Truyen3h.Co

Feudatory

16

authoriya

"Kemarikan tasku," Suzy mengulurkan tangannya meminta tas Gucci miliknya yang berada di genggaman Soojung dengan mata yang mengarah kearah lain, ia menolak menatap sahabat perempuannya yang paling cerewet itu karena dia tahu saat ini kepala perempuan itu sedang dipenuhi dengan letupan pertanyaan seputar kejadian tadi.

Sial, kenapa Myungsoo harus menciumnya di depan orang banyak seperti tadi sih? Juga, kenapa dirinya malah terlena dan mengikuti alur bukannya malah mendorong lelaki itu menjauh.

Aku tidak ingin hubungan rahasia lagi... Ucapan Myungsoo terus saja teriang-ngiang di kepala mungil Suzy. Dia tahu apa maksudnya ini, tapi dia juga bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya.

"Mari kita mulai dengan kau menjelaskan terlebih dahulu soal kalimat 'Aku tidak ingin hubungan rahasia lagi'..." Soojung bersuara dengan santai. Kedua tangannya terlipat didepan dada, sedangkan matanya sibuk memandangi Suzy dan Myungsoo yang duduk bersisian di depannya secara bergantian.

"Kurasa aku sama penasarannya dengan kekasihku. Ayo, Myungsoo, bisa kau jelaskan apa maksud dari kata-katamu tadi itu?" Minhyuk menggeser tubuhnya maju, kedua tangannya saling bertautan di atas meja kayu berlapis cat berwarna putih ganding.

"Seperti yang kalian pikirkan." Jawab Myungsoo sekenanya, ia meraih minuman bersodanya lalu meminumnya.

Suzy menginjak sepatu Myungsoo dengan kesal karena lelaki itu malah memberikan jawaban yang gamblang. Tidak bisakah Myungsoo diam saja dan tak usah repot-repot menjawab dua orang ini?

"Aw, appo!" Myungsoo meringis, tangannya otomatis bergerak mengusap kakinya yang diinjak Suzy menggunakan high heels tinggi itu.

Suzy mendengus, "Soojung, Minhyuk, lebih baik kalian tidak usah bertanya apapun lagi. Aku pusing."

"Aku lebih pusing!" Soojung menggerutu. Kemudian, satu ide tercetus dalam benaknya, membuat Soojung tersenyum lebar, "Aku akan menumpahkan mocca float-ku ke tas kesayanganmu ini kalau kau tidak mau menceritakan hubungan kalian berdua!" Ancam Soojung, tangannya langsung mengambil gelas minumannya dan mendekat gelas itu ke tas milik Suzy.

Suzy menegakkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar di punggung kursi, "Yya, kucolok matamu jika sampai minuman murahmu itu jatuh mengenai tas kesayanganku!"

"Aku akan kabur sebelum kau berhasil mencolok mataku." Balas Soojung santai.

"Yya, Jung Soojung!"

"Lantas mulailah penjelasanmu. Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku saja, apa susahnya?"

Kedua mata Suzy memandangi lamat-lamat pada tas kesayangannya itu. Tas itu baru saja di belinya sebulan yang lalu, dan baru di pakai dua kali. Akan sangat menyakitkan kalau sampai minuman itu jatuh dan mengenai kulit tasnya. Suzy berdecak, mengembuskan napasnya dengan kesal. Lalu menoleh ke arah Myungsoo yang masih meringis kesakitan karenanya tadi.

"Kami berkencan." Akhirnya pernyataan itu meluncur dari mulut Suzy.

Pernyataan yang langsung membuat Soojung membelalakan kedua matanya dengan pandangan bercampur aduk. "Serius?!"

"Tidak, aku bohong," Suzy mendengus. "Kemarikan tasku!"

"Daebak! Daebak! Daebak!" Soojung menggelengkan kepala tak percaya, "Lalu, kenapa kau mesra dengan Jungkook tadi?"

"Aku tidak mesra!"

"Dan aku tidak akan membiarkan Jungkook meletakkan tangannya kepadamu lagi, Suzy. Tunggu sampai kabar ini menyebar." Myungsoo berucap.

"Yya, Kim Myungsoo, bukan ini perjanjian kita!" Suzy cemberut dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Ini tidak adil, kau boleh dekat-dekat dengan lelaki lain tetapi aku tidak."

"Yya, aku tidak akan jatuh cinta dengan Jungkook."

"Kau tidak akan tahu pada siapa kau akan jatuh cinta, Suzy," Soojung menyela. "Lagipula, kenapa tiba-tiba kalian berdua bisa berkencan? Aku benar-benar tidak bisa menebaknya."

"Nado." Minhyuk menyahut.

Pandangan Suzy tanpa sengaja mengarah ke arah luar jendela, dan pada saat itu dia melihat dua orang perempuan sedang berjalan masuk kedalam kafe ini, dengan gerakan secepat kilat Suzy lantas menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Myungsoo dan mengamit lengannya melingkari lengan Myungsoo, "Myungsoo yang mengajakku berkencan karena dia sangaaat-sangaaat menyukaiku." Jawab Suzy dengan menekankan kata 'menyukai' sambil melirik kepada dua perempuan yang berjalan melewati meja mereka.

Soojung mengikuti arah pandang Suzy, "Arra, arra. Aku sudah mengerti sekarang."

Tentu saja, Suzy mengeklaim Myungsoo untuk menjauhi Myungsoo dari lintah yang mencoba menempel pada lelaki itu. Soojung sangat tahu Suzy merupakan tipe perempuan yang begitu dia membenci sesuatu, dia akan membencinya dengan segenap jiwa. Dan tidak berlaku sebaliknya. Well, pilihan yang baik untuk 'menjaga' Myungsoo agar tetap disisi perempuan itu karena bagaimanapun kedua nya itu seperti memiliki satu dunia yang hanya mereka sendiri yang memahami. Myungsoo will treats Suzy better and better, Soojung tidak akan meragukan yang satu ini. Namun, masalahnya adalah... Jika benar apa yang dilihatnya malam itu, Myungsoo sepertinya memang memiliki perasaan lebih kepada sahabatnya. Itu akan berbahaya dan...

"Bagaimana jika kedua mereka tahu?" Soojung bertanya dengan suara berbisik. Tubuhnya maju hingga dadanya menyentuh meja. Pertanyaan ini juga yang langsung menimbulkan efek kepada kedua sahabatnya itu.

"Aku akan berbicara dengan kakekku soal ini."

"Jangan," Suzy melarang. Tangannya yang masih mengamit lengan Myungsoo tiba-tiba meremas pelan, "Nenekku akan sedih jika tahu soal ini. Lagipula Nenek memiliki riwayat lemah jantung."

"Tapi, nenekmu sangat menyayangimu, Suzy. Dia tidak akan sedih..." Ucap Soojung.

"Aku juga sangat menyayangi nenek," Suzy melepaskan rangkulannya pada lengan Myungsoo. Ia mengaduk-aduk minuman coklatnya mengunakan pipet lalu menyesap minuman itu, "Lagipula hubungan jangka panjang tidak akan berhasil bersamaku."

Suzy menoleh ke meja sebelah dan mendapati Rose dan temannya duduk disana. Sedetik pandangan keduanya beradu, namun Suzy segera memalingkan kepala dan dengan angkuh Suzy mendorong kursinya ke belakang, lalu berdiri. Satu tangannya mengambil tas kesayangannya yang sudah diletakkan Soojung diatas meja. "Oksigenku sudah tercemar disini dan membuatku sesak napas. Kurasa, aku harus menyembuhkannya dengan berbelanja." Suzy melirik Myungsoo, "Temani aku ya, sayang. Manager disana mengatakan kalau ada barang baru yang harus kudapatkan."

***

Kim Jo In menatap layar gawai ditangannya dengan rahang mengatup rapat. Urat-urat syaraf di bagian kepala Jo In nampak menegang dan menyembul terlihat. Kedua matanya masih tertuju pada satu gambar yang memenuhi layar seukuran 10.5 inci itu. Beberapa penjaga berdiri berbaris tidak jauh di luar pintu ruangan dengan pakaian serba hitamnya. Sedangkan, satu orang lagi yang merupakan asisten pribadi Kim Jo In nampak berdiri dengan hormat di sisi kiri, kedua tangan laki-laki dengan guratan tua itu saling bertautan. Seumur pengabdiannya pada Kim Jo In, dia tidak pernah melihat ekspresi ini di wajah pria tua itu. Selain ekspresi kesedihan karena harus kehilangan mantan istrinya yang lebih dulu pergi menghadap sang pencipta, Jo In tidak pernah berekspresi, bahkan dulu saat masih gagah pria itu memiliki julukan 'pria berdarah dingin' dari klien-kliennya. Begitulah cara Jo In bekerja hingga bisa menghasilkan pundi-pundi uang yang berlimpah dan perusahaannya semakin berdiri dengan tegak di tengah kemunduran ekonomi pada masa itu.

Namun, sekarang, ketika kedua mata Kim Jo In hanya tertuju pada layar gawai di depannya, sang asisten bisa mengetahui kalau foto itu berhasil mengganggu tuannya. Pria berumur 45 tahun itu nampak menyesal telah memberitahu informasi yang mengejutkan yang didapatnya dari salah satu orang kepercayaan Cheon Song-yi. Photo itu diambil sekitar dua jam yang lalu oleh mata-mata yang diseludupkan pihak keluarga Bae--lebih tepatnya dari Song-yi-- guna mengawasi cucu perempuan mereka yang benar-benar membuat was-was karena sifatnya yang suka pergi mendatangi kelab malam dan berganti-ganti kekasih.

Kim Jo In mengusap wajahnya dengan pasrah, melempar gawai 10.5 inci itu dengan kasar ke atas meja. Photo itu sungguh menganggunya karena ada adegan tidak senonoh yang tidak seharusnya dilakukan di tengah khalayak ramai, apalagi kedua yang terlibat merupakan calon penerus perusahaan besar miliknya dan Cheon Song-yi. Yang nantinya akan menikahi salah seorang pewaris tahta lainnya. Begitulah rencana yang sudah disusun secara rinci itu, namun Jo In tidak habis pikir bagaimana photo itu bisa ada. Atau, bagaimana cara cucu dan calon cucu nya itu menjelaskan.

"Bagaimana keadaan Song-yi?" Tanya Kim Jo In pada asisten pribadinya. Jo In menyandar pada kursi dengan tangan bertumpu pada gagang kursi panda bordir dengan memakai stainless steel murni di keempat kaki kursi itu.

"Nyonya Song-yi sedang dalam istirahat. Tadi sewaktu menerima pesan gambar itu, Nyonya sedang mempercantik anggrek-anggreknya dan jatuh pingsan."

Jo In mengepalkan buku-buku tangannya. Untuk kesekian kalinya pria tua itu menghela napas, kemudian dengan suara dingin sambil meninggalkan ruangan itu, Kim Jo In memberi titah, "Suruh anak nakal itu kemari. Aku perlu bicara."

***

Fri 3/29/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co