27
"Maaf aku tidak bisa, Rose." Myungsoo bergerak mundur. Melepaskan rengkuhan Rose padanya. Matanya menatap perempuan yang nampak linglung di depannya. Kemudian, Myungsoo menghela napas, "Aku akan menganggap ini tidak pernah terjadi. Selamat malam." Ucapnya dingin, kemudian berbalik memutar handle pintu dan masuk ke dalam. Meninggalkan Rose dengan wajah memerahnya.
Air mata Rose jatuh merembes. Menatap daun pintu yang tertutup didepannya dengan nanar. Bodoh sekali, seharusnya dia tahu kalau akan begini. Seharusnya dia tahu kalau pria itu tidak akan berpaling dari perempuan itu.
Kembalinya Suzy ke Korea tentu saja diketahui Rose, karena Kim Jo In bahkan sudah mengusulkan akan mengadakan acara makan malam bersama untuk menyambut kedatangan 'cucu' kesayangannya itu ke Korea. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, Jo In turut mengundang seluruh rekan bisnisnya untuk datang. Rose mengencangkan rahangnya, udara malam yang mengembus memasuki gaun tidurnya yang tipis langsung menyadarkannya dari lamunan. Mengeratkan kardigan sutranya, Rose melangkah masuk ke dalam kamarnya.
***
Mine:
Sudah tidur?
Suzy:
Mm
Mine:
Kenapa bisa membalas pesan?
Suzy:
Banyak bertanya.
Mine:
Aku merindukanmu.
Suzy tersenyum kecil. Kembali diletakkannya ponsel itu di atas nakas. Setelah Myungsoo pamit tadi, ia lantas membereskan perkakas, Suzy langsung membenah diri--plus, melakukan 20 step korean skincare--sampai menghabiskan waktu sekitar 40 menit lebih. Suzy tersenyum ketika melihat wajah Lani yang kini sedang tersenyum dalam tidurnya. "Apa yang sedang kau mimpikan, mm?" Suzy bergumam pelan, membenarkan letak selimut Lani, lalu mengecup kening gadis kecik itu dengan hangat.
Oh everytime I see you. Geudae nuneul bol ttaemyeon jakku gaseumi tto seolleyeowa. Nae unmyeongijyo sesang kkeutirado jikyeojugo sipeun dan han saram.
Suzy meraih ponselnya kembali, mendapati nomor Myungsoo menari-nari dilayarnya. Keningnya mengernyit, lalu membawa jempolnya menggeser ikon berwarna hijau kemudian.
"Mwo?"
"Kukira kau sudah tidur."
"Kau yang mengganggu tidurku. Kubunuh kalau tidak penting." Suzy mendengus.
"Kau tidak membalas pesanku."
"Ha?"
"Kataku tadi, aku merindukanmu."
Suzy mengernyitkan kening. "Lalu?"
"Kenapa kau tidak membalasnya?"
"Kenapa juga aku harus membalasnya?" Suzy menggerutu. Berdecak sekali, Suzy lantas mematikan sambungan telpon itu, "Keuno!"
Menaruh ponselnya ke atas nakas kembali. Suzy berbaring diatas ranjangnya sambil menepuk-nepuk wajahnya pelan. Ia menggerutu pelan, "Dia semakin aneh saja."
Suzy memejamkan matanya. Membiarkan ketidaksadaran menghantarkannya pada mimpi indah hingga pagi datang menjelang...
***
"Anakku yang cantiiiiik!" Soojung menciumi pipi-dahi-bibir-diulang Lani tanpa jeda. Jemarinya yang berkutek merah terang nampak kontras pada Pipi bulat Lani yang seputih salju menangkupnya, sembari terus-terusan menciumi gadis kecil dengan dress ungu tuanya.
Yang diciumi santai saja, meskipun senyumnya sedikit tertahan karena pipi chubby-nya yang tertahan tangan. Namun, Suzy yang sedang memoleskan maskara pada bulu mata nya lah yang senewen.
"Yya, hentikan. Kau bisa membuat pipinya penyok, Jung." Suzy menatap dari balik cerminnya.
"Jangan cemburu karena cintaku padamu sedikit berkurang, bitch."
Suzy menaikkan alisnya, menatap jemawa kearah Soojung. "Kau benar-benar kepedean, ya. Omong-omong, dimana Minhyuk?"
"Bersama skandalmu."
Suzy mengerutkan dahi, menoleh heran ke arah Soojung yang sudah memangku Lani. Soojung memamerkan sederet giginya, dan menambahkan. "Kim Myungsoo. Mereka sedang menyiapkan pesta lajang."
"Pernikahanmu masih lama, bahkan gaun juga belum kaupesan kan?" Suzy mengernyitkan keningnya lagi. Seingatnya, tujuan utamanya terbang ke Korea karena perempuan centil ini memintanya untuk memilihkan model gaun pengantin yang bakal dikenakan pada hari besarnya nanti.
Soojung mengambil swafoto bersama Lani, mimik muka nya tersenyum saat melihat hasil fotonya yang paripurna. Lalu bergumam menjawab pertanyaan dari Suzy, "Hehe, sebenarnya gaun pengantinku sudah jadi."
"Yya, kau--" ucapan Suzy terhenti ketika mendengar suara kecil Lani nampak mengomentari dirinya.
"Mommy, tidak baik marah-marah."
"Betul sekali, Lani. Kau memang anak aunty Jung." Soojung tersenyum lebar sembari mengacak-acak puncak kepala Lani. Sedangkan Lani, memamerkan deretan giginya sambil mendongak kepada Soojung.
Ditatapnya Suzy melalui bulu mata, wajah Suzy nampak kesal karena merasa dibohongi, bukannya meminta maaf, Soojung malah memeletkan lidahnya dengan raut super menyebalkan.
Adalah suatu kebohongan ketika Soojung meminta Suzy untuk membantunya dalam pemilihan gaun pengantin. Karena yang terjadi, 3 gaun telah dipilih dan tinggal melalui proses finishing saja. Bukan tanpa alasan Soojung membohongi perempuan itu, sebenarnya, karena Suzy tidak pernah membalas pesan singkatnya dan juga selalu menolak jika Soojung mulai meminta perempuan itu untuk datang ke Korea yang menjadi penyebab utamanya membohongi sahabatnya itu. Ralat, kebohongan putih, maksudnya.
Menurut Soojung, demi kemaslahatan bersama--dalam konteks ini adalah menyerukan pesta lajang yang akan diadakan oleh dirinya dan Minhyuk--maka Suzy haruslah ikut andil didalamnya. Damn, she is her truly best bitch. Jadi, tidak mungkin dalam pesta lajangnya Suzy tidak hadir 'kan?
"Kalau kau tidak kubohongi, aku yakin kau tidak akan berada disini sekarang. Kau bahkan tidak pernah mendatangi peringatan kematian Nenekmu, Zy."
"Aku hanya tidak ingin," Suzy bergumam pelan. Ia bergerak menaruh 'alat tempurnya' kedalam pouch make up, dan mengancingkan resletingnya. "aku tidak memiliki keluarga lagi disini. Dan soal Nenek, aku selalu mendoakannya tiap kali ibadah."
"Oh my god, kau tidak menganggapku? Semua staff di Perusahaan keluargamu yang disini? Bahkan, Kim Myungsoo?"
Suzy memilin bibir bawahnya, bukan itu maksudnya...
Tentu saja mereka juga keluarga, tetapi yang dimaksud Suzy adalah keluarga dalam arti harfiah. Keluarga sedarahnya.
"Bukan begitu..."
Oh everytime I see you. Geudae nuneul bol ttaemyeon jakku gaseumi tto seolleyeowa. Nae unmyeongijyo sesang kkeutirado jikyeojugo sipeun dan han saram.
"Mm, Suzy disini." Ucap Suzy ketika sudah mengangkat panggilan pada ponselnya.
"Cucuku sayang!"
Suzy melepaskan pouch yang dipeganggnya dalam pangkuan. Itu adalah suara Kim Jo In. Tapi...
Suzy menjauhkan pesawat telponnya, menatap layar ponsel itu sebagai bentuk pembenaran atas asumsinya terhadap si penelpon. Nomor asing, kok. Kenapa suaranya...
"Suzy, kau disana 'kan, Nak?"
Mendengar suara Kim Jo In kembali, Suzy lantas mendekatkan pesawat telponnya. Lalu berdeham menjawab, "Mm, ya. Hai, Harabeoji."
"Kau kenapa tidak langsung ke rumahku?"
"Ngg...," Suzy mengigit bibir bawahnya, pandangannya tertuju pada Soojung dan Lani yang juga sedang menatap kearahnya. "Soojung begitu merindukan Lani, jadi dia menculikku ketika aku sampai di bandara."
Kim Jo In nampaknya percaya dengan bualannya, karena Suzy bisa mendengar suara Kim Jo In yang bergumam paham. Suzy menghela napas. Pikirnya melayang-layang, kenapa ia sampai tidak kepikiran kerumah pria tua itu, sedangkan salah satu niatnya kesini karena ancaman dari Kim Jo In. Hah.
"Kau sudah bertemu dengan Myungsoo?"
"Oh, iya, sudah."
"Aigoo, anak nakal itu bahkan tidak bilang-bilang kalau dia sudah bertemu denganmu," Kim Jo In mengurut pelipisnya diujung sana. "Omong-omong, datanglah malam ini, aku membuat pesta kecil-kecilan karena kedatanganmu di rumah."
Apa?
"Aku akan menyuruh supir menjemputmu dan Lani di..." Kim Jo In menggantungkan ucapannya. Pria tua itu baru sadar kalau dia belum mengetahui dimana Suzy tinggal disini. "Dimana kau menginap?"
"Aku akan kesana sendiri saja, Kek. Tak usah mengirimkan supir untukku." Kata Suzy.
"Kau yakin?"
"Mm,"
Kim Jo In mendesah, "Baiklah. Sampai bertemu denganmu dan Lani nanti malam, Nak."
Suzy menjauhkan ponselnya dari telinga, meletakkan benda persegi itu diatas meja.
***
"Yeppeo," Suzy berdecak kagum atas hasil kreasinya malam ini kepada Lani. Gadis kecil menggemaskannya, disulap menjadi boneka barbie hidup dalam seketika. Dibalut dengan Dior Toddler's Ribbon Trimmed dress berwarna putih dengan detail garis dan pita di bagian roknya milik rumah mode Christian Dior yang dibelikan Soojung sebagai hadiah kedatangan pertama gadis kecil itu ke Korea, sedangkan, untuk menambah kesan super manisnya, Suzy memberikan sepatu kulit berwarna gold keluaran rumah mode Gucci. "Semua akan mengira kau adalah barbie." Suzy tersenyum senang, membenarkan tatanan poni Lani, kemudian berdiri.
"Aku Lani, mommy..." Lani mengerutkan kening mungilnya. Nampak tidak setuju ketika Suzy menyebutnya dengan nama barbie, padahal namanya adalah Laniera Lee. "Apa didalam ada paman tampan?" Lani melirik kerumah besar di depannya.
Seharusnya Suzy tidak perlu percaya saat pria tua itu mengatakan soal 'kecil-kecilan' karena, well, pandangannya kini di penuhi oleh mobil-mobil mewah berbaris di carport, sedangkan pegawai sopir berpakaian serba hitam nampak duduk di teras jaga lengkap dengan rokok di tangan, bercengrama layaknya teman lama.
Suzy lantas tersenyum lagi, "Mm, paman tampanmu ada di dalam. Lani ingin bertemu?"
Gadis kecil itu mengangguk semangat. "Ya."
"Tapi, ingat pesan Mommy tadi?" Suzy bertanya, mengingatkan Lani akan perjanjian mereka sebelum berangkat kesini. "Jika ada orang asing yang bertanya, maka harus bungkam mereka dengan pandangan penuh dengan kesinisan."
"Pintar..." Suzy mencubit gemas pipi Lani. Dia tidak menyangka, anak kecil ini bisa dengan cepat mengerti apa yang dimaksud olehnya.
Membawa jemari Lani kedalam genggaman, Suzy lantas melangkahkan kakinya yang dibalut dengan stiletto krem setinggi 12cm. Wajah angkuh dengan sorot percaya diri langsung menguar dalam dirinya. Suzy tersenyum tipis ketika pelayan menyapanya di luar.
Kalian tahu kenapa Cinderella datang terlambat? Karena dengan datang terlambat, seluruh fokus mata di ruangan dansa akan mengarah padanya, membuatnya menjadi spesial, hingga pangeran mengajaknya berdansa.
Seperti itulah. Sejak dulu, bahkan sampai saat ini, Suzy akan dengan senang hati membiarkan seluruh mata menyorot kearahnya. Tidak peduli itu tatapan kagum atau malah tatapan penuh keirian dan kebencian, yang terpenting adalah sosoknya menjadi center dan fokus oleh semua orang. Dan itulah yang terjadi padanya malam ini. Ups, pada Lani juga tentu saja--meskipun ia tahu kalau dirinya masih menjadi penyebab mulut terbuka pada setiap kepala disana, namun tetap saja sosok mungil disebelahnya tak luput dari perhatian juga. Suzy yakin, beberapa bahkan mulai menebak-nebak identitas gadis kecil ini.
Sialan, Kim Jo In!
"Lihatlah, siapa yang akhirnya datang!" Seru Kim Jo In dari kursinya. Pria tua berambut putih itu berdiri, tersenyum kearah kedua perempuan berbeda usia.
"Apa kabar, kek?"
"Buruk sekali. Cucu kesayanganku tidak pernah mengunjungiku." Jo In mengerutkan kening.
"Suzy mengambil tempat, di antara Jo In dan Myungsoo. Tersenyum kepada seluruh tamu yang hadir di meja itu sekilas, lalu duduk sana. Lani mengikuti duduk disebelah Myungsoo dan Suzy, pada kursi kecil.
"Kau jarang menemui kakekmu?" Suzy menoleh kepada Myungsoo.
"Aku membicarakanmu, nak. Kau yang tak pernah mau menjengukku," Jo In menimpali. Mengiris steak di piringnya, lalu menyuapnya. "Uruslah perusahaan keluarga Bae di cabang korea, ya?"
Suzy tersenyum simpul. Kedua alisnya naik keatas ketika melihat Myungsoo menukar stik di depannya dengan milik pria itu yang sudah di iris-iris. Lalu, melirik dengan pandangan jemawa kearah Rose yang duduk di depan Myungsoo. Perempuan dibalut gaun hitam itu nampak menatap keduanya dengan bibir mengatup rapat. Dan, Suzy menikmati hal itu.
Ha, lihatlah perempuan jelek! Myungsoo akan tetap menjadi milikku apapun yang terjadi 'kan?
"Thanks," Suzy bergumam pelan untuk Myungsoo. Kemudian menoleh ke Jo In, "Untuk saat ini aku lebih menikmati kehidupanku di Singapore."
"Jangan bilang kau sudah memiliki kekasih orang sana? Kudengar, orang-orang cina disana kaya-kaya sekali? Oh tidak, aku baru saja ingin menjodohkanmu dengan cucu dari rekan bisnisku."
"Kakek." Myungsoo menginterupsi saat mendapati satu tangan Suzy mengepal diatas meja. Melepas gagang garpunya, Myungsoo langsung mengambil tangan lain Suzy yang berada diatas pahanya, Mengelusnya secara perlahan berharap supaya menetralkan emosi Suzy yang menyulut.
Lani menunduk. Kedua alisnya mengerut melihat tangan panjang Myungsoo yang melewatinya, kemudian berakhir dengan terpautnya kedua tangan Mommy dan Paman yang baru dikenalnya kemarin lusa itu.
"Mommy, kenapa tangan paman ini--"
"Lani mau makan apa? Lani kan tidak suka dengan daging." Suzy berdeham. Melepaskan genggaman tangan Myungsoo darinya, langsung memusatkan fokusnya pada gadis kecilnya.
"Lasagna!"
"Mommy tidak yakin kalau koki kakek Jo In bisa membuat lasagna..." Suzy mengerutkan keningnya.
"Ck, tentu saja bisa!" Jo In mengerut kening, menatap tak senang ketika Suzy menanyakan kinerja koki nya yang handal. "Sebentar, aku akan memanggilkan kepala koki dulu. Selagi itu, ayo semuanya, di makan jamuan makan malam yang sudah dihidangkan. Cheers!" Kim Jo In mengangkat gelas kristal berkaki miliknya keatas, menyulang. Sedangkan seluruh penghuni meja itu, langsung mengikutinya.
***
"Kupikir kau tidak akan kembali lagi dari Singapore..."
Suzy menatap pantulan seseorang yang muncul dari pintu masuk melalui cermin toilet. Selagi tangannya sibuk membersihkan pipi dan mulut Lani dengan tissue basah, kedua matanya hanya melirik sebentar Rose yang kini berdiri di sampingnya.
"Mm, kau tahu kakek Myungsoo sangaaat merindukanku," Suzy menekankan kata sangat di kalimatnya. "Kau pasti tahu seberapa pentingnya aku di keluarga itu." Lanjutnya dengan senyuman jemawa.
"Tentu saja aku tahu dengan baik," Rose mengigit pipi bagian dalamnya, mengeluarkan cushion dari dalam clutchnya. "Aku heran, kenapa mereka sangat menyukaimu. Padahal kau saja hamil diluar nikah."
"Siapa yang kau bicarakan," Suzy mengerutkan kening. "Aku?"
"Tentu saja. Bukankah gadis kecil ini anakmu dengan kekasih Singapore mu itu?"
"Ahjumma, Mommy Suzy atau Aunty Jung bukan Ibu kandung Lani," Lani menjawab. Kedua mata besarnya menatap Rose dengan pandangan menilai. Kemudian menoleh kearah Suzy, "Lani kira paman tampan menyukai Mommy. Kenapa dia dengan Ahjumma ini, mommy?"
Suzy menahan senyum. Diliriknya Rose yang merengut disebelahnya, lalu mengusap puncak kepala Lani dengan pelan, "Mommy juga berpikir demikian, nak. Bagaimana kalau nanti Lani tanyakan langsung dengan paman tampan Lani itu?"
Lani mengangguk.
"Ayo, paman tampanmu sudah menelpon Mommy sejak tadi." Ujar Suzy memanas-manasi, sambil menunjukkan dengan implisit layar ponselnya yang dipenuhi dengan nama 'Mine' yang sedang menari-nari disana.
***
Fri, 31/05/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co