9
Tuk...
Tuk...
Tuk...
Suzy mengetuk-ketuk music box snow globe yang diberikan Myungsoo sebagai hadiah peringatan hari jadi pertemanan mereka bulan lalu. Gaun sateen panjangnya sudah berganti dengan kimono tidur sepanjang lutut, sedangkan rambutnya sudah tergelung asal dengan bando yang melingkar di kepalanya. Suzy menghela napas, membawa satu tangannya menyangga dagu sambil memerhatikan music box-nya.
Suara-suara khas music box mengalun di keheningan kamarnya. Ini sudah lewat dari dua jam sejak jamuan makan malam itu dan Suzy sama sekali tidak bisa tidur. Kedua matanya terus saja terjaga padahal raga nya sudah begitu lelah seharian ini.
Suasana di kediaman keluarga Bae sudah begitu sepi, menandakan seisi rumah telah terlelap di ranjang mereka masing-masing, beruntung karena pertemuan tadi Ayah dan Ibunya pulang kerumah. Ya, walaupun untuk tinggal di satu ruangan yang sama semalaman ini tidak mungkin terjadi karena kedua orangtuanya itu telah membekukan hati mereka dan memilih pekerjaan sebagai pelarian. Terkadang, Suzy jadi heran kenapa orangtuanya harus menghamburkan uang dengan membangun rumah sebesar ini, padahal mereka sendiri tidak menghabiskan banyak waktu mereka disini.
Ddrrtt...
Suzy melirik ponselnya yang bergetar diatas meja. Tangannya berhenti mengetuk music box-nya, berganti mengambil ponselnya ketika matanya membaca id caller si penelpon.
"Kenapa?" Suzy langsung menyambar dengan malas ketika panggilannya terhubung.
"Kalian sedang bertengkar?"
Suzy menjauhkan ponselnya dari telinga dan kembali menatap id caller-nya. Benar, ini panggilan dari Johan. Tapi, kenapa pertanyaannya aneh sekali?
"Apa maksudmu?" Tanya Suzy ketika ia kembali menempelkan ponselnya ditelinga.
"Tidak biasanya Myungsoo mabuk seperti ini..."
Gumaman Johan ternyata membuat Suzy langsung menegakkan tubuhnya. Kedua matanya membulat sempurna, "Apa? Kau yakin itu Myungsoo?"
"Memang dia memiliki kembaran?"
Sialan, Johan!
Suzy mendesis. Kalau saja pria bartender ini bukan teman baiknya Myungsoo, sudah dia tenggelamkan pria itu ke dalam mobil sedot wc. Suzy mencoba meredupkan emosinya, adu argumen bukan waktu yang tepat sekarang. Makanya, dengan cepat Suzy mengatakan kalau dia akan segera kesana. Tubuhnya berdiri, mengganti pakaiannya dan mengambil coat yang menggantung secara serampangan. Lalu segera keluar kamar.
"Ugh, bagaimana bisa aku kesana? Aku saja tidak bisa menyetir mobil." Suzy menggerutu pelan ketika kakinya sudah berada di luar rumah. Tanpa kekurangan ide sedikitpun, Suzy lantas mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi taksi langganannya.
*
Suzy memasuki klub yang biasa di datanginya itu dengan tergesa, bahkan saking tergesanya sapaan yang berasal dari beberapa perempuan dan pria yang mengenalnya tak di gubris oleh Suzy. Perempuan cantik itu langsung melenggangkan tungkai jenjangnya dengan cepat masuk ke dalam.
Suzy mengedarkan pandangannya, mendapati pria yang di carinya berada pada satu bangku di meja bar dengan seorang perempuan berpakaian seksi nampak sedang menggodanya. Itu Myungsoo, dan jas yang dikenakan pria itu sudah hilang entah kemana. Suzy segera berjalan cepat kearah Myungsoo, bibirnya menyunggingkan senyum ketika pandangannya bertemu dengan Johan, kemudian berdeham, "Excuse me, bitch? he is mine." Ucap Suzy dengan santai, namun matanya menatap dingin kepada tangan perempuan yang bergelayut di bahu Myungsoo.
Perempuan itu nampak terkejut, kemudian dengan segera menjauhkan tangannya yang semula berada di bahu Myungsoo dan tersenyum kaku, "M-maaf, kukira dia sendiri." Ucapnya lalu segera pergi dari sana.
Suzy menatap kepergian perempuan seksi itu dengan desisan, lalu mengarahkan pandangannya ke Johan yang sedang menatapnya juga, namun langsung buru-buru memerhatikan gelas-gelasnya saat mendapati mata Suzy yang menatapnya dengan pandangan menusuk.
"Yya, kenapa kau membiarkan jalang itu memegang Myungsoo?" Tanya Suzy dengan kesal.
"Aku sudah mengatakan kepadanya kalau pria yang sedang dicoba di godanya itu sudah memiliki macan, tapi perempuan itu tidak menggubrisku." Jawab Johan secepat kilat. Berurusan dengan Suzy dalam keadaan sadar benar-benar membuatnya mati kutu. Perempuan cantik didepannya ini memiliki cara tersendiri yang membuat lawan bicaranya terintimidasi. Benar-benar sesuatu.
Suzy berdecak, "Yya, mana ada perempuan cantik sepertiku di samakan dengan seekor macan. Kau tamat kalau saja Myungsoo tidak sedang mabuk!" Kemudian Suzy mengarahkan pandangannya kearah pria berkemeja putih yang lengan digulung setengah tiang. Lalu mendesah, "Kenapa kau tidak menghentikannya minum?"
"Dia abaikanku."
"Kau memang selalu diabaikan." Dengus Suzy.
Kali ini pandangannya fokus kepada Myungsoo sepenuhnya. Bibirnya mengatup rapat namun kedua sinar mata Suzy meredup perlahan, "Yya Myungsoo, kenapa kau minum jika kau tidak bisa?"
Myungsoo membuka matanya perlahan, lalu tersenyum, "Suzy..."
Suzy memutar bola matanya, "Kau curang, pergi kesini tanpa mengajakku!"
"Suzy..." Rancau Myungsoo masih dengan kalimat yang sama.
"Mm, aku Suzy."
"Suzy..."
Suzy tersenyum kecil, "Kau benar-benar telah mabuk, Myungsoo."
Suzy lalu menegakkan tubuh Myungsoo, membawa beban tubuh pria itu sedikit kearahnya supaya ia bisa membawa pergi Myungsoo dari sana. Tubuh keduanya hampir saja terhuyung karena Suzy tidak bisa menjaga keseimbangannya, membuat Johan langsung dengan sigap menawarkan bantuan, namun Suzy dengan cepat menggeleng. Johan menghela napas, memerhatikan dengan was-was hingga tubuh Suzy dan Myungsoo menghilang dari pandangannya.
*
"Aigoo, aigoo..."
Suzy menggeletakkan tubuh Myungsoo keatas ranjang di apartemen pria itu. Kedua tangannya mengambil kedua kaki Myungsoo yang menggantung kebawah, kemudian membawanya keatas ranjang. Suzy dengan sigap melepas kedua sepatu hitam yang masih terpakai rapih di kaki panjang Myungsoo dan menaruhnya diujung ruangan.
"Kau tidak pernah semabuk ini," gumam Suzy, tangannya bergerak membuka kemeja putih yang masih melekat ditubuh Myungsoo dengan cepat. Namun, langsung berhenti ketika matanya menatap dada telanjang Myungsoo.
Wajahnya merona merah seiring dengan bayangan ketika Myungsoo mencium bibirnya kembali timbul dipikirannya. Buru-buru Suzy menggeleng, "Ini gila! Kenapa aku harus membayangkan kejadian itu, eh?" Gumamnya, kemudian melirik dada telanjang Myungsoo, "Dan kenapa lelaki ini punya dada sebidang ini? Aish!"
"Kau kenapa?"
"Astaga!" Suzy langsung berjengkit kaget ketika mendengar suara Myungsoo. Dengan cepat Suzy langsung menatap Myungsoo yang memegangi kepalanya. "Kau pusing?" Tanya Suzy sambil mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang.
"Mm, sepertinya aku minum terlalu banyak..."
"Kau bahkan sudah mabuk," Suzy mendengus, namun tangannya masih memegangi kepala Myungsoo dengan pelan, "Aku akan mengambilkanmu air dan aspirin."
Suzy menoleh ketika tangannya digenggam Myungsoo, pria itu seolah menahannya untuk tidak pergi. "Tidak..." Gumam Myungsoo pelan, kemudian menarik Suzy hingga terjatuh dalam pelukannya, "Biarkan seperti ini. Aku hanya membutuhkan ini saja..."
Kedua tangan Suzy yang tegang di antara dadanya, dan Myungsoo perlahan mengendur kala merasakan Myungsoo menelusupkan kepalanya di antara lekukan leher dan bahunya. Dan pada akhirnya Suzy membiarkan tangannya turun, berjalan ke arah sisi kanan dan kiri lengan Myungsoo, lalu menepuknya dengan pelan.
Tanpa satu sama lain saling sadari kalau mereka sama-sama sedang menuju kepada sebuah nyanyian elegi.
*
Myungsoo memiringkan tubuhnya, menyangga kepalanya dengan tangan, sedangkan kedua matanya menatap dengan intens kepada perempuan yang sedang tertidur pulas di sampingnya dengan selimut yang merosot sampai ke perut. Tangannya bergerak menarik selimut yang melingkar di perut Suzy hingga naik keatas, menutupi sampai ke bahu. Lalu, Myungsoo membawa tangannya untuk memainkan sisi rambut Suzy yang menjuntai menutupi sebagian wajah tanpa polesan make up. Lalu tangan itu beralih kedahi Suzy, turun ke hidung, kedua pipi dan berhenti tepat di bibir Suzy.
Kedua mata Myungsoo meredup. Perempuan ini... Masih sama seperti gadis yang disukainya sejak sekolah dulu. Gadis yang berstatus sebagai sahabatnya sejak kecil, yang tanpa disadarinya kalau status itu perlahan telah berubah di hatinya.
Tapi, apakah status mereka hanya bisa sebatas persahabatan saja? Apakah tidak bisa lebih lagi? Dan, yang terpenting, apakah Myungsoo bisa merelakan jika akhirnya Suzy menemukan seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman dan melupakan trauma masa lalu nya...?
Dengan gerakan perlahan, Myungsoo menundukan kepalanya kemudian membawa bibirnya datang untuk mengecup bibir Suzy.
***
Fri 3/22/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co