Truyen3h.Co

Feudatory

4

authoriya

Suara teriakan penonton memenuhi stadion bagian luar itu saat lagi-lagi Myungsoo berhasil melayangkan service nya dengan sangat ciamik melewati net hingga tim nya mendapatkan point. Berulang, sampai waktu babak pertama selesai.

Suzy menekuk wajahnya dengan sungguh-sungguh, bisingnya suara sorak-sorai yang kebanyakan berasal dari kaum perempuan itu semakin membuat suasana bertambah panas dari yang disebabkan oleh matahari yang hari ini seperti begitu semangat menunjukkan sinarnya. Perempuan itu mendesah, melemparkan rumbaian plastik yang diberikan Soojung kepadanya sebagai tim hore hingga tergolek di bawah.

Soojung, yang tentu saja sedang menyoraki kekasihnya yang juga berada dalam satu tim dengan Myungsoo seketika menoleh sambil mengangkat alis, "Yya, aku membelinya mahal-mahal, kenapa kau buang sembarangan?!"

"Spf pada sunblock-ku tidak bisa menahan pancaran sinar matahari sepanas ini." Suzy menggerutu, mengambil cardigan dari dalam tas ranselnya kemudian memakainya.

"Hah, lebay sekali."

Suzy berdecak pelan, bibirnya memberucut kesal sendiri ketika mendengar suara-suara teriakan yang meneriaki nama Myungsoo dari arah belakang, "Mwoya, tidak malu sekali meneriaki seorang pria seperti itu!"

Soojung menoleh, ikut memandangi kerumunan perempuan di belakang mereka, kemudian terkekeh sambil berbicara, "Kalau mereka itu kau, mereka tidak akan melakukan hal seperti itu, Suzy."

"Mengapa?"

"Karena Myungsoo akan dengan sukarela mendekat kepada seorang Bae Suzy."

Mendengar jawaban diplomatis Soojung mau tak mau menerbitkan seulas senyum kecil di wajah Suzy, "Benar sekali. Dia tidak akan meninggalkanku sampai kapan pun."

Soojung menggoyangkan jari telunjuknya, "Ralat, tetapi sampai dia menemukan perempuan yang membuatnya tertarik," Ucapnya, kemudian mata Soojung tanpa sengaja menatap ke arah jam tiga yang posisinya tak jauh dari tempat mereka berdiri, "Aku heran, kenapa dua perempuan itu selalu terkikik malu begitu tiap kali Myungsoo menoleh ke arah sini. Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya..."

Suzy ikut menoleh, kedua mata seperti bulan sabit itu langsung mendapati dua orang yang sama dengan yang menghadang Myungsoo saat di parkiran waktu itu. "Oh, salah satu dari mereka pernah memberikan coklat mahal untuk Myungsoo."

Soojung mengernyit bingung, "Bukannya katamu Myungsoo tidak suka coklat?"

"Aku suka coklat," Suzy tersenyum lebar, "Jadi, coklat-coklat itu pasti akan masuk kedalam perutku dengan damai." Lanjut Suzy dengan suara senang.

Soojung ikut tersenyum, kemudian matanya memandangi dua perempuan yang lagi-lagi memberikan senyuman malu-malu ketika Myungsoo dan Minhyuk berjalan kearah tribun, "Kalau Minhyuk sampai disukai seperti itu, aku bisa menjamin perempuan-perempuan itu tidak akan hidup tenang." gumamnya. Soojung tiba-tiba membayangkan bahwa bisa saja salah satu dari perempuan-perempuan yang berteriak itu merupakan penggemar kekasihnya. Lihat saja, jika sampai ada yang kedapatan, mereka akan menyesal saat itu juga.

Suzy mendengus, "Mereka sudah ketakutan dulu melihat macan semodelmu, Jung."

Suzy mengambil air mineralnya dari dalam tas  berencana ingin memberikan air itu kepada Myungsoo, namun pandangannya lebih dulu mendapati Myungsoo sedang berhenti karena perempuan yang kemarin yang dilihatnya memanggil Myungsoo. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh keduanya, tapi Suzy langsung mendengus ketika sebotol minuman rasa coklat sudah berada ditangan Myungsoo.

"Aku sudah berat-berat membawakan air ini!" gerutu Suzy, kemudian menoleh ke arah Soojung dan kekasihnya yang sedang tertawa-tawa, "Kang Minhyuk, ini, berikan kepada siapapun mereka di bawah sana."

"Itu Myungsoo," Minhyuk menatap ke arah belakang Suzy. Lalu, menggoda perempuan itu, "Bukannya itu buat pangeranmu?"

"Siapa yang kau sebut pangeran..." Suzy menggerutu kesal, baru saja ia hendak melemparkan botol mineral itu ke arah Minhyuk, Myungsoo lebih dulu mengambil botol itu dan memberikan botol minuman cokelat yang ia pegang itu ke tangan Suzy.

Suzy berdecak, "Kenapa tidak meminumnya?"

"Kau mesti ya bertanya?" Myungsoo melirik Suzy dengan jengkel. Telinganya mendengar teriakan dan pekikan dari beberapa perempuan di belakang dari arah tribun atas, namun Myungsoo sama sekali tidak memerdulikan, ia kembali menambahkan, "Jangan berani pergi sampai pertandingan selesai, mengerti?"

"Yya, disini panas sekali!" Suzy mengusap-usap lengannya dengan ekspresi sebal. Namun, ketika melihat wajah Myungsoo yang memelas, mau tak mau Suzy mengiyakan, "Arraso, arraso."

Kerumunan perempuan itu kembali memekik saat melihat Myungsoo mengulurkan tangannya dan mengacak-acak secara pelan puncak rambut Suzy.

"Aish, rambutku jadi acakan dan tidak badai lagi!" Gerutu Suzy sambil menatap Myungsoo yang sudah berlari turun ke lapangan.

***

Suzy tidak bisa untuk tidak bersyukur saat mendapati toilet fakultasnya sepi dan tidak berpenghuni. Karena biasanya, toilet merupakan tempat yang tidak pernah sepi. Selalu ada perempuan yang berdiri di depan kaca untuk sekadar memoleskan lipstick dan bedak mereka kembali, atau sekadar bergosip bersama teman-teman mereka--yang biasanya terjadi adalah menggosipkan kelompok perempuan yang lebih di atas kelompok mereka atau menggosipkan pria tampan di universitas ini--. Suzy akan selalu menganggap apa yang dilakukan perempuan-perempuan drama itu tidaklah penting, makanya Suzy sama sekali tidak tertarik bahkan sekadar menyapa apalagi harus berpura-pura akrab dan saling memuji satu sama lain, padahal jika di belakang, mereka akan selalu membicarakan satu sama lain. Tapi, Suzy patut bersyukur karena Soojung bukan seperti salah satu dari perempuan drama di universitas ini. Tentu saja, makanya ia mau berteman dengan Soojung sampai sekarang.

Suzy sedang menyapukan kuas liptint dibibir ketika suara-suara gurauan kecil terdengar samar ditelinganya, kemudian matanya menatap dari pantulan kaca pada dua orang perempuan berjalan masuk kedalam toilet dan berdiri disampingnya. Kedua orang itu saling menyiku pelan sebelum akhirnya ikut tersenyum saat Suzy mengulas senyumnya duluan.

Dua perempuan ini merupakan perempuan yang sama yang memberikan coklat mahal dan minuman cokelat kepada Myungsoo.

"Suzy sunbae?" Tegur salah satu dari kedua perempuan itu. Suzy melepas pandangannya dari cermin didepannya, kemudian menoleh.

"Ya?" Respon Suzy.

"Sunbae sahabat dekatnya Myungsoo sunbae, ya?" Tanya perempuan itu, dengan tersenyum ramah ia kembali bersuara, "Aku Rose. Dan ini temanku, Lisa."

Suzy tidak mengerti kenapa perempuan itu memperkenalkan nama mereka, namun demi menjaga sopan santunnya, Suzy mengangguk seolah apa yang dikatakan perempuan bernama Rose ini merupakan informasi yang penting, "Oh, Hai."

"Suzy sunbae sebenarnya Rose ingin memintamu untuk mendekatkannya dengan Kim Myungsoo." Suzy lantas menaikkan alisnya ketika suara Lisa berbicara lantang dan menjelaskan maksud dan tujuan dari pembicaraan itu.

Rose tampak meringis kecil dan memaki Lisa yang tidak bisa menjaga mulutnya itu dengan baik. Suzy mengernyitkan keningnya, namun seulas senyuman ramah langsung terukir diwajahnya, "Akan kuberitahu kepada Myungsoo nanti."

"A-aniyo, Sunbae! Jangan diberi tahu. Lisa hanya asal bicara..."

"Mwoya, kalau begitu kau tidak akan bisa dekat dengan incaranmu itu." Lisa tampak kesal mendengar ucapan sahabatnya, lalu menatap Suzy dengan sungguh-sungguh, "Khamsahamnida, Suzy sunbae."

Suzy memasukkan liptint-nya kembali ke dalam tas, lalu mengangguk, "Baiklah, aku duluan ya."

Keduanya mengangguk dan menatap kepergian Suzy dengan ekspresi senang seperti dari mendapatkan nilai A untuk matakuliah dengan dosen tersulit di fakultas mereka.

***


Suzy sedang memusatkan fokusnya pada tumpukan puzzle diatas ranjang kamar Myungsoo, sedangkan si pemilik kamar sedang duduk menyandar pada sofa di dekat jendela kamar itu, tenggelam kedalam buku bacaannya. Suara sorak-sorai Suzy saat berhasil merampungkan puzzle yang sudah dua minggu tidak bisa diselesaikannya itu juga berhasil membuat Myungsoo kehilangan konsentrasinya. Dia melirik Suzy dari balik bukunya, "Kau lambat sekali. Aku saja hanya butuh satu hari untuk menyelesaikan itu."

Suzy menoleh dengan tatapan sebal, "Otak kita memiliki kapasitas berbeda, Myungsoo. Berhenti mengejekku!"

"Aku tidak mengejekmu."

Suzy mendengus, "Yes, you are."

Kemudian dengan hati-hati, Suzy memasukkan puzzle yang sudah tersusun itu kedalam box tanpa berniat merusak potongan-potongan yang tersusun itu terlebih dahulu. Tidak, tidak sekarang. Karena ini perlu dirayakan dan diabadikan, baginya. Bayangkan saja, kepingan puzzle yang biasanya bisa diselesaikan Suzy hanya dalam sekali kedipan, nampak begitu sulit ditaklukan belakangan ini. Atau karena ini merupakan jenis puzzle dengan tingkat kesulitan yang maha dahsyat sehingga sulit bagi Suzy menyelesaikannya dalam waktu singkat seperti puzzle-puzzle sebelumnya?

Ranjang itu berdenyit saat Suzy berjalan dan membawa kakinya turun dari sana. Lalu, menaruh box puzzle itu kedalam laci meja kerja di kamar Myungsoo ketempatnya semula, bergabung dengan box lainnya yang bergambar sama pada bagian tutupnya. Dan keseluruhan puzzle itu adalah milik Suzy yang sengaja di pindah tempatkan ke apartemen Myungsoo karena puzzle di kamarnya sendiri sudah begitu banyak dan penuh.

Suzy menepuk kedua tangannya dengan gembira, lalu berjalan ke arah Myungsoo dan menjatuhkan dirinya untuk duduk di tangan sofa. Tubuhnya mencondong ke arah Myungsoo, "Kau tidak bosan membaca buku terus?"

"Tidak."

"Ck," Suzy berdecak, "Kehidupanmu hanya berpusat pada olahraga dan buku. Kapan kau akan tertarik untuk mencari seorang kekasih?"

Myungsoo menghela napas, "Suzy, pergi menonton tv atau apapun dan jangan mengangguku membaca."

"Yya, aku tidak pernah mendengarmu membicarakan soal perempuan. Apa tidak ada yang kau sukai?" Suzy terus berbicara tanpa menanggapi ucapan Myungsoo barusan, "Aku sangsi kalau kau bisa mencium perempuan."

"Suzy..." Myungsoo menutup buku ditangannya.

"Setidaknya, pergi ke pub dan cium salah satu dari wanita disana, Myungsoo. Oh my--" Suzy langsung berteriak kaget karena Myungsoo tiba-tiba menarik pinggulnya dan membuatnya terjatuh di atas pangkuan pria itu. Untuk sesaat, Suzy merasa jika pasokan udaranya terkuras habis ketika merasakan tubuhnya yang kini sudah menempel dengan tubuh Myungsoo, Suzy menelan salivanya, "Y-ya, apa yang kau lakukan!" Ucapnya dengan suara kesal. Ia hendak membawa tubuhnya berdiri namun gagal karena Myungsoo menahannya.

"Aku ini bisa berciuman." ucap Myungsoo.

Suzy terkekeh, "Yang benar? Aku tidak percaya. Kau bahkan tidak pernah memiliki kekasih."

"Mau kubuktikan, hm?"

"Apa--"

Yang kemudian terjadi adalah, Myungsoo membungkam kalimat yang hendak keluar dari bibir Suzy dengan menggunakan bibirnya.

***

Fri 3/15/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co