25
"Mommy, aku ingin susu coklat... Huaaa..."
Suzy memijit pelipisnya. Membawa Lani tanpa pengasuh ikut dalam penerbangan ke Seoul rasanya benar-benar pilihan yang salah. Lihatlah bagaimana dia merengek sekarang, meminta susu coklat diatas ketinggian 35.000 kaki dari atas laut. Bagaimana ada sebuah mini market yang menyediakan susu coklat yang dia maksud itu sekarang, coba? Suzy mendengus.
"Mommy..."
"Astaga, Lani, tidur saja ya? Mommy lelah habis meeting dan langsung terbang. Kau tidak biasanya merengek seperti bayi," Suzy memutar tubuhnya menghadap ke seat yang diduduki Lani. Melihat matanya yang berair, Suzy jadi kasihan sendiri. Padahal, sebelum-sebelumnya dia sama sekali tidak pernah kasihan dengan orang lain, kecuali neneknya. "Gin tidak ikut karena harus mengurus beberapa hal di Singapore, dia akan menyusul lusa. Mommy janji, nanti setelah kita mendarat, mommy akan langsung mengajak Lani ke kedai coklat disana. Oke?" Suzy menjulurkan jari kelingkingnya.
Wajah Lani yang sedikit sedih itu menatap jari kelingking Suzy dengan perlahan. Suzy was-was menunggu. Namun, ketika jari mungil Lani melingkari kelingkingnya, Suzy tidak bisa untuk tidak tersenyum puas.
"Anakku yang pintar..."
***
She is back, man. Sore ini kemungkinan sampai.
Sederet kalimat yang dikirim melalui pesan singkat tadi pagi oleh Minhyuk ternyata mampu mengacaukan otaknya seharian. Setumpuk dokumen yang harus dipelajarinya untuk rapat nanti, hanya berhasil keluar masuk di kepalanya tanpa satupun menyantol dalam otak. Myungsoo menghela napas panjang, disandarkannya kepala pada kursi hitam yang ia duduki, lalu memejamkan mata.
Ingatannya akan perempuan ini nyatanya masih jelas, bahkan ketika 7 tahun sudah berlalu. Ya, si perempuan cantiknya itu bahkan menjadi jahat untuk tidak ikut kembali ke pemakaman nenek Song-yi empat tahun lalu. Namun, Myungsoo yakin, bahwa Suzy selalu ada bersama neneknya disaat-saat terakhir. Melalui cuitan dari beberapa orang kepercayaan kakeknya, Suzy ada di National University Hospital untuk menunggui neneknya disaat Kim Jo In tidak bisa terus menetap disana karena bisnis yang terus berjalan. Dia ingin menanyakan kabar perempuan itu, ingin meminta salah seorang kepercayaan keluarga untuk sekadar memotretnya. Namun, janji nya untuk tidak mencaritahu keberadaan perempuan itulah yang akhirnya mengurungkan niatnya. Dia ingin Suzy kembali dengan caranya sendiri, sesuai dengan janji perempuan itu kepadanya.
Masih berkutat dalam dunia yang diciptakannya sendiri, Myungsoo menemukan ponselnya berdering dari atas meja.
"Ya, Rose?" Jawabnya, setelah mengangkat panggilan telpon itu.
"Oppa, ayah mengajak kita untuk makan siang bersama. Aku akan menyu--"
"Maaf, aku tidak bisa hari ini. Katakan pada Ayahmu permohonan maafku, ya?" Myungsoo langsung menyela. Membuat si penelpon menghela napas panjang diujung sambungannya.
"Baiklah, aku akan memberitahu Ayah kalau kita tidak bisa kesana."
"Kau bisa kesana, Rose."
"Teman-teman Ayah akan membicarakanku jika suamiku terus-terusan tidak pernah bisa ikut dalam jamuan makan siang dengan mereka."
Myungsoo terdiam. Ia sadar, seharusnya sikapnya tidak begini. Namun, disisi lain, Myungsoo juga tidak bisa terus menurunkan ego, karena mengikuti apa yang dikatakan Kakeknya untuk menikahi anak dari keluarga Park sudah ia patuhi. Dan sekarang, mereka yang harus menerima konsekuensinya sendiri.
"Maaf." Ucap Myungsoo, dan langsung memutuskan panggilan telpon itu.
Myungsoo melirik jam di pergelangan tangannya. Jika penerbangan Suzy benar seperti apa yang dikatakan Minhyuk, maka 4 jam lagi perempuan itu akan mendarat di Korea. Mengingat Suzy dan Dirinya akan membagi oksigen yang sama, dada Myungsoo langsung bergemuruh hebat. Setidaknya, dia bisa bertemu Suzy saat peringatan kematian nenek Song-yi lusa. Atau, apakah dia harus pura-pura mengunjungi kakeknya sepulang nanti? Karena Myungsoo yakin, Suzy akan dibawa langsung ke rumah besar.
Tidak. Dia tidak boleh terlalu hiperbolis. Serindu apapun dirinya dengan perempuan itu, dia harus bisa menahannya lebih lama lagi. Myungsoo menghela napas panjang tepat disaat pintu ruangannya diketuk.
Dibaliknya, terdapat Daniel lengkap dengan tablet ditangannya. Laki-laki yang merupakan asistennya itu, mengingatkan sekali lagi kalau mereka akan ada rapat jam 1 siang nanti.
***
Soojung:
Kau sudah mendarat?
Ceklis satu, berarti kau masih diatas awan.
Ceklis satu.
Ceklis satu.
Mwoya, aktif! Kau sudah sampai?
Selamat datang di Korea, Suzy.
Aku akan menjemputmu sekarang.
Sialan, ada evaluasi mendadak! Sepertinya kita bertemu di hotel saja, oke? Aku sudah menyuruh sopir untuk mengantar mobil untukmu dan anak tersayangku, Lani.
Suzy:
Aku tidak bisa menyetir, Soojung.
Soojung:
Sudah lama tinggal diluar negeri masih tidak bisa menyetir? Astaga, buang saja semua mobil di basement apartemenmu.
Suzy:
Sialan.
Cepat suruh orang datang, aku seperti Ibu koala karena Lani yang merengek minta di gendong.
Soojung:
Aku tidak bisa membayangkan ibu koala dengan stiletto. Kkk
Suzy:
Ingatkan aku harus minta
uang yang banyak dengan
tukang berita itu nanti.
Suzy mendesah. Ia mengambil tempat duduk pada bangku panjang sambil menunggu sopir yang dikirimkan Soojung datang menjemput mereka. Ditatapnya Lani yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka dalam pangkuannya, lalu mengelap sedikit peluh di dahi Lani menggunakan tissue wajah. Wajahnya begitu damai jika sedang tertidur begini, membuat Suzy jadi teringat dengan wajah damai milik seseorang yang selalu menemaninya dulu. Tanpa disadari, ia menyunggingkan senyumannya.
Kadang, Suzy berpikir, menerima penawaran Jungkook untuk mengasuh anaknya ini sebenarnya hanya bungkus besarnya saja. Jauh di dalam hatinya, Suzy memang membutuhkan seseorang yang setidaknya bisa melepaskan beban ketika ia melihatnya. Dan terbukti, dengan adanya Lani bersamanya, Suzy jadi tidak merasa sendiri di negeri singa itu.
Seperti Myungsoo, Lani selalu bisa menenangkannya dengan cara mereka masing-masing.
Dia jadi berpikir, apakah Ayah atau Ibunya dulu merasakan hal yang sama seperti dirinya ketika melihat Lani? Yang walau notabanenya Lani sama sekali bukan darah dagingnya...
"Nyonya Suzy?" Suara milik seseroang terdengar menyapa. Suzy mendongak dari layar gawainya.
Pandangannya langsung dipenuhi oleh laki-laki korea dengan seragam hitam, menyapanya sambil membawa plang namanya. Itu adalah tulisan Soojung, pikir Suzy.
"Ya, aku Suzy." Jawabnya. Suzy bergerak bangkit, mungkin karena sedikit heboh, gerakannya itu malah membuat Lani terbangun. Mata bundarnya mengerjap dua kali, masih berada di antara kesadaran dan tidak, namun ketika pandangan Lani bertemu dengan mata Suzy. Gadis kecil menggemaskan itu langsung tersenyum. "Mommy, aku ingin susu coklat..."
Lagi. Lagi.
"Nanti kita mampir membeli beberapa cake untuk aunty Jung dan susu coklat untuk Lani, ya?"
Lani mengangguk riang.
Suzy mengarahkan pandangannya kembali pada sopir yang dikirimkan Soojung, lalu meminta tolong, "Ahjussi, tolong bawakan koperku ya? Lani tidak mau berjalan sendiri..."
Si pria itu langsung mengangguk. Mengambil koper besar, lalu menuntun kedua tamu dari atasannya itu menuju parkiran.
***
Seoul tidak banyak berubah. Beberapa pertokoan yang ada dulu memang sudah tutup dan digantikan dengan toko lainnya, namun lebih banyak yang bertahan sampai sekarang. Hanya saja, gedung ruko yang berganti warna, atau beberapa nya lagi di rombak lebih besar. Suzy menyunggingkan senyumnya, satu tangannya mendekap Lani dalam pelukan, sementara pandangannya menyusuri jalanan Seoul yang penuh kenangan.
Kemanapun kita berada, satu-satu nya rumah adalah dimana kita dilahirkan. Seratus persen benar. Singapore dengan segala kecanggihan dan kemewahannya, ternyata bisa terhempas saat Suzy menginjakkan kakinya kembali kesini. Mobil yang dikendarai berhenti tepat di depan ruko bertuliskan nama resto cepat saji yang menjual segala jenis coklat.
"Kukira sudah tidak ada lagi," Suzy bergumam pelan. Kepalanya menunduk menatap Lani, "Lani disini saja ya, Mommy tidak akan lama..."
Si kecil Lani mengangguk menurut. Gin dan istrinya benar-benar menghidupi Lani dengan baik dan sopan. Suzy harus mengingat untuk menyuruh Jungkook memberi bonus kepada asistennya itu nanti. Diambilnya tas hitam miliknya, lalu membawa kaki yang dibalut stiletto itu turun dari dalam mobil. Suara lonceng terdengar berbunyi tepat ketika Suzy mendorong pintu kedai itu, membuat pelayan langsung tersenyum ramah kepadanya dan menyapa.
Suzy membalas senyuman itu. "Suzy?!" Dari arah belakang, nampak ibu-ibu umuran 60 tahun menyapa nya. Wanita tua dengan perhiasan di kesepuluh jari dan kalung besar menggantung di leher itu tersenyum ramah. Suzy membeliakkan mata, ia mengenali perempuan tua itu sebagai pemilik kedai ini.
"Ahjumma!"
"Aku tidak pernah melihatmu lagi, kau baik-baik saja?" Si bibi mengelus pipi Suzy dengan tangan ringkihnya.
Suzy mengangguk. "Aku merindukan coklat-coklatmu."
"Eiyy, kau boleh memakannya sesuka hatimu, aku akan memberikannya gratis."
"Sungguh?"
Bibi itu mengangguk senang.
"Kenapa anak nakal itu tidak bilang kalau dia kesini bersamamu..."
"Ha?" Suzy mengernyitkan kening. Sedikit bingung dengan apa yang dikatakan perempuan tua didepannya ini. "Aku tidak--"
"Temanmu, Myungsoo. Kau kesini bersamanya kan, atau aku salah?"
Deg...
Dia ada disini?
Sekarang?
"Aigoo... Dia ada di lantai atas ditempat kalian biasa menghabiskan waktu dulu. Kau tidak tahu?" Bibi itu menambahi ketika perempuan muda di depannya nampak tak mengerti.
Suzy meragu, namun menggeleng kemudian. Berdeham sekali, Suzy lantas mengalihkan pembicaraan yang sedang tercipta alih-alih melanjutkannya, "Aku tidak bisa lama disini, temanku sudah menunggu di hotel. Lain kali, aku pasti akan mampir dengan sengaja kesini, oke?"
Si bibi dengan kalung emas besar itu mengerutkan dahi tuanya, namun sudut bibirnya terangkat langsung tersenyum. "Ayo, kau bisa memilih kue dan minuman apapun yang kau mau..." Ajak Bibi itu mendekati kumpulan cake di dalam etalase.
Suzy keluar dari dalam kedai itu dengan kantung plastik sebanyak tiga, menggantung erat ditangan kirinya, baru saja dia hendak masuk kedalam mobil yang menjemputnya tadi, Lani keluar dari dalam mobil. Kaki kecilnya melangkah lucu kearahnya dengan rambut blonde panjangnya yang berkibar-kibar tertiup angin.
"Mommy, ada panggilan masuk." Ucapnya seraya memberikan ponsel Suzy kepadanya.
"Siapa?"
Lani mengedikkan bahu sebagai respon.
Nomor asing.
Suzy mengernyit. Memandangi deretan nomor yang menari-nari di layar ponselnya dengan malas. Bahkan ketika sudah di Korea, nomor asing terus saja menelponnya.
Sejenak meragu, akhirnya jempolnya bergerak menggeser ikon hijau pada layar, mengangkatnya.
"Suzy disini."
Hening.
"Hallo?" Kata Suzy kembali, ketika ucapannya tak mendapat respon.
Hening.
Suzy berdecak, menyadari kalau mungkin saja panggilan ini adalah panggilan iseng atau salah sambung. Suzy hendak menjauhkan ponselnya ketika satu suara keluar dari sana. Suzy mematung.
"Kenapa kau begitu lama untuk kembali?"
Itu...
Spontan, Suzy mengarahkan pandangannya ke lantai atas ruko kedai yang baru saja dia masuki itu.
Dan di sanalah dia...
Kim Myungsoo, berdiri dengan satu tangan masuk kedalam saku celana, menatap lurus kearah Suzy dengan kedua mata tajamnya.
***
Thu 30/05/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co