7
Suzy menuruni tangga lantai dua dengan langkah cepat bersama beberapa buku di tangan. Hari ini mata kuliah bisnis kreatif dan dosen pengajar di mata kuliah ini sangat ketat. Telat barang satu detik saja, jangan harap bisa masuk kedalam kelasnya.
Perempuan berpakaian celana jeans dengan atasan blazer coklat susu itu nampak semakin menggerutu ketika melihat jarum panjang jam sudah berada di angka 2, yang berarti sisa 15 menit lagi sebelum kelas pertama di mulai.
"Nona, sarapan anda sudah siap." Suara Bibi Chung terdengar di tangga terdasar.
"Aku tidak sempat, Bi. Aku akan telat jika tidak terburu-buru berangkat."
Bibi Chung mengangguk, mengikuti sang Nona yang berjalan kemudian dengan sigap berjalan lebih cepat membuka pintu utama ketika langkah sang Nona telah dekat.
Langkah Suzy terhenti saat melihat mobil putih yang terparkir di carport rumah keluarga Bae, kemudian matanya memandang kearah seorang pria yang sejak tadi duduk di kursi teras dan ponsel di tangannya. Pria itu mendongak, lalu tersenyum.
"Selamat pagi," sapanya.
Suzy mengerjap dua kali, "Apa yang kau lakukan disini, Jungkook?"
"Menjemputmu."
"Tapi, Aku..." Suzy melirik ke arah luar dan tidak menemukan mobil lain disana. Kemudian mendesah, "Dari mana kau tahu rumahku?" Suzy bertanya lagi.
"Aku juga tahu kalau kau sekarang hampir telat masuk ke kelas Mrs. Go."
Suzy menepuk dahinya, "Astaga! Kau benar, bisa tamat riwayatku kalau aku sampai terlambat lagi!"
Jungkook tersenyum, "Aku bisa membawamu ke kampus dalam waktu 10 menit. Kau mau?"
"Yang benar?"
Jungkook mengangguk.
Tanpa berpikir dua kali, Suzy langsung menerima tawaran Jungkook itu. Keduanya lalu melangkah masuk kedalam mobil dan mobil putih milik Jungkook dengan cepat melesat menghilang dari area rumah besar itu.
***
Myungsoo lagi-lagi menekan ikon panggil pada layar ponselnya, lalu menaruhnya di telinga kanan, sedangkan fokus matanya masih lurus menatap jalanan di sekitar apartemennya yang macet total. Ini benar-benar menyulutkan kesal!
Sekarang, seolah semesta mendukungnya untuk terus bermarahan dengan Suzy akibat kemacetan ini. Selidik punya selidik, kemacetan yang terjadi tadi akibat mobil muatan besar yang menabrak pembatas jalan sehingga menyebabkan kemacetan di ruas jalan tersebut.
Myungsoo mendengus ketika panggilannya berakhir pada suara operator. Kembali di tekannya ikon panggil itu. Menunggu sampai si pemilik nomor mengangkat panggilannya.
Myungsoo memencet klakson mobilnya dengan kasar ketika mobil di depannya tak kunjung jalan. Tiga belas menit lagi mata kuliah bisnis kreatif masuk dan ia tak mungkin menyusul Suzy sekarang. Tapi, bagaimana bisa Myungsoo menyuruh perempuan itu naik taksi saja kalau panggilannya saja tak diangkat?
"Hallo, Suzy?" Suara Myungsoo langsung terdengar senang ketika akhirnya panggilan ke tujuhnya di respon. Namun, ia tak bisa untuk tidak mengerutkan kening kala mendengar suara Bibi Chung disana. "Bibi? Apa, dia tidak membawa ponsel? Sudah berangkat? Oh, baiklah, aku akan putar balik kalau begitu. Arraso." Myungsoo menjauhkan ponselnya dan menaruhnya keatas dashboard.
Kerutan di keningnya masih sama seperti tadi, ia memikirkan siapa yang menjemput Suzy di rumahnya. Bibi Chung bilang, dia seorang laki-laki dan membawa mobil berwarna putih. Myungsoo berpikir, tidak bisa mengingat siapa pria itu. Bahwasanya, semua mantan Suzy kebanyakan membawa motor sport atau mobil yang di dominasi berwarna hitam atau merah.
Tidak mungkin itu Minhyuk, karena Bibi Chung tidak mengatakan ada Soojung juga disana. Jadi, siapa?
Myungsoo menghela napas. Kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya. Jarak tempuh kali ini sudah tidak ditambah macet karena ruas jalan di bagian ini berbeda arah. Bahkan, perbedaan yang paling mencolok karena ruas jalan ini nampak begitu legang dan kosong. Kepala Myungsoo spontan menoleh ketika menatap seorang perempuan sedang berdiri di depan mobil dengan gusar sambil terus memainkan telepon genggamnya. Dengan cepat, Myungsoo langsung menghentikan laju mobilnya, lalu memundurkannya untuk mensejajari posisi perempuan itu.
Myungsoo menurunkan kaca mobilnya, "Rose?"
Perempuan itu, Rose, langsung menoleh dan sedikit kaget, "S-sunbae?"
"Mobilmu kenapa?" Tanya Myungsoo.
"Mogok," Rose mengeluh, "Aku sudah menelepon tukang bengkel tapi mereka tak kunjung datang, sedangkan kelas pagiku di mulai enam menit lagi." Kali ini suara Rose sedikit bergetar dan matanya berair.
Myungsoo memerhatikan, nampak tidak enak jika harus meninggalkan perempuan ini sendiri, namun ia juga tidak bisa membantu karena Myungsoo sama sekali tidak begitu paham soal mesin mobil. Setelah menimbang-nimbang, Myungsoo kemudian berujar, "Kau mau menebeng denganku?"
"A-apa?" Rose nampak tak percaya dengan pendengarannya. Demi apapun, pria pujaannya menawarkan pergi ke kampus bersama-sama! Ini menakjubkan!
"Kau bisa meninggalkan mobilmu disini sebelum tukang bengkel datang." Ujar Myungsoo, kemudian menambahkan, "Ya, itu juga kalau kau--"
"Aku mau sunbae!" Seru Rose dengan cepat.
Myungsoo sempat heran sesaat, namun langsung menyuruh perempuan itu masuk ke dalam mobilnya.
***
"thankyou, Jungkook-ssi." Suzy menundukkan kepalanya untuk menatap Jungkook yang berada di dalam mobil. Perempuan itu sudah keluar dari mobil Jungkook tepat di depan gedung fakultasnya, sedangkan Jungkook harus memarkirkan mobilnya di gedung fakultas pria itu.
Jungkook tersenyum, "Aku akan menunggumu sabtu malam, Suzy."
"Uh?"
"Undangan party itu."
"Oh!" Seru Suzy baru mengingat, lalu tersenyum, "Aku dan Soojung akan datang. Tenang saja."
"Kupegang janjimu," Balas Jungkook kembali, kemudian matanya menatap kearah jam tangannya, "Kau harus segera ke kelas sebelum kelasmu di kunci dari dalam." Ia mengingatkan Suzy.
Suzy mengangguk, setelah melambaikan tangannya sekali lagi, perempuan itu langsung melesat masuk ke dalam gedung fakultasnya.
*
Suzy tidak bisa menahan dengusannya kala dia terpaksa harus berpapasan dengan si perusak gaunnya-Rose- dan... Myungsoo.
What? Jadi, pria itu bukannya menyusulnya ke rumah malah memilih bersama Rose? Oh my god. Suzy menggerutu kesal.
Sambil menatap tajam kepada dua orang yang juga nampak terkejut bertemu dengannya di lantai dasar itu, berikut dengan sudut bibir yang terangkat membentuk kekesalan, Suzy kemudian kembali menjalankan tungkai jenjangnya menaiki satu persatu undakan tangga tanpa memerdulikan panggilan Myungsoo kepadanya.
"Suzy!" Myungsoo berseru, namun menelan kekecewaan saat perempuan yang dipanggilnya itu tidak mengindahkan panggilannya. Matanya menatap Rose sekilas, "Aku duluan ya!" Kemudian Myungsoo langsung menggerakkan kakinya menaiki undakan tangga sekali dua.
"S-sunbae!" Rose memerosotkan bahunya. Dia bahkan belum sempat berterimakasih, tapi Myungsoo malah pergi begitu saja saat melihat Suzy.
***
"Makanlah, Bibi Chung bilang kau tidak sempat sarapan tadi." Ucap Myungsoo sambil menaruh senampan makanan kedepan meja Suzy.
Suzy, yang sedang menyesap minuman cokelat yang juga diberikan Myungsoo tadi melirik kearah nampan itu dengan malas. "Berikan saja pada adik kesayanganmu itu!" Ucapnya sambil mendengus.
"Majjayo. Bisa-bisanya kau membela perempuan itu dibandingkan Suzy." Soojung berkomentar.
"Dia bukan adik kesayanganku."
"Tapi, calon kekasihmu?" Ledek Soojung. Seolah semakin mengibaskan bara api di kepala Suzy.
Sedangkan, Minhyuk hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Seharusnya Soojung tidak usah ikut campur urusan Suzy dan Myungsoo, namun jika dia menghalangi kekasihnya itu maka Soojung akan berbalik memarahinya juga. Jadi, hal yang dilakukannya adalah diam mengamati.
"Tidak," Myungsoo mengerutkan keningnya, merasa tidak suka atas hipotesa Soojung barusan.
"Aku tidak memercayaimu."
"Suzy, kau tahu seberapa besar tempatmu dalam hidupku," Myungsoo begumam pelan. "Aku tidak mungkin menyukai perempuan lain tanpa menanyakannya kepadamu dulu. Kau tahukan?"
"Tapi, kenapa kau kemarin membelanya?" Suzy memandang sengit.
Lagi-lagi, Myungsoo menghela napas, "Aku tidak membelanya. Aku hanya tidak ingin pengunjung kafe itu menilaimu buruk kalau kau sampai kelepasan, Suzy."
Suzy terdiam. Amarah dan kekesalannya seketika menguap, "Benar begitu?"
"Mm,"
"Yya, Suzy! Jangan mudahan begitu, aish..." Soojung kembali bersuara dengan nada menggerutu ketika sahabat yang di bela nya itu langsung melunak ketika mendengar penuturan Myungsoo.
"Lalu, kenapa kau tadi tidak menjemputku?" Tanya Suzy menyelidik.
"Aku terjebak macet. Dan ketika menelponmu Bibi Chung mengatakan kalau kau sudah berangkat."
"Kenapa kau bersama si centil itu?" Kali ini suara Soojung yang terdengar bernada menyelidik.
"Sayang, kenapa kau mengatai perempuan lain centil? Kurasa Rose anaknya pend--" Minhyuk lalu menutup mulutnya ketika Soojung menghadiahinya tatapan tajam, "Tidak. Aku tidak akan bersuara lagi." Sanggahnya kemudian.
Myungsoo menghela napas dalam hati, memandang Soojung dengan jengkel karena perempuan itu terus saja mengompori Suzy nya. Yaampun, bagaimana bisa Suzy menemukan Soojung dan menjadikannya sebagai sahabat. Kedua manik mata Myungsoo lalu mengarah kembali kepada Suzy, "Aku bertemu dengan Rose dijalan mau ke kampus. Mobilnya mogok sehingga aku menawarinya tumpangan." Kedua mata Suzy langsung menyipit, dan Myungsoo buru-buru menambahkan, "Aku tidak akan memberi tumpangan lagi jika kau tidak suka, Suzy. Sekarang kau makan, ya?"
"Aku tidak suka kau membela perempuan lain." Suzy berujar cepat, lalu mengambil sendok di nampan itu.
"Aku tidak akan melakukan apa yang tidak kau sukai." Jawab Myungsoo.
"Nado, aku juga tidak suka kalau Minhyuk membela perempuan lain. Dia adalah pacarku dan hanya diperuntukkan untukku." Soojung bergumam mengikuti. Perempuan itu kemudian mengambil gelasnya dan menyesap isinya.
"Kau cemburu ya?" Minhyuk bertanya dengan nada menggoda kepada Suzy yang langsung mendapatkan tatapan kesal dari perempuan itu. Bahkan, Suzy hampir melempar sendoknya ke kepala Minhyuk kalau saja Soojung tidak lebih dulu memukul pria itu.
"Aish, jaga bicaramu!" Gerutu Soojung pada Minhyuk.
Tak lama, Myungsoo merogoh ponselnya yang bergetar. Suzy ikut melirik. Lalu, tanpa ada yang menyadari bahwa dua orang itu menegang kaku ketika selesai membaca isi pesan masuk itu.
***
Mon 3/18/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co