Truyen3h.Co

Feudatory

31

authoriya

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
She was the wish of his life. He didn’t know how else to say it. He didn’t even know that he could really explain, just that every time he saw her, he felt his bones might break under the weight of his wanting. His longing for her.”

~ J. Carlyon, The Cherry House

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


   "Kau benar-benar tidak tahu?" Tanya Myungsoo kembali. Kepalanya miring menatap Suzy kembali karena ia benar-benar tidak percaya pada informasi yang disampaikan Suzy sebelumnya kepada dia.

Suzy menggeleng malas, "Sudah kubilang, aku hanya tahu tentang Takashimaya Ngee Ann City, Orchard Road, Orchard Road, Orchard Road, dan The Shoppes at Marina Bay Sands. Aku tidak tahu tempat-tempat selain itu."

"Apa kau benar-benar tinggal di Singapore selama tujuh tahun terakhir ini?"

"Yya!"

"Aku juga tahu tempat jajanan enak di Orchard Road." Timpal Suzy. Perempuan itu merasa kesal karena tatapan Myungsoo yang meremehkannya.

"Ya tentu saja, setelah kau lelah berbelanja, kau pasti mampir ke kafe mewah untuk sekadar minum kopi atau mendapatkan dessert coklat kesukaanmu." Myungsoo mendengus.

Sialan, Kim satu ini! Seolah-olah Suzy adalah turis baru, bukannya orang lama yang tinggal disini. Hell, Singapore memang kebanyakan selalu bicara dan memperdebatkan soal makanan, tapi dunianya adalah fashion. Jadi, dia akan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki satu frekuensi yang sama dengan dirinya. Contohnya, Soojung.

Bicara soal Soojung, perempuan menyebalkan dan juga tukang menyebarkan alamat tinggal beserta kata sandi apartemennya itu sama sekali tidak bisa dihubungi. Suzy mengirimi pesan, terkirim. Tapi, tidak di balas. Suzy beralih mengontak nomornya, malah tidak aktif. Suzy semakin yakin, sahabat perempuannya yang menyebalkan itu pasti sedang tertawa senang di Seoul karena berhasil menaikkan emosi Suzy.

"Ayolah, lebih baik kau sewa saja tour guide, aku akan menyuruh Gin mencarikan orangnya, sementara aku bisa kau drop ke kantor karena pekerjaanku menumpuk disana."

"Tidak, tidak perlu," Myungsoo menolak, menghidupkan GPS pada ponselnya setelah sebagian waktunya tadi ia gunakan untuk mencari tempat-tempat wisata yang ada di Singapore. "Aku hanya membutuhkanmu. Tidak yang lain, Suzy." Myungsoo tersenyum, tangannya bergerak mengelus pipi Suzy pelan, kemudian mendaratkan kecupan di sudut bibir Suzy.

Keinginan Suzy untuk memarahi Myungsoo langsung surut. Syarafnya seolah mati dan ia hanya bisa mengangakan bibirnya atas perlakuan Myungsoo yang super mendadak.

Sudah pernah dikatakan 'kan, kalau segala syaraf dan pikiran Suzy akan lumpuh total jika Myungsoo sudah bertindak?

Myungsoo menyeringai. Menarik pedal gas dan melajukan mobil yang akan membawa mereka berkeliling Singapore seharian ini.

***



Kunjungan pertama dimulai dari Gardens By The Bays, adalah sebuah taman buatan yang memiliki pohon raksasa buatan yang berguna sebagai penampung air hujan. Suzy mendesah malas, membiarkan Myungsoo menariknya karena dua hal; Kesatu, ia malas berdebat. Kedua, sebagai kompensasi karena Myungsoo dengan baik hati membelanjakan segala outfits yang di pakainya sekarang dari counter brand kesayangan perempuan itu.

Senyuman Suzy terus mengembang dalam hati, tadi sebelum mereka kesini Suzy terus saja mengatakan kalau dia tidak mau ikut Myungsoo menjelajahi Singapore karena pakaian yang dikenakannya adalah blazer dan rok polos, lengkap dengan stoking hitamnya. Benar-benar tampilan untuk bekerja, bukannya untuk jalan-jalan ke tempat wisata. Alhasil, akhirnya hal yang ditunggu-tunggu terealisasikan, Myungsoo mengajaknya berbelanja pakaian ganti--from head to toe-- di jalan Orchard Road.

"Suzy, ayo kita berswafoto seperti orang-orang itu?" Ajak Myungsoo. Satu tangannya segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.

"Apa?!" Suzy memandang ngeri. Sepanjang hidupnya ini, dia sama sekali berfoto seperti orang kampungan yang baru pertama kali jalan-jalan. Hell, no way! "Kau gila? Ck, ayo lebih baik kita pulang."

"Aku sudah membelikanmu brand kesayanganmu padahal..."

Suzy berdecak, kedua tangannya bersedekap di depan dada, "Kau terus saja mengulang omongan itu padahal aku tidak meminta untuk dibelikan."

Menyeringai lebar, Myungsoo mengacak rambut di belakang kepalanya sambil kembali berkata, "Makanya, ayo. Kita bahkan tidak memiliki foto bersama."

"Lebih baik aku mati jika harus berfoto seperti mereka-mereka itu." Suzy melirik dengan pandangan merendahkan kepada turis yang sedang berfoto dengan latar tanaman buatan raksasa itu.

"Kau bisa sembari memamerkan Gusci keluaran terbaru yang sedang kau kenakan itu, Zy."

Perkataan Myungsoo serta-merta langsung membuat otak Suzy yang tinggi langsung terbuka. Matanya menatap Myungsoo yang kini sedang memainkan kedua alisnya dengan cara naik-turun.

"Bagaimana?"

"Hanya sekali saja."

"Setuju." Jawab Myungsoo dengan cepat, lalu menarik satu tangan Suzy mengikutinya.

Suzy menurut pasrah, tubuhnya terhuyung mendekat kearah Myungsoo ketika pria itu mengampit bahunya hingga membawanya mendekat.

"Hana, dul, set!"

"Tersenyumlah, Zy. Kau cantik kalau senyum, jangan menampilkan wajah marah terus." Ucap Myungsoo ketika melihat hasil bidikannya.

"Kau yang mengambilnya tidak benar, aku bahkan belum sempat siap-siap!" Suzy menggerutu.

Menghela napas sekali, Myungsoo kembali mengajak Suzy untuk mengambil foto ulang.

"Hana, dul, se--"

Klik!

Wajah Myungsoo yang terkejut karena tindakan Suzy rupanya lah yang terbidik oleh lensa ponsel itu.

"Wah, kiyowo!" Ucap Suzy setelah merebut ponsel yang dipegang Myungsoo. "Jadi begini wajahmu kalau sedang kucium."

"Kau curang!"

"Waeyo?" Tanya Suzy, masih dengan senyuman yang terukir dibibirnya, dan kedua manik mata yang menatap pada ponsel milik Myungsoo.

"Kau tidak mengatakan terlebih dahulu sebelum menciumku."

"Yya, jangan dibahas lagi," Suzy memberikan ponsel Myungsoo kembali ke orangnya. "Destinasi wisata yang ingin kau kunjungi masih banyak dan jangan memulai pertengkaran karena hal tidak penting."

Langkah Suzy bergegas berjalan lebih dahulu di depan Myungsoo menuju mobil mereka yang terparkir di sisi timur.

Destinasi selanjutnya setelah Gardens tadi adalah Singapore Flyer. Myungsoo benar-benar kurang kerjaan, bahkan di taman bermain di Seoul dulu saja Suzy selalu menolak jika diajak pria itu kesana. Dan disini? What the heck, kalau bukan karena outfits Gucci ini, Suzy benar-benar akan meninggalkan pria itu sendirian. Menjajaki Komidi Putar terbesar dan tertinggi di Dunia, itu dengan perasaan malas. Belum juga pusingnya hilang, Myungsoo kemudian mengajak Suzy menyambangi Universal Studio, menjajaki setiap wahana yang ada disana. Lalu, mencicipi makanan seafood di East Coast Road, kembali lagi ke Sentosa Island--yang juga merupakan taman bermain di Singapore--menjajalkan kereta gantung yang memberikan pemandangan Singapore dari atas, dan berciuman panas di dalam kereta gantung itu.

Pikiran Suzy sudah blank, Myungsoo membawanya duduk di pangkuan pria itu sedangkan dengan mesumnya Myungsoo melahap kedua gunung fuji kembar milik Suzy. Suzy mengigit bibirnya, bersyukur karena kaca pada kereta gantung ini di desain khusus sehingga tidak terlihat dari luar, sehingga tidak ada yang tahu kelakuan dua insan dewasa yang sedang dimabuk gairah di dalamnya.

"Kau sudah merencanakan ini ya?" Tanya Suzy di sela-sela cumbuan Myungsoo, kedua tangannya terus menarik rambut Myungsoo tiap kali bibir panas itu melahap nipple nya. "Ya, aku yakin. Hei, hentikan... Celanamu sudah menusukku! Kubunuh kau kalau---aah..." Suzy berhenti mengoceh ketika Myungsoo mencium tengkuknya. Daerah terawan yang selalu saja sukses membuatnya sulit bernapas.

"Aku tidak merencanakan untuk memperkosamu di dalam sini, tapi pakaianmu yang menggodaku. Ini salahmu, Suzy..." Myungsoo kembali menyentuh sekitaran dada Suzy.

"Myungsoo...," Suzy meremas rambut bagian belakang Myungsoo, dadanya membusung ke depan dan kakinya bergetar,"Aku membiarkanmu menyentuhku, bukan menghamiliku. Mengerti?"

Myungsoo mengangguk. Lantas, semakin fokus dalam kegiatannya.

----

Suzy keluar dari dalam bilik toilet dengan keadaan lebih baik dari sebelum dia masuk. Untung saja tidak ada orang sekarang, sehingga tidak menimbulkan praduga-praduga yang bakal mencoreng namanya. Sialan Myungsoo, untung saja Suzy selalu menyelipkan celana dalam bersih di tas nya, karena celana dalam yang dipakainya tadi sudah becek dan kotor. Ew.

Tungkainya melangkah santai, dengan mata menatap Myungsoo yang sudah menunggunya di depan mobil, dengan tubuh menyandar pada kap mobil depan. Suzy berdecak, ia yakin sekali otak Myungsoo semakin hilang sejak kepergiannya dulu. Pria itu semakin mesum dan bertambah mesum kepadanya, padahal dulu dia adalah pria dingin dan penurut. Langkahnya dipercepat, kemudian menarik handle pada pintu mobil bagian belakang dan mendudukkan bokongnya disana.

Myungsoo menunduk dengan satu tangan memegang pintu mobil bagian belakang, "Kenapa kau duduk disini? Kedepan."

"Tidak mau."

"Suzy..."

Suzy memiringkan kepalanya, "Aku tidak akan membiarkan kau terus saja memesumiku!"

"Tidak. Aku tidak akan memesumimu lagi di dalam mobil."

"Yya!" Suzy berseru, matanya membeliak, menatap Myungsoo dengan pandangan seperti pandangan seorang gadis kecil yang marah ketika ada anak laki-laki yang membuka rok-nya.

"Aku becanda. Maaf."

"Ayo kita makan satay di Orchard Road. Kata Jungkook satay disana enak. Tidak, semua makanan disana memang enak."

"Kenapa harus membawa nama Jungkook dalam moment kita?" Myungsoo masih berdiri ditempatnya. Pandangannya tidak suka ketika Suzy membawa-bawa nama pria lain saat mereka sedang berduaan.

Suzy memutar bola matanya, menyandarkan kepalanya pada jok dengan sikap tak acuh. "Ppalli. Atau aku tidak mau menemanimu ke jembatan yang katamu tadi itu."

Mengalah lagi, Myungsoo menghela napasnya berat kemudian menutup pintu mobil dan berjalan menuju pintu lainnya. Lagi-lagi, berdebat dengan Suzy tidak akan pernah berhasil.

***



Singapore dan makanan adalah berupa garis lurus yang keduanya saling berhubungan. Siapapun itu, turist ataupun the locals mereka akan selalu membicarakan soal makanan disini, bahkan yang paling ekstrim adalah beberapa dari mereka akan saling bertengkar hanya karena mempeributkan soal tempat makan paling enak di Singapore. Seperti sekarang, ketika Suzy dan Myungsoo sampai di jalan Orchard Road sepuluh menit tadi, seluruh tempat makan di Orchard Road sudah mulai penuh dengan pengunjung. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang pekerja kantoran yang duduk berkelompok saling melempar sapa sambil menunggu makanan tersaji.

"Jadi, kau memesan banyak menu makanan disini hanya untuk mencobanya barang satu sendok, satu tusuk, saja?" Myungsoo menatap Suzy yang sedang mengelap mulutnya menggunakan tissue.

Kepala cantik di depan Myungsoo itu mengangguk elegan. Membentuk bola pada tissue yang dikenakan, lalu meletakkan nya pada wadah serupa mangkuk khusus. "Aku hanya penasaran soal rasanya. Kau tahu, aku tidak makan lemak."

"Pantang sekali di Singapore melakukan diet. Lagipula, aku tidak akan komplain soal tubuhmu. Aku menyukaimu tanpa syarat."

"Seluruh media massa dan media cetak akan mengambil gambarku sebagai orang nomor satu di Bae Corp. Jadi, aku harus terlihat paripurna tanpa celah."

***



Setelah selesai makan satay dan beberapa menu lainnya di Orchard Road, Myungsoo langsung memboyong Suzy menuju Helix Bridge yang berlokasikan di Marina Bay. Jam 7.23 p.m waktu Singapore. Yang artinya, ketika Myungsoo tadi pagi mengajak Suzy untuk berkeliling Singapore, mereka memang melakukannya dengan benar dan baik. Untung saja stiletto hitam yang dikenakan Suzy tadi pagi sudah diganti dengan casual selop yang baru dibelikan Myungsoo di counter Gucci tadi pagi sehingga Suzy tidak harus menangis karena pegal berkeliling sejak pagi seperti seorang turist.

She is the locals, malas sekali jika dikira orang-orang dia juga satu tim dengan mereka.

"Yya, apakah ini benar-benar jembatan yang kau maksud? Kau tidak salah baca Maps?" Tanya Suzy. Keningnya mengerut tidak yakin ketika melihat sepanjang jembatan yang gelap gulita minus penerangan.

Myungsoo mengangguk. "Ayo," ajaknya, kemudian melangkah lebih dulu ke Helix Bridge.

"Dia memang sudah sakit kurasa." Gerutu Suzy ketika melihat tubuh Myungsoo semakin menghilang di telan kegelapan Helix Bridge.

Suzy berjalan, penerangan seadanya dari bulan diatas langit yang menuntun langkah kakinya. Otaknya sibuk memikirkan hal-hal yang buruk seperti bagaimana jika ada orang jahat yang tiba-tiba muncul dari arah depan sana, walaupun sudah pasti tidak akan pernah terjadi karena Singapore adalah salah satu dari tempat teraman yang pernah ditinggali nya.

"Myungsoo, tunggu aku!" Suzy berseru ketika kehilangan jejak pria itu. Pandangannya melahap kesekitar, mencari dimana posisi Myungsoo berada, namun Suzy tidak menemukannya. Suzy berdecak kesal. Hawa dingin mulai menusuk menembus kulit tangannya yang hanya memakai kardigan tipis. Kedua tungkainya berhenti melangkah, kalau pria itu meninggalkannya, maka dia akan balik arah dan kembali kedalam mobilnya. Untung saja tadi kunci mobil yang memegang Suzy, karena kantung celana jeans Myungsoo tidak cukup.

"Yya, kalau kau tidak menungguku, aku akan kemb--" kalimatnya belum tuntas dimakan oleh keterkejutan karena dengan tiba-tiba lampu yang mengikuti bentuk Helix Bridge yang menyerupai DNA itu menyala. Memberikan efek eksotis nan indah memanjakan mata. Mulut Suzy masih menganga, membawa kepalanya menoleh kesegala arah untuk memandangi aspek keindahan di depan matanya. Kemudian, saat manik mata Suzy kembali menatap kearah depan, ia sudah mendapati Myungsoo berdiri lima langkah didepannya dengan buket bunga lily besar ditangannya.

Suzy mengerjap.

"Ella Wheeler pernah berkata; semua cinta yang tidak memiliki persahabatan sebagai dasarnya, seperti mansion yang dibagun diatas pasir. Dan aku setuju dengannya," suara Myungsoo mengalun pelan. Masih mengenakan kemeja yang sama dengan tadi, kakinya yang di balut sepatu kets melangkah pelan tapi pasti menuju tujuannya, Suzy. Hingga jarak antara Suzy dan dirinya hanya tinggal selangkah lagi, Myungsoo berhenti. Tangannya terjulur memberikan buket bunga itu kepada Suzy yang langsung diterima tanpa protes--mungkin karena suasana yang tercipta--oleh perempuan cantik itu. Myungsoo terlihat menarik napas sekali, satu tangannya merogoh kantung bomber hitamnya dan mengeluarkan sekotak bludru berwarna hitam dari dalamnya. Myungsoo membuka kotak itu dengan tetap menjaga pandangannya pada Suzy, kemudian tanpa di duga satu kaki Myungsoo melipat, hingga lututnya menyentuh aspal, kepala Myungsoo mendongak, tangannya terjulur memperlihatkan cincin berlian cantik di dalam kotak bludru itu kepada Suzy, "Sejak saat aku mendengar kisah cinta pertama, aku mulai mencarimu, tidak tahu seberapa buta jalannya.  Karena jodoh itu tidak bertemu di suatu tempat, mereka sudah saling bertemu selama ini. Jadi Suzy, mau kan kau menikah denganku?"

***

Sun, 02/06/19

Eh, salah. Tbc maksudnya.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co