28
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Benar kata Ayah, hanya porn yang bisa menyatukan kita. :')
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Suasana jamuan makan malam itu semakin menjadi. Gelak tawa memenuhi obrolan formal yang di bumbui dengan humor receh dari beberapa orang yang merasa 'harus' menampakan muka demi kelangsungan kehidupan. Semua orang disana tertawa, sesekali melempar bahasan tentang prospek bisnis yang tak kunjung habisnya.
"Aku merasa iri dengan Tuan Park karena bisa mengeratkan tali persaudaraan dengan Kim dan Bae sekali dua. Jangan-jangan, niat awalmu memiliki anak perempuan cantik supaya bisa dijodohkan dengan cucu tampannya Pak Kim, ya?" Kekeh suara bass pemilik bisnis broadcasting. Pria pertengahan 50 itu mengambil serbet putih diatas meja lalu men-tap nya disekitaran mulut.
Tuan Park--ayahanda Rose-- terkekeh renyah. Mengambil koktail miliknya, kemudian membiarkan cairan dingin itu merembes ditenggorokan. "Aku memang beruntung karena ternyata anakku bisa menarik perhatian Pak Jo In, sehingga dia menginginkan anakku menjadi mantunya." Kelakar Tuan Park, "Benar bukan, Pak Kim Jo In?"
Kim Jo In tertawa renyah, tangannya mengusap puncak rambut Lani, "Ya, tentu, Rose sangat cantik."
Ditambah, perusahaan mu sedang maju dan bisa menguntungkan Kim Inc, batin Jo In dalam hatinya.
"Tapi, sayang sekali cucuku tidak suka perempuan."
Seisi meja tiba-tiba diam. Membuat suasana riweh yang tercipta langsung hening detik itu juga. Jo In melirik beberapa mata yang kini menatap Myungsoo dengan pandangan bertanya. Yang seolah-olah memiliki presepsi sama di benak mereka; "Jadi, itu sebabnya mereka belum mempunyai anak?"
Kim Jo In tertawa. Lalu, melanjutkannya dengan nada penuh arti, "Aku hanya bercanda. Tentu saja cucuku normal, kalau tidak dia tidak akan memiliki skandal saat di Universitas."
Gelak tawa kembali memenuhi ruangan. Seluruh penghuni meja itu tertawa keras. Kecuali tiga orang dewasa yang berada disana.
Suzy mengusap tengkuknya tak nyaman. Pembahasan yang diciptakan kakek Myungsoo dan beberapa kolega benar-benar membuatnya jengah. Bagaimana bisa, pria tua itu membawa topik tentang masa lalu ke atas meja sekarang ini.
"Omong-omong, bagaimana dengan si cantik Suzy?" Suara Shin Dong, ketua perusahaan percetakan terbesar di Korea.
"Ya?" Suzy yang kini sibuk menyuapi Lasagna pada Lani mendongak. Menatap pria berkacamata itu.
"Apakah orang Cina di Singapore ada yang menarik perhatianmu?"
Sungguh menjengkelkan, batin Suzy.
Enggan menjawab pertanyaan menjurus itu, Suzy lebih memilih tersenyum, "Aku tidak bisa menjawab tentang kehidupan pribadiku, maaf."
"Hohoho," suara tawa Jo In berkumandang, "Aku saja tidak mendapatkan informasi apa-apa, apalagi kau, Shin Dong."
"Benar, Shin Dong sepertinya berusaha meminta nomor pribadi Nona Suzy."
"Majjayo."
"Tuan Bae selektif menerima calon menantu, Bung. Aku saja sudah enam bulan memasukkan proposal anakku tidak kunjung mendapat panggilan. " Kelakar seorang lainnya.
"Hahaha."
Pembicaraan membosankan itu membuat Rose jengah. Steak itu hanya ditusuk-tusuk tanpa minat menggunakan pisau makan, sedangkan matanya menatap sebal kepada perempuan cantik yang sedang menyuapi gadis kecil disebelahnya. Rose menghela napas sekali lagi, kemudian matanya mengarah pada pria yang berstatus sebagai suaminya--yang duduk bersebrangan dengannya--bukankah seharusnya potongan steak tadi diberikan kepada dirinya, yang notabane adalah istri dari pria itu. Bukannya malah perempuan lain? Setidaknya, Myungsoo bisa bersikap seperti suami-suami lain dan tidak menunjukan bahwa pernikahan mereka hanya sebuat status saja 'kan?
Rose ikut berdiri ketika melihat Suzy berdiri dan pamit ke toilet bersama dengan Lani. Sambil mengambil clutch nya, Rose berbisik pelan kepada sang Ayah yang duduk di sebelahnya, yang diangguki sambil lalu oleh Ayahnya yang masih sibuk bercengkrama dengan rekan-rekan bisnis di meja itu.
***
Tas mu tertinggal di jok belakang mobilku. Aku masih di bawah.
Adalah pesan dari Myungsoo yang sampai bersamaan dengan ia meletakkan Lani yang terlelap keatas ranjang. Gaun sateen mengepel lantai sudah ditanggalkan, berganti dengan victoria night gown satin berwarna hitam. Semakin menambah kejengkelannya, Myungsoo sama sekali tidak bisa lebih peka untuk bisa kooperatif dengan mengantarkan tasnya keatas. Sehingga, Suzy terpaksa mengambil kardigan loose nya yang menggantung di stand hanger serampangan, lalu memakainya dan keluar kamar hotel.
"Dasar orang tidak peka!" Suzy menggerutu sepanjang lift. Pintu lift terbuka, Suzy berjalan keluar. Dengan ujung bibir sedikit naik keatas karena kesal, langkahnya bergegas berjalan menuju mobil hitam Myungsoo yang terparkir di tempat yang sama.
Suzy melangkah semakin mendekat, membuka pintu penumpang bagian depan dan pandangannya langsung dipenuhi dengan wajah datar Myungsoo yang seperti telah menunggunya.
"Mana? Kau menjadi semakin menjengkelkan dari 7 tahun yang lalu, ya." Suzy menengadahkan tangannya. Meminta tasnya.
"Ambil sendiri, Kau kan punya tangan dan kaki."
Sialan.
Suzy menatap penuh kekesalan kepada Myungsoo. Make up nya bahkan belum dihapus karena pesan tiba-tiba Myungsoo itu, dan sekarang dia harus bersusah payah memanjat naik melalui pintu penumpang karena Myungsoo mengganti mobilnya dengan mobil berbadan besar seperti ini.
"Kenapa juga kau malah membeli mobil dengan body sebesar ini!" Lagi-lagi Suzy menggerutu. Setelah bersusah payah naik keatas mobil itu, akhirnya pantatnya sudah menduduki jok empuk. Kedua matanya membalas tatapan Myungsoo yang...
Tatapan apa pula itu?
Suzy mengerutkan alis, malas menerka-nerka, ia memilih untuk berbaling dan segera mengambil tasnya. Tubuhnya sudah pegal bukan main, dan yang terpenting dia ingin segera menghapus make up yang menempel diwajahnya karena mulai terasa deewy dan berat.
"Kau menyuruhku ganti mobil." Jawab Myungsoo. "Lagipula, ini mobil kudapatkan secara cuma-cuma."
Suzy berdecak. Ia paham kalau banyak sekali kolega bisnis yang dengan 'baik' memberikan pria itu hadiah-hadiah mewah karena dirasa sudah membantu perusahaan mereka. Hal demikian biasa terjadi dalam dunia yang mereka lakoni sekarang, karena Suzy pun disana demikian.
"Myungsoo, kuajarkan supaya kau bisa lebih peka terhadap--aaa!"
Suzy memekik kaget, tubuhnya yang kurang antisipasi tiba-tiba sudah terangkat hingga duduk mengangkang diatas pangkuan Myungsoo. Astaga!
Dengan penuh perhitungan, Myungsoo langsung melumat bibir bagian bawah dan atas Suzy secara bergantian. Myungsoo melingkarkan kedua tangannya pada punggung Suzy. Menciumnya dengan ganas.
Suzy membeliak, kaget sesaat sebelum akhirnya perempuan itu melakukan apa yang nalurinya ingin lakukan. Suzy mendorong tangannya di rambut Myungsoo dan membalas ciuman pria itu kembali. Suzy menyukai cara Myungsoo menciumnya, seakan pria itu memang harus melakukannya, seolah-olah Myungsoo akan gila jika dia tidak melakukannya dan seperti nyaris mati karena telah menunggu terlalu lama. Suzy mengisap lidah Myungsoo, setelah mempelajari beberapa saat dan berfikir bahwa ia sangat menyukai bagian itu, hingga menimbulkan keinginan ingin mengisap Myungsoo di suatu bagian lain dengan semangat yang sama.
Tangan Myungsoo meluncur ke punggung Suzy yang kini kardigannya sudah merosot kebawah, meninggalkan gaun malam tipis. ---------------konten dihapus--------------
---------------konten dihapus--------------
---------------konten dihapus--------------
"Apa yang kau lakukan padaku?" Suara Suzy terengah-enggah.
Sedangkan Myungsoo, kembali menjalankan tangannya mengusap bagian belakang Suzy dengan gerakan melingkar, merasakan keseluruhan dari lekuk tubuh sintal itu.
---------------konten dihapus--------------
"Aku sedang menyentuhmu. Menikmatimu habis-habisan. Aku menginginkanmu, Suzy."
Suzy menangkap pergelangan tangan Myungsoo, menghentikan gerakan pria itu.
"Kita tidak bisa... Aku tidak bisa... Sial, kita sedang berada di basement, Myungsoo."
"Tidak ada yang bisa melihat kita."
"Bukan itu maksudnya," Suzy menggigit bibir bawahnya ketika merasakan bagian bawah Myungsoo semakin mengeras disana. "Kau milik orang lain sekarang."
"Aku sudah berniat menceraikan Rose sejak 4 tahun lalu. Dan keinginanku semakin besar ketika akhirnya mendapatkanmu kembali dalam sisiku."
Kedua mata Suzy membeliak kaget, "Myungsoo..."
"You drive me crazy," Myungsoo menatap Suzy dengan pandangannya yang buram, "Kau sangat cantik, Zy."
Suzy menjerit karena panas yang membara oleh ---------------konten dihapus------------- Membuat pikiran Suzy langsung hilang total.
Myungsoo--lengkap dengan kemeja yang digulung sampai ke siku, yang kini beberapa kancingnya sudah terbuka, sedangkan kondisi kemeja itu sudah lecek parah-- masih tetap tampan rupawan tanpa celah. Kedua mata Suzy berkabut, merasakan kenikmatan sekaligus kebingungan. Apa yang Suzy rasakan untuk Myungsoo pada saat ini, melihat senyum itu dan matanya yang membara,begitu intens sangat menyakitkan. Apakah itu yang dinamakan jatuh hati?
"Kim Myungsoo--" napas Suzy terengah. Bibirnya sedikit terbuka ketika Myungsoo menjauhkan mulutnya, berhenti sebentar dari kegiatannya bermain-main dengan Suzy.
"Aku menyukai tubuhmu," bisiknya, kemudian bibirnya bergerak melintasi pipi dan leher Suzy. Tangan Myungsoo membelai sepanjang tubuh perempuan itu.
"Aku tak pernah merasa cukup untuk ini."
"Kau bahkan sudah mendapatkan terlalu banyak sejak tadi," Suzy mencoba terlihat marah, namun nada yang keluar dari mulutnya malah seperti suara cicitan seekor puppy.
"Kupikir aku tak akan pernah menjadi puas. Aku ingin memiliki anak denganmu, Suzy... Aku ingin menua bersamamu..." Gumam Myungsoo, "Aku tak pernah menginginkan sesuatu sampai separah ini."
Bersamaan dengan itu, suara getaran pada ponsel Myungsoo terdengar diatas dashboard. Menimbulkan efek aneh dikeheningan.
"Ponselmu."
"Aku tidak peduli!" Myungsoo terus menciumi leher Suzy. Namun, karena ponsel Myungsoo yang terus saja bergetar--berhenti selama beberapa detik untuk kemudian bergetar lagi--Suzy akhirnya mendorong Myungsoo menjauh dengan tangannya yang gemetar. Ia dapat melihat kabut di mata Myungsoo dan keadaan pria itu yang berantakan. "Ponselmu, Myungsoo. Kupikir itu penting..." Ucap Suzy dengan suara seraknya.
Dengan enggan, Myungsoo mengambil ponselnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil menghela napas, lalu menggeser ikon hijau di layar ponselnya.
"Apa?" Jawabnya ketus ketika melihat nama Daniel-asisten-sialan di layar itu.
"Mobil Tuan Kim Jo In, mobil tuan Park dan istri anda mengalami kecelakaan dekat sungai Han."
***
Sat, 01/06/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co