8
Suzy memejamkan matanya mengikuti intruksi makeup artist andalannya, kemudian membuka matanya kembali. Kedua matanya menatap lurus pada pantulan dirinya di cermin.
Cantik.
Siapapun yang melihatnya akan sependapat. Tentu saja, turunan keluarga Bae tidak pernah gagal dalam memproduksi sel telur dan sperma. Bahkan, hingga wajah termakan usia masih akan tetap terlihat cantiknya.
"Kau terlihat cantik sekali," Hans bergumam terpesona sambil memegang ujung dagu Suzy, kedua pasang mata itu sama-sama fokus menatap pantulan Suzy di depan cermin. Satu tangan Hans bergerak pelan guna memerhatikan sisi-sisi wajah Suzy. Dan lagi-lagi decakan kagumlah yang keluar dari mulutnya, "Myungsoo tidak akan pernah bisa menjatuhkan tatapannya kepada wanita lain."
"Hans..." Teguran Suzy membuat pria kemayu bernama Hans itu lantas mengatupkan mulutnya. Hans sadar kalau dia sudah melewati otoriter perempuan cantik itu.
"Maaf, aku lupa kalau--"
Ketukan dari pintu di belakang mereka membuat ucapan Hans terhenti. Kemudian, dua pasang mata itu mendapati Bibi Chung berada disana. Bibi Chung menundukan kepalanya, "Tuan muda Myungsoo sudah menunggu di bawah, nona."
Suzy mengangguk. Menatap pantulan dirinya di cermin dan berdiri. "Yeppeo?" Suzy bertanya pada Bibi Chung.
Bibi Chung mengangguk sambil tersenyum lebar, "Nonaku selalu cantik setiap waktu."
***
Untuk beberapa saat Myungsoo merasakan dunianya berhenti berputar. Kedua matanya menatap Suzy yang sedang berjalan menuruni tangga dengan dress sateen berwarna cokelat susu yang membalut tubuh sintal perempuan itu dengan begitu pas. Seperti menunjukkan jika gaun itu hanya dibuat khusus untuk Suzy. Tidak yang lain.
Myungsoo berdeham, menyadarkan dirinya sebelum dia mempermalukan diri sendiri. Menghela tubuhnya untuk bangkit berdiri dan membenarkan suit berwarna abu-abu gelap. Myungsoo memasukkan salah satu tangannya kedalam kantung celana, "Ayo, kedua orang itu sudah menunggu kita."
Suzy mengangguk dan membiarkan Myungsoo menggenggam jemarinya.
*
Myungsoo membuka pintu belakang penumpang mobil dan mempersilahkan Suzy untuk masuk kedalamnya. Suzy tersenyum, namun sebelum memasuki bagian dalam mobil hitam itu ia menyempatkan diri untuk menoleh, "Yeppeo?" Kedua matanya menatap nakal ke arah Myungsoo.
"Make up mu terlalu tebal." Jawab Myungsoo tanpa ekspresi, membuat Suzy berdecak kesal dan langsung masuk ke dalam mobil itu.
Suzy bahkan meluangkan satu jam waktunya untuk di sulap oleh Hans, dan semua orang dirumah Suzy mengatakan kalau perempuan itu nampak cantik nan elegan. Ya, semua orang kecuali Myungsoo. Suzy memberengut, menggeser tubuhnya mepet ke pintu, ia merasa malas duduk berdempetan dengan Myungsoo karena pria itu bahkan tidak tahu cara menyenangkan hati perempuan.
Myungsoo menutup pintu disampingnya, menyuruh supir pribadi keluarganya untuk menjalankan mobil. Myungsoo melirik Suzy melalui ekor mata, wajah cantik Suzy terlihat menekuk dengan sikap defensif. Myungsoo tahu apa penyebabnya. Dengan perlahan, Myungsoo menggeser duduknya mendekat ke arah Suzy, mempersempit jarak yang di bangun perempuan cantik ini.
"Kau cantik." Bisik Myungsoo di telinga kiri Suzy.
Kedua mata Suzy yang sejak tadi menatap kearah kaca jendela mobil, lantas menoleh dengan cepat dan menemukan manik mata gelap Myungsoo yang sedang memandangnya dalam-dalam. Suzy mengedipkan matanya dua kali.
"Kau cantik," ulang Myungsoo. Suzy, baru saja akan membuka suara ketika Myungsoo kembali meneruskan kata-katanya, "Kau selalu cantik, Suzy." Lirih Myungsoo. Kemudian, Myungsoo meraih satu tangan Suzy dan menciumnya pelan.
Suzy memandangi rambut hitam Myungsoo yang rapih tersisir sambil menggigit bibir bagian dalamnya. Dan, pada saat Myungsoo mendongak, Suzy bisa dengan jelas melihat tatapan kesedihan di dalamnya.
Suzy menghela napas berat. Satu tangannya balas menggenggam jemari Myungsoo, dan tersenyum.
***
Benz S600 hitam metalik milik keluarga Kim berhenti tepat di depan ballroom hotel berbintang. Nampak satu orang berpakaian serba hitam dan bertubuh tegap membukakan pintu mobil dari sisi Myungsoo. Myungsoo keluar, kemudian mengulurkan tangannya membantu Suzy keluar dari dalam mobil itu.
Keduanya berjalan saling bertautan tangan masuk ke dalam dengan senyuman manis di kedua bibir mereka. Senyuman yang menutupi rasa kemelut atas apa yang masing-masing dari mereka rasakan.
Sejak pengumuman itu.
"Disana, tuan, nona." Tunjuk salah seorang pelayan dengan sopan pada satu meja berbentuk persegi panjang yang kini sudah diisi sebagian.
Suzy dan Myungsoo memandang kearah jyang ditunjukan oleh si pelayan. Kemudian tersenyum manis saat lelaki tua nampak menaikan satu tangannya, berusaha memberi kode kalau tempat penjamuan makan malam yang dituju berada disana.
"Mwoya, lima hari tidak pulang ke rumah, tapi dua orang itu langsung datang saat diajak makan malam bersama?" Suzy bergumam sinis saat melihat ayah dan Ibunya berada di antara orang-orang itu. Nampak tenang sambil menyesap segelas koktail yang terhidang.
Myungsoo semakin mengeratkan genggaman tangannya kepada Suzy, berusaha menyalurkan ketenangan untuk perempuan di sebelahnya.
Kedua nya berjalan dengan tenang sampai akhirnya langkah mereka terhenti saat sampai di dekat meja itu. Suzy dan Myungsoo menunduk sesaat sebelum ikut duduk pada kursi kosong tepat berhadapan dengan Kim Jo In dan Cheon Song-yi.
"Kalian nampak serasi berjalan dari ujung sana sampai kesini," Kim Jo In tersenyum sambil bergurau, mencairkan kekakuan yang tiba-tiba terjadi disini. Kemudian tangannya menggenggam tangan Cheon Song-yi, "Kalau saja aku tidak jatuh cinta pada Song-yi, mungkin aku akan segera menikahkan kalian berdua." Lanjutnya.
Suzy tersenyum sopan, sedangkan Myungsoo yang baru ingin menyesap koktail di meja, tangannya nampak menggantung di udara lalu mengurungkan niatnya.
"Kakek, apa kabarmu?" Myungsoo mengganti topiknya.
"Baik," jawab Kim Jo In, kakek Myungsoo. Keningnya kemudian mengerut, "Kau jadi jarang mengunjungiku sekarang..."
"Maafkan aku kek, Volli dan tugas kuliah menyita waktuku." Jawab Myungsoo.
Pembicaraan mereka terhenti ketika beberapa pelayan datang dengan membawa pilihan menu yang beragam, lalu menghidangkannya ke atas meja.
Ayah Myungsoo berdeham, "Jangankan mengunjungimu, Yah. Datang mengunjungi kami pun jarang."
"Anak ini," Kakek melirik cucu nya dengan menggeleng-geleng. Kemudian beralih menatap Suzy, "Bagaimana hubunganmu dengan Joon?"
Suzy tersedak. "Y-ya?" Tanya nya memastikan. Suzy sama sekali tidak menyangka kalau pertanyaan itulah yang akan di lontarkan oleh pria tua itu.
"Cheon Song-yi selalu bercerita kalau Joon begitu baik padanya dan juga Kau. Jadi, aku penasaran bagaimana hubunganmu dengannya, kenapa kau tidak mengajak Joon kemari?"
"Majjayo, Nenek juga merindukan Joon. Sudah lama dia tidak menelpon dan mengerimi kue kering." Saut Cheon Song-yi, Nenek Suzy.
Suzy tersenyum kaku. Kedua matanya tanpa sadar terarah pada Ayah dan Ibu nya yang nampak kaget dan tentu saja bingung. Tentu saja, kedua orang tua Suzy mana mungkin tahu siapa Kim Joon, atau orang-oranh sebelum pria itu. Mereka hanya paham tentang tender dan membangun koalisi, bukan tentang kehidupan mereka.
"Kami sudah berakhir..." Akhirnya kata-kata itulah yang keluar.
Cheon Song-yi nampak tidak terkejut, sepertinya dia sudah paham akan perilaku cucu nya. Karenanya, Cheon Song-yi hanya menghela napas pendek, "Nenek tidak akan menikah kalau kau tidak membawakan calonmu kepada nenek."
"Song-yi..." Sela Kim Jo In, nampak tidak suka atas apa yang kekasihnya katakan.
"Nenek..." Suzy menggerutu. "Aku bahkan masih kuliah." Desahnya.
"Karena kau suka bergonta-ganti kekasih makanya Nenek begitu khawatir. Jika nenek menikah lagi dan pindah ke Jeju, tidak mungkin nenek bisa mengawasimu seratus persen."
"Ada Myungsoo di sampingku, jangan khawatir."
"Myungsoo pada akhirnya akan memiliki kekasih, tidak mungkin mengurusi bayi besar sepertimu terus menerus, Sayang." Ucapan Cheon Song-yi membuat Suzy seperti tersiram air panas. Seluruh saraf nya seolah terbangun dari mimpi panjang.
Neneknya benar...
Tapi, Myungsoo sudah berjanji akan terus bersamanya.
Tapi, Dia juga tidak bisa memungkiri kalau pada akhirnya Myungsoo akan menemukan kekasih hatinya.
Yang lain.
***
Flashback
Myungsoo menyusuri jalan setapak dengan Suzy berada dalam gendongan di punggungnya. Sepatu kets Suzy nampak terikat dan menggantung hingga di dada Myungsoo. Suzy mengeratkan lingkaran tangannya di leher Myungsoo, dan semakin mendekatkan kepalanya kepada pria itu.
"Yya, kenapa tidak memesan taksi?" Tanya Suzy dengan nada menggerutu.
Myungsoo mendengus. Perempuan dalam gendongannya ini sedang mabuk berat dan mereka sedang tidak berada di Seoul. Hari ini, tepat musim gugur pertama dan juga adalah hari perpisahan di sekolah menengah atas dan beberapa siswa-siswi memutuskan untuk mengadakan camping trip di daerah yangdong selama dua hari satu malam.
Myungsoo mendongak, ikut mengamati langit malam ketika Suzy berujar menyuruhnya untuk meluhat bintang-bintang di langit.
"Aku menyukai bintang." Suzy tersenyum kecil sambil memandangi bintang-bintang yang berkelip itu.
"Yya, Kim Myungsoo..."
"Mm..."
"Siapa gadis yang kau sukai?"
"Tidak ada."
Suzy berdecak, "Kau bohong. Temanmu bilang kau menyimpan foto-fotonya di ponselmu. Jadi, itu sebabnya aku tidak boleh meminjam ponselmu?"
Myungsoo diam. Tetap melanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang nantinya akan membawa mereka pada satu rumah tinggal. Beberapa teman-teman mereka masih betah berpesta pada satu kedai makanan dengan memanggang daging dan soju. Namun, karena Suzy yang sudah mabuk total, Myungsoo terpaksa membawa perempuan itu pulang daripada Suzy malah bertingkah aneh dan mempermalukan dirinya sendiri di depan teman-teman mereka.
"Kau selalu tidak mau menjawabnya." Suzy mendesah, kepalanya begitu pusing namun mulutnya terus saja ingin berbicara. "Yya, ppali, katakan padaku..." Suzy menggoyang-goyangkan tubuh Myungsoo.
"Opso."
"Kau bohong!"
Myungsoo terdiam, lalu menghela napasnya. Pandangannya lurus kedepan, memerhatikan beberapa dedaunan jatuh yang tersorot oleh lampu jalan.
"Myungsoo..." Suzy merengek. Tetap ingin mengetahui siapakah perempuan yang sedang di taksir oleh sahabatnya itu. Dia penasaran sekaligus senang.
"Perempuan itu jelek, aku sendiri bingung kenapa bisa menyukainya."
"Ck, kenapa juga kau menyukai yang jelek-jelek." Ucap Suzy ketika mendengar jawaban dari Myungsoo, "seharusnya kau mencari yang selevel denganku atau malah lebih tinggi lagi. Aish, bodoh sekali! Katakan padaku, siapa dia?"
Myungsoo tidak menjawabnya. Membuat Suzy kembali menggerutu kesal.
Keduanya lalu sama-sama terdiam, tak ada kata satupun yang terucap setelahnya. Myungsoo sibuk dalam pikirannya, sedangkan Suzy mulai merasakan kantuk yang menyerangnya. Mata Suzy semakin berat dan semakin berat lagi. Suzy mengeratkan rangkulannya di leher Myungsoo dan ketika kantuk mulai merenggut kesadarannya, Suzy mendengar sayup-sayup suara Myungsoo yang mengalun di telinganya sebagai lullaby,
"Kau. Aku menyukaimu, Suzy."
***
Wed 3/20/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co