20
"Bagaimana ya ini...,"
Tangan Suzy yang sedang memoleskan busa riasan pada wajahnya berhenti, ketika suara perempuan terdengar. Melalui kaca pada cermin toilet di depannya, Suzy mendapati tubuh langsing berjalan, lalu berdiri di sampingnya. Rose. Roseanne Park.
Park sialan! umpat Suzy.
Dengan mencoba untuk menganggap kalau hanya ada dia disini, Suzy menutup cushion nya, dan memasukkannya kedalam clutch hitam.
"Aku terkejut ketika mengetahui kalau Dad akan menjodohkanku dengan cucu kolega nya, ketika aku mengetahui kalau dia adalah Myungsoo oppa..."
Suzy terkekeh pelan. "Yya, mulutmu itu tidak cocok memanggilnya dengan sebutan 'Oppa'," Suzy merapihkan poninya, lalu berbalik miring, tangannya menyentuh lantai washtafel toilet, "Dengar, Jangan kau pikir dengan perjodohan sialan ini kau bisa mengambil kepunyaanku, Rose."
"Siapa yang kaumaksud, eonni? Sebentar lagi sahabatmu itu akan menjadi milikku, dan pada saat itu tiba--maaf sekali, aku adalah seorang pencemburu, jadi mungkin kau tidak bisa terus bergelendot dengan lelakiku."
Cih, najis sekali dia memanggilku dengan sebutan akrab. Suzy berdecak.
Kedua tangannya dilipat di depan dada, "Aku ingat, Nenekku pernah sekali mengatakan padaku dulu, bahwa, apa yang menjadi milikku...," Suzy menggantungkan kalimatnya, tungkainya berjalan satu langkah mendekat kearah Rose, menggunakan jemari lentiknya, Suzy menepuk kain pada bahu Rose pelan seraya melanjutkan kalimatnya yang ia tunda dengan senyuman hangat. Senyuman yang mampu membuat lawannya diam tak berkutik, "Akan selalu menjadi milikku."
Kemudian, Suzy memutar arah, berbalik meninggalkan Rose yang mematung di dalam ruangan itu. Meninggalkan Rose yang mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
***
"Aku bingung sekali," Soojung mengungkapkan apa yang bergelayut dipikirannya. Perempuan itu sedang terbaring menatap langit-langit kamar Suzy. Sedangkan si empu, sibuk dengan puzzle di atas meja di depannya., nampak malas merespon kebingungan sahabatnya.
Soojung mengambil majalah vogue yang tergeletak diatas ranjang itu juga, lalu membukanya secara acak, melihati gambar-gambar tanpa benar-benar mempelajarinya. "Kau itu sebenarnya apa?"
"Manusia, kalau bukan bidadari."
"Bodoh," Soojung mendengus kesal, bukan itu yang dimaksudnya. Dengan gerakan cepat, Soojung membawa tubuhnya terduduk. Majalah vogue ditangannya masih terbuka pada halaman yang sama. "Di dekati Jungkook... Tidak merespon."
"Aku merespon, Jung." Suzy memasang bagian puzzle yang hilang. 10 lagi, dia akan berhasil menyelesaikan permainan barunya ini.
"Tapi angin-anginan!" Soojung berdecak. Menutup vogue itu, lalu melemparnya sembarang. "Ingin diajak serius dengan Myungsoo... tidak mau."
"AKU--" Suzy berhenti. Membungkam kembali mulutnya ketika hampir menyuarakan hal gila yang bahkan tidak dipikirkannya lagi.
"Apa?"
"Tidak."
"Ck. Aku tidak rela ya, kalau sahabat populerku yang meskipun tidak tampan jika dibandingkan Kang Minhyuk menjadi tunangannya si Rose-Rose itu. Ingat, gaunmu rusak karena dia, Suzyyyy."
Aku juga tidak rela! Teriaknya, meskipun perkataan itu hanya sampai didalam hati saja.
"Sudahlah, Myungsoo tidak akan bodoh untuk bersama perempuan jelek itu."
"Dan... dia tidak akan bodoh dengan terus menerus menyukaimu. Ew."
Sialan, Soojung.
Dengan perkataan santainya, Soojung membungkam Suzy sampai ke akar-akarnya.
Dia tidak akan bodoh dengan terus menerus menyukaimu...
Tidak akan bodoh terus menyukaimu...
Tidak akan menyukaimu...
Oh tuhan, biarkan Suzy menarik napasnya.
"Sialan, pulang saja kau sana!" Suzy langsung menarik tangan Soojung agar perempuan sahabatnya itu berdiri, kemudian sekuat tenaga mendorong Soojung keluar. "Sana! Hush!"
"Yya!" Terdengar bunyi debam tanda pintu ditutup. Soojung meniupkan poninya, lalu menyentakkan kaki kasar, "Dasar perempuan kasar!" Lalu, membawa tungkainya menuruni undakan tangga dengan kesal.
Sampai dibawah undakan tangga terakhir, Soojung menemukan Myungsoo dengan balutan jaket denimnya memasuki pintu utama. Soojung semakin menghentakkan kakinya kesal, berjalan mendekati lelaki itu. "Yya..."
"Apa?"
"Awas sampai kau tunangan sungguhan dengan Rose-Rose itu! Aku akan menyuruh Minhyuk menemukan lelaki supaya perempuan galak itu takhluk--"
"Jung Soojung!" Myungsoo menyela geram.
"Ingat perkataanku ini baik-baik, laki-laki." Kata Soojung, langsung berjalan melewati tubuh Myungsoo.
***
Suzy mendesah bosan. Kelasnya hari ini diikuti tanpa teman dekatnya. Soojung, sedang izin karena Ibunya minta diantarkan belanja--hell, mahasiswi macam apa yang lebih memilih menemani Ibu belanja dari pada menyusun masa depan dengan mendengarkan ocehan dosen tua didepan ini?-- Suzy mendengus. Perempuan beruntung, bagaimana bisa Soojung bisa akrab seperti kakak-adik dengan Ibu perempuan itu, disaat Suzy sendiri harus menahan emosi tiap kali Ibunya mendekat. Dunia sungguh tidak adil! Tuhan sungguh tidak adil!
Menghela napas kembali, Suzy menoleh kearah jendela besar disebelahnya. Beruntung ia mengambil tempat dibagian unjung ruangan sehingga tidak perlu terlalu fokus mendengar ocehan dosennya mengenai Dampak media sosial terhadap kultur tradisional di korea. Well, daripada sibuk membicarakan soal tidak penting itu, lebih baik dosen itu mulai berfikir dimana jasadnya nanti akan di kremasi... Batin Suzy.
Suzy sama sekali tidak tertarik mengambil kelas ini, tapi matakuliah ini merupakan matakuliah wajib--yang... Tunggu dulu!
Suzy langsung mencondongkan tubuhnya mendekat kepada kaca lebar diatasnya ketika melihat sesuatu dibawah sana.
"Sialan, katanya dia mau menungguku dilapangan volli, kenapa malah pergi dengan perempuan jelek itu?!"
"Siapa perempuan jelek itu, Nona Bae?"
"Diam. Aku sedang berkonsentrasi."
"Apa yang kau lihat?"
"Pacarku. Tidak, maksudku calon kakak--" kedua mata Suzy membeliak, menyadari kalau ada lawan bicara disebelahnya. Suzy meruntuk, menyumpahi dirinya sendiri karena lupa kalau ia sedang dalam kelas.
Suzy menelan saliva. Kepalanya menoleh kaku kesamping kanan, dan langsung menemukan perempuan tua dengan kacamata tebal, berdiri tak jauh darinya dengan tatapan horror. Suzy bisa mendengar beberapa teman sekelasnya nampak menahan tawa, dalam hati Suzy menghapali wajah mereka satu-satu dan segera ia maki ketika selesai nanti. Namun, alih-alih merealisasikan, justru dirinya lah kini yang dalam bahaya. Wajah dosen itu memerah, menatap Suzy dengan pandangan dingin.
"Ups..." Suzy memilin bibir bawahnya. Dikembalikannya kembali posisi tubuhnya seperti semula. Lalu menunduk, seolah menyesal.
"Anda ingat 3 hal yang paling saya benci?"
Suzy mengangguk. "Kesatu, datang terlambat. Kedua, tidak membawa tugas. Ketiga, Tidak memperhatikan."
Wow... Aku menghapalnya? Daebak! Kata Suzy dalam hati. Dirinya sedikit kaget karena mampu mengingat ucapan remeh tentang hal yang dibenci dosennya itu.
"Lalu?"
"Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Suzy, masih dengan kepala menunduk.
"Keluar."
"WHAT THE HECK?" Suzy mendongak. Menatap perempuan berbadan tambun itu dengan kesal. Cukup sudah dia menurunkan harga diri meminta maaf--sesuatu hal yang bahkan tidak pernah dilakukannya seumur hidup--dan ia malah diusir? Apa dosennya tidak tahu kalau dia belum absensi tadi? Dan, hell, ini jatah terakhirnya!
"Keluar. Kurasa otak dan wajahmu sama-sama cantik, Nona Suzy."
"Ibu mengusirku?"
"Kurang jelas?"
Suzy memberengut. "Aku calon pewaris Bae Corp."
"Lalu?"
"Nenekku akan marah pada anda kalau tahu cucu kesayangannya diusir dari kelas!"
Nampak tak terpengaruh, dosen berkacamata itu membawa kedua tangannya melipat didepan dada, dengan angkuh berjalan kedepan ruangan itu lagi, "Ibu Song-Yi akan sedih jika calon pewarisnya tidak benar-benar dalam belajar. Keluar sekarang, atau kau tidak kuperbolehkan masuk kelasku lagi?"
Suzy mengatupkan mulut. Ditatapnya dosen itu dengan kesal. Sepertinya, dosen ini memiliki masalah pribadi dengannya karena tidak hanya sekali dia dibeginikan. Aish! Ini semua karena Myungsoo sialan itu!
Dengan kasar, Suzy menyambar tas dan bukunya sekaligus dari atas meja. Lalu, berjalan keluar tanpa permisi.
***
Sender: Suzy
Dimana?
Sender: Mine
Dijalan ke universitas.
Aku habis keluar sebentar.
Kau sudah selesai?
Sender: Suzy
Dengan siapa?
Sender: Mine
Sendiri.
Tunggu ditempat biasa,
aku kesana.
Suzy mendesis. Menatap layar gawainya seolah-olah benda itu adalah sebuah dosa dan ia bersiap untuk menghancurkannya. Baru saja Suzy hendak melempar benda itu kelantai, gerakannya terhenti ketika ia menyadari satu hal; ponselnya ini tidak bersalah apa-apa.
Suzy menarik napas. Mencoba menetralkan emosinya. "Brengsek, dia berbohong padaku? Jelas-jelas aku melihatnya tadi keluar gerbang dengan si jelek itu!" Gumamnya kesal dalam hati.
Dengan kesal, Suzy membawa kakinya keluar gerbang. Persetan dengan Myungsoo. Suzy akan memusuhi lelaki pembohong itu sampai nanti!
I love you. Always.
"Cih, I love you my ass!" Suzy berdecak kasar.
***
Sat 4/6/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co