Truyen3h.Co

Feudatory

23

authoriya

Tujuh tahun setelahnya.

•••••••••••••••
Waktu yang berjalan, sedang aku, tetap ditempat yang sama.

Singapore, 01:45 PM.

"Kita akan mengambil alih posisi sebagai perusahaan multinasional nomor dua di negeri ini, dan dalam 5 tahun nanti kita akan menjadi perusahaan dalam bidang perancangan, pengembangan, serta penjualan barang terbesar di pasar domestik, dan 5 besar dalam pasar global." Perempuan dengan kacamata itu menarik napas dua detik, meyakinkan dirinya kalau semua fokus dalam ruang rapat itu sedang menatap ke arahnya, "Apalagi, dalam enam bulan terakhir penjualan di Singapore adalah yang paling besar di bandingkan pada negara Asia atau kawasan Eropa lainnya. Aku percaya, kalau perusahaan kita akan memenangkan award lagi pada tahun ini." Lanjutnya dengan suara percaya diri.

Perempuan itu kemudian kembali bersuara, "Disamping itu, aset terkini kita adalah 2,024 miliar dolar, lalu liabilitas terkini sekitar 940 juta dolar. Maka, rasio terkini sekitar 215 persen. Untuk itu, aku selaku perwakilan dari Bae Inc, meminta seluruh divisi karyawan yang berada dibawah naunganku untuk lebih semangat dan giat dalam menjalankan job desc nya. Xie xie."

Setelah menyelesaikan kalimat panjangnya, Suzy menuruni podium dan langsung disambut tepuk tangan dari seluruh staff yang ada disana. Suzy melepas kacamata nya, memberikannya kepada pria berpostur tegap yang menunggunya di sudut. Si pria itu dengan cepat langsung mengambil alih kaca mata itu, memasukkannya kedalam kotak dengan ukiran brand kesayangan si pemilik kacamata disana. Pria itu mensejajarkan posisi jalannya disebelah Suzy, "Bu, panggilan dari korea."

"Biarkan saja, kepalaku pusing. Lebih baik kau bawakan aspirin untukku tolong, Gin." Suzy berdecak. Kepalanya selalu saja pusing jika membicarakan soal aset, rasio ataupun liabilitas perusahaan.

That is not her passion, anymore. Tetapi kehidupan lagi-lagi harus memaksanya.

"Ini adalah peringatan meninggalnya Nyonya Song-yi yang ke 4. Mungkin tuan Bae yang menelpon anda, Wakil ketua."

"Gin, bawakan aspirin sialan itu ke ruanganku, dan jangan ganggu aku. Mengerti?" Suzy menghentikan langkahnya. Menatap pria bernama Gin--yang sejak dulu mengabdi kepada neneknya, dan 6 tahun terakhir ikut ke Singapura bersamanya ketika ia memutuskan untuk mengurus cabang di Singapore. Suzy memilin bibir bawahnya sesaat, "Dan aku tidak akan menghadiri upacara peringatan kematian itu. Seperti biasa."

"Tuan Kim Jo In menanyakan kabar anda kemarin."

Jemari Suzy menggantung di knop pintu seiring dengan langkah kakinya yang membeku. "Dia ingin anda datang ke upacara itu, Nona Suzy..."

Nona...

Rasanya sudah lama sekali Suzy tidak mendengar Gin menyebutnya dengan panggilan Nona. Semenjak Suzy akhirnya benar-benar bergabung di perusahaan ini, Gin terus saja memanggilnya dengan sebutan 'Wakil ketua' .

"Aku tidak mau ke Korea." Jawab Suzy dingin. Lalu, berjalan masuk ke dalam ruang kantornya.

***



Pasca ucapan Gin dua hari yang lalu, entah dari mana nomor korea terus bermunculan. Meneleponnya. Mengganggunya.

Bahkan, ketika dia jatuh tertidur diatas ranjang di dalam Apartemen di kawasan Orchard Road, Cairnhill Nine.

Suzy mendesah. Membuka eye mask-nya dengan kasar, tangannya bergegas mengambil ponsel dari atas nakas tempat tidur. Tanpa melihat id caller terlebih dahulu, Suzy langsung menggeser ikon pada layar dan mendekatkan gawai nya ke cuping kiri.

"Hallo?"

"Suzy! Perempuan jalang-ku, dasar jahat, kau tidak menghubungiku lagi belakangan ini! Kau tahu, aku bisa gila kerja di brand in---"

Suzy menjauhkan benda persegi itu dari telinganya. Ditatapnya dengan kening berkerut layar yang menarikan nama Soojung disana.

Sialan!

"Yya, apa kau tahu di Singapore sekarang sedang tengah malam?!"

"Disini juga."

"Keuno!" Suzy hendak memutuskan sambungan secara sepihak. Ketika suara Soojung terdengar lagi.

"Tunggu! Kau kesini, aku butuh bantuan untuk memilihkan desain gaun pengantinku..."

"Kau kira Singapore dan Korea itu dekat? Lagipula, kau tanya saja dengan desainernya kenapa?"

"Aku ingin sahabatku turut andil dalam pernikahanku. Ajak Jungkook kesini juga, ya, ya? Teman-temanku disini sering live streaming acara perkiraan cuaca nya. Oh my god!"

Suzy mengernyitkan dahi, "Jadi, kau mengharapkanku atau Jungkook sebenarnya?"

"Kau." Sambar Soojung dengan cepat. "Jungkook adalah bonus. Astaga, aku tidak menyangka dia akan menjadi penyiar berita di Rusia. Dia sering mengunjungimu lagi, heh?"

"Tidak."

"Pembohong." Soojung berdecak, berbicara dengan nada tak percaya. "Apakabar Lani?"

"Mm, baik. Dia akan mulai sekolah minggu depan, kurasa Gin akan kerepotan." Suzy menyunggingkan senyum kecilnya.

Si bodoh Jungkook itu mabuk dan tanpa sengaja menghamili model Rusia. Si model Rusia yang cantik itu berniat akan menggugurkan janinnya, untung saja diurungkan karena Jungkook mengatakan akan mengirimi sejumlah uang--well, meskipun brengsek, namun Jungkook cukup berani mengambil resiko. Dia tidak rela jika ada janin yang di korbankan, padahal dia sendiri yang menghidupkannya. Selanjutnya, Suzy tidak tahu kemana model Rusia itu, ada yang mengatakan kalau si model yang merupakan Ibu kandung Lani itu pergi meniti karir di Amerika sana. Suzy tidak begitu peduli, karena banyak yang harus diperdulikannya saat ini.

"Jungkook menyuruhmu menjaganya karena takut media mengendus dan mengancam karirnya. Tapi kau malah menumpahkan semua tugas itu kepada si tua Gin."

"Apa yang harus aku lakukan disaat Lani lebih senang tinggal bersama Gin dan istrinya daripada aku?"

"Ck. Kau harus membawanya ke Korea juga, Suzy. Ketika kau kesini. Aku akan memesankan tiketnya, penerbanganmu lusa dan--"

"Yya, aku tidak menyetujui nya!" Suzy mengerutkan dahi. Dua bulan tanpa kabar, Soojung semakin membuatnya naik pitam. Ck!

"Aku tidak butuh persetujuanmu, Suzy. Kau hanya tinggal menyeret Luggage yang kuberikan sebagai perkenalanmu dengan tempat kerjaku. Oke?"

"Tidak."

"Yya, kau tidak merindukanku? Jadi, segitu saja hubungan pertemanan kita? Jadi, kau--"

"Keuno!" Suzy langsung memutuskan sambungan telpon itu.

Kepalanya sudah pusing, dan matanya melek total. Suzy menelan saliva, otaknya mulai berpikir kenapa belakangan ini orang-orang dari Korea terus saja menghubunginya. Apakah sudah waktunya dia untuk kembali?

Atau, apakah sudah waktunya dia berdamai dengan masa lalu itu? Toh, neneknya sudah tiada. Ayah dan Ibu Suzy sudah menetap di Shanghai dan Tokyo, mereka berpisah pada tahun pertama kematian neneknya. Dan...

Apakah sudah waktunya untuk bertemu kembali dengan sahabat laki-laki satu-satunya yang ia miliki itu? Tapi bagaimana jika, ketika ia kembali dia harus dihadapkan dengan kenyataan lainnya. Misalnya, laki-laki itu telah memiliki anak dengan perempuan itu? Apakah ia yakin kalau dirinya akan baik-baik saja?

Suzy menarik napas berat, seolah ada beban kesakitan yang menusuk-nusuk di dadanya. Lalu, membuangnya secara perlahan. Diraihnya ponsel dari atas bed, ketika bunyi getaran dan pop up notifikasi pesan baru terlihat.

Soojung.
Kemarin Minhyuk mengatakan kepadaku kalau Myungsoo
menanyai nomormu. Kembali lah, banyak hal yang harus
kau selesaikan disini, bitch.

***

"Suzy..." Kedua mata itu menatap sayu pada perempuan di depannya. "Bagaimana denganku? Kau..."

Suzy tersenyum, tak dikiranya ucapan ini akan dia lontarkan kepada satu-satunya pria yang ia percayai. Kedua tangannya menakup pipi Myungsoo, menyusapnya secara perlahan dengan kepala mendongak, "Ayo kita putus." Suzy memejamkan matanya, membawa kepalanya menyandar pada leher Myungsoo, "Kau punya kehidupan yang layak. Orang tua mu baik, kakekmu baik, teman-temanmu baik. Sedangkan aku, aku hanya memiliki Nenek sebagai keluargaku."

"Suzy..."

"Kumohon, uh?" Setetes air mata bening keluar dari pelupuk matanya.

Myungsoo membeku. Mimik wajahnya datar dengan kedua mata melihat bagaimana kristal bening itu melunjur dari mata Suzy. Air mata pertama yang keluar karena dirinya.

"Jangan menghubungiku, Jangan menanyakanku pada siapapun karena aku yang akan menghubungimu terlebih dulu, Myungsoo. Turuti kemauanku jika kau memang mencintaiku sebesar yang kurasakan. Aku sebenarnya tidak menyukai perempuan itu, tapi mungkin dia adalah takdirmu, siapa yang menduga? Kau tahu, terkadang tidak semua yang saling cinta bisa berakhir bersama-sama."

"Wakil ketua Bae?"

"Oh?" Suzy menarik diri dari lamunannya. Menoleh kepada Gin, berdiri tak jauh bersama gadis kecil dengan boneka kecil ditangannya. Kedua mata Suzybmembelak, "Lani, kau akhirnya mengunjungiku..." Kemudian berdiri, membawa stilettonya berjalan mendekati gadis kecil menggemaskan itu.

Perawakan Lani yang tidak seperti orang asia kebanyakan--seperti Lisa Blackpink, kalau di gambarkan--mungkin, karena itulah siapapun orang dekat yang melihat Lani tidak akan percaya kalau dia turunan Asia. Tubuh kecil dengan rambut panjang blonde, plus mata bundarnya, Lani benar-benar akan menjadi idola jika berkecimpung di Rusia, mengikuti Jungkook, kelak.

"Mommy, aunty Jung menelpon Gin. Katanya aku dan mommy akan ke Korea. Benar?"

"Tidak, sayang." Suzy mengusap puncak kepala Lani pelan. "Banyak pekerjaan yang tidak bisa mommy tinggalkan. Lagipula, Ayah Jungkook kan mau kemari besok, Lani lupa?"

"Gin bilang tidak jadi, benarkan Gin?" Kepala Lani mendongak, menatap Gin yang menjulang tinggi disebelahnya.

Gin berdeham, "Jungkook mengirimiku pesan kalau dia ada pelatihan di Amerika sekitar tiga minggu, wakil ketua Bae."

Suzy mengernyitkan kening. Dia memang sudah cukup lama tidak berhubungan dengan Jungkook. Biasanya, Jungkook akan menelponnya melalui Gin untuk menanyakan Lani. Sedangkan sekarang, Lani sudah dibawah pengawasan Gin dan istri sepenuhnya.

"Aku memiliki kabar tak terduga."

"Apa?"

"Tuan Kim Jo In mengancam akan berhenti mensponsori produk terbaru yang akan kita keluarkan bulan depan kalau anda tidak ikut dalam peringatan mendiang Nyonya Song-yi."

***

Wed, 29/05/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co