Truyen3h.Co

Feudatory

6

authoriya


Myungsoo menghela napas berkali-kali ketika Suzy tak juga berhenti memasuki counter-counter baju, alat make up, sepatu, ataupun pernak-pernik yang menurutnya tidak penting itu. Bayangkan saja, kedua tangannya sudah penuh oleh paperbag belanjaan perempuan itu dan ini adalah counter ke sebelas yang mereka masuki. Myungsoo bergeming, tak mengikuti Suzy yang sudah masuk ke dalam counter pakaian dalam yang terkenal dengan model-model cantik dan seksinya itu.

Wajahnya kaku saat melihat sales counter yang tersenyum kearahnya. Jenis senyuman ramah bercampur geli--mungkin karena melihat laki-laki sepertinya hampir memasuki counter pakaian dalam dan membuatnya mendapat julukan mesum nantinya.

"Myungsoo, menurutmu--" Suzy menoleh, dan seketika kalimatnya berhenti saat menyadari Myungsoo tak ada di dekatnya. Kedua mata Suzy menoleh ke bagian luar, dan mengeluarkan dengusannya ketika mendapati laki-laki yang di carinya berdiri mematung di depan pintu masuk outlet. Setelah meletakkan kembali hanger satu set pakaian dalam itu ketempatnya semula, Suzy berjalan dengan kesal kearah luar.

"Ck, kenapa kau malah berdiri disini bukannya masuk? Aku kan butuh pendapatmu." Ucap Suzy dengan kesal, tanpa memerdulikan sales counter yang kini menatap mereka sambil senyum-senyum.

"Kau gila, menyuruhku masuk ke dalam toko pakaian dalam wanita?" Myungsoo menaikkan alis tak percaya, "Shireo."

Suzy terdiam, sedetik kemudian menampilkan ekspresi sedih bercampur mata yang berkaca-kaca dengan satu tangan memegang perutnya, "Kau tega anak kita nanti saat lahir suka mengeluarkan air liur karena ngidam Ibunya tak dituruti?"

Myungsoo sukses melongo bodoh, tidak mengerti kenapa Suzy tiba-tiba berkata seperti itu.

Suzy terisak, "Kau benar-benar tidak sayang lagi ya padaku? Hiks."

Wajah Myungsoo yang tambah terlihat seperti orang bodoh itu masih saja bingung akan apa yang di ucapkan Suzy sekarang. Lalu, kedua telinganya mendengar bisik-bisik dari sales counter itu yang seperti menyudutkannya. Myungsoo menatap Suzy sebal, yang dibalas Suzy dengan raut wajah kemenangan. Setelah itu, Myungsoo menarik napasnya lagi sebelum mengiyakan permintaan Suzy, "Baiklah, ppalli... Kakiku sudah pegal."

*

Rose sedang memerhatikan antrean kafe yang menjual berbagai jenis olahan coklat kesukaannya saat kedua matanya terpaku pada sosok yang tak asing baginya. Rose yakin jika sosok itu adalah sunbaenya di Universitas, walaupun sosok itu menghadap membelakanginya, tetapi postur tubuh itu masih sangat dikenalinya.

Kemudian, Rose berjalan dengan keraguan bercampur rasa senang karena tidak menyangka kalau dia bisa bertemu dengan sunbae yang di sukainya di pusat perbelanjaan seperti itu. Rose yakin kalau ini merupakan sebuah takdir.

Dengan senyuman tak lepas diwajahnya, Rose membawa kakinya berjalan mendekat ke sosok yang sedang mengantre di dalam kafe itu. Kedua tangannya bergerak merapihkan rambut dan skirt hitamnya.

"Myungsoo sunbae?" Tegur Rose sambil menepuk pelan bahu pria itu.

Myungsoo menoleh dan nampak terkejut saat melihat perempuan adik tingkatnya berada di belakangnya. "Rose?"

Rose tidak bisa menyembunyikan senyumannya kala mengetahui Myungsoo mengingat namanya.

"Sunbae suka ke kafe ini juga?"

Myungsoo tak yakin, namun mengangguk. Lalu bertanya kembali demi kesopanan, "Kau juga?"

"Mm," Rose mengangguk, "Aku juga menyukai cokelat. Kurasa kita memiliki kesamaan soal makanan."

Kesamaan makanan? Myungsoo sedikit tergelitik dalam hatinya. Namun, ia hanya membalas dengan seulas senyuman.

"Sunbae ingin memesan apa?" Tanya Rose saat melihat tinggal satu orang yang mengantre di depan Myungsoo.

Myungsoo menoleh, "Churros dan american latte."

"Oh! Kalau aku, coklat hangat..." Rose kembali berseru riang sambil mengatakan apa yang ingin dipesannya kepada Myungsoo.

Myungsoo hanya tersenyum menanggapi ucapan Rose, kemudian melangkahkan kakinya selangkah maju ketika orang yang sebelumnya mengantre selesai.

"Ada yang bisa kami bantu?" Sapa pelayan perempuan dengan ramah.

"Dua churros ukuran medium, satu american latte dan satu coklat hangat ukuran medium." Ucap Myungsoo.

Rose kembali tersenyum. Dirinya begitu senang saat mendengar Myungsoo yang juga memesankan menunya. Rose menyampirkan rambutnya kebelakang telinga ketika mendengar pelayan itu memberikan pesanan Myungsoo. Dia yakin kalau Myungsoo akan mengajaknya duduk bersama dan mengobrol untuk mengenal lebih dekat.

"Aku duluan ya." Myungsoo tersenyum, lalu berlalu mendahului Rose yang berdiri dengan tatapan terkejutnya.

"Dia tidak memesan itu untuku?" Gumamnya pelan.

"Nona, ingin pesan apa?" Suara pelayan perempuan itu terdengar kembali ketika melihat Rose hanya diam di tempat.

***

"Thankyou, my man." Suzy tersenyum semringah ketika Myungsoo meletakkan coklat hangat kesukaannya diatas meja dengan pipet yang sebelumnya sudah dipasangkan pada cup. Suzy mengaduk dengan gerakan pelan minuman favoritnya itu. "Kau harus banyak berterimakasih padaku, Myungsoo."

"Mengapa harus?" Myungsoo menaikkan alisnya. Mengambil satu churros dan mencelupkannya pada coklat leleh di dalam mangkuk kecil.

"Karena kau bergaul denganku, kau jadi bisa berlatih bagaimana cara memerlakukan calon kekasihmu nanti. Kau tahu, kau itu tampan dan pintar, tapi masalah cinta... kau benar-benar remedial."

Myungsoo tampak malas menanggapi dan memilih mengambil american latte-nya.

"Yya, kau sudah dengar soal--" ucapan Suzy terputus ketika kedua matanya melihat seseorang yang di kenalnya berjalan kearah meja nya.

"Suzy sunbae...," Rose menyapa.

Suzy tersenyum dengan paksa. "Kau disini juga?"

"Iya, boleh aku bergabung dengan kalian?"

Suzy melirik kantung-kantung belanjaannya yang tersusun rapi di atas dua kursi kosong yang terletak di antara Myungsoo dan dirinya.

"Tidak ada tempat lagi disini, lagipula akan sangat menyedihkan ketika kita duduk sendiri memakan di kafe..."

Suzy otomatis mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Terakhir kali perempuan ini mengatakan tidak ada tempat lagi, semua hanya sebuah kebohongan belaka dan Suzy tidak akan mau menerima kebohongan lagi. Pasalnya, ini bukan di wilayah kampus jadi walaupun dia bersikap kasar tidak akan ada yang melihat. Namun, sepertinya apa yang diucapkan Rose kali ini benar. Bahkan, Suzy juga baru menyadari kalau hari ini kafe benar-benar terlihat penuh. Di bagian indoor maupun outdoor.

Dengan terpaksa, Suzy mengambil beberapa paper bag di kursi sebelah dan menaruhnya ke bawah. Rose langsung memundurkan kursi itu menggunakan kakinya, namun keseimbangannya hilang sehingga membuat cup cokelat hangat di atas nampan yang ia pegang tergelincir dan jatuh tepat memasuki salah satu paper bag di bawahnya.

Suzy membelalakan mata, langsung mengambil paperbag itu dan membuang cup coklat yang terasa panas ditangannya dan melempar kasar. Lalu, kedua matanya terpaku pada dress musim panas yang baru ia beli tadi dengan wajah memerah menahan marah. Suzy mendongak, menatap Rose yang nampak terkejut. "Yya, apa yang kau perbuat?!" Teriak Suzy kesal. Membuat beberapa mata langsung menoleh ke arah meja mereka.

"M-maafkan aku... A-aku tidak sengaja, sunbae." Kedua mata Rose berair, menandakan kalau sebentar lagi deraian air mata akan keluar.

Suzy tersulut emosi. Seenaknya saja perempuan ini meminta maaf, apakah dia kira dengan meminta maaf semuanya selesai? Apakah dia kira dengan meminta maaf baju limited edition yang dibelinya ini akan bersih kembali?

"Yya, kau tahu aku rela berebut dengan cara berdesak-desakan dengan beberapa perempuan lain demi mendapatkan dress ini!?"

"Suzy, hentikan." Myungsoo menengahi. Mereka kini sepenuhnya menjadi pusat perhatian dan Myungsoo tidak ingin Suzy dinilai buruk dimata orang.

"YYA!" Suzy berteriak. Tangannya hendak menarik rambut Rose sebelum akhirnya terhenti karena Myungsoo menahannya.

"KUBILANG HENTIKAN, SUZY!"

Dua mata merah Suzy menatap Myungsoo dengan pandangan tak percaya. "Kau membelanya?"

Myungsoo menghela napas, "Aku tidak membelanya."

Suzy mengenggam tali paperbag nya dengan erat, lalu menarik tangannya pada genggaman Myungsoo. Ia terkekeh sinis, "Ya, kau membelanya."

Sambil menatap Myungsoo dengan pandangan tak terbaca, Suzy mengarahkan pandangannya pada perempuan yang kini menangis di sebelah Myungsoo dengan amarah. Ia mengambil paperbag dibawahnya dan di atas kursi serta clutch yang tergeletak diatas meja. Menatap Myungsoo sesaat, lalu membawa kakinya berjalan melewati laki-laki itu.

"Suzy," Myungsoo menahan lengan Suzy dan langsung di tepis oleh perempuan itu.

Tanpa menoleh kearah Myungsoo, Suzy berkata dengan nada dingin, "Jangan kejar aku."

Lalu, pergi menjauh dengan menahan diri agar tidak menangis dan menjadi cengeng.

***

"MWO?! Dasar ular!"

Adalah komentar Soojung ketika Suzy selesai menceritakan kejadian tadi siang di mal. Berikut dengan dress barunya yang harganya tidak murah--yang kini teronggok menyedihkan di tempat laundry.

Suzy memindahkan ponselnya di telinga kiri, "Aku ingin membunuh perempuan itu saat itu juga, sebelum Myungsoo dengan sok heroiknya malah membela perempuan itu!" Ucapnya sambil menggerutu.

Suzy kesal bukan main. Dan kekesalannya berimbas pada seluruh pegawai di rumahnya yang terkena semprotan pedas dari Suzy. Seperti tadi, Suzy memarahi sekuriti yang lama membukakan gerbang untuknya, juga memarahi beberapa pegawai yang sedang mengepel lantai rumah keluarga Bae.

"Myungsoo juga kenapa malah mengahalang-halangi. Kalau aku disana, sudah kubantu kau untuk menjambak rambut perempuan itu!" Soojung nampaknya ikut kesal.

Suzy mendesah, "Aish, bagaimana bisa dia membela perempuan lain ketika dia menci--" perkataannya terhenti ketika menyadari kalau dia hampir saja membuka rahasianya soal kejadian waktu itu.

"Ketika apa?"

"Tidak." Suzy tanpa sadar menggeleng. Lalu, menoleh kearah pintu kamarnya saat mendengar suara ketukan dari arah luar. "Tunggu," ucapnya pada Soojung.

Suzy menurunkan ponselnya keatas paha, lalu bersuara, "Ada apa?"

"Tuan muda Myungsoo menunggu di bawah, nona." Suara Bibi Chung terdengar pelan dan sopan.

Suzy mendengus, "Aku tidak ingin menemuinya."

"Tapi..."

"Bibi, suruh saja dia pulang! Aku tidak mau bertemu dengannya!" Suzy berteriak dari dalam. Sengaja dengan suara seperti itu supaya Myungsoo yang berada di lantai bawah bisa mendengarkan suaranya. Enak saja dia!

Bibi Chung mendesah, "Baik, nona."

***
Sun 3/17/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co