32
"Mwoya, kenapa aku mengangguk?!" Kedua matanya menatap pantulan dirinya pada cermin panjang yang menggantung di dinding kamar mandi di kamar.
Terbungkus kimono mandi berwarna silver dengan rambut tergelung asal, kedua mata Suzy masih memandangi pantulan dirinya di cermin itu saat bibir cantik itu kembali bersuara,
"Kenapa... Aku... Menganggukkan... kepala...?!" Suzy mengulang dengan nada menjeda. Membawa tangannya menarik-narik rambutnya sendiri, lalu menyentakkan kakinya berulang kali pada ubin lantai dengan kesal, "Bodoh! Kenapa kau malah mengangguk, Suzy? Astaga, sulit di percaya!"
Tapi, mengutip darimana pula Myungsoo kata-kata sebagus itu? Suzy mendengus, telapak tangannya bergerak mengambil toner dan menepuk-nepukannya kewajahnya. Tidak, dia tidak bodoh. Ya. Suzy hanya terbuai dengan kalimat indah Myungsoo sehingga kepalanya dengan begitu murahannya malah mengangguk. Siapapun yang sedang berada di posisinya, pasti akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya.
Tunggu...
Jadi, apakah dia akan membatalkan kesetujuannya menikah dengan pria Kim itu?
Suzy menaikan sebelah sudut bibirnya keatas, kembali menatap pantulannya di cermin. Tidak mungkin dia membatalkan kesetujuannya untuk menikah dengan Myungsoo di saat kemesuman pria itu memengaruhi kinerja otaknya? Oh no.
"Ya tuhan, maafkan dosa-dosaku karena ketidaksengajaan, aku hanya sedikit khilaf karena Myungsoo memesumiku. Jika ada yang masuk neraka, maka biarkan Myungsoo saja. Jangan aku, karena aku disini hanya korban." Doa Suzy kemudian.
***
Pagi ini terasa berbeda si perusahaan itu. Penerus KIM corp. yang biasanya tidak pernah menampilkan senyum itu, mendadak jadi buah bibir oleh semua karyawan-karyawannya. Pasca kepulangan Myungsoo dari Singapore kemarin malam, aura dingin nan mengintimidasi milik pria itu seolah luntur. Menghilang tak berbekas.
Senyuman, sapaan dan semangat yang pagi tadi yang keluar dari dalam mulut Myungsoo, sukses menjadi perbincangan hangat di sela-sela deadline yang menumpuk. Hampir semua karyawan disana berpendapat kalau Myungsoo merasa tertekan karena kehilangan seseorang yang dicintainya sekali dua hingga membuatnya sedikit agak stress seperti ini.
"Ketua tim perencanaan, aku bisa merekomendasikan orang lain yang lebih berkinerja untuk menggantikan posisimu jika kau terus bergosip dengan bawahanmu, bukannya segera mengerjakan tugasmu."
Suara Daniel langsung membubarkan kerumunan itu. Seorang perempuan yang ditegur Daniel itu, lantas menunduk dengan wajah memerah. "Maaf, saya tidak akan mengulanginya."
Daniel menatap datar, kembali menggumamkan sesuatu sebelum kaki nya kembali melangkah menuju ruangan sang presider.
***
Myungsoo sedang membaca berkas keuangannya ketika pintu ruangannya di ketuk, dan Daniel keluar dari baliknya. Tangannya bergerak menutup lembaran kertas itu dan menyusunnya diatas berkas lainnya yang ditumpuk diatas meja kerja pria itu.
"Ada masalah? Kenapa wajahmu seperti itu, Daniel?" Tanya Myungsoo sambil melepas kacamatanya, lantas menaruhnya kembali ke dalam kotak.
"Kurasa anda hari ini menjadi topik hangat dikalangan karyawan-karyawan KIM Corp."
Myungsoo tersenyum kecil, "Pantas saja telingaku gatal-gatal sejak tadi."
Daniel menghela napas sekali lagi. Dia benar-benar tidak percaya jika tuan-nya bisa berubah drastis hanya karena satu jawaban dari perempuan. Daniel mendesah, jika karyawan-karyawan disini menyadari keanehan Myungsoo baru tadi pagi, Daniel sudah menyadarinya sejak kepulangan mereka dari Singapore kemarin.
Keduanya, pergi menyambangi Singapore untuk melihat dimana investasi mereka akan di letakkan. Penerbangan pulang ke Seoul yang harusnya dilakukan pada malam hari nya, terpaksa batal atas permintaan Myungsoo. Bos nya itu meminta supaya mereka melakukan penerbangan pada malam keesokannya--yang berarti kemarin--dan menyuruh Daniel untuk tinggal di hotel yang mereka sambangi, sedangkan Myungsoo pamit untuk menemui Suzy.
Tentu saja Daniel mengetahui siapa Suzy. Menurut cerita sepupunya--Kang Minhyuk--cerita kedua orang itu begitu fenomenal. Diceritakan bahwa mereka adalah sepasang sahabat sejak kecil, yang kemudian terpisah karena suatu kejadian internal. Meskipun cerita itu hanya garis besarnya saja, namun Daniel bisa menangkap kalau Bos-nya itu memiliki rasa lebih dari seorang sahabt kepada perempuan itu. Praduga Daniel semakin di perkuat ketika mengetahui bahwa Myungsoo dan Rose tidak tidur bersama. Karena itulah, selain sebagai asisten pribadi, Daniel juga merangkap sebagai teman Myungsoo sejak saat itu.
"Apa kau sudah mencarikan model undangannya?" Pertanyaan Myungsoo membawa Daniel kembali ke dunia nyata.
Dengan gerakan teratur, Daniel kemudian memberikan tab yang sejak tadi dipegangnya kepada Myungsoo. "Beberapa desain sudah kupilihkan. Rekomendasi langsung dari temanku si Wu di Singapore."
Myungsoo mengamati beberapa desain-desain calon undangannya nanti dengan puas, "Kirimkan ke alamat surelku, Aku akan menyuruh perempuanku untuk memilih kesukaannya."
"Baik, segera saya kirimkan."
***
Mine:
Suzy masih mengerutkan dahinya, saat layar ponselnya berubah dan Id caller Myungsoo menari-nari disana. Dengan cepat, Suzy langsung melepaskan sheet mask yang baru tiga menit di gunakannya, membuangnya ke tempat sampah. Lalu mengangkat panggilan video itu.
"Yya, kenapa kau menelponku terus lah?!" Suzy berteriak kesal ketika wajah Myungsoo sudah memenuhi layar ponselnya.
Sedangkan yang di maki, malah mengeluarkan seringaian menyebalkan disana. Myungsoo membenarkan posisi duduknya, punggungnya menyandar pada kepala ranjang berukir dari kayu jati, sedangkan ponselnya di letakkan pada stand holder ponsel. "Apa kau sudah melihat pesan yang kukirimkan? Itu beberapa contoh desain undangan. Kau pilih saja ingin yang bagaimana..."
Suzy mengangguk-angguk malas. "Kenapa juga tidak kau yang memilih? Jelas sekali kau yang lebih berpengalaman."
"Dulu semua yang mengatur adalah keluargaku dan keluarga Rose. Aku sama sekali tidak ikut campur." Myungsoo berujar dingin.
Membuat Suzy bungkam tidak jadi meledek pria itu.
Myungsoo menarik napas, "Lalu, kenapa kau tidak membalasnya?"
"Yya, apa kau di Seoul benar-benar mengurusi perusahaan, atau kau sebenarnya menganggur?"
"Kenapa?"
"Kau selalu mengirimiku pesan sepanjang hari. Yang mana, aku saja tidak sempat bermain ponsel ketika sudah di kantor."
"Apa gunanya memiliki banyak karyawan, tapi kau masih terkukung," Myungsoo menyeringai, "Ternyata kau masih bodoh seperti dulu."
Suzy mendesis, menunjukkan kepalan tangannya kedepan layar ponsel dengan ekspresi marah. "Yya, kalau kau disini aku pasti sudah menghabisimu."
"Aku tidak sabar untuk kau 'habisi', Suzy."
Wajah Suzy langsung memerah. Melihat itu, mau tak mau Myungsoo tertawa lebar disana.
"Kau menggodaku?! Aish, keu--"
Suzy menoleh kearah pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka dan menampilkan wajah Jungkook di baliknya. Senyuman lebar Jungkook tercetak diwajah tampannya, kemudian tanpa di nyana pria itu sudah berjalan mendekat dan memeluk Suzy hingga membuat Suzy terjatuh diatas ranjangnya dengan Jungkook menimpah perempuan itu.
Koneksi yang masih terhubung pada panggilan video itu tentu saja membantu Myungsoo mengetahui apa yang sedang terjadi di Singapore. Tubuh santainya langsung bangkit, sedangkan alarm siaga langsung dibunyikan.
Myungsoo menyambar ponselnya, "Sialan, Jungkook!"
Seruan Myungsoo tak ayal membuat pelukan Jungkook mengendur. Wajah tampan itu kemudian melirik benda elektronik di genggaman Suzy, lalu menyadari asal muasal suara itu datang. Jungkook mengambil tempat di sebelah Suzy dan menyerobot ponsel itu dari tangan Suzy, mensejajarkan nya dengan wajahnya kemudian menyapa, "Myungsoo? Hai!"
"Kau tidak tahu kalau kau sudah berhubungan kembali dengan sahabatmu ini, Zy..." Kepala Jungkook memiring menatap Suzy.
Suzy meringis. Melalui ekor mata, Suzy bisa melihat wajah Myungsoo yang marah di layar ponselnya. Kemudian berheham, "Kemarikan ponselku."
"Dia calon istriku, jadi lebih baik kau jaga sikapmu dari sekarang."
"Benar, Zy?" Jungkook kembali menoleh.
"M-mm,"
"Astaga, kau jahat sekali, Suzy." Jungkook berdecak tak percaya.
"Kenapa Aku?"
"Aku melamarmu berulang kali, kau tolak. Sedangkan laki-laki ini," Jungkook melirik ke layar ponsel, "Kau langsung menerimanya."
Suzy memutar bola matanya. Disambarnya kembali ponsel itu dari tangan Jungkook. "Kau melamarku tiap kali kau memiliki skandal dengan model-model di Rusia itu, kau pikir aku tamengmu?" Suzy menggerutu.
Jungkook tertawa. Ia sama sekali tidak membantahnya karena memang begitu adanya. Jungkook, jabatan playboy itu masih melekat di dalam dirinya. Beberapa skandal yang melibatkan pria itu dengan model kenamaan di Rusia.
Matanya memerhatikan Myungsoo di layar ponsel itu, dan mau tak mau mengakuinya. Tatapan itu--yang walaupun semarah atau sekesal apapun pria itu--adalah tatapan yang sama seperti yang dulu dilihat Jungkook, tatapan yang sama tiap kali manik mata Myungsoo melihat Suzy.
"Hei, kau harus sering kesini, Myungsoo," ucap Jungkook. "Banyak sekali orang-orang kaya raya disini yang mengincar Suzy sebagai menantu mereka."
"Yya, Jungkook." Suzy menggerutu karena Jungkook asal bicara seperti itu. Diliriknya Myungsoo yang hendak kembali ingin angkat bicara, lalu buru-buru diselanya, "Keuno."
Dan panggilan itu terputus.
"Wah, kau masih galak saja. Untung aku tidak jadi menikahimu, Suzy." Jungkook terkikik. Merentangkan kedua tangannya, kemudian menjatuhkan tubuhnya pada ranjang empuk Suzy.
"Menyingkir dari kamarku, hei! Kenapa kau tidak kerumah Gin saja, sih?" Suzy menarik Jungkook hingga pria itu terbangun kembali. Di tatapnya Jungkook dengan wajah kesal, Suzy tidak pernah membiarkan siapapun meniduri ranjangnya. Karena baginya, setampan dan secantik apapun seseorang tidak akan membuat bakteri enggan singgah. Ew.
Pertanyaannya; kenapa ia membiarkan Myungsoo tidur dan bermain di ranjangnya sejak dulu?
"Nah, lihat!" Jungkook menunjuk kearah wajah Suzy, "Wajahmu memerah lagi. Aigoo, aku tidak pernah melihat seorang Bae Suzy berekspresi seperti ini. Wow!"
"Get off!" Teriak Suzy ketika menyadari kalau dia tertangkap basah. Dengan paksaan, Suzy langsung menarik Jungkook keluar kamarnya. "Jika kau tidak pergi sampai besok pagi, aku akan menarik biaya sewa menginap permalam di apartemenku yang mewah ini." Suzy kemudian membanting pintu kamarnya dan menguncinya.
Jungkook menepuk-nepuk bokongnya yang terkena lantai marmer akibat ulah Suzy yang mengusirnya seperti seonggok kotoran itu. Lalu berdecak, "Aish, si jahat itu. Aku heran kenapa anakku sangat menyukainya..."
***
"Ayah!"
Lani berseru gembira ketika memasuki apartemen Suzy dan mendapati Jungkook berada disana. Kaki mungil itu berlari mendekat kearahnya, kemudian tangan-tangan kecil Lani merengkuhnya dalam pelukan.
"Anakku sudah besar dan semakin cantik saja." Jungkook mencium Lani. Kemudian, kedua matanya memandang ke arah Gin yang berdiri tak jauh dari mereka. Kedua tangan Gin memegang tas berwarna merah muda, dan boneka kecil serupa kelinci milik Lani. "Apa Lani sekolah dengan baik, Gin?"
"Ya." Gin mengangguk. "Hanya saja sedikit masalah di hari pertama karena nona Suzy tidak mengantarnya hingga membuat Lani--"
"Gin, kita sudah berjanji untuk tidak membahasnya," Lani menoleh, mata bulatnya menatap pria berumur itu dengan pandangan sebal. "Nanti Ayah tidak jadi membelikanku mainan baru..."
Jungkook tertawa. "Ayah sudah membawakan mainan baru untukmu, Lani bisa ambil disana." Tunjuk Jungkook ke paperbag yang diletakkan pada satu meja tunggal didekat piano.
"Yeay! Thank you, Ayah!" Lani mencium Jungkook, kemudian berlari menyambangi mainan barunya.
Kedua pria berbeda usia itu sama-sama menyunggingkan senyum tanpa sadar ketika melihatnya. Jungkook lebih dulu memalingkan pandangannya kembali menatap Gin, "Jadi, kenapa Lani sampai tidak sekolah?"
"Dia ingin aku mengantarnya. Tapi, ada meeting di kantorku pagi itu." Suzy menjawab pertanyaan Jungkook. Dibalut dengan kaos loose berlengan pendek, tubuh ramping Suzy berjalan mendekat ke sofa, lalu mendudukkan dirinya di salah satu sofa kosong. "Dia malu jika nanti teman-temannya menanyakan dimana orangtua nya."
Ucapan Suzy tiba-tiba membuat Jungkook tercenung. Seperti meteor jatuh ke bumi, Jungkook merasakan dadanya sesak. Pandangannya buram, menatap kearah sang anak yang kini sibuk membuka kotak mainan barunya dengan senyuman merekah-rekah. Satu hal yang luput dari pemikiran egoisnya dari dulu sampai malam ini...
Bahwa Lani juga memiliki hati.
Dibalut dengan keegoisan demi karir dan eksistensinya di Rusia, Jungkook dengan egois membawa Lani ke Singapore dan hidup bersama orang lain. Bahkan, keluarganya sendiri pun tidak mengetahui keberadaan Lani. Tidak ada yang mengetahuinya sampai detik ini. Jika Lani bertanya prihal kakek dan neneknya, Jungkook selalu mengalihkan pembicaraan. Hanya Song-yi dan Kim Jo In yang diketahui Lani sebagai Kakek dan Nenek.
Sejatinya, uang bukanlah segala-galanya untuk anak seusia Lani. Perhatianlah yang terpenting.
"Aku akan membawa Lani ke Rusia," Jungkook memejamkan matanya. Situasi serta kalimat yang tidak pernah dibayangkan akan terjadi dan keluar dari mulutnya. "Aku akan memperkenalkannya kepada Ayah dan Ibuku."
"Apa? Kenapa tiba-tiba?" Suzy menegakkan tubuhnya. Sikapnya berubah kaku mendengar kalimat Jungkook yang tak di sangkanya. Pun, dengan Gin yang sejak tadi berdiri di dekat mereka.
"Apa yang terjadi, Tuan Jungkook?"
Jungkook tersenyum. "Setidaknya, aku ingin Lani tumbuh seperti Suzy, yang disayang oleh Kakek dan Neneknya."
Suzy tercenung. Kemudian menghela napas, "Seorang yang harusnya memberikan kasih sayang itu adalah Kau dan Ibunya, Jungkook. Aku tidak ingin Lani tumbuh sepertiku, aku senang disayang Nenek dan Kakek. Tapi ketahuilah, Ayah adalah cinta pertama setiap anak perempuannya. Dan Ibu, adalah penggambaran nyata dari sosok malaikat baik." Kedua mata Suzy berair, satu senyuman masam lolos dari bibirnya, "Makanya, aku mencoba memberikan perhatianku untuk Lani sebisa mungkin, aku hanya tidak ingin dia menjadi sepertiku kelak."
"Zy..."
"Tapi, dia tidak akan sepertiku, karena Lani memiliki ayah yang sayang dengannya," Suzy menyunggingkan senyuman, "Ide yang bagus jika kau akan mulai jujur dengan keluargamu. Aku yakin Lani akan dicintai oleh Kakek dan Neneknya. Dia adalah gadis yang menggemaskan. Benarkan, Gin?"
Gin mengangguk, "Anda benar, nona."
***
Sun, 02/06/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co