5
"Yya, Yya, Yya!" Tangan Suzy bergerak memukul secara membabi buta kearah Myungsoo ketika dia sepenuhnya tersadar tentang apa yang terjadi beberapa detik sebelumnya.
"Hei, Suzy! Aw!" Myungsoo mencoba mengelak segala bentuk pukulan yang diberikan Suzy kepadanya dengan cara menangkis atau melindungi tubuhnya dengan kedua tangan.
Ciuman tadi terjadi bahkan hanya dalam kurun waktu satu menit saja. Tapi, gemuruh dari dada nya masih terasa sampai sekarang. Myungsoo tidak akan menyesali ciuman itu, karena mulut Suzy patut dibungkam dengan cara seperti itu. Namun, yang jadi permasalahannya adalah dia tidak sampai berpikir sejauh ini kalau Suzy akan bereaksi sebegininya. Harus diakui Myungsoo ini memang ciuman pertamanya, tapi tidak untuk Suzy. Myungsoo tahu kalau ciuman pertama Suzy diambil oleh pacar pertamanya saat sekolah dulu. Yang sekarang sudah pindah dan menetap di Spanyol, dengar-dengar.
"Kenapa kau menciumku?! Yya, kau mau mati ya?!" Suzy masih terus mengarahkan tangannya untuk memukul Myungsoo. Tubuhnya masih dalam pangkuan pria yang menjadi sahabatnya itu, dengan jantung yang berdegup gelisah akibat ciuman Myungsoo padanya. Sesaat tadi, Suzy merasakan kalau dia mengalami kelumpuhan otak karena dia sama sekali tidak bisa bereaksi apa-apa.
"Suzy berhenti memukulku. Hei!"
"Kenapa kau menciumku?!"
"Kau tidak percaya kalau aku bisa berciuman."
Tangan Suzy berhenti diudara, kedua manik matanya memandang dengan kejengkelan yang teramat dalam kepada pria yang kini menatapnya dengan tatapan inosen. Dengan jarak sedekat ini, Suzy baru menyadari kalau teman kecilnya ini tubuh menjadi pria yang hebat. Myungsoo tampan dan... Dan kenapa dia baru menyadari kalau Myungsoo itu tampan?
"Suzy?"
Suzy menggeleng pelan, menghapus apapun yang kini bersliweran dibenaknya, kemudian bangkit berdiri, tangannya bergerak memukul sisi samping wajah Myungsoo dengan kesal, "Kau tidak harus membuktikannya padaku." Kemudian ia berdeham pelan, "Aku kan hanya bertanya."
"Iya, aku tidak akan mengulanginya lagi." Myungsoo ikut berdiri, membawa buku bacaannya tadi dan berjalan menuju rak buku di ujung ruangan.
"Mwo?"
Myungsoo menoleh sambil mengangkat alisnya, "Kau mau aku mengulanginya?"
Seolah tersadar atas responnya barusan, Suzy langsung membenarkan kalimatnya, "A-aniyo. Maksudku bukan seperti itu tapi...," Suzy memikirkan kalimat apa yang pas untuk menyelesaikan jawabannya. Namun, dia sama sekali tidak menemukannya. "Aish! Antar aku pulang!"
"Katamu mau menginap disini?"
"Tidak jadi!"
Myungsoo menatap Suzy yang sudah berjalan dengan menenteng tas bahu nya keluar kamar dengan tatapan heran,
"Mwoya, mood nya selalu berubah-ubah setiap menit." Seulas senyuman kecil muncul di wajahnya.
***
Mulut Soojung bergerak aktraktif tanpa sepatah kalimat pun masuk kedalam otak Suzy. Ia sedang mengambil buku di lokernya diiringi dengan ocehan Soojung mengenai Minhyuk yang tidak menepati janji untuk pergi menonton bersama karena Minhyuk ketiduran.
Soojung berlebihan dan penuh drama jika itu menyangkut Minhyuk. Bahkan, untuk hal yang menurut Suzy biasa saja, Soojung bisa dengan hebohnya berfikir sampai kepala pusing dan berakhir dengan omelan-omelannya yang juga membuat kepala pusing.
Suzy berhenti mencari-cari buku di dalam lokernya ketika dia tak mendengar suara-suara cempreng milik Soojung terdengar. Dengan menaikkan alisnya, Suzy menoleh kesisi kanan. "Kau kerasukan?" Tanya Suzy dengan kening berkerut. Satu tangannya ia bawa untuk dilambai-lambaikan tepat didepan wajah Soojung.
Soojung menggeleng, "Oh my god! Triple oh my god!" Pekiknya tertahan.
"Oh, Soojung, kau kenapa?"
"Sial. Melihatnya secara langsung membuatku menyesali menerima Kang Minhyuk sebagai pacar." Gumam Soojung. Matanya tak beralih menatap kebelakang Suzy.
"Ha?"
"Pangeran itu sekarang berdiri tepat dibelakangmu, Suzy! Oh my god!" Bersamaan dengan Soojung yang berseru tertahan, Suzy merasakan bulu kuduknya meremang saat menyadari kalau ada seseorang dibelakangnya.
"Suzy."
Dengan sedikit keraguan, Suzy menoleh. Yang kemudian mendapati dua mata penuh semangat sedang menatapnya. Plus, senyuman yang juga penuh semangat itu.
Untuk sesaat yang di lakukan Suzy tak jauh berbeda dari apa yang dilakukan Soojung. Namun, Suzy lebih bisa mengendalikan diri lagi pada detik berikutnya. Oke, baiklah, di universitas ini siapa yang tak kenal Jungkook?
Seluruh kaum hawa di Jurusan mereka sangat memuja Jungkook dengan sepenuh hati. Bahkan, lebih dari itu. Mereka bahkan rela menyerahkan kevirginan mereka hanya agar bisa berkencan dengan Jungkook seharian. Suzy sudah pernah melihat Jungkook sebelumnya, tetapi hanya di lapangan volli saja. Tidak lebih.
Karena letak Jurusan pria didepannya ini dan Jurusan Suzy cukup jauh, dari ujung ke ujung. Bicara soal lapangan volli, kemarin saat pertandingan berlangsung Suzy sama sekali tidak melihat pria ini mewakili Jurusan Seni.
Suzy mendapati pria itu mengulurkan tangannya dan tersenyum, "Aku Jungkook, Jeon Jungkook."
Suzy masih belum menerima uluran tangan Jungkook sampai Soojung, yang berdiri disampingnya, terus menusuk-nusuk pinggulnya agar Suzy segera merespon uluran tangan itu. Dengan membalas senyuman Jungkook, Suzy menjawab "Aku... Suzy?" Pernyataan yang lebih terkesan seperti pertanyaan. Membuat Jungkook terkekeh pelan.
"Um, ya, kau Suzy." Jungkook mengacak rambut bagian belakangnya, lalu melirik kesebelah Suzy, "Oh, Hai Soojung!"
"Kau tumbuh dengan baik."
Suzy dan Jungkook lantas menoleh kearah Soojung dengan ekspresi berbeda. Jika Jungkook mengerut bingung atas apa yang dikatakan Soojung, lain halnya dengan Suzy yang memberikan tatapan jijiknya karena mengerti apa yang coba disampaikan Soojung barusan.
"Maksudmu?"
Terkesiap, Soojung buru-buru mengoreksi kalimatnya, "T-tidak. Aku bermaksud menanyakan kabarmu tadi."
"Oh," Jungkook kembali tersenyum, "Aku baik." Lanjutnya.
Suzy mumutar bola mata. Tipikal Soojung selalu saja menyerukan kalimat konyol kepada pria tampan. Kalimat yang bisa membuat pria-pria yang mendengarnya bisa saja salah paham dan mengira Soojung mesum dan nakal. Suzy menghela napas, lalu menutup pintu loker dan menguncinya.
"Ayo Soojung, kita bisa telat di perkuliahan Mr. Cha." Ajak Suzy sambil memasukkan kunci lokernya kedalam tas. Suzy mendongak untuk menemukan manik mata Jungkook, "Kau kesini mencari siapa?"
"Kau."
"Aku?" Suzy menunjuk dirinya sendiri.
Jungkook mengangguk, lalu menyodorkan dua buah undangan, "Aku ada acara di pub langgananmu dan Soojung. Aku ingin mengundang kalian untuk datang pada weekend nanti, kau mau?"
Suzy menatap undangan itu sesaat, lalu mengambilnya, "Baiklah."
Mendengar jawaban Suzy, Jungkook tersenyum lebar kemudian merogoh ponselnya dari kantung celana dan menyodorkannya kepada Suzy.
"Apa?" Tanya Suzy tidak mengerti.
"Bisa berikan aku nomormu?" Jungkook menaikkan bahu, "Aku sudah memintanya pada Soojung waktu itu, dan dia bilang aku harus usaha sendiri untuk mendapatkan nomormu."
Suzy tersenyum, "Jangan terburu-buru, Jungkook. Kau harus meminta padaku satu persatu, hari ini kau sudah memintaku untuk datang ke pestamu. Jadi..." Suzy maju selangkah, "Untuk meminta nomor ponselku kau harus menunggu hari lain." Kemudian mengelus bahu Jungkook dengan pelan. Kedua mata Suzy menatap Jungkook yang terdiam, kemudian kembali menyunggingkan senyumannya.
Suzy menoleh kearah Soojung perlahan, "Come on, Jung."
Meninggalkan Jungkook yang memandangi punggung itu dengan menyeringai. "Menarik sekali." Gumamnya, lalu ikut pergi dari sana.
***
"Why Suzy, why?" Kalimat yang terus-terusan diputar Soojung layaknya kaset rusak. Selama perkuliahan Mr. Cha tadi, Soojung sudah menahan diri sebisa mungkin untuk tidak berkomentar kepada Suzy demi kemaslahatan bersama. Dan sekarang, saatnya bagi Soojung untuk terus menyuarakan pertanyaannya kepada Suzy, yang sedang asik meminum minuman rasa coklat yang baru saja dibelikan Myungsoo untuk perempuan itu.
Suzy menyenderkan kepalanya ke bahu Myungsoo, melirik buku yang dibaca Myungsoo, buku yang sama dengan buku bacaan saat tragedi ciuman hari itu. Mengingatnya membuat pipi Suzy memerah dan ia jadi kesal sendiri karena bisa-bisanya Myungsoo mendistraksi alam pikirannya.
Ia menjauhkan kepalanya dari bahu Myungsoo sambil menaruh botol minuman coklatnya keatas meja dengan cara menyentak. Lalu menatap Soojung, "Yya, berhenti bertanya padaku!"
Soojung yang kaget, langsung beringsut kebelakang Minhyuk, "Mwoya... Kenapa kau jadi emosi begini..." Gerutunya.
Suzy mendengus, menoleh kesal kearah Myungsoo yang sepertinya sama sekali tidak kepikiran dengan ciuman mereka. Dan naasnya, Suzy malah mengingat setiap detil cara Myungsoo melumat bibirnya. Sial!
Dengan kasar, Suzy langsung meraih buku yang sedang dibaca Myungsoo dan menutupnya.
"Kau kenapa?" Myungsoo bertanya.
Suzy ingin meneriaki kekesalannya, tapi ada Soojung dan Minhyuk disana. Akhirnya Suzy mendesah, "Belikan aku tteokbokki!"
"Mana ada tteokbokki di kantin universitas."
Benar juga...
Suzy berdeham, lalu menempelkan tangan di bahu Myungsoo, "Maksudku nanti!"
"Mm, nanti kita akan ke kafe biasanya." Myungsoo menjawab malas. Baru saja dia hendak mengambil buku bacaannya kembali, dua orang dari arah depan berjalan mendekat di meja kantin itu dengan nampan ditangannya.
"Um, Suzy sunbae?"
Suzy, yang sedang menggerutu kecil dengan tangan berada di bahu Myungsoo, menoleh. Mendapati Rose dan temannya berdiri disana.
"Ya?"
"Boleh kami duduk disini? Tidak ada tempat yang kosong lagi..." Ucap Rose.
Suzy memandangi kesekeliling, mendengus pelan ketika melihat ada banyak meja kosong di ujung sana. Namun, untuk menjaga nama baiknya sebagai senior yang baik, Suzy mau tak mau tersenyum dan mengangguk, "Tentu. Ambilah tempat dimanapun yang kalian inginkan."
***
Sat 3/16/19
(pergantian tokoh Gikwang ke Jungkook)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co