14
"Halmeoni, aku datang!" Suzy berlari masuk ke ruang utama yang sungguh amat besar disana. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, namun matanya sama sekali tidak menemukan keberadaan sang nenek dan pengawal pribadinya. Suzy mengerutkan kening, "Dimana nenekku?" Tanya nya pada kepala pelayan rumah besar itu.
"Nyonya Bae sedang minum teh di rumah kaca, Nona." Sang pelayan menjelaskan sambil menunduk.
Suzy mendengus, "Ahjumma, kau tidak perlu seformal itu padaku. Aku sudah mengulangnya berkali-kali."
Perempuan pelayan itu mengangguk.
Suzy menengok kesamping kiri, lalu tersenyum kecil, "Ayo. Nenek mungkin terkejut karena kau juga kesini." Suzy langsung menarik lengan Myungsoo menuju rumah kaca dibagian taman belakang.
"Aku tidak mengerti."
"Kau tahu kenapa nenek sangat menyukai Joon?"
Myungsoo menggeleng.
"Karena Joon mirip denganmu. Dia cukup baik dan...well, dia memang baik sebenarnya." Suzy menjelaskan. Mereka menyusuri ruang dapur lalu memasuki koridor kecil yang akan menghubungkan mereka ke taman belakang. Pemandangan hijau nan asri langsung menyambut mereka saat keduanya melangkah keluar melewati pintu geser transparan. "Sejak kau pergi wamil sampai pulang, kau jarang sekali ikut denganku mengunjungi nenek. Dia merasa kehilangan cucu kesayangannya, sampai akhirnya dia bertemu Kim Joon." Ujar Suzy sambil menekankan kata 'cucu' .
Myungsoo tersenyum kecil. Dia memang sudah akrab dengan Nenek Suzy sejak lama. Bahkan, sebelum kabar mengejutkan antara si Nenek dan kakeknya itu keluar. Dulu, Myungsoo sering mengantar Suzy untuk mengunjungi neneknya disini. Myungsoo yang sejak masih bayi tidak memiliki Nenek tentu saja merasa senang, apalagi Nenek Suzy sangat baik dan penyayang. Dengan uangnya yang begitu banyak, tidak heran jika di rumah ini penuh dengan makanan dan cemilan bercita rasa tinggi, salah satu yang membuat Myungsoo jatuh cinta pada tempat ini. Dan disini pula, adalah tempat dimana ia menyadari kalau dirinya sudah tidak menganggap Suzy sebagai seorang teman.
Keduanya berjalan menyusuri tanaman anggrek kesayangan Nenek Suzy yang berjejer rapih dipinggir kanan-kiri. Lalu menaiki tiga tangga dan Myungsoo membuka pintu geser yang terbuat dari kaca anti peluru di depan mereka. Satu tangan Myungsoo yang sejak tadi berada di pinggang Suzy terlepas ketika Suzy berlari dan memeluk Neneknya dari belakang. Tangan tua sang Nenek langsung merespon dengan mengusap-usap punggung tangan cucu perempuan kesayangannya.
Adalah Cheon Song-yi, nenek dari pihak sang Ayah. Satu-satu nya pewaris bisnis raksasa elektronik terbesar di Korea. Memiliki tiga orang anak dan 5 cucu dari hasil pernikahannya dengan Bae Il-woo. Satu anak laki-laki nya yang merupakan Ayahanda Suzy, dan dua lainnya adalah perempuan. Yang kini menetap di Hongkong dan Jepang. Pernikahan hasil perjodohan, Cheon Song-Yi dan Bae Il-woo menikah dengan jarak umur sebelas tahun. Namun, Bae Il-woo harus lebih dulu berpulang karena serangan jantung yang menimpanya di usia 87 tahun. Sepuluh tahun yang lalu.
"Suzy-ku..." Nenek berdiri, memutar tubuhnya kemudian memeluk cucu kesayangannya dengan hangat.
Suzy tersenyum, matanya menatap sesaat beberapa penjaga berpakaian serba hitam dengan postur berotot yang berdiri tidak jauh dari sang Nenek. Mereka adalah orang kepercayaan yang akan selalu berada di sebelah Nenek 24 jam penuh. Kecuali jika sang Nenek sedang membicarakan masalah keuangan dengan pengacaranya.
Suzy melepaskan pelukan itu, kedua tangannya masih berada di sisi bahu sang Nenek, lalu tersenyum lagi, "Tebak, aku membawa siapa?" Ucapnya. Kemudian, menggeser tubuhnya kesamping kiri.
Song-yi membawa mata tua nya mengikuti arah pandang Suzy, lalu tersenyum, "Cucu-ku!" Ujar Song-yi, lalu berjalan mendekat dan memeluk Myungsoo.
Myungsoo sedikit menundukkan tubuhnya karena perempuan yang sedang memeluknya ini memiliki tubuh yang lebih pendek. Tangannya mendekap dengan hangat tubuh tua itu.
"Kau jarang sekali ikut Suzy kesini."
"Suzy selalu kesini diantar oleh kekasih-kekasihnya, nek."
"Yya!" Suzy memelototi Myungsoo dengan kesal.
Nenek Song-yi melepaskan pelukannya, "Mereka semua tidak sebaik dan setampan kau, mungkin hanya Joon yang lumayan juga. Dia selalu membawakanku kue." Ucap Nenek, kemudian membawa tubuhnya duduk pada kursi yang sebelumnya ia duduki, "Ayo, duduk. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan teh herbal untuk kalian juga."
Keduanya lalu mengambil tempat di depan sang nenek, di kursi panjang dan duduk bersebelahan.
"Bagaimana kabar kalian? Sejak makan malam itu aku tidak pernah mendapatkan kabar dari kalian lagi." Nenek mengambil gelas tehnya.
"Aku baik. Myungsoo baik."
"Kau selalu menjawab pertanyaanku untuk Myungsoo. Anak nakal."
Suzy tersenyum kecil, lalu menoleh kearah Myungsoo dengan pandangan menggoda, "How are you, handsome?"
Myungsoo terkekeh sambil menggelengkan kepala, "Aku baik, Nek. Dua hari yang lalu aku baru mengunjungi kakek juga."
"Iya, dia cerita padaku."
"Kau kerumah kakekmu? Kok tidak bilang?" Suzy menatap Myungsoo dengan keningnya yang berkerut. Dia sama sekali tidak mengetahui kalau Myungsoo pergi menemui kakeknya. "Dengan siapa?"
"Sendiri. Bukannya aku sudah bilang padamu, ya?"
Suzy mendengus, kemudian menyenderkan tubuhnya pada kursi, "Tidak."
Mood nya langsung berubah karena Myungsoo tidak memberitahukan apa yang seharusnya ia beritahukan seperti biasa. Keningnya mengerut dua hari yang lalu kalau tidak salah dia dan Myungsoo juga berteleponan, tapi lelaki itu tidak mengatakan apapun padanya, "Waktu kita sedang teleponan, kau sedang dimana?"
"Di rumah kakek." Myungsoo mengambil cookies berbentuk kepala hantu, dan memakannya.
"Kau tidak bilang kalau sedang ke rumah kakekmu, Myungsoo."
"Kupikir aku sudah memberitahunya." Myungsoo mengerutkan keningnya, "Aku pasti lupa."
Suzy mendengus. Kemudian mengambil teh herbal yang baru diletakkan pelayan diatas meja.
Sedangkan Nenek Song-yi, yang sejak tadi hanya diam dan memerhatikan kedua anak muda itu, nampak sedikit mengerutkan kening. "Kalian seperti sedang berpacaran saja."
"Uhuk!" Suzy terbatuk karena ucapan Nenek nya. Cangkir teh nya bahkan sampai bergoyang saat ia terbatuk, tapi Myungsoo dengan sigap langsung meletakkan cangkir itu kembali ke meja lalu menepuk punggung Suzy pelan-pelan. "Kau baik-baik saja?" Ucap Myungsoo dengan nada khawatir.
Suzy mengangguk. Kepalanya mendongak dan menatap neneknya dengan canggung, "Halmeoni, apa yang kaubicarakan."
Nenek Song-yi mengangkat kedua bahunya, "Hanya berkata. Kalian seperti kekasih yang sedang bertengkar ketika kekasihnya tidak memberitahu keberadaan."
Suzy tertawa miris, "A-aniyo. Kau seperti.itu dengan Kakek Kim?"
Meski sedikit, Suzy dan Myungsoo bisa melihat bagaimana perubahan di wajah perempuan tua itu, ada sedikit semburat merah yang menjalar di pipi nya.
"Tidak, kami tidak melakukan hal seperti yang anak muda lakukan." Nenek tersenyum. Perempuan bersanggul itu menatap kearah Suzy, "Bagaimana kabar Ayah dan Ibumu?"
"Aku tidak tahu." Suzy menjawab malas. Matanya menatap sekitar, rumah kaca ini sudah ada sejak ia masih kecil. Dulu, disini dijadikan sebagai ruang diskusi santai Kakeknya bersama rekan bisnis. Namun, sejak kakek tiada, rumah kaca ini berubah fungsi menjadi tempat minum teh. Pada pukul 1 hingga pukul 3, Song-yi akan berada disini untuk menikmati hidup. Song-yi mengatakan kalau disini adalah tempatnya untuk mengisi energi. Dengan pemandangan kolam ikan berukuran besar dengan bunyi air mancur yang menempel di dinding pembatas, rumah kaca ini memang bisa memberikan efek tenang bagi siapa saja yang lelah karena 'dunia luar' .
"Ah, Suzy?"
"Hm?"
"Nenek memiliki beberapa kualifikasi cucu laki-laki dari beberapa rekan bisnisku dulu," ucap Nenek, "Gin, berikan berkas yang waktu itu pada Suzy." Lanjutnya sambil berbicara pada salah satu para penjaga nya.
Pria yang dipanggil Gin itu kemudian mengambil map coklat dari dalam laci meja kecil yang berada di ujung ruangan, dan memberikannya kepada Suzy.
"Halmeoni." Suzy menatap map dan sang nenek bergantian.
"Nenek tidak akan tenang kalau kau terus-terusan berganti-ganti pacar, Suzy."
Suzy mendesah. "Tapi tidak perlu melakukan hal seperti ini."
"Mereka adalah salah satu pemilik bisnis sukses di Korea, bahkan sudah sejak dulu. Semuanya sudah kurangkum dalam 10 halaman. Kau bisa memilih siapa saja pria yang kausukai dan kau akan mendapatkannya."
"Shireo!"
"Suzy..."
"AKU TIDAK MAU, NEK!" Suzy berteriak, namun setelahnya ia menyesali karena sudah berkata kasar kepada neneknya, "Maafkan aku, aku tidak bermaksud berteriak."
Suzy memejamkan kedua matanya lambat-lambat, mencoba meredam kekesalan yang memupuk di dadanya, lalu kembali membuka mata, "Aku pulang." Ucapnya, kemudian mengambil tasnya, berdiri, dan pergi dari sana.
Myungsoo yang sejak tadi merepalkan kedua tangannya menatap punggung Suzy dengan nanar, ia menghitung sampai tiga supaya bisa kembali menetralkan emosinya juga, lalu tersenyum menenangkan perempuan tua yang nampaknya shock akan apa yang terjadi sekarang. Myungsoo berucap pelan, "Aku akan bicara dengan Suzy."
Kemudian Myungsoo berjalan pergi meninggalkan rumah kaca itu dan pergi menyusul Suzy.
***
"Kau tidak seharusnya berteriak kepada nenekmu." Myungsoo melirik Suzy, lalu kembali memusatkan fokusnya pada stir kemudi.
Suzy diam. Sepertinya mulut cantik itu tak akan terbuka hingga beberapa menit ke depan. Myungsoo menghela napas, tangannya bergerak akan menghidupkan radio ketika suara Suzy bergumam kecil, "Aku sedang tidak dalam kondisi ingin mendengar suara apapun."
Myungsoo mengurungkan niatnya. "Suzy--"
"Kakekmu juga memberikan kualifikasi perempuan?"
Myungsoo menggeleng, "Tidak," Kaki Myungsoo menginjak pedal rem ketika melihat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. "Nenek Song-yi ingin yang terbaik untukmu, Suzy. Makanya dia memberikan--"
"Aku tidak perlu. Dia seharusnya tahu, karena anaknya lah aku tidak ingin hubungan yang serius." Suzy mengatupkan rahang. Kedua matanya menatap lurus-lurus kedepan, sedangkan tangannya menggenggam erat tasnya.
"Lalu denganku?"
Suzy terkekeh ironi, "We both are just a friend."
"No. Kau kekasihku, Suzy."
"Sampai Nenekku dan Kakekmu mengikrarkan dua perusahan di depan altar."
"Aku bisa menjadi kekasih rahasiamu selamanya."
Suzy terkekeh lagi, lalu menoleh, "Kau yakin? Paman, bibi dan kakekmu pasti sudah merencanakan masa depanmu juga, Myungsoo. Kau lupa kita ini anak siapa?"
"Aku tidak akan melepaskanmu, Suzy. Jika perlu, aku akan mengatakan pada semuanya kalau kita menjalin hubungan."
"Dan membuat senyuman diwajah nenekku hilang?" Suzy menatap Myungsoo dengan pandangan lirih, "Sejak 10 tahun lalu, aku baru sekarang melihatnya tersenyum seperti tadi saat aku menggodanya tentang kakek Kim."
Myungsoo mengusap wajahnya, ia kembali menjalankan mobilnya ketika klakson dari mobil di belakangnya terdengar berseru tidak sabaran. Lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan. Pembicaraan ini tidak mungkin dilakukan dalam keadaan menyetir.
"Lalu, bagaimana dengan hubungan rahasia ini? Aku ingin ini tetap berjalan meskipun kakek dan nenek akhirnya menikah."
"Kim Myungsoo," Suzy menatap Myungsoo tak percaya.
"You should know how much I love you, Suzy."
"Tapi, mereka akan sakit jika akhirnya mengetahui hal ini." Suzy mendesah.
"Lalu, kenapa kau mengajakku menjalin hubungan seperti ini?"
Suzy terdiam. Wajahnya menunduk dengan tatapan sendu. Alasan sebenarnya adalah ia tidak ingin kehilangan Myungsoo dari sisinya. Namun, ada hal lain yang lebih serius dari yang semua ia rasakan. Hatinya. Hatinya selalu merasakan perasaan-perasaan aneh acap terasa sejak bersama lelaki ini.
"Suzy?"
"I don't wanna lose you."
***
Wed 3/27/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co