Truyen3h.Co

Feudatory

18

authoriya

Suzy mencengkram sabuk pengaman yang membelitnya kuat-kuat. Tubuhnya terhuyung ke depan, ke samping kiri dan kanan, juga kebelakang. Tak juga berhenti sampai situ saja, Suzy merasakan jantungnya akan lepas kala mobil yang di kendarai Myungsoo hampir mengenai bagian belakang truk berukuran besar yang tiba-tiba memotong arah secara mendadak.

"Yya, hentikan laju mobil sialan ini! Kau bosan hidup ya?!" Suzy menghardik Myungsoo sekuat tenaga. Kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun dan wajah Suzy memerah menahan amarah berikut keterkejutan dalam satu waktu.

Myungsoo bergeming. Ke sepuluh jemarinya mencengkram kemudi dengan begitu erat. Dia sama sekali tidak bisa berfikir jernih sekarang karena otaknya dilingkupi oleh kabut kemarahan.

"Kim Myungsoo, kau kenapa? Hentikan mobil ini!"

Myungsoo tetap melajukan mobilnya, bahkan lelaki itu menambah laju kecepatan mesin mobilnya.

"Kim Myungsoo!"

Ciitttt!

Terdengar suara decitan ban yang bersinggungan dengan aspal di jalan raya. Myungsoo mengerem mendadak tanpa memperhitungkan bahwa tubuh Suzy tersungkur kedepan, hingga kepalanya sedikit mengenai dashboard.

"KAU GILA?!" Suzy menoleh secepat kilat kearah Myungsoo sambil memegangi pelipisnya yang sedikit tergores. Bibirnya menipis, menahan kekesalan yang hampir meluber keluar. Sedangkan Myungsoo seperti tak menggubris amarahnya, lelaki itu malah menatap Suzy balik dengan pandangan sama marahnya.

"Apa maksudmu berbicara seperti tadi?"

"Apa?"

"Kau tahu apa maksudku, Suzy." Balas Myungsoo dingin.

"Dan kau juga tahu apa maksudku, Myungsoo." Suzy menipiskan bibir.

"Tidak," Myungsoo berkata cepat. "Kau pernah mengatakan kalau berkencan denganku berbeda."

"Dan?" Suzy terkekeh, seolah ucapan Myungsoo merupakan guyonan untuknya, "Itu tidak membuat kita bersama selamanya, pacarku. Ingat, Bae dan Kim akan segera bersatu dan kita akan segera menjadi kakak-adik, tepat pada saat itu hubungan kita berakhir dan kau akan menjadi milikku setidaknya sampai kau menikah." Suzy bersakarsme.

"Aku sudah mengatakan pada kakekku kalau aku mencintaimu."

Perkataan Myungsoo spontan membuat Suzy hampir mengeluarkan bola matanya. Perempuan itu segera melepas sabuk pengamannya dan berbelok menatap Myungsoo, "Kau gila?! Kau bisa menghancurkan segalanya. Nenekku bisa kumat jantungnya kalau sampai kakekmu mengatakan--"

"Lalu, aku harus bagaimana ketika Kakek berusaha mengenalkanku dengan anak perempuan dari keluarga Park," Myungsoo memukul stir kemudi. Matanya sendu, dia sendiri bingung dengan keadaannya sekarang. Selain karena kakeknya yang begitu mendewakan uang dan koneksi, disamping itu juga Myungsoo tidak bisa melepaskan Suzy. Baginya, hanya Suzy dan tetap Suzy. Myungsoo menengok, menatap mata bulat yang menenggelamkannya, "Apa yang harus kulakukan, Suzy? Katakan?"

Suzy meremas tali tasnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika kakek Myungsoo akan melakukan itu. Jika harus memepertahankan hubungan mereka, banyak orang yang akan terluka. Selain karena Suzy belum mampu mencoba berhubungan serius, Neneknya juga membutuhkan seorang teman. Terlebih, Bae Corp Harus tetap berjaya selamanya. Suzy tidak tahu siapa anak perempuan keluarga Park yang dimaksud, tapi Suzy percaya kakek Myungsoo tahu apa yang terbaik untuk cucu kesayangannya itu. Suzy menghela napas, dilepaskannya keegoisan yang terpakai di dalam dirinya, lalu dengan penuh perhitungan, Suzy mengutarakan kesetujuannya, "Kau bisa mencobanya..."

"Yya, Bae Suzy!" Myungsoo menatap Suzy dengan pandangan tak percaya. Kedua matanya menyorotkan keterpukulan yang amat kentara yang berakibat dari ucapan perempuan cantik itu.

"Kau harus menuruti apa kemauan kakekmu, Myungsoo. Jangan karena aku-- yya! Kim Myungsoo, pelankan laju mobilmu!" Suzy berteriak histeris ketika Myungsoo melajukan mobilnya kembali secara mendadak. Tubuhnya sampai terhuyung hingga terpelatuk pada bagian keras mobil karena tidak memakai sabuk pengamannya. Namun kali ini Myungsoo sama sekali tidak menghiraukan Suzy. Kedua mata tajam Myungsoo nyalang, dengan kesepuluh jemari memegang erat stir mobil. Sedangkan kakinya terus menginjak pedal gas, membuat mobil itu melaju semakin kencang.

***

Suzy memasuki gerbang Universitas dengan sedikit berlari kecil. Kepalanya menunduk, sedangkan tangannya sibuk membolak-balikkan buku yang dipegangnya. Hari ini dia kebagian presentasi individu, karena sesorean kemarin yang dilakukannya hanya termangu, alhasil Suzy lupa kalau dia sama sekali belum membuat halaman presentasinya hingga dia harus sedikit begadang untuk menyelesaikannya.

Suzy menghela napas ketika semua konten masuk di dalamnya. Dosennya yang ini cukup detail dan sistematis, tidak ingin halaman presentasi yang dibuat oleh mahasiswanya terlalu bertele-tele--yang seharusnya waktu itu bisa dipakai untuk menjelaskan saja, bukannya terpaku pada halaman presentasi. Jadi, Suzy mencoba membuat halaman presentasinya untuk pertama kali. Suzy mengesah, ditutupnya kembali buku yang berupa salinan cetak dari dokumen powerpoint nya, pikirannya melayang-layang pada masa sebelum kemarin saat dimana semua bahan untuk presentasinya selalu di bantu oleh Myungsoo dalam pengerjaannya. Dirinya sekarang bahkan sangsi, apakah bisa mendapatkan nilai A pada setiap mata kuliah yang di ampu nya. Suzy menaiki tangga fakultasnya, jadwal mata kuliah hari ini ada di lantai 3, dan lima menit lagi jam masuk. Suzy membelokkan tubuhnya dalam koridor kiri dan menemukan Soojung sudah menunggunya di bangku panjang kosong.

"Oh tuhan! Suzy, kenapa dahimu memar begini?" Tanya Soojung panik. Tangannya bergerak menyentuh pelipis Suzy yang langsung mendapatkan respon galak dari perempuan itu. Suzy mendesih sambil memegangi pelipisnya, "Sakit, tahu!"

"Kenapa? Apa yang terjadi?" Soojung tidak peduli dengan makian sahabatnya itu dan tetap bertanya, "Kau mimpi sedang berpelukan dengan Adam Levine dan berwkhir jatuh dari ranjangmu?"

Suzy berdecak. Lalu berkata dengan tajam dan keras, "Mm, aku bermimpi sedang making love dengannya."

"Oh my god, penyaringan mulutmu semakin longgar saja semenjak punya pacar."

"Haiyah! Aku tidak punya pacar lagi!" Katanya sambil melirik Myungsoo yang fokus pada buku ditangan lelaki itu, kemudian mengajak Soojung untuk memasuki kelas pertama mereka.

***

Myungsoo membawa mobilnya masuk ke dalam bengkel langganannya. Mobil itu baru dua minggu masuk ke dalam bengkel, namun hari ini rasa mobilnya berbeda tidak seperti biasanya. Lelaki itu membuka pintu mobilnya turun dan langsung di sambut hangat oleh pemilik bengkel yang memang sudah mengenal Myungsoo karena lelaki itu merupakan pelanggan setia nya.

"Apa yang membuatmu kembali kesini, Nak? Ada masalah lagi dengan mobilnya?" Cheon menyapa. Pria yang berumur sekitar 40-an itu sedang memakai pakaian montir dengan tangan penuh dengan oli.

Myungsoo memasukkan satu tangannya kedalam saku celana, "Aku sebenarnya tidak yakin, tapi aku merasa berbeda saat membawanya hari ini. Bisa kau cek?"

"Benarkah... Coba kulihat dulu," pandangan Pak Cheon terarah pada mobil Myungsoo. Tak lama kemudian kakinya berjalan membuka kap mobil bagian depan.

Myungsoo mengikuti di belakang. Memandangi Pak Cheon yang kini sibuk memegang-pegang mesin mobil itu. Tak lama, Pak Cheon memalingkan pandangannya dari mesin mobil itu, "Tidak ada yang masalah disini. Seperti apa memang kendala yang kau rasakan, Nak?"

"Terasa aneh...dan seperti kosong." Myungsoo mengernyitkan dahinya, kalimat kosong yang dipakainya rasanya tidak nyambung dengan mekanik seperti ini.

"Kosong?" Pak Cheon kini menaikkan kedua alisnya, ditutupnya kembali kap mobil itu kemudian mencoba menghidupkan mesin mobil Myungsoo, "Kosong seperti apa maksudmu, Nak?"

Myungsoo menghela napas, "Mollayo."

Pak Cheon memerhatikan. Tidak ada kerasa hal aneh apapun. Menurutnya semua nya baik, kening pria itu berkerut, lelaki muda di depannya ini tidak pernah memiliki keluhan selama 7 tahun belakangan, lantas saja hari ini membuatnya sedikit kaget. Apalagi, mobil Myungsoo ini adalah jenis mobil 'bandel' yang jarang memiliki keluahan mendasar seperti ini. Kemudian, insting tua nya menyadari ada yang hilang dari kedatangan Myungsoo kali ini, "Dimana istrimu?"

Myungsoo tersenyum masam. Dia mengetahui siapa yang dimaksud oleh Pak Cheon. Pria tua itu selalu mengatakan kalau Suzy adalah istrinya-- karena menurut pengakuan pria tua itu bahwa dia memiliki indera keenam dan lagi-lagi dia mengatakan kalau Myungsoo dan Suzy merupakan pasangan serasi dan akan berakhir bahagia, memiliki anak-anak yang lucu--begitulah asal muasal Pak Cheon menyebut Suzy sebagai 'istrimu' kepada Myungsoo. Myungsoo berjalan, mengambil tempat duduk pada kursi stainless dengan jok busa sebagai tempat menunggu pelanggan bengkel itu. "Suzy sedang marah."

"Perempuan cantik memang biasanya tukang marah dan manja," Pak Cheon mengelap tangannya. "Kalian bertengkar dan itu menyebabkan 'kekosongan' pada jok penumpang mobilmu?"

Myungsoo terdiam.

"Mungkin saja dia mengatakan hal itu karena hatinya belum yakin, Nak. Lagipula kulihat dia sangat menyayangi Neneknya. Sangat menyayangi melebihi rasa sayangnya kepada Ayah dan Ibunya." Perkataan Pak Cheon yang membuat Myungsoo langsung merespons, "Bagaimana kau tahu soal masalahku?"

"Kau masih tidak percaya kalau aku adalah seorang cenayang?" Pak Cheon terkekeh.

Myungsoo tersenyum kecil. Menurutnya Pak Cheon mengada-ngada. Pria tua ini tidak mungkin seorang cenayang, karena biasanya pekerjaan itu identik dengan perempuan--well, kecuali biksu pembasmi makhluk halus--.

Menolak untuk membahas lebih lanjut, Myungsoo melirik jam pada pergelangan tangannya sekilas, lalu kembali pada Pak Cheon, "Jadi, tidak ada masalah pada mobil ini?"

"Tidak," Pak Cheon menjawab dengan yakin. Dengan mata tua nya, Pak Cheon kembali menggerling pada laki-laki yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu, "Untuk mengetes apakah dia benar-benar yang terbaik, dulu aku melakukan beberapa cara."

Myungsoo menaikkan alisnya.

"Nanti kuberitahu caranya," Ucap Pak Cheon. Kemudian kepalanya bergerak ke samping kanan dengan mata mengarah kebelakang Myungsoo, "Oh! Kau datang hari ini ternyata, Nona Park?"

Masih dengan kedua alis yang terangkat, Myungsoo ikut mengikuti arah pandang Pak Cheon dengan penasaran. Tak ayal, kedua pandangannya langsung beradu pada kedua manik mata berlapis lensa kontak abu-abu milik perempuan yang di kenalnya. Si perempuan, nampaknya juga sama sekali tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan Myungsoo di tempat seperti ini.

Dengan senyuman ramahnya, perempuan itu menyapa, "Mobilmu juga sedang ada kendala?"

***
Tue 4/2/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co