Truyen3h.Co

Feudatory

30

authoriya

"Bagaimana progressnya? Aku tidak ingin kalau acara yang digelar tidak berjalan sukses. Kau tahu Gin, banyak yang akan tertawa senang jika melihat kita gagal." Suzy membalikkan halaman pada laporan yang diberikan Gin padanya.

"Aku berani jamin dalam satu detik setelah launching, seluruh media akan membuat kita menuai pujian pada produk keluaran terbaru kita." Gin menjawab dengan mantap.

"Bagus, memang seharusnya seperti itu." Suzy tersenyum puas. Ditutupnya laporan itu, lalu dikembalikan kepada Gin.

Gin menerimanya. "Tuan Myungsoo menelponku terus. Katanya, anda tidak mau menjawab panggilannya. Dia terus menanyakan dimana alamatmu di Singapore."

"Jangan diberitahu," Suzy bangkit berdiri, "Bagaimana Lani? Apakah sekolahnya lancar?"

"Kabar buruk," Gin mencebik, menatap suzy yang menampilkan kerutan pada dahi mulus milik perempuan itu melalui ekor matanya, "Lani menangis dan menolak untuk masuk hari ini karena anda tidak bisa mengantarnya ke sekolah."

Suzy mendesah, "Anaknya Jungkook benar-benar membuatku pusing. Lalu?"

"Mari mengatakan Lani juga tidak mau makan sejak tadi pagi, dan terus mengurung diri di dalam kamar."

"Di kunci? Bukannya aku bilang kamar Lani tidak boleh ada penguncian, Gin?" Kening Suzy semakin mengernyit. Dipikirnya, bagaimana mungkin anak usia segitu bisa mengunci pintu?

"Dia masuk ke dalam kamar kami. Kau tahu, sistem penguncian di kamar menggunakan tombol jadi---"

"Jungkook, dimana si bodoh itu sekarang?"

"Lusa dia baru kembali ke Rusia, Nona."

"Tidak ke Singapore dulu? Aigoo, seharusnya dia membelikanku perusahaan Gucci, kalau dia selalu sibuk dan tidak mau mengurus anaknya. Memangnya dia pikir aku seorang Ahjumma?"

Gin diam. "Bagaimana jika Nona Suzy besok mengantar Lani? Aku akan membujuknya nanti. Anda tahu kan, kalau Lani akan luluh jika menyangkut dirimu."

"Baiklah. Ketika pulang nanti, tolong kau mampir di toko boneka dan belikan boneka yang paling besar dan mahal dari toko itu, bilang pada Lani kalau aku meminta maaf dan besok akan mengantarnya sekolah jika dia mau makan yang banyak. Paham?"

Gin tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Baik, nona."

*** 

Suzy memasuki apartemen-nya dengan langkah lelah. Dibiarkannya lampu-lampu dengan sinar temaram yang menyala, wewangian sebagai relaksasi diri langsung menyala, ketika sistemnya menemukan manusia berada disana. Suzy mendesah, merogoh ponselnya dengan malas dari dalam tas ketika benda itu berisik, berbunyi di tengah keheningan malam yang super sunyi di Singapore. Beginilah, kehidupan kaum jetset disini, apalagi yang memilih apartemen sebagai hunian bahkan tidak saling mengenal satu sama lainnya. Mungkin saja, jika tetangga kamar mereka ada yang meninggal, baru akan diketahui jika jasadnya mulai membau dan membusuk.

Suzy berdecak ketika mendapati, ketika mendapati nomor Myungsoo yang menari-nari disana. Great, salah sekali jika dia memberikan pria itu nomor Singapore nya waktu itu. Myungsoo seperti pengangguran menyebalkan dengan terus menelpon dan mengiriminya pesan tanpa kenal waktu. Bahkan, ketika panggilan dan pesan itu ia abaikan, Myungsoo malah beralih menelpon asisten pribadinya.

"Dasar menyebalkan!" Suzy menggerutu, memasukkan kembali ponselnya kedalam tas dan berjalan menuju kamar tidurnya.

"Kenapa tidak diangkat?"

Langkah Suzy berhenti, refleks menoleh dengan degup jantung yang meningkat. Menjentikkan jemarinya untuk menghidupkan lampu utama, dan langsung membeliak kaget ketika mendapati Myungsoo duduk di sofa coklat dengan kedua tangan direntangkan. Myungsoo yang masih lengkap dengan pakaian formalnya menguarkan aura pekat yang sedikit membuat bulu kuduk naik.

"Kenapa kau mengabaikanku, Suzy?"

"Bagaimana kau bisa sampai kesini?" Suzy mendekat, lalu bersedekap.

"Kenapa kau mengabaikanku, Suzy?" Myungsoo mengulang.

"Bagaimana kau bisa sampai kesini?" Tanya Suzy lagi. Tetap kekeuh pada pertanyaannya dan sama sekali tidak nampak terlihat ingin membalas pertanyaan yang ditujukan Myungsoo padanya.

Myungsoo menghela napas. "Menggunakan taksi."

"Bodoh!" Suzy berdecak kesal. Alisnya menyatu ketika melanjutkan, "Maksudku, bagaimana kau bisa sampai ke apartemenku, dari mana kau tahu, dan---Oh my god, Gin ya?" Matanya memicing.

"Bukan."

"Bukan?"

Myungsoo mengangguk. "Sahabat tersayangmu." Jelasnya.

Sialan... Suzy mengumpat dalam hati.

"Berhenti mengumpat dalam hati, Suzy," Kata Myungsoo seolah mengetahui isi kepala perempuan itu. "Lebih baik kau menyambutku. Aku rindu kau."

"Pulanglah. Aku mengantuk." Jawab Suzy, membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kamarnya.

Myungsoo bergegas mengekori Suzy dari belakang, menganggap ucapan Suzy barusan sebagai angin lalu baginya. Kaki panjangnya tidak sulit melangkah mengikuti Suzy yang lebih dulu masuk kedalam kamarnya, Myungsoo tersenyum, aroma ini adalah aroma yang sama seperti aroma kamar Suzy di Seoul. Aroma ini juga yang selalu ditinggalkan Suzy tiap kali perempuan itu bermalam di apartemennya dulu. Tanpa sadar, Myungsoo merindukan hari-hari penuh sukacita itu...

"Kenapa kau tidak mengabariku, hm?" Kedua lengan Myungsoo sudah melingkar di perut Suzy, sedangkan ia menumpukan dagunya pada pundak kecil perempuan itu. "Kau tahu, kukira semua yang terjadi di Seoul hanya sebuah mimpi saat mendapati kau tidak ada disana lagi..."

"Kau tidak seharusnya menyusulku. Perusahaan kakekmu membutuhkanmu. Keluargamu, bahkan---"

"Tapi aku hanya membutuhkanmu, Suzy." Myungsoo mengeratkan pelukannya. "Tidak bisakah kau pindah ke Seoul saja. Lalu kita menikah?"

"Aku senang disini. Di tempat kecil ini, aku menemukan segala hal baru. Bahkan, oh tuhan, aku sudah menjadi member VIP di counter Gucci disini. Bukankah aku luar biasa?"

"Aku bisa membelikan perusahaannya untukmu jika kau mau."

Suzy berdecak, "Aku juga bisa membelinya sendiri!"

Myungsoo memejamkan matanya, menghidup aroma tubuh Suzy yang menenangkannya. Yang seolah bisa membuatnya melupakan sejenak dosa dan beban dalam hidupnya.

Suzy membiarkan keheningan menenggelamkan mereka. Kedua matanya menatap lampu-lampu malam di Singapore lewat jendela kaca super besar di kamarnya. Ada satu hal yang mengganggunya, namun ia bingung apakah harus menanyakannya atau menunggu pria itu menjelaskannya. Dipejamkannya kelopak mata selama lima detik, hatinya sibuk menetapkan keputusan yang akan diambil, dan ketika kelopak mata itu terbuka, rasa penasarannya lah yang menjadi pemenang.

"Bagaimana dengan kasus kakekmu?" Suzy bertanya hati-hati.

"Polisi percaya kalau itu murni kecelakaan dan menutup kasus itu dengan damai." Tutur Myungsoo.

Ada helaan napas lega yang keluar dari mulut Suzy ketika mendengarnya. Jika boleh jujur, dia memang sedikit takut jika nanti hal yang sebenarnya akan terkuak. "Yya, Kim Myungsoo...," Suzy memutar tubuhnya, "Dengar, kau tidak boleh melakukan hal itu lagi. Apalagi jika aku sebagai penyebabnya, mengerti?"

"Karena itulah kau harusnya tetap berada disisiku. Jangan memintaku melakukan apa yang hatiku tolak, ya?" Myungsoo membawa tatapannya menembus kedalam manik mata coklat Suzy. Kedua tangannya bergerak meraih kedua tangan Suzy, menggenggamnya dengan erat. "Berjanjilah?"

"Iya." Ucap Suzy setelah berpikir panjang.

Myungsoo tersenyum lebar, membawa kepalanya menunduk mendekat kearah Suzy. Kedua matanya mengunci manik mata milik Suzy hingga saat jarak mereka tinggal sepersekian inchi lagi, Myungsoo memejamkan matanya. Bibirnya mencari bibir ranum milik Suzy, hendak menciumnya. Namun...

"Yya, dasar mesum! Keluar dari kamarku!" Suzy langsung mendorong Myungsoo kearah luar pintu kamarnya ketika perutnya merasakan ada benda aneh yang menusuk-nusuknya.

Dengan kasar, Suzy kemudian membanting daun pintu didepannya hingga suara bedebum yang keras. Sampai membuat sebagian rambut depan Myungsoo beterbangan ke atas.

*** 

Lani, lengkap dengan seragam TK-nya plus rambut diikat dua membuatnya semakin menggemaskan. Wajahnya berseri-seri bahagia karena tadi sudah melakukan panggilan video untuk memastikan bahwa Suzy akan mengantarnya ke sekolah, dan akhirnya keinginannya tercapai hari ini.

"Kau pasti sangat menyukai Mommy-mu, Makanmu lahap hari ini, sayangku." Mari mengelap sisi mulut Lani setelah selesai menyuapinya telur dadar.

Lani mengangguk.

Mari mencium dahi Lani, kemudian membantu Lani untuk turun dari kursi nya ketika mendengar suara Gin yang mengatakan bahwa Suzy telah sampai di depan rumah mereka. "Ayo, Mommy-mu sudah disini."

*** 

Lani menyipit, memerhatikan pria yang duduk di bangku kemudi dengan datar. Kiranya tadi, Suzy akan berangkat sendiri dari apartemennya, tapi kenapa tiba-tiba ada paman tampannya yang ikut juga?

Ekspreksinya berubah, mata bundar itu mengedip dua kali, lalu mencondongkan tubuhnya yang duduk di jok belakang, ke depan. Kearah Suzy.

"Mommy, apakah paman tampan ini bermalam di apartemen?"

"Mm..."

Lani merapatkan mulutnya dan sedikit maju, "Aiyah, Lani juga ingin menginap di Apartemen Mommy saja."

"Lebih baik Lani bersama Gin dan isterinya saja, tidak ada yang menjaga kalau di apartemen Mommymu..." Kata Myungsoo sambil melirik gadis kecil itu melalui ekor mata.

"Lantas, paman tampan kenapa tidak di Korea? Malah menumpang di rumah Mommy?"

Suzy terbatuk sambil menahan tawa, matanya melirik Myungsoo yang kini seperti salah tingkah sendiri. "Mommy juga berpikir seperti itu..."

"Yya, kau bahkan dulu suka menumpang di apartemenku." Myungsoo menimpali.

"Jadi, kau tidak ikhlas?" Suzy menyipit sambil membawa rambutnya kebelakang.

"Bukan begitu...," Myungsoo mendesah, mencari kalimat yang tepat untuk menyanggah. "Lagipula aku kesini kan tidak memiliki siapapun, sedangkan kau di Seoul punya rumah, Suzy. Jadi, kita berbeda."

"Yya!"

Lani melirik Suzy dan Myungsoo dengan pandangan bingungnya. Tidak mengerti, kenapa Mommy-nya memiliki hobi berteriak jika sedang berhadapan dengan paman tampan ini...

***

"Lani harus menuruti semua ucapan Ibu Guru, ya?" Suzy berlutut, menangkupkan kedua tangannya di pipi chubby Lani.

Gadis kecil itu mengangguk.

"Jangan melawan, guru. Kalau ada anak laki-laki yang nakal, harus?"

"Harus dipukul kepalanya dan bilang, 'Kau mau mati ya?' begitu 'kan, Mommy?" Lani memamerkan sederet giginya.

"Great!"

Myungsoo, yang melihat interaksi itu hanya geleng-geleng. Suzy benar-benar tidak berbakat mengajari anak kecil, bagaimana bisa perempuan cantiknya itu malah mengajari anak sekecil ini mengunakan bahasa kasar seperti apa yang sering diucapkan Suzy kepadanya?

Myungsoo maju satu langkah, membawa tubuhnya berjongkok menyejajari Suzy, "Yang benar, jika ada anak laki-laki yang nakal, kau harus mengadukannya kepada paman, oke?"

Lani mengernyit, memandang Myungsoo dengan tatapan polosnya. "Kenapa?"

"Karena paman yang akan mengatakan hal itu kepada anak laki-laki yang mengganggu Lani. Sedangkan Lani sebagai anak perempuan harus berlaku lemah lembut dan jangan suka marah-marah." Tukas Myungsoo.

Suzy mendesis. Dia tahu benar kalau Myungsoo sedang menyindir tingkah lakunya. Cih, masa bodo! Biar seperti ini juga dia cinta mati denganku! Batinnya.

"Baiklah, aku akan mengingat itu. Geundae, paman kan mau pulang ke Seoul... Lalu akan menghilang seperti Ayahku yang jarang berkunjung kesini." Kedua sudut bibir Lani melengkung kebawah. Menyadari kalau Ayahnya begitu sibuk bekerja di Rusia, hingga lupa untuk datang ke Singapore.

"Ketika Paman dan Mommy cantikmu ini sudah menikah, paman tidak akan menghilang-menghilang juga. Untuk sekarang, Lani tinggal menelpon paman jika ada yang mengganggu Lani, dan paman janji akan langsung datang."

"Shireo."

"Mengapa?" Ada terkejutan di dalam suara Myungsoo, dahinya juga mengerut tanpa sadar.

"Mommy tidak boleh menikah dengan paman. Kata Ayah, kalau ayah dan mommy menikah, nanti mereka akan memiliki adik untuk Lani. Dan Lani menolak mempunyai adik kecil. Jadi, jika paman tampan dan Mommy menikah, maka kalian berdua juga akan memiliki adik kecil," Lani menggeleng pelan, "Lani tidak mau kalau nanti Mommy tidak sayang lagi dengan Lani..."

Suzy terbatuk mendengarnya. Kemudian, membawa tangannya untuk memeluk Lani dengan hangat, "Gin dan Mari memiliki dua kakak untuk Lani, tapi kedua kakak itu tetap menyukai Lani dan mereka tetap di sayang oleh Gin dan Mari, bukan?"

Lani mengangguk dalam pelukan.

"Jadi, Mommy juga akan berlaku sama seperti mereka."

"Jadi, kalau Mommy dan Ayah menikah dan memiliki adik kecil---"

"Yya, Mommy-mu akan menikah dengan paman, bukan dengan Ayahmu itu. Aish!" Myungsoo menggerutu tidak senang. Kenapa pula gadis kecil ini malah membayangkan yang bukan-bukan, padahal jelas sejak tadi bahwa mereka sedang membicarakan tentang Suzy dan dirinya.

"Yya, Myungsoo. Jangan mengumpat di depan anakku!" Suzy melirik sebal kepada Myungsoo.

Myungsoo berdeham, "Dengar, Lani, kau kan bukan anaknya Gin dan Mari, makanya kedua kakak-kakak itu tidak membenci Lani dan masih menganggap Lani sebagai adik kecil bagi mereka. Tapi, kalau seandainya Mommy dan Ayahmu menikah, Paman tidak yakin kalau kasih sayang mereka tidak terbagi untuk adik kecil nanti..."

"Benarkah?"

Myungsoo mengangguk semangat, "Makanya, hanya paman yang di bolehkan menikah dengan Mommy-mu, supaya Lani tetap disayang oleh Mommy. Mengerti?"

Kedua mata bulat itu memandangi Myungsoo lekat-lekat, memahami apa yang dikatakan paman tampannya itu, lantas mengangguk. "Lani mengerti."

"Pintar, sekarang kau harus masuk ke dalam. Ikut bersama teman-teman barumu yang memakai topi seragam berwarna sama seperti seragam yang dipakai Lani, oke?"

"Okay." Jawab Lani. Setelah mengucap salam dan mencium pipi Suzy serta Myungsoo, Lani lantas berlari masuk, mengikuti anak-anak yang telah membuat barisan.

Suzy mengangkat alisnya, bibirnya sudah tidak tahan untuk mengejek perkataan Myungsoo tadi langsung berujar sarkas, "Mwoya, apa itu tadi? Kau mencoba membodohi anak kecil?"

Myungsoo tersenyum tipis. Ia berdiri, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, kemudian dengan gaya arogannya yang tak pernah diperlihatkannya, Myungsoo menjawab, "Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam mempertahankan dan memperjuangkan. Jadi, sah-sah saja, 'kan? Ayo, aku ingin berkeliling Singapore sebelum kembali ke Seoul."

***

Sun, 02/06/19


Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co