15
"Yya Myungsoo, dimana kau?!" Suzy berseru kencang ketika panggilannya terhubung. Dia sudah ready-to-go tetapi orang yang ditunggunya sama sekali belum datang kerumah.
"Aku kesiangan, Suzy. Astaga, ini karena begadang bersama Minhyuk. Tiga puluh menit lagi aku sampai di rumahmu ya..."
"Tidak usah!"
"Kenapa? Aku tidak akan la--"
"Aku sudah terlambat! Dan Kau pacaran saja sana dengan Minhyuk dan Playstation nya!" Suzy mendengus, ia bangkit dari duduknya dan membawa tas Gucci Marmont matelassé yang senada dengan warna blouse nya. Kakinya yang berbalut stiletto krem keluaran terbaru, lalu dilangkahkan kedua tungkai jenjang itu menuju kearah pintu utama dan membukanya.
"Jungkook?" Suzy mengerutkan kening ketika lagi-lagi mendapati Jungkook di depan pintu rumahnya.
"Jungkook? Sedang apa dia disana?" Ucap Myungsoo dari balik sambungan.
"Kupikir kau sudah pergi karena nomormu sibuk." Jungkook tersenyum. Lelaki itu kemudian melirik tangan Suzy yang masih berada di telinga dengan ponsel. "Sepertinya sahabatmu itu tidak menjemputmu. Aku beruntung." Lanjutnya.
"Hei, Suzy. Kenapa dia kerumahmu sepagi ini?" Myungsoo bertanya dengan nada mendesak karena perempuannya tidak menjawab pertanyaannya.
Suzy berdecak, "Molla! Keuno!" Lalu memutuskan panggilan itu secara sepihak. Setelah menaruh ponselnya kedalam tas, Suzy mendongak dan tersenyum, "Kurasa kau memang beruntung pagi ini. Kajja."
Jungkook menyeringai kemudian mengikuti Suzy yang lebih dulu berjalan di depannya.
***
"Setiap pasang bola mata milik perempuan-perempuan di fakultasku rasanya hampir keluar semua karena melihatmu sekarang." Suzy berbisik pelan, tatapannya lurus kedepan dan menikmati apa yang sedang terjadi sekarang.
Tentu saja, semua perempuan-perempuan di Universitas ini pasti menulis nama Jungkook di dalam buku catatan the most wanted guy versi mereka. Dan kenyataan bahwa dia berhasil membuat mereka gigit jari dan menaruh rasa iri kepadanya tentu saja sangat menyenangkan. Suzy menahan senyuman lebarnya, kakinya yang dibalut stiletto terus saja berjalan menuju kelas pertamanya, dan dengan Jungkook disebelahnya.
"Aku malah berpikir sebaliknya," Jungkook berbisik ditelinga Suzy.
Suzy menoleh heran. Ia membawa dirinya berbelok pada koridor pertama dilantai dua. Kelas pertamanya ada diujung koridor.
"Kupikir ada yang ingin menelanku saat ini juga." Jungkook tersenyum sambil menatap lurus kedepan, lalu tanpa diduga Jungkook membawa satu tangannya melingkar ke pinggang Suzy.
Suzy tersentak. Matanya langsung mengarah kepada tangan yang sedang melingkari pinggangnya tanpa aba-aba itu. Suzy menoleh kembali ke arah Jungkook lalu merespon, "Apa yang coba kaulakukan?"
"Merebutmu." Jungkook melirik sekilas.
Dengan kening mengernyit bingung, Suzy kembali bertanya, "Apa?" Dan tepat pada saat itulah mereka sampai di depan pintu ruangan kelas pertama Suzy--yang bahkan Suzy sendiri tidak menyadari karena dia sibuk menatap Jungkook dengan pandangan tidak mengertinya--sebelum akhirnya suara milik Soojung terdengar menyerukan namanya dengan histeris. Dan ketika Suzy menghadap kedepan, seluruh pandangannya langsung menemukan Myungsoo ada disana. Menatapnya dengan pandangan... Suzy tidak yakin apa pandangan itu, mungkinkah cemburu? Marah? Atau tatapan biasa karena Myungsoo memang suka berekspresi datar?
"Kalian berkencan?" Soojung berlari menghampiri Suzy dengan pertanyaan yang tidak masuk akal.
"Ti--"
"Doakan secepatnya." Jungkook menyela lebih dulu. Lelaki itu tersenyum tampan sebelum akhirnya ia berpamitan dan pergi meninggalkan lokasi itu. Lokasi yang kini dipenuhi bisik-bisik histeris dari beberapa pasang mata yang berada disana.
"Mwoya... Apa itu tadi?" Soojung mencecar. Diikutinya langkah Suzy yang berjalan masuk kedalam kelas, lalu mengambil tempat disebelah Suzy, "Apa dia mencoba memberimu kode kalau dia menyukaimu? Wah, dia bahkan merangkul pinggangmu. Bahkan, Minhyuk saja tidak pernah melakukan itu belakangan ini." Ucap Soojung takjub.
Suzy mengeluarkan catatan kecilnya dari dalam tas. Kemudian mendengus pelan, "Kekasihmu itu sibuk berpacaran dengan game dan Myungsoo, Jung." Suzy melirik sinis kearah Myungsoo yang hendak mengambil tempat di kursi sampingnya yang kosong. Lalu berkata dengan sinis, "Jangan duduk disini! Kupukul kau jika sampai melakukannya!"
"Aigoo, kau bertengkar lagi dengan suamimu? Kenapa?"
"Dia lebih ingin berpacaran dengan Minhyuk dan Game sialan itu dari pada aku!" Suzy masih menatap Myungsoo dengan pandangan kesalnya.
Beberapa mahasiswa sudah memenuhi sebagian kursi kelas, namun dosen pengampu mereka belum juga menampakan batang hidungnya. Tidak ada keterkejutan di wajah-wajah itu karena posisi duduk mereka yang jauh dari posisi duduk Suzy. Namun, tidak untuk Soojung. Perempuan itu cukup baik mendengarkan apa yang dikatakan Suzy barusan. Pun, dengan Minhyuk yang mengambil tempat disebelah Soojung yang walaupun sejak tadi dia sibuk dengan game di ponselnya, tetapi indera pendengarannya cukup tajam untuk mengikuti percakapan yang terjadi disebelahnya. Keduanya--Soojung dan Minhyuk--mendongak, menatap Suzy dan Myungsoo bergantian.
"A-apa?!" Soojung tercekat. "Kau...maksudmu kalian..."
"Aniyo!" Suzy diam-diam menelan kegugupan, karena dia kesal bisa-bisanya ia sampai keceplosan. "Bukan begitu. Maksudku...," Suzy menatap raut wajah Soojung yang sedang serius menunggunya untuk menjelaskan apa maksud ucapannya tadi itu. Kemudian mendorong buku catatannya kedepan, "Aish... molla, molla!" Suzy kembali menatap Myungsoo yang masih berdiri di depannya, "Pergi! Aku sedang kesal padamu!" Ucapnya ketus.
***
Bagi Myungsoo, tidak pernah sekalipun terbesit kekesalan dalam hal perkuliahan selama ini. Dia selalu bisa mengerjakan apapun, memahami apapun, dan tidak merasa bahwa menunggu jam pergantin perkuliahan itu menyebalkan. Hampir tidak pernah. Menurutnya malah jam bergulir begitu cepat dikala ia sedang sibuk mencatat atau mendengarkan penjelasan dari dosennya. Dan, jam terasa begitu cepat saat sebelah telinganya mendengarkan suara Suzy yang khas akan mengoceh secara pelan karena dosen yang terus menjelaskan atau karena jarum jam yang tidak bergerak-bergerak menurut perempuan itu. Kemudian, dalam separuh waktu yang terasa cepat itu Suzy akan menyandarkan kepalanya pada bahu Myungsoo. Dan Myungsoo akan menerima dewinya dengan sepenuh hati.
Tapi sekarang, semua bergerak seperti refleksi air. Ini memang bukan kali pertama Suzy bertingkah seperti tadi. Beberapa tahun yang lalu, Suzy sempat mendiaminya selama seminggu penuh karena Myungsoo lupa memberikan kado hari valentine untuk perempuan itu, Lupa kalau mereka ada janji untuk mencoba menu baru di kafe langganan, dan lupa-lupa lainnya yang intinya membuat perempuan cantik itu kesal kepadanya. Namun, di antara semua kelupaannya itu, Myungsoo tidak akan pernah lupa kalau Suzy pernah bercerita satu waktu padanya, tentang bagaimana Suzy berkencan dengan semua mantan-mantannya.
"Aku hanya membiarkan kau yang menyentuhku, jadi berbanggalah." Ucap Suzy. Kala itu, mereka sedang berada di kamar Myungsoo dirumah karena mereka masih anak remaja delapan belas tahun dan tentu saja Myungsoo saat itu belum memiliki apartemen sendiri. Myungsoo ingat ketika Suzy menjatuhkan kepalanya dipangkuan Myungsoo sementara Myungsoo berselonjor dengan punggung menyandar pada kaki ranjang dengan buku di tangannya.
"Yya, respons aku! Apa buku bodoh ini lebih penting dari pada aku?"
"Tidak ada buku yang bodoh, Suzy. Lagipula, memangnya pacar-pacarmu tidak pernah menyentuhmu? Kau bahkan memberikan ciuman pertamamu dengan sunbae playboy yang kau campakan seminggu setelahnya."
"Dia sendiri yang bertingkah, makanya aku putuskan!" Ia ingat sekali ekspresi Suzy saat itu, "Dan walaupun aku berciuman dengan lelaki-lelaki itu, mereka tidak pernah kubiarkan untuk lebih dekat seperti kau, Myungsoo. Tidak ada lelaki lain yang meletakkan tangan mereka dipundak ataupun dipinggangku. Aku tahu apa yang mereka pikirkan saat melakukan itu."
"Jadi, menurutmu aku tidak berpikir hal yang sama seperti laki-laki itu?"
Suzy menggeleng, "Tidak. Kau tidak mungkin berpikiran macam-macam. Pacaran saja tidak pernah!"
Begitulah, Suzy tidak membiarkan lelaki manapun dengan mudah meletakkan tangan mereka ditubuh Suzy. Tidak akan. Ya... Setidaknya Myungsoo akan terus berpikir seperti itu kalau saja ia tidak melihat Jungkook yang dengan santainya memeluk pinggang Suzy.
Dan... Perempuan itu menerimanya!
Astaga, ini tidak bisa dibiarkan. Bayangan-bayangan itu terus saja mengganggunya, bahkan sampai membuat penjelasan dosen pagi ini tidak masuk sama sekali kedalam otak Myungsoo. Dia terdistraksi sepenuhnya. Myungsoo mengetuk-ngetuk bolpoinnya pada meja, menghitung dalam hati kapan perkuliahan ini selesai.
Satu... Dua... Tiga... Duapuluh... Tigapuluh lima...
"Baiklah perkuliahan ini selesai hari ini." Belum juga dosen pengampu mereka menyudahi mata perkuliahannya, Myungsoo sudah lebih dulu bangkit dan menarik Suzy keluar.
Gucci Marmont matelassé berwarna soft pink itu bahkan belum sempat diraih Suzy karena Myungsoo sudah lebih dulu membawanya keluar. Suzy sampai terhuyung berjalan mengikuti Myungsoo dengan bingung, "Yya, tasku di dalam!" Gerutunya sambil mencoba menarik tangannya dari genggaman Myungsoo.
Myungsoo berhenti tepat di tengah-tengah koridor, tubuhnya berbalik menghadap Suzy dan perempuan itu langsung menabrak dada bidang Myungsoo. Hampir saja Suzy terhuyung ke belakang kalau saja Myungsoo tidak sigap menahan pinggul Suzy dan membuat perempuan itu tetap menempel pada dada bidangnya.
"Kenapa kau membiarkan Jungkook menaruh tangannya di pinggangmu, Suzy?"
"Aku juga tidak tahu kalau dia akan melakukan itu. Lepaskan, ada banyak orang yang melihat." Suzy mencoba mendorong Myungsoo kebelakang, namun tubuh itu laksana patung yang bergeming.
"Kenapa kau membuat pikiranku terdistraksi, Suzy?"
Suzy mengerjapkan kedua matanya tidak mengerti.
"Apa maksudmu--"
"Aku tidak ingin hubungan rahasia lagi." Ucap Myungsoo seraya menangkupkan kedua tangannya diwajah Suzy, dan dengan pasti Myungsoo langsung mencium bibir Suzy.
Tanpa aba-aba. Tanpa memikirkan apa-apa.
Disaksikan oleh setiap pasang mata yang ada di koridor itu dengan telapak tangan menutup mulut mereka; terkejut.
"Daebak!"
"Myungsoo akhirnya melakukan apa yang harus dia lakukan!"
"Seandainya aku yang berada di posisi Suzy!"
"Myungsoo benar-benar beruntung!"
"Myungsoo sunbae..."
"Aku tidak menyangka Myungsoo sunbae mencium sahabatnya! Ini gila! Seharusnya perempuan itu kau, bukan Suzy sunbae."
"Aku tidak menyangka persahabatan mereka akan berakhir seperti ini!"
"Oh my god! Perempuan jalangku akhirnya mencium sahabatnya! Aku rasanya ingin pingsan!"
"Chagi-ya, jangan pingsan disini, tubuhmu sedang mengalami kenaikan berat badan."
"Klik!"
Dan bisikan-bisikan itu terus terdengar hingga Myungsoo melepaskan ciumannya.
***
Wed 3/27/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co