19
"Aku baru tahu kalau kau seorang Park, kukira kau wna..." Suara Myungsoo mengalun bersamaan dengan lagu milik bangtan yang memenuhi seisi ruangan dua lantai dengan sekat kaca lebar yang memberikan pemandangan jalanan raya pada lantai satu. Myungsoo mengangkat secangkir america latte dan menyeruputnya, membiarkan rasa pahit enak itu mengalir melewati kerongkongan, lalu menaruh kembali cangkir bertuliskan brand coffee ternama itu keatas meja.
Perempuan berkemeja putih itu sedikit mengernyit saat mendengar penempata kata turis yang dipakai oleh Myungsoo, namun ia tidak berkomentar. Malah menjawab, "Ibuku seorang Amerika dan menikah dengan pria kebangsaan Korea, Ayahku. Mungkin itulah sebabnya aku tidak menggunakan nama Korea."
"Begitu..." Myungsoo mengangguk paham. Kedua matanya menatap kesebrang jalan, tepat dimana bengkel yang sebelumnya dia tinggalkan mobilnya disana itu berada. Melirik sedikit kearah jam di pergelangan tangan, Myungsoo kemudian menepuk kedua pahanya, "Sepertinya aku harus pergi. Kau tidak apa-apa disini sendiri, Rose?"
Perempuan bernama Rose itu memilin bibir bawahnya, sebenarnya ia masih ingin berlama-lama dengan Myungsoo. Namun nyatanya lelaki itu malah mengundurkan diri lebih cepat dari perkiraan. Ketika Myungsoo beranjak berdiri, Rose juga mengikuti. "Aku sepertinya ke bengkel saja. Terlalu sepi jika sendirian disini."
Myungsoo mengangguk.
"Sunbae ingin kemana? Menyusul Suzy sunbae, ya?" Tanya Rose, sedikit mendengus dalam hati ketika menyebutkan nama perempuan sahabatnya lelaki itu. Apalagi, ketika dengan mata telanjangnya, ia melihat kakak tingkat kesayangannya itu melakukan skinship bersama sahabatnya.
Myungsoo sedikit berubah ekspresi ketika Rose menyebutkan nama Suzy. Dan pandangan itu tak luput dari kedua mata Rose. Dalam hati, perempuan itu tersenyum. Jika benar apa yang di dengarnya, maka pasti sekarang kedua orang itu sedang bertengkar.
Sambil tersenyum, Myungsoo menjawab, "Tidak. Aku harus ke Lady Sang untuk pengukuran jas."
"Jas?" Rose bertanya, meminta penjelasan lebih jauh lagi. Namun sepertinya Myungsoo enggan memberinya. Karena yang terlihat adalah lelaki itu mulai mengambil ponsel dari atas meja dan menyimpannya ke dalam kantung jaket.
"Aku harus segera. Janjiku dengan desainernya 15 menit lagi."
"Baiklah, aku ikut menyebrang jalan dengan Sunbae..."
Myungsoo mengangguk. Kemudian, berjalan lebih dulu keluar dari dalam toko minuman itu.
Sesampainya di bengkel, anak buah Pak Cheon yang bebaring tepat dibawah mobil merah sport milik Rose keluar dari dalam kolong mobil. Si anak buah itu melepaskan sarung tangannya sambil berdiri, "Nona Park, sepertinya mobil ini harus menginap disini." Jelasnya pada Rose.
Kedua alis Rose terangkat, "Apa yang rusak?"
"Tie rod end-nya perlu diperbaiki. Namun, teknisi disini sedang penuh semua sehingga belum bisa menangani mobilmu, nona."
"Kapan aku bisa menggunakan mobilku kembali?" Rose mengerutkan keningnya.
"Kami usahakan besok mobilmu sudah kembali normal lagi, nona Park." Jawab si anak buah.
Ketika Rose masih sibuk dalam pikirannya, suara Myungsoo dari belakang memanggilnya. Membuat Rose menoleh, lalu menjawab pertanyaan yang diajukan lelaki itu kepadanya. "Mobilku ada kendala, besok baru bisa diambil lagi."
"Lalu, kau pulang?"
"Aku tidak tahu..." Bohong, sebenarnya Rose bisa saja memanggil taksi dan meminta taksi itu mengantarnya pulang. Namun, perempua itu lagi-lagi mencoba peruntungan. Mengeluarkan ekspresi sedihnya, Rose kembali bersuara, "Apa aku bisa menebeng Sunbae?"
Ada sedikit jeda tercipta ketika pertanyaan itu dilontarkan oleh Rose. Kedua tangan Myungsoo masih berada di stir kemudi, tatapannya tertuju pada perempuan yang kini berada beberapa jarak antara mobilnya, perempuan yang menunggu pengesahan darinya hanya agar bisa masuk kedalam mobil yang ia kendarai. Sebenarnya, janji nya pada Suzy lah yang membuat Myungsoo ingin menolak permintaan Rose. Namun, jika ia melakukannya, bukankah itu sama saja dengan bersikap jahat? Sedang Rose membutuhkan bantuannya.
Karena itu, dengan sekali anggukan kepala Myungsoo. Rose langsung tersenyum menang dan berjalan memasuki mobil lelaki yang disukainya itu.
"Tapi, kau tidak keberatan 'kan jika harus mampir ke satu tempat dulu?" Myungsoo melirik Rose melalui rear view mirror. Dan langsung diangguki oleh Rose dengan senyuman merekah diwajah.
"Sama sekali tidak."
***
Jarum jam pendek menunjuk di angka tiga ketika mobil Myungsoo berhenti di area parkir butik Lady Sang yang merupakan milik salah satu desainer terkenal di Korea Selatan. Mematikan mesin mobilnya, Myungsoo membuka pintu kemudi dan membawa tungkainya menuruni mobil. Rose mengikuti lewat pintu sebelahnya.
Keduanya berjalan bersebelahan, menaiki undakan tangga berjumlah empat kemudian terdengar seorang karyawan menyapa dan membukakan pintu kaca di depan mereka.
Perempuan muda bersanggul dengan pakaian seragam yang tersenyum manis, "Tuan Kim, Madam Sang sudah menunggu di dalam. Mari saya antar..."
"Myungsoo mengangguk."
Masih dengan senyuman yang merekah, kedua mata karyawan muda itu mendapati Rose yang berdiri di sebelah Myungsoo. "Kukira Tuan Kim akan datang bersama Nona princess. Tapi, ternyata kalian datang kesini dengan pasangan masing-masing, ya?"
"Suzy kesini juga?"
Si karyawan mengangguk. "Ne." Jawabnya sambil narik gorden berwarna red velvet ke ujung sisi untuk mempersilahkan Myungsoo dan Rose untuk masuk kedalam sana, lalu menutup kembali gorden itu setelah mengucapkan kalimat permisi.
Kedua manik mata Myungsoo langsung di penuhi dengan pemandangan yang membuat kepalanya mendidih. Myungsoo mengepalkan kedua tangannya saat menatap senyuman yang bukan untuknya itu dengan penuh emosional.
***
"Bagaimana?" Tanya Suzy sambil melakukan gerakan memutar-mutar. Perempuan cantik itu menatap bayangannya di cermin panjang milik butik itu. Menimang-nimang apakah gaun itu masih kelonggaran atau kekecilan. Senyuman diwajahnya terbit ketika Jungkook berhasil menggodanya dan tak henti-hentinya bertanya apakah Suzy bukan anak manusia karena perempuan itu terlalu cantik untuk ukuran seorang perempuan.
Sang Hyi, atau biasa disebut Madam Sang ikut tersenyum ramah. Klien vip-nya ini benar-benar sesuatu, karenanya ia harus turun langsung melayani perempuan cantik ini. Namun, mata yang bersinar dan suka mengintimidasi lawan bicaranya itu entah kenapa hari ini tak terlihat. Meski senyuman dan wajah rupawan Suzy masih mampu membuat lawan menciut, namun, kedua mata perempuan itu seperti kosong tak berjiwa. Madam Sang tidak mau repot-repot bertanya, menurutnya privasi klien bukanlah urusannya. Ketika kedua manik mata Madam Sang menatap kearah cermin panjang itu, disanalah Madam Sang menyadari kalau kliennya yang lain sudah datang. Senyuman madam Sang kembali terbit dengan sempurna, membawa tubuhnya berbalik kebelakang, Madam Sang menyapa sambil berjalan menghampiri, "Kupikir kalian akan datang bersama-sama."
Sapaan Madam Sang membuat Suzy berhenti tertawa, kepalanya menoleh dan langsung mengernyit kesal ketika pandangannya bersibobrok dengan satu perempuan yang berada di sebelah Myungsoo.
Suzy masih memerhatikan ketika tiga orang itu berjalan mendekat kearahnya dan Jungkook. Sedangkan lelaki itu, gikwang, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jaket dengan senyuman congkak ketika melihat ekspresi Myungsoo yang dingin.
"Oh! Hai, Suzy sun--"
"Madam, kurasa dibagian sini sedikit sesak..." Suzy menyela, mengabaikan sapaan Rose yang bahkan belum selesai. Perempuan itu menatap Madam Sang sambil menunjukan bagian garis ketiak pada tile gaun itu yang sedikit sempit.
"Padahal aku sudah membuatnya 2cm lebih besar." Perempuan bergelung dengan topi kecil yang terpasang diatas kepala itu memerhatikan. Tangannya bergerak dengan lihai.
"Apa aku gendutan ya...?" Gumam Suzy serupa angin. Keningnya mengernyit, sedikit tidak menyukai kata-kata yang baru saja ia lontarkan. Hell, dia tidak mungkin gendutan dan tidak akan pernah mungkin.
"Kurasa kau harus sedikit mengurangi hobimu dalam mengkonsumsi coklat-coklat, Nona Suzy."
Mendengar kata coklat, kedua mata Suzy langsung menatap Myungsoo dengan pandangan kesal, "Yya, sudah kubilang jangan memberiku coklat!"
"Mwoya, bukannya kau yang selalu merengek meminta..."
"Aish! Aku membencimu!" Sembur Suzy lalu memasuki ruang ganti dengan cepat.
Sedangkan Myungsoo menghela napas pelan. Menatap gorden putih yang tertutup di depannya dengan pikiran melayang. Amarah itu, senyuman itu, kesalahan yang selalu ditumpukan kepadanya itu... Myungsoo yakin kalau dia membutuhkan segala aspek itu dalam hidupnya.
Ya...
Tentu saja...
Tetapi, Suzy tidak membutuhkannya sebanyak ia membutuhkan perempuan itu. Mungkin saja pilihan kakek adalah hal terbaik. Setidaknya, dengan tidak memaksa, Myungsoo masih bisa mendengarkan omelan-omelan dari suara merdu itu dalam hidupnya.
Rose menyentuh lengan Myungsoo, membuat lamunan lelaki itu mengurai. Kepalanya menoleh dan mendapati senyuman Rose memenuhi pandangannya, "Madam Sang memanggil sunbae disana..." Tunjuknya.
***
"Tersenyumlah, nenekmu akan sedih kalau cucu kesayangannya cemberut begitu." Tegur Ibunda Suzy dengan melirik putri tunggalnya.
"Mm." Jawab Suzy malas.
Kedua matanya menatap tangan sang Ibu yang melingkar dilengan Ayahnya kemudian tersenyum sinis. Well, keluarganya seharusnya memenangkan piala oscar untuk ini.
Dengan kaki berbalut stiletto merah menyala, Suzy melangkahkan tungkai jenjangnya menuju area ballroom. Sialan, lagi-lagi dia harus terjebak dalam situasi seperti ini, dan tanpa Myungsoo bersamanya.
"Asistenku mengatakan kalau Gucci akan mengeluarkan produk baru jam 12 nanti. Aku sudah mengirim orang untuk mengambilkan satu untukmu, Nak." Itu suara Ayahnya. Mencoba bersikap akrab dengan memasok segala kesukaan Suzy. Sampai-sampai pria itu lupa bahwa kebahagiaan tak melulu soal uang.
"Oke, terima kasih. Kau yang terbaik." Jawab Suzy dengan senyuman artifisial.
"Ibu juga sudah menyuruh orang untuk membelikan Dior keluaran terbaru untukmu, Suzy."
Suzy mengerut, lalu menoleh dengan tatapan mencemooh, "I'm the human Gucci. Dior adalah Soojung. Wah, kau seharusnya belajar dari Ayah, bu." Suzy tersenyum miring. Tanpa menginginkan untuk melanjutkan pembicaraan itu, Suzy langsung bersikap defensif. Hingga mereka berada di meja vvip. Meja keluarga inti.
Sender: Mine
Kau kenapa?
Sender: Suzy
Tdk.
Sender: Mine
Bertengkar dengan Ibumu?
Sender: Suzy
Tdk.
Sender: Mine
Pipimu gendutan.
Kau tidak memakai contour?
Suzy mendongak, dengan gerakan hiperbola kepalanya langsung menoleh ke kursi Myungsoo di seberangnya. Dia mendesis kesal dan hal itu malah membuat Myungsoo tersenyum kecil.
Sender: Mine
I love you. Always. Xx
Baru juga Suzy hendak membalas, suara Kakek Kim menginterupsi.
"Selamat datang, Tuan Park. Oh! Ini pasti putrimu yang kauceritakan itu." Kakek Kim menjabat hangat tangan seseorang yang dipanggil Tuan Park itu. Lalu kembali berujar, "Cucuku, Myungsoo, kenalkan ini adalah calon tunanganmu. Roseanne Park."
Membuat ponsel yang dipegang Suzy langsung merosot jatuh membentur lantai marmer dibawah sana.
****
Fri 4/5/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co