sumber nomor satumu dalam segala hal. Tapi, kalau pada akhirnya ada orang lain yang bisa menjagamu, aku tentu akan senang."
"Kim Myungsoo, obrolan macam apa ini. Aku tidak pernah berpikir kalau kita akan mengobrol seperti ini." Kataku sedikit sesegukan. Air mataku tidak mau berhenti keluar, kupikir mataku bocor sekarang. Bagaimana bisa mata indah milikku bocor? Oh my god.
Jemari Myungsoo bergerak menghapus air mata di pipiku, lalu tanpa kuduga dia menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang erat. Pelukan yang hangat.
"Aku sudah lama ingin memelukmu, tapi aku takut kau menendangku."
"Hei,"
"Biarkan seperti ini sebentar," Myungsoo semakin mengeratkan pelukannya. "Kau harus makan teratur, jangan suka mengumpat, telpon dan pesanku harus selalu kau angkat, mengerti?"
"Kalau aku tidak sibuk." Jawabku.
"Kau masih bisa terus menceritakan keluhanmu yang banyak itu kepadaku, dengar, aku akan selalu siap mendengarkannya."
"Kau tahu kalau aku tidak suka teleponan. Aku lebih suka menatap secara langsung." Kataku. Meskipun aku suka bermain sosial media, tapi aku tidak suka terlalu sering berbalas pesan dan saling berteleponan seperti kebanyakan orang. Menurutku hal itu benar-benar merepotkan.
"Kau harus belajar menyukainya mulai sekarang,"
Aku mendengus. Mencoba menarik tubuhku untuk melihatnya, tapi Myungsoo bersikeras tidak mau melepaskannya. Aku mendesah. "Kim Myungsoo,"
"Sebentar lagi." Katanya. Dari suaranya aku bisa merasakan sesuatu. Jangan bilang... "Kau menangis?"
Dia diam. Lama. Sampai akhirnya dia melepaskan pelukan kami, aku langsung menatap matanya. Woah, aku tidak menyangka kalau si cuek ini bisa menangis juga? Aku hebat sekali bisa membuatnya menangis.
"Kau menangis?"
"Aku harus pulang." Dia mengelak menjawab pertanyaanku.
Yaampun lucu sekali. Aku tidak percaya dibalik beratnya hari ini aku bisa menemukan kebahagiaan kecil dengan melihatnya menangis. "Ya, ya, kau harus pulang dan melanjutkan sesi menangismu. Aku senang karena bisa melihatmu menangis. Woah!"
Myungsoo menatapku lurus, aku bertanya "apa?" tanpa suara sambil menahan supaya tidak tertawa. Ini lucu sekali, tapi aku malah seperti psikopat sekarang. Kenapa aku jadi senang melihat orang lain menangis coba? Harusnya kan aku juga berse—
"A-apa?" aku terkejut bukan main ketika Myungsoo menarikku kembali mendekat, Jarak di antara kami semakin kabur dan buram. Aku bahkan bisa langsung merasakan embusan napasnya mengenai wajahku. "A-apa yang kau lakukan?"
Wajah Myungsoo mendekat, terus mendekat, sementara aku tidak bisa bergerak. Sarafku seakan mati sekarang. Oh my god. Apa dia ingin mencium—
Kurasakan wajahku memanas ketika merasakan sesuatu yang lembab menyentuh pipiku.
Dia. Menciumku. Di pipi.
Oh my god.
Bahkan ketika Myungsoo menjauhkan diri kami dan pamit pulang, aku bisa mendengar detak jantungku yang berubah menggila. Kutatap punggung yang semakin menjauh itu dengan perasaan aneh yang tampak baru dan asing.
Sekarang.Di sini. Berisik. Sekali.
***
***
Aku mulai membaca, kubawa diriku duduk di atas ranjang sambil memangku bantal. Aku melanjutkan...
Sok tahu. Aku sudah tidak menangis, kau yang menangis!
Sudut bibirku tertarik, kembali kulanjutkan membaca...
Aku langsung berdiri, kemudian berlari turun ke bawah. Walaupun sebenarnya aku takut karena ini sudah malam, aku menghilangkan rasa itu karena terlalu penasaran. Teman baru? Apa dia sedang memberiku hadiah super mewah? Oh my god!
Kubuka pintu belakang lalu suara puppy terdengar menggonggong. Mataku membeliak.
***
TBC
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co