Truyen3h.Co

Feudatory

12

authoriya

Soojung mengaduk-aduk minuman cola nya hingga es batu dan gelas beradu menimbulkan suara. Tentu saja perempuan itu tidak menyadari kalau sejak tadi yang dilakukannya hanya mengaduk-aduk cola itu tanpa menyentuhnya sehirup pun. Sedangkan ia sibuk melayangkan pandangannya pada dua orang yang duduk besebrangan dengannya.

"Bola matamu bisa lepas kalau kau terus memberikan tatapan itu kepadaku, Soojung." Ujar Suzy sakarstik. Mengambil satu kentang goreng dan memakannya.

Mereka sedang berada di salah satu tempat makanan siap saji yang berasal dari Amerika yang berada di dalam salah satu pusat perbelanjaan di Seoul, duduk mengelilingi meja bundar yang letaknya di ujung ruangan, dekat kaca besar yang menyajikan pemandangan pusat kota dari lantai dua.

"Aku sedang berpikir kalau hari ini kalian nampak sedikit janggal, hm..." Soojung mengelus dagunya pelan, lalu meminta persetujuan kepada sang kekasih yang duduk di sebelahnya, "Iyakan, sayang?"

Minhyuk meneguk pepsi nya, "Tidak, biasa saja."

"Aish! Kau tidak membelaku?"

Minhyuk menghela napas, "Iya, iya, ada yang beda." Katanya dengan nada bosan. Perempuan pada dasarnya memang sama saja, suka memberikan pertanyaan namun tak suka jika kita memiliki jawaban berbeda dari mereka.

"Sudahlah, lupakan!" Soojung mendengus, kembali memandangi Suzy yang masih menempel rekat dengan Myungsoo yang menggunakan tangan lainnya untuk memegang buku. "Apa yang terjadi semalam?"

Pertanyaan yang di lontarkan Soojung bertepatan dengan Suzy yang sedang meneguk minuman soda, membuat Suzy langsung tersedak karenanya.

Myungsoo menegang, sungguh buku ini sebenarnya cuma merupakan pengalihannya saja, karena sejak tadi dia pun sudah tak bisa berkonsentrasi pada bukunya seperti biasa. Myungsoo menepuk pelan pundak Suzy ketika merasakan kekasihnya itu terbatuk akibat pertanyaan yang tak terduga dari mulut Soojung.

Suzy terlihat kikuk beberapa detik, namun langsung menjadi seperti sediakala di detik berikutnya, "Apa maksudmu? Aku mabuk semalam, dan terbangun ketika burung di luar jendela sibuk bercuit."

"Geunde...,"

"Mwo, mwo, mwo?" Belum sempat Soojung melancarkan pertanyaan lain di benaknya, Suzy lebih dulu bersuara dengan nada jengkel.

"Mwoya, kenapa kau jadi sewot?" Soojung menggerutu, "Harusnya kau berterimakasih karena aku, kau tidak dicium oleh Jungkook semalam."

"Jungkook menciummu?" Myungsoo menjauhkan tubuhnya untuk menatap Suzy.

Sambil mengedipkan matanya dua kali, Suzy menggeleng cepat, "Aniyo!" Kemudian menoleh kearah Soojung dengan pandangan kesal, lalu bersuara, "Kenapa kau harus mengatakannya disini sih?"

"Memang kenapa?" Kali ini Soojung mengambil minuman yang sejak tadi dianggurinya itu, menyesapnya melalui sedotan berwarna putih dengan kerutan di pangkal kepala.

Suzy mendesah lagi. Lalu, menatap Myungsoo dengan memelas, "Aku tidak berciuman dengan Jungkook."

"Tunggu, untuk apa kau menjelaskan pada Myungsoo soal itu?" Soojung mengerutkan kening.

"Kalian seperti berpacaran saja." Komentar Minhyuk.

Kedua orang itu langsung menoleh bersamaan,

"Memang iya!"

"Tidak mungkin!"

Suzy melirik jengkel pada Myungsoo yang menjawab dengan bodohnya. Menginjak kaki pria itu dengan keras hingga Myungsoo mengaduh kesakitan. Sebelum temannya berpikiran tidak-tidak, Suzy segera menambahi ucapannya, "Aku menjelaskan kepadanya karena dia mungkin akan menceritakan kepada Nenek."

***

Suzy memasuki ruang utama rumahnya yang langsung di sambut oleh beberapa pelayan berbaris rapih sambil menunduk. Kedua matanya melirik ke lantai dua dan menyadari kalau pintu kamar orang tua nya sedikit terbuka, sambil berasumsi dalam hati, ia melepaskan tas bahunya dan langsung memberikannya kepada salah satu pelayan tanpa menoleh menatap pelayan itu. Si pelayan, dengan cepat langsung menyambut tas itu dan memegangnya dengan hati-hati. Si pelayan tidak mengerti mode, tapi dia cukup tahu kalau Gucci merupakan brand populer di kalangan artis dan sosialita. Ya, walaupun sekarang sedang marak-maraknya barang tiruan serupa, namun dengan uang yang di miliki keluarga Bae, tidak akan mungkin membuat Nona muda nya ini membeli barang palsu. Karenanya, ketika Suzy pergi melenggang ke bagian dapur, dengan hati-hati si pelayan itu membawa tas Suzy ke lantai atas, dimana kamar sang Nona mudanya terletak.

Suzy membuka lemari pendingin berpintu dua produk keluaran terbaru dari salah satu raja elektronik yang berasal dari Korea--yang diberikan perusahaan itu sebagai hadiah di hari paskah untuk keluarganya--dengan pelan. Menggunakan kedua matanya, Suzy memandang macam-macam buah-buahan, sayuran, kimchi, beberapa daging berkualitas terbaik, tart--yang Suzy sendiri lupa kapan dibelinya-- minuman bersoda, jus jeruk, dan air mineral. Setelah berfikir sejenak, memilih antara jus jeruk dan air mineral, Suzy memutuskan mengambil botol air mineral itu dan mencari gelas dari dalam kitchen set, dan menuangkan air mineral itu kedalam gelas. Suzy mendudukan bokongnya di kursi kecil pada kitchen bar, menegak air mineralnya ketika suara langkah kaki terdengar dan pintu ruang dapur bergeser. Memandang melalui gelasnya, Suzy mendapati sang Ibu berjalan mendekat kearahnya masih dengan setelan kerja dan rambut tersanggul rapi ke belakang.

"Kau sudah pulang?" Tanya Ibu, seraya berjalan mengambil gelas dan menuangkan segelas air mineral di cangkirnya.

Suzy mengangguk, menjawab singkat. "Mm,"

Terasa kaku, pikirnya. Inilah satu hal yang di hindarinya sebisa mungkin. Berinteraksi dengan Ibu atau Ayahnya di rumah, kecuali saat mendesak yaitu pertemuan keluarga maka dia harus memasang topeng dan mereka bersikap layaknya keluarga impian semua orang yang melihat.

Suzy menghela napas pelan, menaruh gelasnya ke wastafel. Dia harus segera pergi dari ruangan ini sebelum keadaan semakin canggung. Karenanya, Suzy mulai menjalankan tungkai jenjangnya kearah pintu dapur ketika suara Ibunya kembali terdengar, "Kau putus dengan Joon?"

Suzy menghentikan langkahnya.

"Kau tahu Joon dekat dengan nenekmu, dan nenekmu juga begitu menyukai Joon, lagipula Ayah Joon pemilik dari--"

Nah, ini dia. Suzy mulai tahu kemana arah pembicaraan mereka. Ibu dan Ayah nya merupakan pembisnis ulung dan mendewakan klien mereka, jadi apapun akan dilakukan demi terciptanya kolerasi diantara mereka.

"Aku tidak akan kembali bersama orang itu." Suzy menyela sebelum sang Ibu selesai berbicara.

"Ibu tidak mengatakan kau harus kembali bersama Joon, tapi cobalah berpikir lagi, Suzy."

Suzy...

Sudah lama sekali sepertinya Ibu tidak memanggil namanya... Kekeh Suzy sinis.

"Nenek akan selalu mendukung keputusanku," ucap Suzy dingin, kemudian meraih handle pintu. Sebelum langkahnya pergi, Suzy masih mendengar Ibu nya terus mengajaknya berbicara.

"Ohya, sebelum Ibu lupa, ada pertemuan makan malam kamis malam, kolegaku ingin menemukan anaknya denganmu."

"Shireo."

"Suzy... Apa susahnya membantu Ibu lah? Kau hanya tinggal ikut, duduk, dan menjawab apa yang ditanyakan," Ibu mendesah. Anak gadisnya kini terasa terlalu jauh untuk di raih. "Ibu dan Ayahmu akan memberikanmu black card, dan kau bisa membeli Gucci hingga ke store-store nya. Oke?"

"Melihat Ibu begitu ingin aku ikut sampai rela memberiku black card, kurasa berkolerasi dengan perusahaan itu cukup penting, ya?" Suzy tersenyum sinis, "Tapi, Ibu maaf, Aku sudah ada janji untuk menonton pertandingan volly Myungsoo hari itu, dan malamnya kami akan mengadakan pesta BBQ." Jelas Suzy dengan rinci.

"Kau jangan terus mengekori Myungsoo, dia juga punya dunia sendiri, sayang. Pada akhirnya Myungsoo akan menemukan perempuan lain dalam hidupnya, kau tidak bisa terus-terusan membawanya mendeka--"

Tanpa menunggu sang Ibu menyelesaikan ucapannya, Suzy menutup pintu dapur itu dengan keras.

***

Suzy to Myungsoo:

Kau dimana?

Myungsoo: Terjebak di ruang keluarga, dengan Kakekku yang terus mengulang cerita masa muda nya tiap ada kesempatan.

Suzy: Enak sekali, aku jadi rindu nenek.

Myungsoo: Ada apa? Ayahmu dirumah?

Suzy: Tepat. Tapi, Ibuku yang dirumah. Kami terjebak pembicaraan kaku dan berakhir dengan aku yang emosi.

Myungsoo: Kekasihku selalu emosian. Aku sangat ingin meredakannya, tapi aku tidak sedang di Seoul. TT

Suzy tersenyum membaca kata pertama Myungsoo. Kekasih...

Terdengar aneh karena selama ini ia bahkan tidak pernah berpikir tentang itu. Dan kini, hanya dengan satu malam saja semuanya berubah. Tidak begitu buruk, namun semoga saja tidak akan menyakiti siapapun diakhirnya nanti.

Suzy kembali membalas pesan itu.

Suzy: Well, kau bisa membawakanku abalon dari sana. Aku menantikan masakanmu...

Suzy menimbang-nimbang, haruskan ia memasukan kata-kata seperti sepasang kekasih atau kata-kata yang biasa ia gunakan ketika sedang berpacaran dengan seseorang, atau tidak?

Sambil menghela napas pelan, Suzy meyakinkan dirinya. Kemudian menambahkan kata "sayang!:*" Beserta emoticon cium sebelum mengirimkan balasan itu kepada Myungsoo.

***

"Rasanya kakek sudah lama tidak melihat senyum seperti itu di wajah cucu kesayanganku ini..." Komentar Kakek Myungsoo ketika mata tua nya mendapati sang Cucu sedang tersenyum bodoh sambil memandangi ponselnya.

Kedua pria berbeda usia ini sedang berada di ruang tengah, menyaksikan pergelaran musik klasik di salah satu stasiun tv kabel Korea. Kakek mengambil kacang Thailand dari toples dan memasukannya kedalam mulut.

Myungsoo mendongak, memasukkan ponselnya kedalam kantung jaket sambil tersenyum, "Tentu saja karena kakek tidak pernah bertemu denganku,"

"Anak nakal, siapa memangnya yang tidak mau menemui kakek kecuali ada acara makan malam dan itupun kalau cucuku Suzy ikut datang." Kakek menggerutu.

Beberapa orang kepercayaan kakek yang berpakaian hitam-hitam, yang berdiri tegak di belakang mereka nampak tidak terusik dengan interaksi Kakek-Cucu itu, mereka tetap memasang tampang datar dan sikap tegap layaknya patung.

"Astaga, cucumu itu Aku, kek. Bukan Suzy." Ucap Myungsoo dengan gaya tersinggung.

Kakeknya menaikan bahu, menyuruh salah satu orangnya untuk mengambilkannya obatnya sakit giginya di kotak obat. Sebelum ia kembali bercakap kepada sang cucu kesayangan, "Suzy kan juga akan menjadi cucuku sebentar lagi." Jawab kakek dengan santai.

Tanpa mengetahui kalau senyuman cerah di wajah Myungsoo langsung lenyap begitu saja.

***

Mon 3/25/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co