Truyen3h.Co

Feudatory

22

authoriya


•••••••••••••••••••••

-Tak semua yang saling cinta, ditakdirkan bersama-

Kesepuluh jemari itu bergetar. Gelora panas memenuhi seisi apartemen ini. Jikalau bisa lebih di perjelas, hari ini semua terasa aneh. Baik itu perasaan, maupun pikiran. Semua sejalan, semua semestinya. Suzy membeku di pangkuan Myungsoo, ntah bagaimana posisi duduknya benar-benar kurang ajar. Dilatih seperti wanita kerajaan oleh sang Nenek yang memiliki darah bangsawan, Suzy hari ini yakin bahwa dirinya akan di coret dari pewaris mutlak harta Nenek dan Kakeknya yang kaya raya. Dalam kungkungan lengan besar itu, pikirannya hilang total. Hanya satu hal yang dia tau; screaming his name.

Akan kutunjukan bagaimana perwujudan dari kalimat sialan itu...

"M-myungsoo..." Suara perempuan itu tertahan, tangannya meremas kaos yang dikenakan laki-laki dibawahnya, bersamaan dengan bibir basah milik laki-laki itu yang mulai menggerayangi bahu nya. Sedangkan, semakin parah dari kejadian sebelumnya, tangan Myungsoo mulai berani masuk kedalam kaos yang dikenakan Suzy, lalu meremas satu diantara dua bulatan besar yang dilapisi bra berwarna hitam berenda. "Kita tidak bole--"

"Aku ingin menghamilimu," Suara Myungsoo terdengar syarat akan kepedihan. Membawa tangannya keluar dari dalam baju Suzy, kemudian memeluk pinggang perempuan dalam pangkuannya itu. Myungsoo menelusupkan kepalanya diantara lekukan leher Suzy, "Aku bisa mati kalau tidak bersamamu. Aku tidak bisa membayangkan perempuan lain selain kau, Zy..." Lalu, setetes kristal bening turun dari pelupuk mata laki-laki itu.

"Kakekku dan Nenekmu seharusnya tahu kalau kita saling membutuhkan."

Benar... Suzy menyetujui dalam hati.

"Seharusnya, mereka bertanya siapa yang kusukai. Bukannya memilihkan satu dari sekian pilihan yang ada."

Suzy terdiam. Tidak bisa membenarkan, karena hati nya pun bingung sekarang.

"Suzy..." Myungsoo menjauhkan kepalanya. Pandangannya tertuju pada perempuan cantik dalam pangkuannya, "Apa kau mencintaiku?"

Suzy memilin bibir bawahnya. Tidak mengerti, apakah perasaan yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Lantas, ia mendesah kecil, "Aku membutuhkanmu."

"It's enough for me, Zy. It's enough." Lalu, Myungsoo membawa Suzy kembali kedalam ciumannya yang panjang.

***



Benar kata orang, mood baik tidak akan bertahan sampai seharian. Semalaman bersama Myungsoo dan melakukan hal yang tidak biasa mereka lakukan. Well, buang pikiran kalian jauh-jauh karena kedua orang di mabuk asmara itu tidak sampai pada tahap itu. Soojung benar, ternyata mulut tidak melulu hanya digunakan untuk berciuman saja. Dia tidak tahu kalau akan jadi senikmat itu ketika mulut Myungsoo berjalan menyusuri setiap jengkal tubuhnya. Dia tidak pernah tahu jika...

Kedua pipi Suzy merah padam ketika membayangkan dadanya sudah tidak perawan lagi. Myungsoo seperti bayi yang merindukan ASI. Sayangnya, Suzy sama sekali belum memproduksi asi. Laki-laki itu... Bagaimana cara menjelaskannya, yang jelas, dia begitu hebat dan seperti seorang berpengalaman dalam melakukan 'itu' . Suzy jadi curiga kalau selama ini buku yang dibaca Myungsoo merupakan buku bacaan dewasa.

"Kenapa pipimu merah?" Suara serak Myungsoo menghentikan lamunannya. Suzy melirik Myungsoo yang sedang menggeliat, lalu kedua matanya membelalak kaget, "Yya, dimana bajumu?! Dasar mesum!"

Suzy langsung mengalihkan pandangan.

"Semalam kau kesenangan. Sekarang kau marah-marah. Moodmu seperti bunglon, Suzy." Myungsoo mendengus. Mengambil kaos nya yang terkucir diatas ubin lantai. "Ponselmu terus berbunyi, mungkin dari Nenekmu."

Suzy mengerutkan kening. "Bukannya dia sedang ada di Jepang..."

"Memangnya di Jepang tidak ada telpon?" Myungsoo geleng-geleng. Kedua kakinya bergerak menyentuh lantai dan berdiri, sambil mengacak rambutnya ia kembali berujar, "Aku jadi penasaran, bagaimana nasib kuliahmu jika tidak ada aku, ya?"

Suzy berdecak, melemparkan selimut putih kewajah Myungsoo dengan kasar, "Aku membencimu!"

"Aku juga mencintaimu, Suzy." Myungsoo terkekeh. Memandangi punggung Suzy yang berjalan menuju pintu kamar dan membukanya. Lalu, tubuh langsing itu menghilang dibalik daun pintu.

***

Perempuan itu berubah.

Myungsoo melirik Suzy yang tetap kekeuh duduk di jok belakang. Kedua mata Suzy memandang jalanan luar melalui kaca mobil, tangannya menggenggam erat ponsel, sedangkan tas kesayangan Suzy tergolek manis di jok sebelah perempuan itu. Suzy mengenakan setelan kulot putih dengan blazer coklat tua yang dia tinggalkan di kamar Myungsoo tempo lalu.

"Kau kenapa?" Pertanyaan kelima yang dilontarkan Myungsoo kepada Suzy. Yang tak kunjung mendapatkan jawaban.

Suzy hanya mengedipkan kelopak matanya sesekali, lalu kembali menatap jalanan di depannya.

"Nenekmu sakit disana?" Tebak Myungsoo. Ia sadar sikap Suzy berubah setelah menerima panggilan ponsel. "Gin bicara apa denganmu tadi, Suzy?"

Alih-alih merespon, Suzy memberikan ponselnya kepada Myungsoo. Membuat laki-laki itu menerima ponsel itu dengan kening mengernyit, bingung. Myungsoo menatap jalan raya yang sedang padat, juga ponsel Suzy secara bergantian. Jemarinya dengan cepat membuka kode kunci layar pada ponsel itu. Kunci layar yang hanya diketahui kode pattern nya oleh keduanya seorang. Yang memiliki kode pattern yang sama dengan miliknya.

Dan...



Myungsoo langsung menginjak rem mobilnya secara sepontan ketika melihat gambar yang memenuhi layar ponsel itu. Suzy terhuyung, hingga kepalanya terpelatuk kursi penumpang bagian depan, "Yya!"

Untuk kali pertama sejak keterdiamannya, Suzy akhirnya  bersuara. Dahinya memerah kesakitan, sedangkan kedua matanya menatap Myungsoo dengan pandangan membunuh. Ini adalah kedua kalinya Suzy tersungkur hingga dahi nya memar akibat Myungsoo. Dan Suzy tidak bisa mentolelir hal ini lagi. Sialan, Myungsoo!

"S-suzy... Dari mana kau mendapatkan foto ini?"

"Nappeun!" Suzy menggigit bibir bawahnya, matanya memerah, "Kau bahkan tidak bilang kalau kau menyetujui perjodohan sialan itu dan kau..." Suzy terkekeh. Dia baru saja mendapatkan jawaban dari kekesalannya kemarin. Juga, dari kebohongan Myungsoo kemarin. "Jadi, sebab itulah kau mengantar si jelek itu kemarin?"

"Kenapa kau menyembunyikan hal ini, Myungsoo? Kenapa aku harus mendapatkan foto ini dari orang lain?"

"Aku bahkan tidak tahu-menahu soal undangan sialan itu, Suzy..."

"Pembohong!"

Suzy mengambil tas saat ponselnya kembali menderingkan panggilan. Myungsoo melirik ponsel ditangannya yang kini sedang menari-nari dengan nomor asing di layarnya. Suzy langsung merampas ponselnya, dengan cepat menggeser ikon hijau itu, dan menjawab. "Ya, Gin?" Nada suara Suzy terkesan santai.

Tanpa perlu bertanya lagi, Suzy bisa tahu kalau itu adalah nomor ponsel Gin, nomor yang dipakainya ketika sedang berada di Jepang. Suzy menunggu Gin yang sepertinya sedang sibuk diujung sana, karena Suzy bisa mendengar suara Gin yang sedang berbicara dengan seseorang disana. Pandangannya bertemu dengan manik mata Myungsoo--Laki-laki itu membawa tubuhnya menoleh, menatap Suzy. Sedangkan mobil yang ia kendarai sudah lebih dulu terparkir di ruas jalan--dan dengan cepat Suzy mengalihkannya. Dia masih sebal soal undangan itu.

"Nona... Nyonya Song-yi..."

Pupil mata Suzy langsung membesar, "Nenek sakit? Kenapa, nenekku, Gin?!"

Suzy mengernyit ketika Gin berbicara tak jelas, tetapi ada kata-kata soal menu makanan. Pikirannya langsung melayang-layang, apakah nenek keracunan makanan di Jepang?

"Tidak, nona... Tunggu..." Ucap Gin. Kemudian Suzy mendengar suara ramai itu perlahan menghilang digantikan dengan ketenangan. Lalu, suara Gin kembali terdengar tenang, "Nona, kau bersama tuan muda Myungsoo, sekarang?"

Suzy mengangguk. "Mm, kenapa?"

"Pernikahan Nyonya Song-yi dan Tuan Jo In akan diadakan besok pagi. Berbarengan dengan pengumuman pertunangan tuan muda Myungsoo yang undangannya kukirimkan tadi. Jadi, kalian berdua bisa bersiap, aku akan mengirimkan lewat email tiket penerbangan untuk Nona Suzy dan tuan muda Myungsoo."

Suzy merasakan pasokan udaranya menghilang bersamaan dengan berakhirnya panggilan telpon itu.

***
Wed 29/05/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co