3
Suzy mencoba menekuni puzzle-puzzle yang di belikan Myungsoo saat natal kemarin dengan seksama, mencoba memusatkan pikirannya keping demi keping puzzle yang belum terpasang ditempatnya. Ruangan itu senyap, tak ada suara apapun selain dari jarum jam berputar. Keheningan yang sangat di butuhkan Suzy di kehidupannya yang penuh drama. Like, really.
Sejak berumur dua belas tahun suara-suara itu selalu saja menghantuinya. Terkadang, bentakan atau teriakan itu malah di barengi dengan suara pecahan piring-piring mahal koleksi Ibunya. Suzy tidak mengerti, kapan teriakan itu berhenti dari hidupnya., yang lebih tak di mengertinya, kenapa cinta bisa menghilang dan termakan oleh waktu? Apakah cinta bisa kadaluarsa?
Dongeng cinta yang dulu suka di ceritakan sang Ayah sewaktu dia berumur tiga sampai delapan tahun, seolah-olah hanya sebuah bualan semata ketika umurnya sudah beranjak dewasa. Atau, ketika teriakan itu mulai menghiasi hari-hari Suzy. Merenggut kebahagiaannya dan juga menancapkan rasa trauma di dalam hatinya. Membuat Suzy yang menyukai dongeng manis penghantar tidur itu mulai mencari hobi lain yang lebih realistis. Bahwa dongeng tetaplah dongeng, dan semua hanya karangan penulis semata. Bahwa, tidak akan ada cinta yang tulus dan murni di dunia ini. Tidak. Akan.
Pecahan piring itu kembali terdengar, beserta teriakan dan bentakan yang saling bersautan. Jika Ayah dan Ibunya berfikir Suzy tidak pernah mengetahui keretakan yang ada di rumah tangga mereka, kedua orang tua itu salah besar. Suzy mengetahuinya, namun ia berpura-pura bodoh demi dirinya sendiri. Setidaknya, orangtua nya tidak bercerai. Itulah yang dipikirkannya kala itu. Karena, Suzy sendiri bingung jika perceraian itu terjadi, kepada siapakah ia harus memilih untuk tinggal bersama...
Dengan menghembuskan napas kesal, Suzy menghancurkan kembali kepingan-kepingan yang sudah susah payah disusunnya itu menumpuk menjadi satu, kemudian memasukkan kepingan puzzle itu ke dalam box nya. Konsentrasinya sudah buyar karena suara-suara itu.
Suzy membawa punggungnya menyandar pada bangku sambil menengadah menatap langit-langit kamarnya, kemudian ia memejamkan kedua matanya sambil menahan napas selama beberapa waktu, ketika tubuhnya mulai bereaksi, barulah Suzy kembali menghirup udara dalam-dalam.
"Kenapa Bibi Chung tidak bilang kalau mereka berdua akan pulang hari ini." Suzy menggerutu kesal.
Kekesalan yang ditunjukan kepada asisten rumah tangga di keluarganya, yang sudah mengerti dan selalu membantunya 'menghilang' dari situasi seperti ini. Namun, sepertinya usia sudah memakan sebagian besar ingatan Bibi Chung, sehingga lupa mengatakan kepadanya kalau Ayah dan Ibu nya hari ini pulang ke rumah. Pulang ke rumah setelah berhari-hari menginap di kantor mereka.
Baru saja tangannya hendak mengambil earphones di laci meja, getaran yang berasal dari ponselnya membuat perempuan itu mengurungkan niatnya. Dengan kedua mata itu, Suzy melihat nama Myungsoo menari-nari di layarnya.
Senyuman Suzy merekah sempurna.
Yep, he is my guardian. Still. Batin Suzy.
***
"Myungsoo, bagaimana kalau kita ke klub saja?" Suzy menoleh, memandangi Myungsoo yang terus menatap kearah televisi di depan mereka. Dengan semangkuk es krim dipangkuan pria itu.
"Aku tidak tertarik."
Jawaban singkat yang keluar dari mulut Myungsoo membuat Suzy memanyunkan bibir, "Ish, kau tidak asik!"
"Aku tidak suka kebisingan klub malam, Suzy."
Suzy berdecak, "Arra, arra." Kemudian mengambil tangan Myungsoo yang sedang menyendokkan es krim, menarik tangan itu hingga mendekat kearahnya. Hingga jarak di antara keduanya tinggal sejengkal jari.
"A-apa?" Myungsoo menelan saliva dengan susah payah. Kemudian, tatapan Myungsoo beralih pada bibir ranum Suzy yang begitu dekat dengannya dengan pandangan menggelap.
Bersama Suzy selama ini, ia tak pernah kelepasan kontrol. Myungsoo selalu berusaha menempatkan dirinya sebagai sahabat dan akan selalu seperti itu. Namun yang jadi biduk permasalahan adalah, sahabat mana duduk berhadapan dengan jarak sejengkal begini?
"Katakan padaku, bagaimana tipe idealmu?" Tanya Suzy, ia membawa kedua tangannya melingkar di leher Myungsoo hingga kepala pria itu semakin dekat dengannya. "Hm?"
"Cantik..." Gumam Myungsoo.
Suzy menaikkan alisnya, "Siapa? Aku?"
Dengan kedua pasang mata yang saling melempar pandang satu sama lain itu Suzy bisa melihat pada bola mata Myungsoo bayangan dirinya ada disana. Kemudian, ntah bagaimana dan apa yang terjadi kedua kelopak mata Suzy menutup, seiring dengan kepala Myungsoo yang semakin mendekat ke arahnya.
Satu... Suzy menghitung dalam hatinya.
Dua... Jika apa yang dipikirkannya sampai terjadi, mungkin Myungsoo akan menjadi mengecualian dalam pendepakan yang selalu dilakukannya.
Tig--
"Yya!" Kelopak mata Suzy membuka, jemari tangan kanannya bergerak mengusap dahinya yang terkena sentilan oleh pria yang kini sudah menjaga jarak darinya. Pria yang kini malah asik melanjutkan memakan es krim di mangkuk itu.
"Bukan kau yang cantik, tapi tipe idealku." Ujar Myungsoo, satu tangannya memegang remote televisi dan melakukan channel suffering.
Suzy mendengus, "Aku juga cantik!"
"Tapi kau tidak suka hubungan jangka panjang."
"Apa hubungannya hal itu dengan cantik?" Suzy menaikkan alisnya tidak mengerti.
"Jadi kau tidak termasuk tipe idealku, bodoh." Myungsoo kembali menyentil pelan dahi perempuan di sebelahnya.
***
"Nona Suzy..." Keempat pelayan berpakaian seragam itu otomatis menunduk ketika Suzy dan Myungsoo masuk melewati pintu utama.
Suzy tersenyum, kepada salah satu kepala pelayannya. Bibi Chung. Kemudian bertanya, "Mereka sudah pergi?"
"Sudah tadi pagi-pagi sekali, Nona." Jawab Bibi Chung. Kemudian Bibi Chung mengambil mantel yang di pakai Suzy dan meletakannya di hanger lantai.
Suzy mengangguk mengerti. Atau mungkin lebih tepatnya, terlalu mengerti.
Well, welcome to Suzy's life...
Jika menurut semua orang di luar sana menjadi anak dari Bae Yoojin dan Han Sora merupakan salah satu anak yang paling beruntung di Korea Selatan. Suzy akan dengan sangat senang untuk membantahnya.
Dia sama sekali tidak beruntung meskipun di kelilingi kemewahan yang mungkin tidak akan habis dimakan jaman. Satu-satu nya yang membuat Suzy beruntung terlahir sebagai anak dari keluarga ini adalah karena mereka lah Suzy bisa mengenal Myungsoo. Sahabat pria yang setia yang selalu menuruti apapun kemauannya. Yang selalu memenuhi keinginannya.
"Duduklah, aku akan berganti pakaian dulu." Ucapnya pada Myungsoo.
"Kau tidak mengajakku ke kamarmu?"
Suzy menaikkan alisnya, "Aku hanya akan mengajak seseorang yang menempatkanku sebagai tipe idealnya." Jawabnya asal, lalu berjalan menyusuri tangga yang menghubungkan ke kamarnya.
Myungsoo tersenyum kecil.
"Aku harap tuan muda Myungsoo akan selalu ada bersama nonaku, selamanya." Kata Bibi Chung dengan lembut. Menurut penilaian mata tua nya, Myungsoo begitu menyayangi Suzy, dan dirinya berharap jika rasa sayang itu akan terus bertambah selamanya. Karena, mungkin Myungsoo lah yang bisa menyembuhkan trauma yang di alami nona muda nya itu.
Myungsoo hanya membalas ucapan Bibi Chung dengan senyuman sopannya.
***
"Suzy, Suzy, Suzy!" Soojung mengguncang-guncang bahu Suzy dengan hiperbola sambil menunjukkan ponselnya kedepan wajah Suzy.
"Apa?" Suzy menyingkirkan tangan berikut dengan ponsel Soojung dari pandangannya. Kepalanya masih pusing karena Mr. Lee yang menjengkelkan itu membuat nilai tugasnya tidak keluar hanya karena ia lupa membawa makalah itu tadi. Lalu, Suzy membawa dengan pandangan kesalnya kepada Myungsoo yang sedang asik menatap buku bacaan ditangannya, "Yya, Myungsoo! Kenapa kau tidak mengingatkanku sih?"
"Belajarlah untuk bertanggung jawab dengan kewajibanmu sendiri. Aku tidak selamanya bisa berada bersamamu, Suzy."
"Aih, dasar menyebalkan!" Suzy mendesah, lalu menelungkupkan kepalanya beralaskan tas coklatnya. "Kau mau bilang apa tadi?" Tanya Suzy kepada Soojung.
Soojung tersenyum lebar, kemudian memberikan ponsel yang dipegangnya kepada Suzy. Suzy mengerutkan keningnya, menatap layar ponsel milik sahabatnya yang cerewet itu dengan malas.
"He asks me to give your number!" Ucap Soojung girang.
"Jangan diberikan."
"Kenapa?" Soojung mengerutkan alisnya. Tidak mengerti kenapa Suzy menyuruhnya untuk tidak memberikan nomor teleponnya kepada pria terkeren di jurusan seni itu. Karena seingatnya, Suzy baru saja putus dan status perempuan itu sedang single. "Kau katanya sudah putus dengan Joon?"
Suzy mengangguk, "Memang."
"So?"
"Jika dia mau mendekatiku, maka dia harus berusaha keras," Suzy menegakkan kepalanya. Lalu menatap Myungsoo yang masih fokus pada bacaannya, "Geutchi, Myungsoo?"
Myungsoo hanya memberikan sebuah gumaman sebagai jawabannya. Membuat Suzy lagi-lagi mendengus kesal. Tanpa memperpanjang waktu untuk memerdulikan Myungsoo yang memang selalu merespon dengan cara menyebalkan seperti itu, Suzy mengambil minumannya dan menyesapnya melalui sedotan.
Tanpa diketahui oleh perempuan itu, bahwa buku yang dipegang Myungsoo ini hanyalah kamuflase bagi pria itu. Karena, fokusnya sudah tak lagi pada deretan kata membentuk kalimat-kalimat yang terbungkus dalam buku bersampul hitam itu sejak Soojung menyampaikan sebuah informasi yang ditunjukan untuk Suzy.
***
Fri 3/15/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co