Truyen3h.Co

Feudatory

33

authoriya

"Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus kembali ke Seoul untuk acara pesta lajangku!"

Suzy mengernyit dan spontan menjauhkan gawainya dari telinga kiri, ketika suara Soojung satu oktaf lebih tinggi terdengar lewat sambungan telpon mereka.

"Tidak bisa, kurang semalam sebelum pesta lajangmu itu, aku akan launching produk baru perusahaan. Jadi aku tidak--"

"Oke baik, jadi sebatas ini saja persahabatan kita, Suzy? Jeongmalyo?" Soojung bicara dengan nada terluka yang tak di tutup-tutupinya.

"Bukan begitu--"

"Aku bahkan selalu mengunjungimu tiap bulan sejak tujuh tahun yang lalu."

"Kau kan sekalian belanja." Suzy mencibir.

"Jadi, cukup sampai sini saja benar persahabatan kita?" Lagi-lagi Soojung mengeluarkan jurus andalannya.

Haiyah! Dasar perempuan drama! Suzy menggerutu sebal. Dihelanya napas sekali lagi, kemudian mengangguk pasrah, "Baiklah, baiklah! Dasar tukang drama!"

"I wufff youuu, my lavv..."

"Yeah, me loves me too."

"Myungsoo akan menyusulmu lusa malam, katanya."

"What?!" Suzy berteriak, "Aku bisa ke Seoul sendiri." Jawab Suzy.

"Yya, katanya dia bisa kesini sendiri."

Suzy mengernyit, mendengar suara Soojung yang seperti sedang berbicara dengan seseorang di dekat perempuan itu. Kemudian, rasa penasarannya terjawab ketika mendengar suara Myungsoo samar-samar di ujung sambungan.

"Kau sedang bersama Myungsoo--yya, Jungkook, jangan cium-cium aku!" Kalimat Suzy untuk Soojung terpotong ketika satu kecupan mendarat tanpa aba-aba di pipi kirinya.

Jungkook tertawa. "Cepatlah, Lani sudah menunggumu," Ujarnya. Lalu melirik gawai di telinga Suzy dan berbicara kembali tanpa suara, "Myungsoo?"

"Bukan. Keluar sana! Sebentar lagi aku menyusul." Suzy praktis mendorong Jungkook keluar pintu kamarnya.

"Mwoya?! Kau sedang berbuat apa dengan Jungkook? Kenapa dia menciummu?! Yya-- Myungsoo kenapa kau mengambil ponselku!" Suara teriakan Soojung semakin mengecil seiring dengan suara bass berganti setelahnya.

"Kenapa pria itu menciummu?!"

"Jangan berteriak padaku!" Suzy mengerutkan alis, kekesalannya membuncah ketika mendengar suara Myungsoo dua oktaf lebih tinggi dari biasanya.

"Maaf," Myungsoo menghela napas, "Aku akan ke Singapore sekarang. Ini tidak bisa di biarkan."

"Yya, Kim Myung--"

Dan sambungan terputus.

Suzy praktis menjauhkan gawainya dari telinga, pandangannya menatap sebal ketika Myungsoo memutuskan panggilan itu secara mendadak. Menghentakkan satu kakinya dengan kesal, lalu segera berjalan keluar dari kamarnya.

"Kim sialan! Kubatalkan untuk menikah dengannya baru tahu rasa dia !" Gerutunya sambil menutup daun pintu kamar itu dengan kencang.

***



Memilih Universal Studio sebagai tempat menghabiskan akhir pekan adalah hal yang benar-benar salah. Suzy mengerutkan keningnya dalam-dalam, wajahnya memerah karena kepanasan, Aviator metal sunglasses yang semula bertengger manis di tulang hidung itu kini berpindah ke atas kepala. Diselipkan diantara rambut-rambut yang bergelung asal. Dengan pakaian ready to wear hingga kebawah bermerek sama, Suzy nampak seperti seorang model yang ingin melaksanakan pemotretan guna produk musim terbaru. Pandangan bosan mulai di keluarkan Suzy ketika merasa bahwa antrean mereka jalan di tempat sejak sepuluh menit yang lalu. Suzy menunduk, memandang Lani yang berada di sebelahnya dengan tangan gadis kecil itu yang memegang ujung dress nya. Bisa di lihat bahwa Lani nampak sangat antusias untuk menaiki wahana pertama mereka Puss in Boots--yang menurutnya tidak seru sekali--sedangkan Jungkook? Suzy mendengus, mencari keberadaan laki-laki itu di tempat seramai ini benar-benar tidak berguna. Tidak, siapa pula yang mempunyai ide pergi ke USS di hari weekend seperti ini? Seharusnya, Suzy pergi ke salon langganannya dan mempercantik diri. Astaga, Jungkook sialan!

"Ayahmu benar-benar tidak bertanggung jawab ya, Lani." Suzy memutar bola mata, memandangi antrean panjang yang mayoritasnya adalah Ibu-ibu lokal cina beserta anak mereka, dan beberapa perempuan Indonesia dengan gaya sosialita. Mau tak mau melihatnya membuat Suzy tanpa sadar mendengus. Dalam hati nya sibuk mengumpati barang-barang bermerek yang di pakai perempuan itu yang merupakan barang edisi musim kemarin.

"Dasar ketinggalan jaman!" Ucap Suzy sinis.

Begitulah, sejatinya perempuan akan selalu saling mengamati antar perempuan lainnya, bukan? Apalagi, jika yang di amati juga berasal dari kalangan yang sama dengan mereka...

"Mommy sedang mengumpati siapa?" Tanya Lani mendongak, menatap Suzy yang menjulang tinggi diatasnya. Kemudian, mengikuti arah pandang Suzy dan menemukan satu perempuan Indonesia yang memakai tas yang sama dengan tas yang pernah di lihat Lani dipakai oleh Suzy, "Bukankah tas Bibi itu sama seperti milik Mommy?"

"Benar. Bagaimana menurut Lani," Suzy menundukkan kepala, "Cantik Mommy yang mengenakannya, atau Bibi itu?"

"Tentu saja kau. Barang bekas sekalipun, jika seorang Suzy yang memakainya akan terlihat sedap dipandang," Satu suara dari arah belakang mereka sontak membuat Suzy dan Lani menoleh. Dua langkah di belakang mereka, ada Jungkook yang memamerkan sederet gigi nya dengan kedua cup eskrim ditangannya. Pria itu lantas berjalan, menuju dua perempuan cantiknya. "Ini, dua eskrim coklat untuk dua perempuan pencinta coklat." Kata Jungkook seraya memberikan cup eskrim itu kepada Suzy dan Lani secara bersamaan.

"Terima kasih, Ayah!" Lani bersorak gembira. Menggunakan tangan mungilnya, ia menyambut cup eskrim yang diberikan Jungkook.

"Kau?" Jungkook menggoyangkan cup eskrim kepada Suzy.

Suzy menggeleng, kemudian berbicara menggunakan bahasa korea, menyindir perempuan di depannya, "Bagaimana aku bisa makan eskrim dengan nyaman jika melihat baju perempuan di depanku basah karena keringat! Ew."

Kedua mata Jungkook praktis menoleh, kemudian tertawa. "Arraso, biar aku saja yang memakan ini."

Suzy mengibaskan tangan tak peduli.

***

"Oh my god, Paman tampan!"

Seruan Lani lantas membuat Suzy mebelalak kaget. Di lepasnya dengan segera sandalnya, kemudian berjalan tergopoh-gopoh masuk ke ruang utama Apartemennya.

"Kenapa paman kesini?" Tanya Lani, setelah berdiri di antara kedua kaki Myungsoo yang menekuk karena duduk, kepala mungil itu mendongak menampilkan senyuman manis khasnya.

"Paman mendengar Ayahmu menggoda calon istriku. Jadi, paman kemari untuk memastikannya," Myungsoo mengusap puncak kepala Lani, lalu melirik kearah belakang Suzy dan tidak mendapati siapa-siapa, "Dimana Ayahmu, Lani?"

"Ayah pulang ke hotel, sementara Lani menginap bersama Mommy sampai Gin menyusul untuk pulang ke rumahnya," Lani kemudian memiringkan kepala, menatap Suzy dengan cemberut, "Lani tidak mau di tempat Gin lagi, Mommy."

"Kenapa?" Suzy bertanya dengan lembut. Perempuan itu mencoba mengabaikan Myungsoo agar emosinya tak menyulut. Mengambil tempat di sofa kosong, Suzy lantas duduk nyaman sambil menaruh tas brandednya di atas meja.

"Paman tampan disini, kata Ayah sementara paman tampan datang, Lani harus mengawasi supaya paman tampan tidak memesumi Mommy," Lani mengerutkan kening, "Tapi, memesumi itu apa ya?"

"Wah, bahkan anak bayi saja tahu kalau kau suka memesumiku dengan semena-mena," Suzy terkekeh mengejek, lantas melirik Myungsoo yang kini menatap gadis kecil di depannya dengan pandangan tak percaya. "Good, kalau begitu, Lani ke kamar dan ganti pakaian mandi, nanti Mommy temani Lani mandi. Okay?"

"Aku ingin paman tampan yang memandikanku, Mommyyy..."

"Aku senang memandikan Mommymu." Jawab Myungsoo asal.

"Yya!" Suzy segera berdiri, menarik Lani menuju kamarnya, dengan sebelumnya memberikan tatapan jijik andalannya kepada Myungsoo yang terkekeh menatapnya.

Suzy dan emosinya adalah perpaduan yang menyenangkan... Batin Myungsoo. Tangannya langsung melesat mengambil remot tv kabel di atas meja dan menyalakan tv berukuran besar itu dengan senyuman yang tak juga luput di wajahnya.

***



Sementara dua perempuan itu membersihkan diri, Myungsoo berdiri. Kakinya melangkah menuju bagian dapur dengan ornamen mewah yang tak sempat di lihatnya dengan serius saat pertama kali kesini. Myungsoo membuka kulkas dengan sistem android dua pintu di depannya, kedua manik matanya langsung mengamati isi dalamnya.

Sayuran layu, daging beku yang kini di selimuti es tebal, buah-buahan yang nampak hampir membeku juga, minuman dingin, soda, segala bentuk bawang, telur ayam, minyak wijen, kecap, saus, bumbu jadi, dan beberapa yang tidak bisa di sebutkan Myungsoo karena mereknya sudah terlepas dari botol wadahnya.

"Apakah dia makan dengan baik selama ini?" Myungsoo mengerut, ketika matanya menatap beberapa bungkus mie yang berada di tempat sampah samping kulkas besar itu. Lalu, kembali memandangi isi kulkas Suzy dan memutuskan untuk mengambil dua bungkus daging frozen itu, juga beberapa bumbu pendukung lainnya.

Myungsoo mengambil mangkuk, mengisinya dengan air panas guna merendam daging yang sudah begitu beku itu agar bisa di olah kembali. Selagi menunggu itu, Myungsoo memakai apron abu-abu milik Suzy, lalu mulai menyiapkan bumbu-bumbu guna mengolah daging itu menjadi sepiring bulgogi yang lezat.

Setelah hampir tujuh tahun tidak memasak lagi--memilih membeli makanan siap saji untuk mengganjal perutnya--akhirnya, malam ini, dengan sisa-sisa jetlag yang masih tersisa, Myungsoo mulai mengayunkan spatula kembali. Tidak disangka, kemampuan memasaknya masih hebat walaupun sudah jarang di asah lagi. Sepeninggal Suzy, segalanya berubah di hidup Myungsoo. Pria itu mulai meninggalkan kebiasaannya memasak--karena biasanya ia memasak untuk Suzy jika perempuan itu menginap di apartemennya dulu--juga kebiasaannya bermain voli--karena dulu Myungsoo melakukan itu sembari membunuh waktu ketika Suzy ada kelas sore yang berbeda dengannya--yang malah membawanya menjadi tim inti di klub bola voli itu, bersama Minhyuk.

Myungsoo sedang fokus dengan masakannya hingga tak menyadari kalau Suzy sudah berada di belakangnya dengan piyama tidur satin berwarna merah muda. Yang kini menatap Myungsoo tanpa mengedip.

Suzy menelan saliva, pikirannya sibuk bersautan membodohi dirinya karena tidak menyadari sejak dulu kalau Myungsoo memiliki tubuh yang keren dan paras rupawan yang kini terbalut apron miliknya. Mungkin Suzy sudah gila, namun kenapa apron itu nampak indah ketika Myungsoo yang memakainya?

"Sialan, kenapa aku jadi deg-degan begini," suzy menggerutu ketika melihat otot-otot tangan Myungsoo yang secara cekatan sedang plating. Jemari-jemari itu dengan handal memberikan hiasan beruba daun bawang diatas bulgogi yang telah matang.

"Suzy?" Teguran Myungsoo berhasil mengeluarkan Suzy dari lamunannya, Suzy mengedip, menunjukkan ekspresi bodoh yang tak di sadarinya. "Eh--aku..." Ucap Suzy kikuk sambil menggaruk kepalanya yang bahkan tak gatal.

"Kemarilah. Aku selesai menyiapkan makan malam untukmu dan Lani. Dimana, Lani?"

"Umm, tidur." Suzy menggaruk kepalanya. Sialan, kenapa jadi canggung begini? Padahal dia tadi saja tidak terciduk sedang menatap Myungsoo. Ugh!

Suzy berdeham sekali. Kemudian melangkah mendekat ke meja bar di dapurnya, "Kau masak apa?"

"Bulgogi." Myungsoo menyerahkan piring berisi nasi putih kepada Suzy.

"Aku tidak ingat terkhir kali memakan nasi," Suzy mengerutkan keningnya, "Semoga lambungku tidak kaget."

"Kubilang supaya kau menjaga kesehatanmu. Kau selalu saja tak peduli dan memilih makan fast food dan junk food."

"Kau tahu pasti kalau aku benci memasak," Suzy mendengus. Mulai memasukkan bulgogi-nya ke dalam mulut. "dan makanan di Singapore sama sehatnya dengan di Korea. Tenang saja."

Alasan satu-satunya mengapa peralatan di dapur apartemennya ini lengkap adalah karena Bibi yang suka membersihkan apartemennya lah yang menyuplai semua nya, menggantinya ketika produk-produk itu mulai membusuk dan kadaluarsa.

"Kau memang di takdirkan Tuhan untuk tidak jauh dariku, Suzy," Myungsoo melipat tangannya di atas meja, memerhatikan perempuan di depannya yang sedang makan dengan lahapnya. Mengelap sudut bibir Suzy yang terkena kecap menggunakan jempolnya dengan lembut."Aku selalu ingin melakukan hal ini sejak dulu."

Perkataan Myungsoo yang praktis membuat Suzy tersedak. Di raihnya gelas berisi air mineral dengan cepat.

Aku kenapa? Kenapa lagi-lagi merasa canggung seperti ini, padahal dulu mantan-mantanku sering melakukan hal ini padaku, dan aku tidak pernah seperti ini! Aish!

Suzy cemberut, mendorong piringnya ke depan.

"Kau baru tiga sendok, kenapa sudah selesai?" Myungsoo mengerutkan kening. Tubuhnya condong ke depan menatap Suzy yang malah memelototinya.

"Jangan perlakukan aku seperti tadi! Kau membuatku tidak mengenal diriku."

"Apa maksudmu?" Myungsoo menaikkan kedua alisnya.

"Aish, nan molla!" Suzy mendesah. Melompat dari atas kursinya kemudian melenggang pergi dari dapurnya.

Sedangkan yang ditinggalkan, nampak tersenyum. Memandangi punggung yang semakin menjauh itu. Percaya atau tidak, Myungsoo kini sedang berada di jalan untuk menaklukan hati perempuan itu. Karenanya, sebelum daun pintu itu menghilangkan Suzy dari pandangannya, Myungsoo segera melesat dan menarik Suzy hingga daun pintu itu kembali menutup. Menghentakkan punggung Suzy hingga menyentuh daun pintu di belakangnya.

Myungsoo membawa kedua tangannya menyentuh pipi Suzy, menyatukan pelipis mereka berdua, "Aku mencintaimu."

Suzy tenggelam ke dalam bola mata hitam legam milik Myungsoo, kedua matanya berubah sendu, Suzy tidak tahu apakah yang dirasakannya kali ini berupa cinta, atau bukan. Namun satu hal yang pasti,

"Aku menyayangimu..." Ucapnya sehalus angin, kemudian membawa kedua tangannya merengkuh punggung pria itu, menenggelamkan diri di dalam pelukannya.


***

Monday, 03/06/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co