Truyen3h.Co

Feudatory

-Kilas balik- |24|

authoriya

Seoul, 7 tahun lalu.


Suzy

Selepas telpon dari Gin yang mengabarkan tentang pernikahan-sialan dan juga undangan-sialan itu, Aku melirik kearah Myungsoo sambil memilin bibir bawahku. Pria bermata tajam yang begitu menyayangiku itu terus memusatkan fokus mata nya kepadaku. Aku tahu, banyak pertanyaan berkecamuk dibenaknya, dan aku juga tahu kalau dia sama cemasnya seperti ku. Atau lebih.

Mengingat dia sangat menyukaiku, aku yakin ucapannya ingin menghamiliku semalam itu benar-benar dari dalam lubuk hatinya. Tapi, aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan memiliki seorang anak bersama Myungsoo--kecuali jika hukum di Korea mewajibkan seluruh penduduknya menikah dan punya anak, maka Myungsoo akan kuseret agar menghamiliku saat ini juga-- yang benar saja, pernikahan adalah hal terakhir dalam hidupku. Tidak akan.

Aku tidak mau berakhir seperti Ibu dan Ayah. Yang dijodohkan karena bisnis, kemudian saling jatuh cinta karena memiliki hasrat sama tentang sex, lalu berakhir seperti dua orang yang tidak saling mengenal karena pekerjaan. Tidak akan.

I'm happy just the way i am. Lelaki, status, dan harta hanya akan memperparah keadaan. Well, mungkin akan kucoret untuk kata terakhir karena hanya harta yang bisa menyenangkanku sejak dulu.

"Gin mengatakan apa?"

Suara Myungsoo mengalun-alun dengan nada ingin tahu. Aku menatapnya, pria itu memutar tubuhnya di balik kemudi, satu tangannya tergantung diatas stir, sedangkan sorot matanya mulai khawatir.

Aku membuka pintu mobil dan keluar, menatap sungai Han dari trotoar jalan. Melalui bayangan, aku melihat Myungsoo mengikutiku. Lalu, berdiri dengan tubuh menjulangnya disampingku.

"Kita benar-benar akan menjadi saudara." Kataku pelan-pelan, mataku terus memerhatikan bagaimana perubahan yang tercipta dari laki-laki sahabatku itu. Namun, aku tidak menemukan apapun. Apapun selain...

Damn, Myungsoo menangis!

Pikiranku langsung membell, pada quote di tumblr yang pernah kubaca, dan sibuk membandingkannya. Katanya, Jika seseorang menangis karenamu, itu berarti dia mencintaimu.

Dan Myungsoo menangis karenaku hari ini.

Jadi, apa dia mencintaiku?

Ponselku berbunyi, aku langsung mengecek dan mendapatkan informasi bahwa tiket penerbangan atas nama Myungsoo dan aku sudah dikirimkan oleh Gin yang cekatan itu melalui surel. Aku mendongak, "Gin sudah mengirimkan tiket penerbangan kita. Nanti sore kita harus sudah berada di airport, Myung--"

"Aku akan membawamu pergi. Kita bisa berdua terus menerus, menghabiskan waktu dan menua bersama, Zy. Aku tidak butuh harta sialan itu. Aku hanya membutuhkanmu."

Apa?

Kurasa otaknya mulai gila karena sudah mencicipiku. Astaga, yang benar saja!

"Myungsoo, kau gila ya?"

"Aku hanya membutuhkanmu. Aku tidak masalah kau tidak menginginkanku, menginginkan hubungan apapun. Asal kau bersamaku, itu sudah cukup..."

Aku terdiam.

Bagaimana bisa laki-laki ini berbicara omong kosong disaat semuanya sudah terhampar di depan mata. Nenekku akan langsung tewas di tempat karena jantungan. Dan perusahaan Kakek akan bangkrut jika tidak ada nenek, atau lebih parahnya, perusahaan itu akan diambil alih oleh keluargaku yang mata duitan--karena aku bukan mata duitan, aku hanya suka fashion, dan belanja butuh uang-- dan aku tidak mau itu sampai terjadi.

Ha, seperti Myungsoo sama sekali tidak paham situasi. Perlu berapa kali kutegaskan, bahwa aku tidak akan mengorbankan nenek demi keegoisanku.

"Aku tidak bisa." Kataku.

"Suzy...," Kedua mata itu menatap sayu pada ku. "lalu bagaimana denganku? Kau..."

Aku tersenyum, sama sekali tidak mengira bahwa ucapan itu akan terlontar dari mulutku, yang kutujukan kepada satu-satunya pria yang ku percayai. Aku membawa tubuhku menghadapnya, kemudian menakup pipi Myungsoo dengan kedua tanganku, menyusapnya secara perlahan dengan kepalaku yang mendongak menatapnya,

"Ayo kita putus." Kataku sehalus angin.

Lalu, aku memejamkan mata, membawa kepalaku menyandar pada leher Myungsoo, "Kau punya kehidupan yang layak. Orang tuamu baik, kakekmu baik, teman-temanmu baik. Sedangkan aku, aku hanya memiliki Nenek sebagai keluargaku."

"Suzy..."

"Kumohon, uh?" Setetes air mata bening keluar dari pelupuku. Sialan, kenapa aku malah ballad begini?

Aku merasakan tubuh Myungsoo membeku. Mimik wajahnya datar dengan kedua mata yang melihat bagaimana kristal bening itu melunjur dari mata indahku. Air mata pertama yang keluar karena Myungsoo, kupikir. Aku bahkan tidak pernah mengingat pernah menangis karena pria di depanku ini.

Jadi, apa aku juga mencintainya?

Hell, no. Aku tidak mungkin mencintai orang lain. Never.

Well, sebenarnya aku sudah berniat akan pergi ke Singapore. Mulai mengambil alih perusahaan cabang sana. Kurasa Singapore adalah tempat yang baik untukku melarikan diri--karena aku tidak mau perjodohan lain akan keluar setelah perjodohan Myungsoo terjadi-- kalian tidak akan pernah tau problema orang kaya sepertiku.

Kakek Myungsoo itu suka uang. Dan, akan menjodohkan semua cucu-cucunya dengan anak atau cucu dari pemilik perusahaan yang menurutnya bisa menguntungkan. Dulu, si tua itu bahkan pernah menyuruh Myungsoo menikahiku, yang langsung kuancam Myungsoo jika mengiyakan ucapan kakeknya. Dan, dia akan menyuruh nenekku untuk menjodohkanku dengan cucu-cucu lain kenalannya. Aku tidak akan mau.

Enak saja...

Makanya, sebelum itu terjadi, aku akan berbicara dengan Nenek soal kepindahanku ke Singapore. Dan, laki-laki didepanku ini pasti akan mengekoriku, mulai mengacaukan rencana dan berakhir dengan nenekku yang kembali sakit, sehingga, aku harus mengatakan padanya sekarang.

"Dengar, tepat setelah Nenekku menikah dan kau bertunangan, aku akan mengumumkan sesuatu kepada seluruh tamu yang ada disana."

"Apa?"

"Kau akan tahu.l nanti," Aku mengulas senyuman, "tolong jangan mengacau, Myungsoo. Apa yang kaurasakan kepadaku, sebesar itulah yang kurasakan kepada nenek. Kau tahu kalau nenekku memiliki riwayat lemah jantung, jadi aku tidak ingin dia sakit tiba-tiba..."

"Kau bisa kan berjanji itu padaku?"

Myungsoo terdiam. Tidak menjawabku.

"Jika nanti seandainya kita menjauh," Myungsoo terlihat hendak mengatakan sesuatu, dan aku langsung memperjelas kalimatku, "Nanti. Masih lama. Dan misalnya, Myungsoo." Ketika itu juga dia kembali mengatupkan bibir.

Aku mendesah, "Kuharap kau tidak menghubungiku, Jangan menanyakanku pada siapapun karena aku yang akan lebih dulu menghubungimu, mengerti? Turuti saja kemauanku jika kau memang mencintaiku sebesar yang sudah terlihat." Kataku. Aku harus menyudahi pembicaraan ini sebelum aku menjadi perempuan mellow, "Aku sebenarnya tidak menyukai perempuan itu, tapi mungkin dia adalah takdirmu, siapa yang menduga? Kau tahu, terkadang tidak semua yang saling cinta bisa berakhir bersama." Lanjutku jujur.

"Kau menyuruhku untuk menikahinya?"

"Tidak, aku hanya memintamu untuk menuruti keluargamu. Karena kita tidak akan bisa bersama sekarang." Kataku.

***

Singapore, 5 tahun lalu.

Sebaik-baiknya rumah adalah dimana kau dilahirkan.

Itu adalah kalimat dari Soojung yang dikirimkan pagi ini padaku. Mengerti? Aku juga tidak mengerti.

Perempuan itu menjadikan jarak antara Korea dan Singapore seperti Seoul dan Pulau jeju. Dengan dalih kerinduan, dia mengunjungiku tiap sebulan sekali. Sendirian. Tanpa Minhyuk ataupun Myungsoo--karena aku mengatakan untuk tidak memberitahu keberadaanku kepada orang-orang Korea yang mengenalku.

Dan, aku sedang lelah karena membaca setumpuk dokumen yang harus kupelajari, Soojung dengan santainya menyusup masuk ke dalam apartemenku. Tangannya sudah penuh dengan shopping bag dengan tulisan brand kenamaan. Salah memang memberikan si marga Jung ini akses kedalam apartemenku. Karena, orang ini akan dengan randomnya datang tanpa bilang-bilang.

Sia--

Tunggu!

"Jungkook?!"

"It's me." Jungkook merentangkan tangannya, memintaku masuk kedalam pelukan tapi aku tidak mengikuti. Aku melirik tajam Soojung yang kini malah pura-pura tak melihatku, perempuan itu malah berlaku norak dengan mengomentari setiap ornamen di dalam apartemenku.

"Suzy, wow, kemarin terakhir aku kesini ini belum ada, kapan kau membelinya? Ini mata ikan? Kenapa mirip seperti mata panda?"

A

ku mendengus. "Kenapa kau mengajak orang lain kesini, Jung?"

"Jadi aku orang lain? Wow, it's so hurt me, baby." Ucap Jungkook. Pria itu mengambil tempat duduk di salah satu sofa mahalku. Lalu, aku baru menyadari kalau dibelakangnya ada orang lain... Perempuan indonesia, menggendong bayi mungil.

"Siapa dia? What the--"

"Mianhae, aku bertemu Jungkook di Changi Airport, kemudian dia mengiming-imingiku dengan membelanjakanku semua ini jika aku mau mengantarkannya menemuimu."

"What?!"

"Aku akan membaginya denganmu, Suzy. Oke?"

Aish! Dia kira aku tidak mampu membelinya , ha?

"Aku yang memilih produknya."

"Deal," Soojung berucap riang. "Kau akan tertawa sekaligus kasihan jika mengetahui cerita lengkapnya. Jungkook, coba kau ceritakan pada Suzy... Eh, tidak, biar aku saja."

Ya,ya, terserah Jung Soojung saja...

Kemudian, Soojung mulai bercerita. Sedangkan aku mengambil tempat disebelah shopping bag yang di bawa oleh Soojung.

"Kau tahu kan kalau dia mulai meniti karir di Rusia?" Mula-mula, Soojung bertanya padaku.

Aku mengangguk.

"Lalu, si bodoh yang untungnya tampan ini malah berulah dengan pergi ke klub malam yang kemudian berakhir dengan perempuan Rusia yang didekatinya." Soojung melirik kearah perempuan Indonesia yang berpakaian seragam pengasuh. Aku langsung mebelakan mata, "Kau bilang kau menyukaiku, Jungkook?"

Pertanyaan spontan yang kulontarkan. I know, ada respon lain yang lebih bagus seharusnya.

Jungkook tersenyum. Menggunakan jenis senyuman yang dulu sering dia lontarkan untukku, ketika kuliah dulu. "Kau menghilang tiba-tiba. Meminta nomormu ke Soojung malah berakhir dengan nomor-nomor perempuan asing yang tidak kukenal. Jadi, menurutmu apakah ada lelaki normal yang bisa menunggu tanpa kepastian begitu? Selain itu, kau juga tidak merespon-responku."

Aku tertawa. "Ya, mian, mian."

Membenarkan letak rambutku kebelakang telinga, aku langsung menancap gas, "Jadi, kenapa kau perlu menemuiku?"

"Nah, iya. Aku juga belum menanyakan itu. Kenapa kau mau bertemu Suzy?" Soojung membenarkan posisinya. Raut wajahnya nampak serius menunggu Jungkook menjawab.

Ada helaan napas berat dari Jungkook. Lelaki itu, meminta kepada perempuan Indonesia itu memberikan bayi dalam gendongan kepadanya. "Namanya Lani."

Wow, seringnya melihat bayi asia, ketika melihat bayi produk blasteran seperti ini aku malah terkagum-kagum.

"Dia cantik."

"Mm,"

"Orang tidak akan percaya kalau dia anakmu." Soojung berkata blakblakan.

"Aku juga tidak ingin orang tahu."

Apa?

Aku mendongak, menatap Jungkook dengan bingung.

"Jaga Lani untukku ya, Suzy. Kumohon?"

Apa?

"APAAA?!"

Bukan, itu bukan suaraku. Itu Soojung.

"Please. Aku akan membiayai Lani, kau hanya perlu menjaganya. Mempekerjakan pengasuh pun tidak apa-apa, Zy. Asalkan dia hidup di Singapore bersamamu. Dan sebagai imbalan, aku akan mengirimimu baju desainer yang sangat kau gilai setiap musimnya secara cuma-cuma."

"Kau menyogokku?" Aku memicingkan mata. Hell, kenapa orang-orang disini suka sekali menyogokku sih. Aku kan suka lemah jiwa...

Dan Jungkook dengan santainya menganggukkan kepala.

"10 potong baju untuk setiap musim. Deal?"

Aku menoleh, memandang Soojung dengan heran. Kenapa dia malah yang bernego?

"Deal." Ucap Jungkook.

***
End of throwback.


Thu 30/05/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co