11
Myungsoo sudah terbiasa dengan tubuh ramping Suzy yang tiap kali harus di gendongnya ketika perempuan itu mabuk seperti sekarang. Suzy akan dibawanya pulang ke apartemen miliknya--karena tidak mungkin perempuan itu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Kemudian, membaringkan perempuan itu ke atas ranjang berukuran king size di kamarnya, setelah itu dia akan tidur di sofa sampai pagi.
Seperti itulah yang dilakukannya tiap kali kejadian yang sama terjadi.
Namun, kali ini berbeda. Pertama, Soojung yang meneleponnya tengah malam dan memintanya untuk menjemput Suzy pulang. Myungsoo tahu kalau Suzy dan Soojung akan menghadiri undangan yang diberikan Jungkook fakultas seni yang juga rival timnya di volly. Dia tidak tahu sejak kapan Suzy menjadi dekat dengan Jungkook, namun Myungsoo tahu Jungkook adalah tipe pria yang seperti kebanyakan pria yang dikencani sahabatnya itu. Keren, tampan, dan bermobil.
Meskipun harus Myungsoo akui kalau standar keren Suzy memang payah sekali. Bagaimana bisa dia berkencan dengan pria-pria bermodel sama? Ck, Myungsoo mendengus. Setelah memarkirkan mobilnya di basement dan membawa Suzy berjalan menuju lift, Myungsoo menekan tombol dan menunggu lift di depan mereka terbuka.
Suzy merancau, kepalanya sakit bukan main, "Kenapa pintu lift ini tidak juga terbuka lah?" Tangannya semakin mengerat melingkar dileher Myungsoo, dan bibirnya menyentuh sisi leher Myungsoo.
Myungsoo menegang kaku ketika merasakan lehernya sedikit basah terkena bibir Suzy. Belum lagi, dua benda pribadi Suzy yang terus menekan punggungnya membuat Myungsoo semakin pening bukan kepalang. Myungsoo menelan saliva sedikit payah, kemudian melangkah masuk ketika pintu lift akhirnya terbuka.
Seolah semakin menambah kesulitan dalam menyeimbangkan akal sehat dan napsunya, dua orang yang berada di dalam lift yang di naikinya sedang asik bercumbu. Ganas. Bergairah.
Bahkan, perempuan dan laki-laki itu sama sekali tidak peduli kalau ada cctv di lift tersebut dan... Ada orang lain yang sedang menahan sakit di daerah pribadi karena melihat kegiatan mereka.
Suzy memerhatikan kedua orang di pojok itu dengan mata menyipit. Kesadarannya sudah terenggut, tapi matanya masih sanggup menyaksikan bagaimana gairah yang tercipta di antara dua manusia itu. Rambut hitam dengan sedikit sentuhan warna putih yang di yakininya sebagai uban itu memberikan kesan kalau saja pria itu sudah berumur sekitar lima puluh tahunan, dengan kemeja putih yang sudah tak karuan tak terpasang dengan rapih lagi di dalam celananya. Sedangkan si perempuan... Suzy mendesis ketika perempuan itu dia yakini bahwa umurnya hanya lebih tua beberapa tahun dari umurnya. Masih sibuk menilai dan mengumpat dalam hatinya, pintu lift kembali terbuka dan Myungsoo membawanya keluar dari dalam sana.
Myungsoo menekan kode sandi dan masuk ke dalam. Lampu otomatis yang di stel langsung menyala kala Myungsoo menginjak lantai ruang tengahnya. Kemudian membuka pintu kamarnya dan menjatuhkan Suzy keatas ranjang dengan tergesa.
"Yya!" Suzy memaki ketika tubuhnya terhuyung kebelakang. "Perlakukan aku dengan baik!" Umpatnya.
"Kapan aku tidak memperlakukanmu dengan baik?" Myungsoo berlutut, melepaskan sepatu heels yang dikenakan Suzy.
Suzy berdecak. Memikirkan kalau ia sama sekali tidak pernah diperlakukan tidak baik oleh sahabatnya ini.
"Kenapa kau selalu menggunakan sepatu yang mempunyai tingkat keribetan maksimal seperti ini," Myungsoo bergumam pelan. Tangannya sibuk melepaskan lilitan-lilitan tali heels Suzy dengan sabar.
"Karena aku tahu kalau aku akan mabuk."
Myungsoo tidak mengerti. "Lalu?"
"Setidaknya kau akan memegangi kakiku lama-lama dengan alasan membuka tali sepatu ini..."
Suzy tertawa, tapi langsung kembali melanjutkan kalimat candaannya ketika merasakan Myungsoo terdiam dibawahnya, "Hanya bercanda, Myungsoo."
Myungsoo kembali melanjutkan pekerjaannya, setelah itu Myungsoo berdiri meletakkan sepasang heels Suzy kepojok kamar. Myungsoo melepaskan jaketnya dan menggantungkannya di stand hanger saat suara Suzy kembali terdengar.
"Ah, kepalaku pusing sekali." Keluhnya sambil memijit pelipisnya, "Bisakah kau memberiku aspirin?"
"Kau selalu minum aspirin, itu tidak baik untuk kesehatanmu, Suzy." Myungsoo mendengus.
"Ini yang terakhir, kumohon? Aw!" Teriak Suzy histeris dengan gaya dramatisir.
Sambil menatap perempuan itu dengan seksama, Myungsoo kemudian membawa langkahnya keluar kamar untuk mengambil air mineral dan juga pereda pusing.
Setelah mengambil air dan aspirin itu, Myungsoo kembali membuka pintu kamarnya. Menutup pintu itu dan berbalik. Kedua mata Myungsoo kontan melotot dengan kaget saat melihat pemandangan didepannya.
Suzy setengah telanjang--hanya memakai rok pendeknya dan juga bra hitam yang tanpa sengaja dilihatnya sedang berjinjit membuka lemari pakaian Myungsoo untuk mengambil kaus kebesaran milik pria itu.
"Yya, apa yang kaulakukan?!" Tanya Myungsoo dengan wajah memanas. Dia berbalik arah menghadap pintu yang tertutup, shock berat akibat apa yang barusan dilihatnya.
Suzy menoleh sedikit setelah mengambil satu kaus polos berwarna putih yang biasa dikenakan Myungsoo, lalu memakainya. "Melakukan apa?" Tanya Suzy heran. "Berbaliklah, aku sudah selesai."
Myungsoo mengikuti perkataan Suzy. Ia berbalik dengan wajah setengah memerah. "Bagiamana bisa kau dengan bebas mengganti baju di kamar pria?"
"Aku mengenalmu." Jawab Suzy singkat, tangannya mengambil gelas dan aspririn dari Myungsoo dan meminumnya.
Myungsoo menatap Suzy dengan tatapan terperangah. "Jadi, kau akan menganti pakaianmu dengan bebas jika kau mengenal pria itu?"
"Yya, kau pikir aku perempuan rendahan?" Suzy kesal, dia bahkan menaruh gelas itu di atas meja kecil disamping lampu tidur dengan menghentak. "Satu-satunya orang yang kubiarkan menggendong dan mengganti pakaianku hanya kau. Hanya kau."
Myungsoo terkejut. "A-apa?"
"Mwoya, respon macam apa itu...," Suzy mendengus, "Kubunuh jika sampai kau meragukan ke orisinalitasku sebagai perempuan berkelas!"
"Aku tidak pernah berpikir kau rendahan atau semacamnya," Myungsoo berjalan kemudian duduk di sisi Suzy. "Kau bagiku akan selalu menjadi perempuan tangguh dan tahu apa yang kauinginkan."
"Tentu saja," Suzy mengibaskan rambutnya bangga, "Omong-omong, apa kau pernah melihat pria tua dan perempuan simpanannya tadi?"
"Yang mana?"
Suzy merasakan aspirin langsung bekerja ekstra cepat dan membuang berat yang membuat kepalanya pusing dengan baik. Kemudian menjawab, "Yang di lift," Suzy membayangkan kejadian di lift tadi. "Kau tidak berpikir kalau itu istrinya kan?"
"Oh," Myungsoo mengumam ketika mengingat orang yang dimaksud Suzy barusan, "Memangnya bukan?"
"Ck, Apa kau tidak bisa membaca keadaan? Jelas sekali perbedaan umur mereka beda jauh, bahkan jika dilihat-lihat lagi mereka malah seperti Ayah dan Anak..." Suzy terus berkomentar nyinyir, membuat Myungsoo mendesah frustasi.
That is. A woman with her mind.
"Aku tidak tahu," jawab Myungsoo tak acuh. Pria itu langsung merebahkan dirinya diatas ranjang empuk dengan kedua tangan menyilang sebagai bantal. "Melihat kau sudah sanggup memikirkan kehidupan orang lain, kupikir kau sudah sembuh dari sobermu." Tukas Myungsoo sambil melirik Suzy melalui ekor matanya.
Suzy kembali mendengus, mengikuti Myungsoo yang berbaring, satu tangannya mengambil tangan Myungsoo yang terlipat supaya menjadikan tangan pria itu sebagai bantalannya, Suzy merapatkan dirinya pada tubuh Myungsoo.
"Myungsoo?"
"Mm..."
Suzy sedikit mendongak, kedua matanya langsung menatap pada jakun Myungsoo yang turun naik, membuat perasaan aneh langsung muncul di benaknya. Myungsoo bukan lagi anak ingusan yang kurus dan suka menangis kalau Ayah dan Ibunya pergi dinas keluar negeri. Lebih dari itu, pria itu kini tumbuh dengan baik dan bahkan sangat baik, menurutnya.
"Bagaimana kalau kita pacaran?"
Myungsoo langsung menunduk dengan gerakan secepat kilat. Dipandanginya perempuan yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya itu lekat-lekat, perempuan cantik ini...
"Kau gila," akhirnya suara itu yang keluar dari mulutnya. Myungsoo mendesah kecil seraya kembali menatap langit-langit kamarnya yang kini malah bermunculan wajah Suzy disana, dengan senyuman membekukan yang membuatnya bertekuk lutut sejak kali pertama.
"Shireo?"
Myungsoo masih terdiam, tak menjawab.
Suzy memutar tubuhnya hingga tengkurap, lalu menatap Myungsoo tepat ke manik matanya, "Shireo?"
"Itu tidak mungkin." Myungsoo mendesah.
"Shireo?" Suzy tetap menanyakan pertanyaan pertamanya.
"Kakekku akan menikahi nenekmu, Suzy. Kita akan menjadi saudara." Myungsoo menekankan kata 'menikah' . Matanya menatap dengan sendu kepada perempuan cantik bak dewi Afrodit dalam mitologi yunani.
"Shireo?" Lagi-lagi Suzy menanyakan pertanyaan yang serupa. Dia tidak mengerti kenapa sampai mengajak Myungsoo berpacaran, namun jika itu bisa menahan Myungsoo terus bersamanya--karena bayangan Myungsoo dekat dengan perempuan bernama Rose itu membuatnya kesal-- Suzy akan melakukannya.
Suzy bahkan tidak percaya ketika dia mendekatkan bibirnya ke bibir Myungsoo. Dia juga tidak percaya saat mereka akhirnya berciuman lagi, dengan dia yang pertama menciumnya. Dan tanpa penolakan dari Myungsoo. Pada detik yang tak terhitung lagi, Suzy menyadari bahwa kini posisinya dan Myungsoo berubah. Pria itu sudah membawa Suzy dibawahnya dengan tangan berada di tengkuk Suzy, menciumnya dengan rakus.
***
"Ini gila! Ini gila! Ini gila!" Suzy terus-terusan mengumpat di dalam kamar mandi berukuran besar di apartemen Myungsoo. Untuk pagi pertamanya dalam belasan tahun pertemanannya dengan Myungsoo, dia mendapati dirinya terbangun dalam kukungan lengan kokoh milik Myungsoo. Pria itu, yang berstatus menjadi sahabatnya sejak belasan tahun yang lalu, tidur dalam satu ranjang dan memeluk erat tubuhnya dengan kepala bersandar di atas dadanya dengan nyaman.
Astaga! Aku ingin mati sekarang juga! Pekik Suzy dalam hati. Ditatapnya pantulan diri pada cermin besar nan panjang yang berada di kamar mandi itu. Kemudian, tanpa sadar memegangi bibirnya yang semalam dicium tanpa henti oleh Myungsoo. Panas langsung menjalar keseluruh wajahnya, dan dadanya langsung berdetak cepat.
"Suzy, kau pingsan?" Ketukan dan suara Myungsoo langsung membuatnya nya kembali dari lamunannya.
Suzy berdeham sekali sebelum bersuara, "H-mm,"
"Kau pingsan?" Myungsoo kembali bertanya ketika Suzy bergumam menjawabnya.
"T-tidak, maksudku, aku sedang mengeringkan tubuh. Sebentar lagi aku akan keluar."
"Oke, aku menunggu meja makan ya."
Suzy bergumam mengiakan. Menatap kembali pantulan dirinya di depan cermin, mengutuk dirinya sendiri karena bisa berkata gila mengajak Myungsoo berkencan dengannya disaat dirinya bahkan tidak memercayai tentang hubungan jangka panjang. Dan... Kenapa juga Myungsoo membalas menciumnya? Apa ini berarti...
Ahk... Suzy menggerutu dengan kesal, membawa pandangannya kembali pada cermin besar itu sekali lagi sebelum akhirnya memberanikan diri memutar knop pintu agar terbuka.
Ini tidak mungkin!
Berulang kali Suzy melihat Myungsoo dalam balutan apron hitam andalan pria itu, tapi kenapa pagi ini Myungsoo begitu tampan mengenakan apron itu? Segalanya terasa pas di tubuh pria itu, bahkan setelan celana khaki dan kaus berwarna biru dongker itu nampak baik-baik saja walau dibaluti oleh apron kumel berwarna hitam itu.
Suzy menghembuskan napasnya dengan keras. Dan rupanya itu langsung menyita perhatian Myungsoo yang sejak tadi sedang menaruh nasi goreng jagungnya diatas piring makan. Myungsoo melepaskan apron hitamnya, menggantungnya pada gantungan, lalu membawa dua piring berisi nasi goreng jagung itu keatas meja. Menaruh piring itu di depan Suzy dan di depannya. Myungsoo mengambil tempat, "Kau baik-baik saja?"
Kenapa bisa Myungsoo sesantai ini? Apa yang semalam hanya mimpi? Batin Suzy ketika melihat Myungsoo sama sekali tidak terdistraksi atas apa yang terjadi semalam. Sama halnya ketika mereka berciuman pertama kali beberapa waktu lalu.
Suzy berdeham, mengambil alih suaranya yang sempat hilang, "Aku tidak suka nasi goreng ." Responnya pada masakan yang dihidangkan Myungsoo untuknya.
"Tidak ada abalon, daging, mie, atau apapun di kulkas, semuanya telah habis." Myungsoo menjelaskan.
Suzy memberengut. "Kau harus memasakkanku menu empat sehat lima sempurna siang nanti."
"Hanya jika kau mau menemaniku belanja. Astaga, aku malu belanja sayuran sendirian, Suzy."
"Biasanya?"
"Bibi suruhan keluargaku yang menyetok sayuran dan daging-daging itu kan?"
Oh iya...
Suzy mengambil sendok ada tempatnya, lalu mengangguk, "Arraso."
***
Sofa itu menimbulkan denyitan khas ketika Myungsoo menjatuhkan diri diatasnya bersama dengan Suzy dalam pangkuan. Myungsoo sama sekali tidak melepaskan ciumannya kepada Suzy barang sebentarpun. Terhitung kira-kira lima menit terakhir ketika Suzy--tentu saja--lagi-lagi memancingnya dengan mengecup kecil bibir Myungsoo sebagai tanda kesepakatan yang baru saja mereka lakukan.
Cinta rahasia, Suzy menyebutnya tadi. Beberapa poin--yang menurut Suzy penting, dalam hubungan baru mereka. Tanpa seorangpun--apalagi Nenek dan Kakek-- tahu kalau status persahabatan selama belasan tahun itu kini sudah berganti status baru.
Persetan dengan cinta rahasia! pikir Myungsoo di sela-sela ciuman mereka. Myungsoo bahkan rela di musuhi seluruh dunia jika Suzy rela bersamanya seperti sekarang. Myungsoo menarik Suzy semakin mendekat kepadanya. Dengan kedua dada saling berhimpitan, Myungsoo mencium Suzy penuh-penuh.
"Kau benar-benar mencintaiku ya?" Suzy tersenyum kecil ketika ciuman mereka akhirnya terlepas. Kedua matanya menatap Myungsoo yang kini membubuhkan tatapan tanpa fokus untuknya. Jenis tatapan yang belum pernah dilihat Suzy sekalipun dalam kehidupan mereka. "Jadi, apakah aku sudah menjadi tipe idealmu, hm?" Suzy mengusap pelan pelipis Myungsoo.
Posisinya masih sama seperti tadi, duduk dalam pangkuan Myungsoo. Tangannya sebenarnya bergetar sekali, dadanya bergemuruh dengan hebat karena pasalnya ini adalah kali pertamanya duduk dengan sangat tidak sopan begini. Jika neneknya sampai tahu, mungkin perempuan tua itu bakal serangan jantung sekarang.
"Jika tipe idealku berubah, ini semua salahmu, Suzy." Jawab Myungsoo dengan sedikit terengah.
"Aku setuju."
Myungsoo membawa kedua tangannya melingkari pinggang Suzy, lalu membubuhkan kepalanya diantara lekukan leher perempuan itu. Menghirup aroma yang menenangkan dari parfume yang dipakai Suzy. Ternyata, dalam sedekat ini aroma parfume itu lebih terasa menenangkannya. Menenangkan Myungsoo dari perasaan bersalah kepada keluarganya, terutama kepada sang Kakek.
***
Sat 3/23/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co