26
Lani mengintip malu kearah Myungsoo melalui celah rambut Suzy. Gadis kecil menggemaskan itu duduk diatas pangkuan Suzy, sedangkan tangan mungilnya sibuk memainkan rambut panjang tergerai Suzy. Posisi duduknya yang menyamping membelakangi pintu mobil, membuatnya bisa dengan jelas menatap pria tampan seumuran Mommy-nya itu.
Senyumannya terbit ketika Myungsoo melirik kearahnya, namun bibir itu langsung berubah bergetar ketika yang di senyuminya malah menunjukan ekspresi dingin.
"Mommy..." Lani membawa bibirnya melengkung kebawah, tangan kecilnya mencoba merengkuh leher Suzy dan memeluknya.
Suzy melepaskan genggaman tangan Myungsoo pada jemari kirinya dan langsung menangkupkan pipi bulat Lani yang bersimbah air mata. Suzy bertanya dengan pelan, "Ada apa sayang? Kenapa menangis tiba-tiba?"
Lani tak menjawab, ia malah menelusupkan kepalanya di antara lekuk leher Suzy sambil terisak.
"Dia anakmu? Kau menikah?"
Mendengar pertanyaan Myungsoo, tak urung rasa curiga berkecamuk dibenaknya. Suzy memicingkan mata, menatap Myungsoo yang sedang fokus menyetir, "Yya, kau apakan Lani? Dasar pria dingin, kau seharusnya mengontrol ekspresimu pada anak kecil!" Suzy mendesis kesal.
Tidak menyangka Myungsoo berubah menjadi pemaksa yang arogan. Belum lagi, sikap cueknya ini masih saja melekat bahkan ketika usia mereka sudah tidak muda lagi. Membawa tangannya mengusap puncak kepala Lani pelan, Suzy menatap kesal ketika pandangannya dan Myungsoo beradu.
"Aku tidak akan mau dipaksa masuk ke dalam mobilmu lagi kalau kau jahat dengan anakku, Myungsoo!" Suzy mengancam. Matanya kembali menatap Lani yang bersimbah airmata, kemudian mengusapnya, "Jangan menangis. Jangan pedulikan paman ini, ya? Dia memang sedikit kejam."
"Yya, kenapa tidak ada yang mengatakan padaku kalau kau sudah menikah? Kenapa mendiang Nenek Song-yi dan kakekku tidak mengatakan apa-apa? Kena--"
"Kenapa kau jadi cerewet sekali sih?" Suzy akhirnya menyuarakan keheranannya. Dimulai sejak Myungsoo memaksanya untuk masuk kedalam mobil pria itu, dan membuat sopir suruhan Soojung pulang sendiri. Dan kini... "Memang hanya kau saja yang boleh menikah?"
"Kau yang menyuruhku untuk menikahinya."
"Dan kau menikmati itu, 'kan?" Suzy tersenyum sinis. Kedua tangannya diletakkan pada telinga Lani supaya gadis kecil itu tidak mendengar kata-kata kasar dan makian. Suzy merasakan atmosfer ketegangan di dalam mobil itu, lalu menghela napas, "Maafkan aku, tidak seharusnya kita adu mulut karena hal remeh pada pertemuan pertama kita."
"Aku tidak pernah menikmati menikah dengan orang lain."
Suzy menegang, kepalanya menoleh kaku ke arah Myungsoo. Mencoba mencari tahu apakah pendengarannya bermasalah atau tidak, namun, dari raut kelam di wajah pria itu, Suzy tahu kalau apa yang barusan didengarnya adalah benar. Kedua tangan Suzy yang berada di telinga Lani mengendur, lalu merosot ke bawah.
"Kami bahkan tidak tidur bersama selama ini."
"Apa?"
Ada jeda yang membentang sebelum Myungsoo kembali menyunggingkan senyum. Jenis senyuman yang penuh akan kesedihan, yang tanpa disadari hati Suzy mengernyit kesakitan. Myungsoo kembali bertanya, kali ini dengan nada yang sarat akan kepedihan. Ia mencoba sebisa mungkin berteman pada pengharapan, harapan yang diinginkan hatinya selama ini; bahwa Suzy masih belum dimiliki.
"Apa Lani anakmu?"
"Aku anak Ayah Jungkook. Kata ayah, Ibuku sudah pergi ke langit bersama bidadari, jadi anggap saja Mommy dan Aunty Jung sebagai Ibu Lani. Lani senang, karena punya dua Ibu, dan dua-duanya cantik-cantik." Mulut kecil Lani lah yang menjelaskan. Dengan omongan terbata-bata dan penuh semangat. Lani seolah lupa kalau dirinya baru saja menangis karena pria dibalik stir kemudi itu.
"Jungkook?" Myungsoo mengeremkan laju mobilnya, membawa mobil itu menepi dan kepalanya menoleh 90 derajat ke kiri. "Kau mengizinkan dia untuk bertemu denganmu, sedangkan aku kau suruh untuk menunggu hingga menjamur sampai kau menghubungiku lebih dulu?" Tanya Myungsoo dengan nada tak percaya. Kening Myungsoo mengerut tak suka, tiba-tiba saja perasaan iri muncul di benaknya.
"Mm, ceritanya panjang dan--"
"Kenapa kau mau bertemu dengannya sedangkan denganku tidak? Suzy, kau tahu kalau aku--"
"Kenapa paman ini marah kalau Mommy bertemu dengan ayah?" Lani mengerutkan alisnya, mata bundarnya menatap Myungsoo dengan polos, "Ayah Jungkook membelikan cincin pasangan untuk Mommy dan Lani..." Tutur Lani, tangan mungilnya memegang jemari Suzy dan dirinya untuk di perlihatkan kepada Myungsoo. "Cantik 'kan, Paman? Kata Ayah, ini hadiah karena terlahir menjadi bidadari. Tapi, bidadari itu apa ya, Mommy? Apa kita akan menjadi seperti Ibu Lani?"
Suzy meringis. Menyembunyikan cincin pemberian Jungkook yang super mahal itu dari pandangan Myungsoo. Lalu menatap Lani, "Bidadari itu--"
"Kenapa kau menerima pemberian Jungkook?"
"Kau perlu bertanya?" Suzy memutar bola matanya. Ini dia, hobi baru Myungsoo yang menyebalkan. Diliriknya Myungsoo dengan tatapan jumawa, "Tentu saja karena ini cicin mahal. Konon, barangnya hanya ada 3 di dunia."
"Lepas." Kata Myungsoo.
"Shireo."
"Suzy..."
"Yya, kenapa kau jadi menyebalkan begini? Dulu kau tidak peduli aku mengenakan pemberian dari siapa-siapa."
"Karena aku tahu kalau kau dulu tidak mencintai mereka."
Suzy mengernyitkan kening. "Apa bedanya dengan sekarang?"
Myungsoo tercenung.
Benar.
Apa bedanya dengan sekarang? Bukankah Myungsoo tahu pasti kalau Suzy masih Suzy-nya yang dulu. Suzy-nya yang cantik, Suzy-nya yang cerewet, Suzy-nya yang tidak peduli dengan perasaan orang lain. Ya, kecuali... Myungsoo melirik ke arah Lani perlahan. Kecuali satu hal; perempuan ini mau dengan sukarela menjaga anak kecil.
"Jawab aku..." Myungsoo menatap Suzy tepat ke dalam manik mata.
Suzy merespon dengan sorot mata bertanya.
Mengusap wajahnya pelan, Myungsoo membawa kedua tangannya mengambil kesepuluh jemari Suzy, lalu menggenggamnya erat-erat. "Apa kau masih membutuhkanku?"
"Ha?" Suzy mengerjapkan mata. Tak menyangka akan ditanya seperti ini oleh sahabatnya.
"Apa kau masih merasa membutuhkanku, perasaan yang sama seperti tujuh tahun lalu?" Tatapan Myungsoo menembus kedalaman pupil Suzy. Jawaban perempuan ini kali ini, akan menentukan langkah tegas yang akan diambilnya nanti. Karenanya, Myungsoo begitu berharap agar jawaban itu sesuai dengan...
"Mm," Suzy mengangguk.
Senyuman merekah diwajah Myungsoo, dengan sekali sentakan, pria itu langsung membawa bibirnya berada diatas bibir ranum berpoleskan lipstik berwarna merah terang.
Suzy membelakan mata, dengan spontan ia membawa tangannya untuk menutup kedua mata Lani yang masih dalam pangkuannya.
"Mommy, mengapa mata Lani ditutup?"
***
"Kau dan Lani tinggal di penthouse-ku saja ya? Akan lebih nyaman karena letaknya dekat dengan kantorku juga..."
Myungsoo menawarkan penawarannya untuk yang ketiga kali, tubuhnya berbalik setelah menaruh koper diujung kamar. Kedua matanya menatap rambut Suzy yang tergerai dari belakang, sedangkan perempuan itu sedang membaringkan Lani diatas ranjang kamar.
"Tidak, aku dan Lani hanya tinggal sampai peringatan kematian Nenek saja. Banyak hal di Singapore yang harus kukerjakan."
"Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi lagi, Suzy."
Suzy melirik, "Yya, jangan memulai pertengkaran lagi."
Suzy bergerak mencopot sepatu Lani dan meletakkannya dipinggir lemari kecil tempat menaruh lampu tidur disisi ranjang. Menyalakan pendingin ruangan, lalu memasangkan selimut putih hingga menutupi bahu kecil Lani. Tak urung, sikap itu membuat Myungsoo tersenyum kecil. Dia tidak pernah melihat sisi Suzy yang ini selama ia mengenalnya. Ternyata benar, jarak bisa merubah sikap. Menguraikan tangannya yang semula terlipat di depan dada, Myungsoo membawa kakinya berjalan menghampiri perempuan dengan rok setinggi lutut berline A itu, lalu, tanpa di nyana, Myungsoo sudah melingkarkan tangannya mengelilingi bahu Suzy. Memeluknya dari belakang.
Suzy berjengit kaget. Kepalanya menoleh dan mendapati rambut hitam Myungsoo dalam pandangannya.
"Biarkan seperti ini sebentar saja," Myungsoo menghirup dalam-dalam aroma yang dirinduinya selama ini. Dalam dekapannya, Suzy nampak bergeming, tubuh itu diam, tak menolak dan meresponnya, "Aku merindukanmu, hingga terasa ingin mati karenanya, Zy..."
Suzy mengetapkan bibir. Pelukan itu menimbulkan perasaan yang hangat dan nyaman keseluruh bagian tubuhnya. Tidak menyakitkan, tapi membuat sesuatu dari dalam matanya mendesak ingin keluar. Kedua tangan Suzy saling meremas, bingung harus mengatakan apa, juga, bingung harus berbuat apa.
Kepada setiap detik yang terlewatkan, Suzy memohon pengampunan untuk segala keegoisannya. Jikalau waktu bisa diulang kembali, setidaknya, Suzy ingin meminta agar dirinya bisa sedikit lebih peka terhadap perasaan laki-laki yang sedang merengkuhnya dalam pelukan ini.
"Maafkan aku, Myungsoo. Maafkan aku." Ucap Suzy sehalus angin.
***
Pukul 23.45
Myungsoo membuka pintu rumah dan menekan saklar lampu yang terdapat di pinggiran kosen. Senyap mengelilingi seisi ruang tamu itu. Suasana yang acap kali tercipta, yang tak akan pernah bisa berubah bahkan ketika dirinya mulai lelah dan berusaha menerima.
Tangannya bergerak, mengendurkan dasi yang masih erat terpasang, sedangkan lengan kemeja yang dikenakannya sudah terlipat hingga ke siku. Melepas sepatunya, Myungsoo berjalan menapaki dinginnya lantai marmer putih ganding di ruang tamunya. Berjalan menuju kamarnya.
Myungsoo melirik sekilas kamar tidur Rose yang lampunya masih menyala. Pemahamannya selama tinggal bersama, bahwa Rose tidur selalu dengan lampu mati membuatnya sadar kalau perempuan itu masih terjaga didalam sana. Ntah apa yang sedang dilakukan perempuan itu di dalam kamarnya, Myungsoo juga tak ingin tahu soal itu. Baru saja ia hendak meraih handle pintu, tiba-tiba suara berisik dan pintu lain terbuka. Menampilkan Rose dalam balutan gaun tembus pandang.
Rose tersenyum, menutup daun pintu dibelakangnya, "Oppa..." Tuturnya. Kaki jenjang milik perempuan itu melangkah mendekati Myungsoo, dan dengan gerakan tiba-tiba tangan Rose sudah melingkari pinggang Myungsoo. "Kenapa kau baru pulang? Siapa yang menahanmu?"
Tubuh Myungsoo menegang. Selain karena terkejut atas tindakan Rose sekarang, kedekatan mereka seintim ini adalah untuk yang pertama kalinya sepanjang tujuh tahun ini. Meneguk salivanya dengan kaku, Myungsoo mencoba melepaskan lengan Rose yang melingkar, "Kau kenapa, Rose? Ini tidak seperti kau yang biasanya."
Stand lamp yang dibiarkan menyala, membuat ruangan koridor penghubung antara ruang tengah dan kamar itu nampak temaram. Tanpa melepaskan rengkuhannya pada pinggang Myungsoo, Rose memberanikan dirinya mendongak, membuat jarak antara kepalanya dan Myungsoo berkurang. Myungsoo menatap bingung. Tangannya yang mencoba bergerak melepaskan lilitan Rose di pinggangnya tetap dilakukan, baginya, terasa aneh ketika perempuan lain yang memeluknya seintim ini. Hanya seperti... Tidak pas.
Namun Rose memilih bebal, tak diperdulikannya sikap defensif Myungsoo. Perempuan itu malah semakin mengeratkan pelukannya, kakinya mulai berjinjit, mendekatkan wajahnya kepada wajah laki-laki tampan yang kini dipenuhi kebingungan dihadapannya. Rose semakin membuat jarak yang ada menjadi hilang.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Hari ini, kegilaannya akan mencapai pada batas akhir, persetan dengan kecanggungan yang akan tercipta setelahnya nanti. Yang pasti, Rose akan mendapatkan ciuman pertamanya dengan Myungsoo beberapa detik lagi.
Empat detik...
Kepalanya terus bergerak maju agar makin mengapus jarak diantara mereka, dan ketika kedua bibir itu akan bertemu untuk pertama kali, Rose mulai memejamkan matanya.
***
Thu, 30/05/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co