Truyen3h.Co

Feudatory

13

authoriya

"Yya, Kim Myungsoo kenapa kau tega-tega nya menolakku?! Kau lupa aku anaknya pemilik yayasan?" Gadis berambut panjang itu mengetakkan kakinya kesal. Rompi seragam sekolah yang harusnya terkancing rapih itu sama sekali tidak dikancingnya. Rambutnya berkibar tertiup angin dari atas atap gedung. Kedua matanya menatap lelaki tampan yang sama sekali tidak menghiraukannya.

"Aku tidak tertarik denganmu, Lee Yubi."

"Yya, setiap lelaki rela mengantri dan memberikan hadiah-hadiah padaku, tapi kau--"

"Lalu kencani saja mereka." Myungsoo berdiri dari duduknya. Dihelanya kedua tangan masuk kedalam kantung celana, kedua matanya menatap perempuan yang kini sudah pasti sedang menahan amarahnya dengan pandangan datar. Lalu, tanpa sepatah kata lagi, Myungsoo berjalan melewati bahu si perempuan itu tanpa menoleh.

"Yya, Kim Myungsoo!" Yubi berteriak kesal menatap punggung yang semakin menjauh itu, "Kau begini karena aku musuh sahabatmu, ha?"

Kalimat itu berhasil membuat Myungsoo memberhentikan langkahnya. Dalam hitungan ketiga, Myungsoo memutar tubuhnya untuk kembali menghadap perempuan cantik itu, kemudian berujar dengan nada dingin, "Apa yang terjadi sekarang tidak ada hubungannya dengan statusmu dan Suzy yang bermusuhan itu."

***

Sepasang mata tajam milik Myungsoo memandang ke arah tribun bagian atas dengan tatapan tidak suka sambil jemarinya bergerak membuka tutup botol air mineral lalu menegaknya.

"Aigoo, aku yakin kalau sebentar lagi akan ada pengumuman baru." Komentar Minhyuk yang datang dari arah belakang dengan handband di kepala, mengambil botol di tangan Myungsoo dan ganti menegak isinya tanpa menempelkan mulut botol pada mulutnya.

Myungsoo menaikkan alisnya dengan pandangan bertanya.

"Mereka berdua," tunjuk Minhyuk menggunakan dagu kearah yang sejak tadi dipandangi Myungsoo, "Kudengar kata kekasihku kalau tadi pagi mereka berangkat bersama."

"Yang benar?"

"Kau tidak tahu?" Minhyuk mengangkat alisnya terkejut. Di tutupnya botol air mineral itu kembali dan menaruhnya diatas bangku.

Myungsoo tadi tidak menyusul Suzy karena dia menginap dirumah kakeknya, dan juga Suzy mengatakan kalau dia akan meminta Soojung untuk menjemputnya. Dengan gusar Myungsoo menarik napasnya kuat-kuat, kedua matanya kembali menatap kearah tribun dan mendapati kedua orang itu sedang tertawa, dan yang lebih mengesalkan lagi Suzy memberikan air minuman untuk lelaki itu!

"Mereka bisa menjadi abu kalau kau terus-terusan menatap dengan pandangan seperti itu, Myung!" Minhyuk tertawa, "Tenang saja, meskipun nanti mereka berdua berkencan, tim volly kita tetap harus menang dan jangan mengalah." Kemudian, Minhyuk menepuk bahu Myungsoo ketika peluit kembali berbunyi.

***

"Kau datang." Jungkook tahu-tahu sudah menyapa Suzy ketika perempuan itu menerobos masuk ke dalam gedung.

Letak pintu masuk yang langsung berada di bagian paling atas tribun itu membuat Suzy dan Soojung nampak kepayahan untuk mencari-cari dimana fakultasnya berada. Tahu-tahu, mereka sudah berada di fakultas Seni dan langsung bertemu dengan lelaki paling populer di fakultas itu.

Suzy tersenyum. Kemudian menoleh kearah Soojung yang kini wajahnya seolah menampilkan kalimat 'iyakan-saja-supaya-si-tampan-ini-makin-menyukaimu' -nya. Sedikit berdecak pelan, Suzy lantas kembali tersenyum kikuk kearah Jungkook, "Umm, sekalian aku juga mau menonton fakultasku."

"Ah," Jungkook mengangguk-angguk paham. Kedua matanya menatap kesekeliling, lalu menunjuk, "Sepertinya teman-temanmu di tribun bagian sana."

"Nah! Kau sih, sudah kubilang kita lewat pintu yang di sebelah sana." Soojung menggerutu. Ia tadi sempat berdebat soal ini dengan Suzy, namun karena malas mutar arah, akhirnya dengan menggunakan kehokian  kedua perempuan itu masuk melewati bagian ini.

"Kau juga tadi setuju-setuju saja." Suzy mendengus.

Jungkook terkekeh pelan. Kedua matanya tanpa sadar menatap botol berukuran sedang yang berisi minuman dingin rasa jeruk dengan minat, "Harusnya kau tidak perlu membawakan sesuatu untukku, Suzy."

"Ya?" Suzy bingung, lalu mengikuti arah pandang Jungkook dan seketika menyadari kalau yang di maksud Jungkook adalah minuman yang di pegangnya ini. Minuman yang sebenarnya dibawakan untuk Myungsoo. "Um... Ini sebenarnya untuk--"

"Ini memang untukmu, Jungkook. Aigoo, Suzy memang terkadang suka menjadi pemalu perkara memberikan minuman dingin saja." Sela Soojung dengan cepat sebelum Suzy melanjutkan kalimatnya.

Suzy menoleh dengan kesal, namun malah kedipan kecil yang di dapat dari Soojung. Kedipan yang seolah mengatakan kalau 'serahkan saja padaku, aku akan membuatnya semakin tergila-gila padamu.'

Hal itu membuat Suzy hanya bisa menggerutu dalam hati. Dengan agak berat hati, Suzy memberikan minuman itu kepada Jungkook yang langsung mendapatkan sambutan senang luar biasa dari lelaki itu.

Suzy dan Soojung lalu berjalan melewati pinggiran tribun untuk mencapai tribun di seberang. Seperti biasa, pertandingan ini adalah satu-satunya yang menyita banyak mahasiswa-mahasiswi di Universitas untuk menyempatkan diri menonton. Terutama Mahasiswinya. Bisa di lihat dari beberapa pekikan khas perempuan kanji dengan suara di buat-buat nampak memenuhi jalannya pertandingan itu. Kebanyakan dari mereka yang meneriakan nama beberapa lelaki tampan di bawah sana.

"Kami cinta kau, Kang Minhyuk! Kami cinta Kau, Kim Myungsoo!"

Kedua bola mata Soojung langsung melotot ketika mendengar nama Minhyuk di sebut-sebut. Mereka baru saja duduk di tribun bagian bawah di fakultas mereka dan langsung di suguhi suara-suara perempuan sambil memekik senang.

Soojung, dengan kekuatan penuhnya, langsung menoleh ke sumber suara. Menatap dengan kesal kelompok perempuan yang berdiri sambil sesekali melompat-lompat. Tapi, hanya sebatas itu saja. Soojung sama sekali tidak berniat menjambak rambut perempuan-perempuan itu karena... Well, dia tidak mau di cap sebagai perempuan barbar.

"Susah sekali punya pacar tampan!" Gerutu Soojung. Kepalanya kembali menoleh ke depan, memerhatikan jalannya pertandingan.

Suzy memutar bola matanya. "Minhyuk yang tidak beruntung mendapatkan pacar sepertimu, Soojung."

"Sial! Setidaknya karena aku dia jadi  tahu bagaimana cara memerlakukan perempuan." Ucap Soojung dengan nada riang.

"Sungguh ambigu," Suzy mengernyitkan kening, "Apa maksudmu?" Tanyanya.

Senyuman Soojung semakin merekah. Ditatapnya Suzy dengan pandangan nakal kemudian dengan bahasa tubuhnya Soojung memberikan penjelasan sambil mendesah. Penjelasan yang langsung mendapat respon horor dari sahabatnya itu.

"Yya! Kau memang perempuan gila!" Suzy tak menyembunyikan ekspresi jijiknya, namun keduanya tak urung tertawa.

"Kau setidaknya mencoba sekali dan kau akan ketagihan."

"Stop it!"

"Dengar, kurasa dengan Jungkook boleh juga. Dia memiliki badan yang bagus walaupun tingginya sedikit membuat mengernyit."

"Stop it!"

Tanpa memerdulikan Suzy, Soojung tetap mengemukakan pikirannya, "Yya, kau tidak pernah naksir dengan Kim Myungsoo?"

"Stop--"

"Kau harus melihat bagaimana raut wajahnya ketika dia membawamu pulang dari pesta Jungkook." Soojung menginterupsi.

Suzy menoleh dan nampak tertarik dengan pembicaraan itu, "Kenapa dengan raut wajahnya?"

"Dia seperti seorang budak cinta," Soojung menaikkan bahu, "Kalau saja aku waktu itu kepikiran untuk mengambil gambarnya."

Aku menyukaimu, Suzy.

Tiba-tiba ingatannya kembali pada malam ketika perayaan kelulusan beberapa tahun lalu. Suzy tersenyum kecil. Awalnya dia mengira kalau itu hanya mimpi saja, namun sepertinya itu memang realita.

Suzy memerhatikan ke bawah, tepat dimana Myungsoo yang sedang melakukan servisnya. Sebenarnya dia tidak ingin menempatkan Myungsoo pada kisah hubungan seperti ini, Suzy tidak akan pernah bisa dan mau untuk menaruh cinta kepada laki-laki. Tidak akan. Namun, kenyataan jika suatu saat Myungsoo akan pergi dari sisinya, membuat Suzy takut karena selama ini hanya Myungsoo laki-laki satu-satunya yang ia percaya tidak akan pernah menyakitinya.

"Rose di jam 9."

Bisikan Soojung menyentakan Suzy. Ia menghitung sampai lima sebelum menoleh dan langsung mendapati Rose dan temannya duduk berselang tiga orang dari tempatnya. Mau tak mau Suzy mendengus, kehadiran perempuan ini tentu saja untuk melihat Myungsoo bertanding. Ck!

Dia merusak gaun yang baru dibelinya, jadi Suzy tidak akan membiarkan Rose terlalu larut dalam khayalannya. Untuk sekarang, dia akan membiarkan hal itu. Myungsoo sudah menjadi miliknya, baiklah, walaupun itu hanya untuk sementara waktu sampai akhirnya Kakek dan Nenek menikah.

"Ck, lihat dia!" Soojung berdecak, "Sudah jelas Dia mengikuti gaya rambutmu. Apa dia tidak memiliki malu dan fashion sendiri?" Oceh Soojung dengan kesal ketika melihat warna rambut Rose, plus gaya ikal di bagian bawahnya yang nampak jelas sekali mengikuti gaya rambut Suzy.

"Well, don't expect anything original from an echo." Suzy berujar santai. Satu tangan Suzy melambai keatas sambil tersenyum manis ketika Myungsoo melemparkan senyumnya dari bawah sana.

Soojung mengerutkan alis merespon senyuman Suzy, "Kau seperti sedang mendadahi pacarmu saja."

Suzy tersenyum misterius.

"Kusarankan kau pacaran saja dengan Jungkook. Jangan menyakiti Myungsoo."

"Tadi kau menyuruhku untuk memacarinya." Jawab Suzy enteng.

"Tidak jadi," Soojung menghadap kedepan, "Tapi, aku juga tidak rela jika Myungsoo bersama si Rose itu!" Soojung mengerutkan keningnya. Kemudian memiliki ide, "Ah, aku akan mengenalkan Myungsoo dengan tetanggaku!"

"Yya!" Suzy menatap sahabatnya dengan pandangan jengkel.

"Kenapa?"

"Jangan coba-coba mengenalkan Myungsoo dengan perempuan manapun!"

Soojung berdecak. "Kau begitu possesif. Tidak asyik!"

***

Suzy berjingkat mundur saat Myungsoo memeluknya dengan baju dan tubuh yang bermandikan keringan. Suzy berdecak, kedua tangannya otomatis diletakkan di depan dada supaya keringat itu tidak mengenai bajunya.

"Yya, lepas! Kau ingin mati ya?!" Suzy mendorong tubuh itu mundur.

Tidak perlu tenaga ekstra untuk melepaskan belitan tangan Myungsoo, karena Myungsoo langsung mengurai pelukan mereka. Ditatapnya Suzy dengan raut wajah tak bersalah, sedangkan Suzy membalasnya dengan tatapan membunuh sambil mengusap tangannya menggunakan tisu basah.

"Ini hukuman karena kau telat datang."

"Aish, Dosen tua itu yang memaksa kami berdua untuk membawakan tumpukan tugasnya!" Tiap mengingat kejadian tadi membuat raut wajah Suzy mengerut tak enak. Dosen itu selalu menyeretnya dan Soojung supaya terus menerus masuk ke kelasnya, dan memberikan tugas yang sangat banyak. Oh tentu saja, hobi utama dosen tua itu ialah memberikan tugas pribadi kepada Suzy dan Soojung. Seperti membawakan kumpulan tugas, misalnya.

"Aku tadi melihatmu mengobrol dengan Jungkook." Cetus Myungsoo sambil mengambil tas ranselnya.

"Mm, sebenarnya bukan hanya aku, tapi Soojung juga." Jawab Suzy malas.

Kedua matanya tanpa sengaja melihat Soojung dan Minhyuk yang sedang berciuman di ujung dinding, lalu mengernyit jijik. Oh tuhan, dengan peluh begitu banyak bagaimana bisa Soojung menikmati ciumannya?

Dengan cepat, matanya berpaling lalu saat itulah dia mendapati Rose bersama teman andalannya menuruni tangga tribun dan menghampiri mereka dengan satu paperbag coklat ditangan Rose. Suzy berdecak tidak suka.

Mau apa lagi si perusak gaunku itu?

"Sunbae!" Rose memanggil Myungsoo yang sedang menunduk sambil mengutak-atik isi tas ranselnya, membuat lelaki itu menolehkan kepala.

Kening Myungsoo berkerut dengan tatapan bertanya. Suzy mengamati.

"Ini..." Rose memberikan paperbag itu kepada Myungsoo, "Ibuku pulang dari Manhattan kemarin dan membawakan beberapa cokelat."

Myungsoo menerima paperbag itu sambil menggaruk bagian belakang lehernya, "Kau seharusnya tidak perlu repot-repot." Ucapnya tidak enak.

"Rose bahkan sengaja meminta Ibunya mencari cokelat terbaik untuk ia berikan kepadamu, Sunbae!" Teman Rose menjelaskan.

Myungsoo meringis. Kedua matanya melirik Suzy yang sedang memerhatikan mereka dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya, sedangkan tubuhnya dibiarkan menyender pada dinding yang kini catnya sudah mulai memudar. Suzy mendongakkan dagu, seolah memberi tantangan menyuruh Myungsoo supaya meneruskan pembicaraan tidak penting itu.

Namun, alih-alih mengikuti tantangan Suzy, Myungsoo malah menyudahi pembicaraan itu. "Terima kasih, Rose. Tapi sepertinya aku harus segera berganti pakaian. Ada bom waktu yang sedang menungguku disana." Myungsoo memandang kearah Suzy sekilas.

Kedua perempuan itu langsung menoleh, dan baru menyadari kalau sejak tadi ada seseorang selain mereka disana. Dengan sopan keduanya langsung tersenyum ke arah Suzy, namun Suzy lebih memilih mengabaikannya. Ia berjalan mendekati mereka, tanpa sedikitpun memandang kedua perempuan itu, Suzy berucap pelan kepada Myungsoo,  "Aku tunggu di mobilmu." Katanya, lalu mengambil kunci mobil Myungsoo dari dalam tas ransel pria itu dan berjalan keluar.

***

"Kaupasti sangat senang ya." Suzy berkata dengan nada sakarsme ketika Myungsoo membuka pintu kemudi dan menaruh tas beserta paperbag itu ke kursi belakang.

Myungsoo mengangkat alisnya, "Apa?"

"Tiap saat Rose memberimu hadiah-hadiah. Wah!"

"Kau bisa mengambil cokelat itu kapanpun kauingin, Suzy." Myungsoo mengatakan dengan suara lembut. Kemudian menyalakan mesin mobil dan membawa mobil itu berjalan di tengah-tengah keramaian kota.

"Tidak sudi aku makan cokelat dari perempuan itu!" Jawab Suzy dengan ketus. Satu tangannya merogoh headset dari dalam tasnya, lalu memasangkannya di telinga dan menyetel volume hingga penuh.

Myungsoo bisa mendengar lagu 'Fake Love' milik BTS menggema samar. Myungsoo menghela napas, dia tahu kalau Suzy sedang dalam mode kesal. Tentu saja, Fashion dan Suzy bagaikan saudara kembar yang tidak akan pernah bisa di pisahkan, dan tentu saja pula perempuan ini pasti lah masih kesal karena tragedi gaun nya tempo lalu. Myungsoo menyalakan lampu sen dan menepikan mobilnya tepat di bawah pohon rindang di pinggir jalan.

"Kau bisa terkena gangguan pendengaran jika mendengarkan musik keras-keras, sayang." Myungsoo melepaskan kedua kepala headset dari telinga Suzy.

Suzy tidak menoleh, pandangannya tetap mengarah ke depan, membuat Myungsoo menghela tangannya ke sisi wajah Suzy, lalu memutar pelan supaya wajah itu menghadap kepadanya.

"Kau marah?" Myungsoo menatap sendu tepat kedalam mata Suzy, Ibu jarinya bergerak mengusap seringan bulu pada pipi Suzy.

"Aku tidak marah," Suzy memalingkan wajah, "Aku kesal."

"Bukan aku yang mendekati Rose, Suzy. Dia yang datang memberikan cokelat-cokelat itu."

"Yya, aku bahkan tidak pernah merasakan seperti ini pada lelaki sebelumnya yang ku kencani!"

Myungsoo tersenyum kecil, "Aku tidak akan memakan cokelat itu."

"Lupakan," Suzy mendengus, menatap Myungsoo dengan mata menyipit, tangannya dilipat di depan dada, "Apa mereka tidak tahu kalau kau sudah menjadi milikku sepenuhnya? Awas sampai kau dekat-dekat dengan perempuan itu atau perempuan yang lain!" Ancam Suzy.

"Kau sendiri masih dekat-dekat dengan lelaki lain," Kening Myungsoo berkerut ketika bayangan tadi tiba-tiba muncul di kepalanya. "Lagipula mereka tidak akan tahu karena ini adalah 'cinta rahasia' , seperti yang kauinginkan."

"Yya, jangan membantahku!" Suzy berseru kesal. "Lagi pula aku tidak akan berhubungan dengan orang lain kalau aku sedang bersama seseorang."

"Aku juga begitu."

"Soojung bilang tadi Rose mengikuti gaya ku." Suzy mengerutkan keningnya.

"Menurutku tidak," Myungsoo membalas.

"Tentu saja! Aku memang paling cantik dan tidak seorangpun mampu mengikutiku." Ucap Suzy percaya diri.

"Bukan, Rose begitu lugu dan lemah lembut, sedangkan kau...," Myungsoo menahan pandangannya, "Kau begitu barbar."

Suzy menatap Myungsoo dengan jengkel, "Yya--aish! Menyingkirlah!"

Suzy hendak mendorong tubuh Myungsoo menjauh, tetapi sayangnya lelaki itu lebih dulu menghanyutkan Suzy kedalam ciumannya.

***

Tue 3/26/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co