Truyen3h.Co

Feudatory

17

authoriya

Myungsoo mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompet dan memberikannya kepada perempuan dengan seragam hitam dan rambut di sanggul rapi kebelakang ketika ia dan Suzy sampai di meja kasir. Perempuan petugas kasir itu menyensor kode batang pada merek tas dan sepatu yang akan di beli Suzy menggunakan mesin, dan mengatakan jumlah yang harus dibayarkan.

"Aku hanya meminta kau menemaniku, bukannya membayarkan belanjaanku," Ucap Suzy, tangannya menyodorkan kartu kredit miliknya kepada si petugas kasir, "Pakai ini saja."

Myungsoo menghela napas, bahkan ketika statusnya dan Suzy sudah berubah, perempuan cantik ini masih tetap menolak untuk dibelanjakan. Dia lebih memilih menghabiskan uang orangtuanya daripada harus merepotkan orang lain, yang mana pada kasus ini Myungsoo sama sekali tidak merasa direpotkan.

Myungsoo menolak mengambil kembali kartu kredit yang hendak dikembalikan perempuan bersanggul itu dan menyuruh petugas itu tetap menggunakan miliknya.

"Aku ingin membelikanmu sesuatu, tolong jangan kau tolak sekali ini saja."

Suzy mengamati raut wajah Myungsoo sesaat, lalu mendesah. "Baiklah." Dimasukan kembali kartu kreditnya kedalam dompet kulit berwarna coklat panjang. Lalu, memasukan dompet itu kedalam tasnya.

Keduanya menunggu dalam diam hingga petugas kasir itu memberikan belanjaan Suzy kepada Myungsoo. Setelah tersenyum sopan, keduanya berjalan keluar gerai tersebut.

"Terima kasih sudah berkunjung..." kata petugas yang berdiri di pintu gerai dengan ramah.

"Kau orang pertama yang membelanjakanku." Suzy tersenyum kecil dengan pandangan masih terarah ke depan. Keduanya berjalan bersisian dengan satu tangan Myungsoo yang kosong menggandeng tangannya.

"Biarkan aku selalu menjadi satu-satunya yang membelanjakanmu kalau begitu."

"Ne?" Suzy menoleh tepat saat gawainya berbunyi. "Tunggu sebentar," ucap Suzy seraya melepaskan gandengan tangan Myungsoo dan mengambil gawainya dari dalam tas.

"Ya, Ini Suzy." Tanya Suzy setelah berhasil mengangkat panggilan itu. Panggilan telepon itu berasal dari nomor rumah Neneknya dan tidak biasanya jam segini nomor itu menghubunginya.

"Nyonya pingsan, nona." Lapor seseorang dari balik saluran.

Kedua mata Suzy membulat terkejut, lalu menatap Myungsoo tanpa ekspresi. "Kenapa bisa? Dia terlalu lelah? Memang nenek habis apa?" Suzy mencecar dengan pertanyaan memberondong.

"Sebaiknya nona kesini saja dan melihat kondisi Nyonya."

"Arraso." Suzy langsung memutuskan sambungan telepon itu. Sinar matanya meredup ketika berhadapan dengan manik mata milik Myungsoo. "Nenek pingsan, dan aku harus kesana menemuinya."

"Aku akan menemanimu kesa--" ucapan Myungsoo terputus saat dering dari gawai miliknya yang gantian berbunyi. Tangannya merogoh benda persegi itu dari dalam saku celana dan mengernyit ketika nomor asisten sang kakek yang meneleponnya. Myungsoo menggeser ikon hijau itu dan meletakan gawainya di cuping kiri, "Ya, ada apa?"

"Tuan Kim meminta anda untuk datang sekarang juga karena ada hal mendesak yang harus dibicarakan dengan anda, Tuan muda."

***

Myungsoo menghentikan mobilnya tepat di rumah megah berpagar besi hitam yang menjulang tinggi bak gerbang penjara. Dinding berlapiskan batu alam dengan ukiran flamingo dengan tulisan nama KJI's bertinta emas menggunakan jenis tulisan yang bisa dibaca oleh orang minus sekalipun itu terpasang kokoh di dinding samping. Myungsoo membunyikan klakson mobilnya sekali dan pagar besi tinggi di depannya langsung terbuka membelah menjadi dua. Myungsoo membawa mobilnya memasuki KJI's dengan pelan. Sepanjang jalan menyusuri rumah kakeknya, ada sekitar puluhan pohon mahoni besar yang tertanam di sisi kiri dan kanan jalan itu, jalanan yang akan membawa mobilnya langsung ke carport besar yang berada di samping rumah putih megah. Yang mungkin ukurannya tidak bisa dikatakan kalau itu merupakan rumah karena ukurannya yang besar--berdiri diatas lahan 2 hektare--biasanya sanak saudara menyebutnya dengan; mansion.

Myungsoo keluar dari dalam mobil ketika ia berhasil memarkirkan mobilnya berbaris dengan beberapa mobil mewah milik kakeknya, yang pastinya itu akan diwariskan kepadanya suatu saat nanti. Tidak, semua harta itu termasuk rumah megah ini akan jatuh ketangannya suatu saat nanti. Myungsoo menarik napas sekali, lalu berjalan mengikuti paping yang disusun serupa jalan setapak yang akan membawanya langsung menuju lantai kayu nan indah di teras rumah.

Jarum jam yang menggantung di pergelangan tangannya menunjukan pukul 3 sore waktu Korea. Yang berarti, sudah setengah jam lewat dari saat asisten kakeknya menelpon. Karena tadi selepas menemani Suzy dari konter Gucci, Myungsoo bersikukuh untuk mengantar perempuan cantiknya ke menyambangi kediaman neneknya. Ditambah, insiden penolakan berkali-kali dari Suzy--tentu saja-- perempuan itu mengatakan kalau Myungsoo akan sangat telat jika mengantarnya dulu, dan Myungsoo tidak bisa membiarkan Suzy naik taksi sedangkan dirinya masih sanggup mengantar. Akhirnya, Suzy meluluh setelah Myungsoo membungkam bibir manis Suzy dengan sebuah ciuman hangat. Myungsoo bahkan tidak pernah berfikir kalau Suzy akan langsung menurut tiap kali ia habis mencium perempuan itu.

"Tuan Kim Jo In telah menunggu anda sejak tadi," Salah satu orang kepercayaan kakek Myungsoo menyapa ketika Myungsoo berhasil menaiki undakan tangga kayu hingga sampai di depan pintu jati besar dengan ukiran burung merak berwarna putih tulang. "Mari, kuantar." Ucap pria itu sambil mempersilahkan Myungsoo untuk berjalan lebih dulu.

Pria berseragam hitam itu mengajak Myungsoo menaiki tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua, lalu keduanya berjalan, menyusuri dua pilar yang berdiri tegak dengan kokoh bersisian serupa gerbang dan koridor kecil di hadapan mereka. Dua pria berseragam nampak berdiri berbaris dengan tubuh tegap di depan pintu kayu geser berlapis kaca buram anti peluru. Kedua pria itu lantas menyapa Myungsoo dan keduanya kemudian menggeser pintu itu kesisi yang saling bertolak. Myungsoo melangkah masuk ke dalam.

Kim Jo In, berdiri di depan kaca besar anti peluru dengan tangan terlipat di depan dada. Kedua mata berbingkai lensa kaca itu sedang menatap kolam renang dengan air jernih nan tenang, nampak fokus dan sepertinya tidak menyadari kalau cucu kesayangannya sudah tiba di kediaman KJI's sebelum asistennya memberi informasi.

"Apakah jalanan macet?" Tanya Kim Jo In ketika tubuhnya sudah berpaling, ia memandangi Myungsoo berdiri di depan pintu yang sudah tertutup lagi itu dengan pandangan bertanya. Kemudian, Jo In membawa kaki nya melangkah menuju kursi kayu panjang dengan jok kulit asli. Jo In mengambil tempat dan duduk disana.

"Tidak. Tumben sekali kakek menyuruhku datang? Apa hal yang penting itu?" Tanya Myungsoo. Lalu melakukan hal yang sama dengan kakeknya, mengambil tempat di sisi kiri pada kursi yang serupa.

Jo In melepas lensa kaca yang membingkai wajah tuanya dan menaruhnya keatas meja. Satu tungkainya naik ke kakinya yang lain dan tangannya berpaut diatas lutut. Pandangan Jo In jatuh kepada Myungsoo dengan raut wajah tak terbaca, seolah sedang mencari penyangkalan pada apa yang terjadi. Namun, ketika Jo In menyadari kalau pakaian yang dikenakan oleh Myungsoo adalah pakaian yang sama dengan yang ada di foto itu, Jo In akhirnya menghela napas panjang. Menggunakan bahasa tubuh, Jo In menyuruh asisten pribadinya memberikan gawai berlayar 10.5 inci nya kepada Myungsoo. Si asisten menurut, menekan tombol pada gawai itu selama satu detik dan memberikannya kepada Myungsoo.

Kening Myungsoo mengernyit bingung sambil menerima benda elektronik tersebut dari tangan pria berpakaian hitam yang dikenalnya bernama Daniel, Myungsoo memasang tatapan bertanya kepada Daniel, namun pria itu hanya diam tanpa mengindahkan apalagi memberinya sebuah jawaban. Pandangan Myungsoo kemudian mengarah pada layar gawai itu dan...

Sial, ini adalah photo tanpa sadar yang diambil atas kejadian tadi di Universitas! Batin Myungsoo.

Jelas sekali di dalamnya kalau dia sedang mencium Suzy dengan penuh-penuh. Bahkan, untuk mengelakpun kali ini tak akan bisa karena foto ini menjelaskan apa yang perlu dijelaskan.

"Harabeoji, bagaima--"

"Aku ingin kau menjelaskan kenapa kau mencium adikmu?" Jo In memotong.

"Suzy bukan adikku."

"Tapi dia calon cucuku, nak."

Myungsoo memejamkan mata, pembicaraan ini selalu menimbulkan nyeri dibagian dadanya sehingga dia tidak menyukai ini.

"I love her with all my heart. I love her as a man loves a woman."

"KIM MYUNGSOO!" Jo In membentak. Menatap dengan mata nyalang kepada sang cucu, "Kau tahu pernikahanku dan Song-yi sebentar lagi."

"Aku tahu."

"Lalu, Apa-apaan ini!?"

Myungsoo menarik napasnya, "Aku hanya mengutarakan apa yang kurasakan, Kek. Lagipula, kau dan Nenek Song-yi menikah karena ingin menyatukan bisnis keluarga 'kan? Aku bisa meni--"

"Aku pernah menawarkan tentang perjodohan untukmu dan Suzy ketika kau SMP dulu, ingat? Dan kau menolaknya dengan keras," Jo In menjelaskan, satu tangannya memijit kening dengan frustasi, "Bae Il-woo memintaku menjaga Song-yi dan bisnisnya ketika Il-woo sudah tiada." Tutur Jo In.

Kim Jo In dan Bae Il-woo merupakan teman lama yang kembali dipertemukan karena sebuah bisnis mereka. Saat itu, mereka sama-sama menjadi pemasok produk pada perusahaan pangan ternama pada awal karir mereka. Beberapa tahun kemudian, Il-woo mulai sakit-sakitan, sedangkan Jo In hidup sendiri karena sang istri meninggal akibat kecelakaan, saat itulah Il-woo meminta Jo In untuk membantu menjaga Song-yi dan bisnis yang dibangin Il-woo sehingga tidak akan jatuh ketangan yang salah. Song-yi dan Jo In sepakat untuk menikahkan kedua cucu mereka--karena anak-anak mereka telah memiliki jalannya masing-masing-- namun, saat itu Myungsoo menolak perjodohan itu. Sebenarnya yang terjadi adalah, karena Suzy yang tidak ingin ada perjodohan itu. Suzy tidak mau mereka berakhir seperti Ayah dan Ibunya. Saling canggung dan tidak lagi berinteraksi--kecuali soal pekerjaan.

"Harabeoji,"

"Sabtu malam nanti datanglah ke restoran biasa, Aku ingin mengenalkanmu dengan cucu keluarga Park. Pemilik Park world."

"Harabeoji!" Myungsoo meninggikan suaranya, dia sama sekali tidak mengerti akan jalan pikiran sang kakek.

"Takdirmu sudah diputuskan sejak kau menolak perjodohan itu, Nak. Kau adalah cucuku satu-satunya, coba pikirkan jaringan bisnis Kim dan Bae akan semakin besar jika bergabungnya Park world dengan keluarg--"

Myungsoo berdiri, tanpa menunggu atau berpamitan dengan sang kakek, lelaki itu berjalan keluar sambil membanting pintu ruangan itu keras-keras sehingga sampai membuat bunyi debuman kencang memekakan telinga.

***

"Gin, dimana Nenekku?" Suzy bertanya pada seseorang bernama Gin yang sedang fokus menatap lembaran kertas di tangannya. Ujung heels Suzy beradu dengan dinginnya lantai marmer hitam hingga menimbulkan bunyi seperti suara sepatu kuda ketika Suzy menghampiri Gin.

Gin menoleh, menutup lembaran kertas yang dibacanya itu lalu menyampirkan kertas itu keatas meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri, "Nyonya sedang istirahat di kamarnya. Mari, saya akan mengantar Nona kesana."

Suzy mengangguk. Keduanya berjalan bersisian menaiki undakan tangga dan berbelok ke sayap kiri, dimana letak kamar Song-yi berada. Di rumah keluarga Bae ini, lantai 2 terdiri dari sayap kanan dan kiri, dimana sayap kiri adalah letak kamar utama dan ruangan tempat berkas penting disembunyikan. Sedangkan di sayap kanan adalah galeri seni, koleksi pribadi milik Bae Il-Woo semasa hidupnya. Untuk lantai tiga yang tinggal mengikuti tangga berjalan lurus saja, adalah tempat dimana ruang piano, home theater, kamar tidur tamu, dan kamar tidur Suzy berada.

Gin membukakan daun pintu dari kayu jati berukir rumit kemudian memersilahkan Suzy untuk masuk kedalam, sementara itu Gin kembali menutup daun pintu itu kembali ketika cucu kesayangan dari Cheon Song-yi memasuki ruangan bilik tersebut.

Suzy berhenti melangkah. Tepat di depannya ada kanopi ranjang berkasa melingkar dengan warna putih hangat yang tidak tertutup. Disana, terbaring lemah satu-satunya nenek yang tersisa dan dekat dengan Suzy. Cheon Song-yi, atau pelayan biasa menyebutnya dengan panggilan Nyonya Bae. Dengan selang infus yang terpasang di tangan kanannya, kedua mata tua milik sang Nenek terpejam rapat. Suzy menghela napas panjang. Belum-belum dirinya sudah sedih setengah mati, sementara pikirannya melayang-layang membayangkan kesehatan sang Nenek yang tiba-tiba menurun, seorang perempuan berpakaian pelayan menegurnya, "Nona, Nyonya Besar sudah membuka matanya."

Suzy tersadar, membawa ujung sepatu berhak tinggi nya untuk berjalan menyambangi sang Nenek. Suzy mengambil tempat dan duduk diujung ranjang. Kedua tangannya menggenggam lembut tangan ringkih milik Song-yi.

"Aku begitu terkejut ketika Gin menelponku tadi," Suzy memberengut, raut wajahnya menampilkan kesedihan yang tidak ditutup-tutupi. "Bagaimana Nenek bisa pingsan, uh?"

Meski terasa payah, Song-yi berusaha memamerkan senyumannya dengan getir, "Aku tidak apa-apa."

"Aku tidak akan membiarkan Nenek berkebun lagi. Siapa pelayan yang tidak becus menjaga nenek biar aku peca--"

"Cucuku, sudah. Aku baik-baik saja, lihat."

"Tidak. Kau tidak, nek." Suzy mengerutkan keningnya.

Kemudian terdengar bunyi engsel pintu yang terbuka dan debuman pelan yang menandakan kalau daun pintu kembalu ditutup. Disana, berjalan Gin dengan sebuah benda elektronik persegi keluaran produk dalam negeri yang sudah mendunia. Gin memberi hormat kepada Song-yi dan Suzy dengan menundukan tubuhnya beberapa detik. Kemudian, menyuruh tiga pelayan yang menjaga Song-yi tadi untuk keluar.

"Bagaimana kuliahmu?" Song-yi bertanya dengan nada sehalus angin.

"Tidak ada yang istimewa."

"Aku merindukan Joon..."

Suzy menghela napas, "Nek, berhenti memikirkan Joon, aku dan dia sudah berakhir."

"Lalu, apa kau sudah memiliki pengganti Joon?" Tanya Song-yi. Song-yi mencoba membuat posisinya menjadi duduk dengan menyandar ke kepala ranjang. Suzy membantunya, menaruh bantal di belakang Song-yi supaya neneknya merasa nyaman.

Suzy terdiam sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak ada."

Gin mendapati kode dari Song-yi lantas memberikan benda persegi yang sudah menampilkan suatu foto itu kepada Suzy. "Kami mendapatkan kiriman gambar dari seseorang yang berada di tempat kejadian tadi." Gin menjelaskan.

Song-yi melihat tubuh cucunya yang menegang, kedua mata Suzy terpaku pada layar 12 inci di pangkuannya.

"Kalian menguntitku?" Suzy bertanya kering, menoleh kaku kepada Song-yi dan Gin secara bergantian.

"Kau pewaris bisnis aku dan kakekmu kelak, Suzy. Nenek hanya tidak ingin kau kenapa-napa, apalagi kau suka sekali berganti pacar dan membuatku tidak tenang."

"Tapi, tidak perlu menyuruh orang memotret segala aktivitasku."

"Hanya di kampus. Dan baru seminggu ini."

Suzy meremas gawai dipangkuannya, menahan kesal. Dia sama sekali tidak menyangka kalau keluarganya melakukan semacam ini terhadapnya. Apalagi, ini adalah Song-yi yang merupakan satu-satunya keluarga yang dianggap Suzy.

"Kau berpacaran dengan Myungsoo? Kenapa tidak mengatakannya padaku?" Suara Song-yi kembali terdengar. Mengalun lembut dalam keheningan.

"Aniyo. Itu tidak seperti yang terlihat. Nenek bisa melanjutkan pernikahan dengan Kakek Kim," Suzy mengucapkannya sambil menahan napas. Kedua matanya masih terpaku pada foto tanpa sadar yang diambil oleh seseorang. Kemudian Suzy mengalihkan pandangannya kepada sang Nenek, "Aku tidak akan menikah dengan siapapun, jadi, aku hanya menjalani hubungan iseng dengan beberapa lelaki seumuranku. Termasuk dengan Kim Myungsoo."

Ucapan Suzy meluncur bersamaan dengan daun pintu yang terbanting cukup keras. Seketika, orang di dalam sana; Suzy, Song-yi dan Gin menoleh. Dan rasanya tangisan Suzy ingin keluar dari pelupuk matanya ketika mendapati siapa yang sedang berdiri kaku dengan wajah memerah di depan daun pintu yang tertutup rapat di belakangnya...

Kim Myungsoo.

***

Fri 3/29/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co