29

Apa yang membuat air mata ini sama sekali tidak merembes keluar? Mengapa itu bisa terjadi?
Berdiri di ujung ruangan, dibalut dengan baju serba hitam dan tiga garis melingkar dibagian lengan, menandakan kalau mereka adalah keluarga yang ditinggalkan. Upacara pemakaman yang diadakan di sebuah rumah duka pagi itu nampak ramai. Tamu yang mengenakan pakaian serba hitam nampak silih berganti masuk, memberikan ucapan bela sungkawa dan beberapa ikut menangis bersama. Seolah tak menyangka, jika ajal bisa merengut seorang dengan cara tak terduga.
Diujung lain, Nyonya Park tak henti-hentinya menangis. Dia sedang berada di Jeju ketika telepon tengah malamnya berdering, mengabarkan jika putri semata wayang beserta suami dan besannya terlibat kecelakaan beruntun. Sedangkan Ibunda Myungsoo, nampak menangis di pelukan suaminya.
Suzy melirik Myungsoo yang sama sekali tidak bergerak di tempatnya, memandangi foto kakeknya dengan pikiran berkecamuk di benak pria itu. Sementara ia menyerahkan Lani pada Gin, Suzy kemudian mendekati Myungsoo, mengusap punggung pria itu dengan pelan.
"Gwenchana..." Ucapnya penuh arti.
Tidak ada wajah sembab dikedua wajah itu. Air mata pun tak tampak membekas disana, mungkin karena mereka terlalu sedih hingga tak sanggup lagi menangis, atau mungkin ada sesuatu hal yang telah di prediksi. Tanpa diduga, Myungsoo menoleh. Menatap Suzy dengan pandangan penuh cintanya, lalu membalas genggaman tangan perempuan itu. Perempuan yang hanya kepadanya lah ia menemukan sebuah pemberhentian, sebuah pengharapan, dan sebuah rumah. Apapun, apapun asal bersamanya, Myungsoo akan rela memusuhi dunia yang menentang mereka untuk bersama.
"Kecelakaan semalam murni kecelakaan. Bukan seperti praduga yang disebarkan oleh beberapa oknum jurnalis. Kecelakaan di duga terjadi karena supir mengantuk, hingga menabrak mobil di depannya dan mengakibatkan Kim Jo In--presiden Kim Inc, besan beserta cucu menantu nya te---"
Myungsoo mematikan layar tv LED di depannya. Mengencangkan dasinya yang mengendur sedikit dengan pandangan datar. Pria itu lalu berjalan kearah meja bar di apartemennya, menuangkan sampanye tahun 1989 kedalam gelas kaca berkaki hingga setengah kemudian meminumnya. Tubuhnya bersandar pada meja bar, sedangkan satu tangannya yang kosong digunakan sebagai tumpuan diatas meja tersebut.
Myungsoo membuka matanya, melirik benda elektronik berupa ponsel melalui ekor mata ketika benda itu bergetar diatas meja bar. Disana, terdapat satu notifikasi pesan singkat dari bank bahwa transaksinya telah berhasil. Tak berselang lama, satu pesan baru dari nomor tak di kenal mengiringinya.
+610675489xx
Senang berkerja sama dengan anda, Tuan. Aku akan menjaga rahasia ini dan pergi dengan aman ke Sidney.
Myungsoo menghela napasnya, keheningan malam semakin mencengkam mengiringi setiap dosa yang telah diperbuatnya. Namun, ia sama sekali tidak menyesali itu. Pikirannya berkelana, bahwasanya selama ini dirinya sudah cukup bertindak manis dengan menuruti segalanya, menekan keinginan hatinya hanya untuk bisa membanggakan mereka. Tetapi, selidik punya selidik, Kakeknya yang gila harta itu seperti ingin kembali menghancurkan mimpinya untuk dapat hidup berdua dengan seorang yang begitu di cinta. Kali ini, ego lah yang memenangkan. Menghancurkan. Menghilangkan.
Jika mencintai Suzy adalah membuat dosa, maka Myungsoo akan rela menjadi penghuni neraka selama-lamanya.
"Mianhae, Harabeoji..." Gumam Myungsoo sehalus angin.
***
Suzy membawa pandangannya fokus pada tab di pangkuannya. Mencoba berkonsentrasi ketika mulut milik Soojung sibuk bergerak aktraktif mengoceh ini dan itu, mengomentari ini dan itu.
Ketua bagian keuangan mengirimkan proposal pendanaan yang sekiranya akan mereka keluarkan demi mensukseskan produk terbaru yang sebentar lagi akan launching. Dan, perlu konsentrasi supaya bisa menelaahnya. Suzy mencebik, menaruh tabletnya sembarang diatas meja, lalu memijit pelipisnya, "Yya, aku sedang bekerja."
"Oh, ayolah, ini weekend!" Kata Soojung.
Suzy mendesah. Ya, tentu saja ini weekend, tapi bagi Suzy pekerjaannya tidak mengenal waktu. Suzy berdiri, merenggangkan otot-ototnya, kemudian berjalan mengambil soda dari dalam kulkas.
"Kenapa tidak kau susul saja Lani dan ajak dia belanja. Jangan merecokiku, Jung Soojung."
"Ck!" Soojung berdecak. "Memangnya Lani bisa menceritakan kronologis kecelakaan kakeknya Myungsoo padaku?"
"Kurasa tidak."
"Nah!" Soojung menggoyangkan jari telunjuknya, "Makanya, aku butuh informasi gosip darimu. Daaaan...," Soojung memandang nakal kearah Suzy, "Kudengar kau dan 'sahabat'-mu itu sedang melakukan scene mobil bergoyang ketika mereka menel--"
"Aw! Sakit, Suzy!"
Pipi Suzy bergembung memerah. "Kau--darimana kau tahu?!"
"Jadi benar?" Soojung terkikik, "Daebak! Aku tidak percaya levelmu sejauh itu, yya, katakan padaku apa Singapore guy mengajarkanmu begitu?"
"Tidak!" Suzy kembali mengambil tabletnya, "Jangan ganggu aku!" Lanjutnya, membuat Soojung terkikik.
Sebenarnya, Soojung hanya iseng mengatakan hal itu karena dia tak sengaja melihat bagian leher dan bibir Suzy yang biru dan sedikit memar. Dan, tadi Suzy bercerita kalau dia dan Myungsoo sedang berada di dalam mobil sedangkan Lani tertidur di hotel malam itu. Jadi wajar saja bukan, jika otak nakalnya menggabungkan informasi yang di dapat dengan kebetulan yang terlihat?
***
"Paman tampan, sakit?" Lani bertanya dari balik mangkuk eskrimnya. Gadis kecil itu duduk di karpet bulu dengan kedua tangan terlipat diatas meja, rambutnya dikuncir kuda sedangkan tubuhnya dibalut dengan terusan panjang berwarna putih.
Kedua mata bundar Lani teralihkan dari siaran disney di televisi, memandangi dengan polos pada pria yang menaruh kepalanya di pangkuan Suzy dengan kepala menghadap ke sisi perut Suzy yang dilapisi terusan senada dengan milik Lani. Sedangkan, tangan Myungsoo melingkar di pinggang Suzy dengan nyaman.
Mendengar suara Lani, Myungsoo berbalik. Menoleh menghadap Lani, "Tidak. Kenapa?"
"Aku selalu berbaring dengan menggunakan paha Mommy, Gin atau Mari sebagai bantal kalau aku sedang sakit." Lani menjauhkan mangkuk eskrimnya, kemudian berdiri memeluk Suzy, "Mommy... Lani mengantuk." Katanya, sambil menyusupkan kepalanya ke leher Suzy. Membuat Myungsoo akhirnya mengalah, dan duduk tegak.
"Lani, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan ke taman bermain?" Myungsoo menawarkan diri.
Menggeleng ditempat, Lani bergumam kecil, "Tadi Gin sudah mengajak Lani kesana," Lani memundurkan kepalanya, menatap Suzy dengan senyuman merekah, "Mommy, disana ada cotton candy besaaar sekali, tapi Gin melarang Lani membelinya. Kata Gin, nanti Ayah marah kalau gigi Lani sampai sakit."
"Benar, makanan itu dilarang demi kesehatan," Suzy mengusap puncak rambut Lani. "Ayo, Lani harus tidur supaya besok kita tidak terlambat di penerbangan pagi."
"Baiklah, Mommy!"
"Kau pulang besok?" Myungsoo menyela.
Suzy mengangguk.
"Katamu sampai pesta lajang Minhyuk dan Soojung?" Myungsoo mengerutkan dahi, "Aku tidak setuju."
"Aku banyak kerjaan disana. Lagipula, Lani akan mulai sekolah senin besok."
"Dia bisa ikut Gin."
"Aku ingin Mommy yang mengantarkan pertama kali," Lani mulai merengek, memperketat rangkulannya di leher Suzy. "Ayah tidak mungkin mengantar Lani. Kalau nanti teman-teman disana menanyakan dimana orang tua Lani, bagaimana?" Ucapnya dengan nada bergetar.
"Jangan manja, Lani." Myungsoo mendengus.
"Yya!" Suzy mendelik. Kedua tangannya memeluk Lani sambil menenangkan. "Kau ini tidak pernah memberikan ekspresi sopan dan baik dengan orang-orang kecuali mantan istrimu yang jelek itu."
Myungsoo mendengus, "Arwah Rose akan gentayangan karena kau memusuhinya terus, Zy."
"Biarkan saja. Dia akan lebih menganggumu kalau tahu apa yang sudah kau lakukan dengan sahabatmu sendiri!"
Myungsoo menaikkan alisnya, "Kau yang menggangguku."
"Aku?" Suzy terkekeh sekali, "Jelas-jelas imanmu yang lemah kalau disampingku."
Myungsoo menarik napas. Mengusap bagian belakang rambutnya dengan acak, lalu menarik kesimpulan final, "Pokoknya, Aku tidak mau kau kembali besok."
"Ya,ya,ya." Suzy mengejek. Tubuhnya bangkit berdiri dengan Lani dalam gendongannya, lalu kembali bicara, "Pulang sana, aku mau tidur!" Ucapnya, lalu melengos pergi masuk ke dalam ruang tidur, meninggalkan Myungsoo sendiri di depan televisi.
***
Matahari pagi masih enggan menyapa untuk duduk dalam singgasananya menerangi seluruh penjuru Korea dan memilih tetap berada di dalam peraduannya, ketika pesawat pertama yang terjadwal jam 5 pagi ini akhirnya lepas landas, membawa Suzy dan Lani di dalamnya.
Meringkuk seperti Bayi, Lani tertidur pulas di seat-nya dengan blanket kesayangan gadis kecil itu. Sedangkan Suzy, menyibukan dirinya dengan buku bacaan yang tak disukainya. Berharap, supaya buku itu mampu menghantarkannya kealam mimpi hingga pesawat mereka sampai di Singapore.
Gin memang sesuatu. Suzy tidak menyangka kalau penerbangan pagi yang di maksud oleh Gin adalah jam segini. Dia kira, penerbangan mereka akan terjadi di jam 8 atau 9 pagi, bukannya malah jam segini. Belum lagi, astaga!
Suzy yakin kalau Myungsoo dan Soojung dan Minhyuk--mungkin ia harus mencoret yang ketiga--akan marah karena dia pergi tiba-tiba. Gin baru mengirimkan tiket elektronik ke e-mail pada jam 1 pagi, dan saat itu Myungsoo sudah kembali ke tempat pria itu. Sedangkan, niat awalnya akan menelpon Soojung di pagi hari tentu saja gagal total. Boro-boro ingin berpamitan, tadi saja dia hampir kesiangan jika Gin tidak membombardir ponselnya dengan 10 kali panggilan masuk.
Suzy membawa pandangannya keluar jendela, membiarkan selimut awan menenggelamkan khayalannya. Bersamaan dengan ucapan Myungsoo malam itu yang terngiang-ngiang di benaknya...
"Beginilah caranya orang dewasa mempertahankan cintanya, Suzy. Kau mungkin tidak pernah tahu, ada yang rela membunuh demi bisa bersamamu."
Suzy meneguk salivanya. Sepanjang jalanan Seoul menuju Rumah sakit terasa lama, seolah membiarkan supaya ia bisa mendengar segala informasi yang di keluarkan Myungsoo.
"Kau tidak perlu mencintaiku kalau kau masih tidak bisa. Kau hanya perlu bersamaku dan terus membutuhkanku, Suzy."
***
Sun, 02/06/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co