5
"KUPIKIR dia sahabatmu. Soojung-Soojung adiknya Jung Na Yong itu." Ucap Myungsoo pada saat mereka melangkah menuju ke tempat keluarga Watermart—Suzy menyebutnya—duduk.
Suzy menggeleng cepat. "Bukan lah, Soojung tidak semenyebalkan itu dengan orang yang baru dikenal. Kami berdua jelas punya prinsip yang sama soal tata-krama di depan orang baru." ucapnya. Ada nada tidak suka yang jelas nampak dari suara wanita itu saat bicara, dan Myungsoo bisa menangkapnya. "Wanita itu terlalu ingin tahu. Aneh sekali."
"Kurasa kau memang bukan tipe seperti itu. Pantas kau terlihat tidak nyaman tadi."
"Sama sekali bukan." Jawab Suzy tegas.
Myungsoo tersenyum kecil. "Maaf, tadi aku merangkulmu tanpa permisi."
"Tidak apa-apa. Aku maafkan karena kau membawaku pergi dari sana." ucap Suzy. Jujur, dia tadi hampir mendorong Myungsoo kalau saja tidak ingat laki-laki ini akan menyelamatnya dari pembicaraan membosankan yang sedang terjadi.
"Kakekmu yang mana?" tanya Suzy ketika mereka hampir sampai di kerumunan keluarga Watermart. Ada dua pria tua di sana, dan dia tidak boleh salah menyebut nama. Bisa-bisa hancur perjanjian yang mereka buat ini dan dia gagal mendapatkan uang.
"Jas abu-abu."
Suzy langsung mengarahkan pandangannya ke satu orang itu. Seorang laki-laki baya dengan tongkat di tangannya, namun jelas tongkat itu ada bukan sebagai alat pembantu jalan, namun hanya sebagai pegangan. Lansia yang sama sekali tidak terlihat renta. Suzy bisa menduga kalau pola hidup sehat selalu dijalani pemilik Watermart itu.
"Eng, Suzy?"
"Ya?"
"Jika aku memegang tanganmu sekarang, bolehkah?" tanyanya yang langsung membuat langkah Suzy berhenti, dan Myungsoo ikut berhenti. Myungsoo berdeham, sepertinya pertanyaan ini bisa menimbulkan kesalahpahaman jika tidak diluruskan, karena itu dengan cepat dia menambahkan. "sepertinya itu yang dilakukan pasangan."
Masih diam. Suzy tersenyum dan tindakannya mengamit lengan Myungsoo membuat laki-laki itu terpaku selama sesaat. "Sepertinya begini yang pas. Apa kau tidak keberatan?"
Myungsoo dengan cepat menggeleng. "Tidak, tentu saja tidak."
---
"Wajahmu benar-benar tidak asing, nak." ucap Kim Bin, kakek Myungsoo. Kali ini mereka sudah berbaur dan mengobrol satu sama lain. Tidak seperti bayangan SUzy, ternyata keluarga Watermart benar-benar bersahaja dan baik hati. Tidak ada yang menyebalkan dan banyak tanya, kecuali Kim Bin. Tapi, Suzy maklum, orang tua biasanya memang seperti itu.
Dan ini, adalah ucapannya yang entah sudah ke berapa kali.
Suzy meringis. "Wajahku memang sedikit pasaran, haraboji."
"Bukan itu," Kim Bin menggeleng. "Lalu, menoleh pada anaknya, ayah Myungsoo. "Min, lihatlah baik-baik apa Suzy mengingatkanmu pada seseorang atau apa?"
Ayah Myungsoo yang sejak tadi terlihat bosan dan ingin segera pulang itu langsung menatap Suzy fokus. Mencoba mengingat-ngingat demi ketenangan dirinya—karena ia tahu ayahnya tidak akan pernah selesai bertanya kalau belum ada jawabannya—sendiri. Lama dia menatap, lalu sekelebat bayangan seseorang muncul di kepalanya.
Min langsung mengangguk, "Ya. Seperti teman lamamu yang dulu sering memancing. Aku sering ikut karena kau paksa saat masih kecil. Ingat tidak?"
Kening Kim Bin mengerut. Lalu, kedua matanya membeliak saat ingat siapa yang dimaksud oleh anaknya itu. Dengan cepat kepalanya menoleh pada Suzy dan bertanya. "Siapa margamu, nak?"
"Bae."
"Astaga!" Kim Bin menepuk tangan sekali. Sikap antusiasnya tak ditutup-tutupi. "Kau cucunya Bae Yun kah?"
Suzy mengangguk. "Bagaimana haraboji bisa tahu nama kakekku?"
"Oh tuhan, ini benar-benar takdir tuhan!" kedua tangan renta itu langsung membawa Suzy ke dalam pelukan. "Aku tidak menyangka kalau aku bisa bertemu dengannya lagi. di mana kakekmu, nak?"
Suzy terdiam sebentar, lalu menjawab lirih. "Sudah meninggal dua tahun lalu."
Ekspresi di wajah Kim Bin berubah seketika, awan gelap mulai melingkupi. Suaranya yang tadi mendominasi, tiba-tiba lenyap tak berbekas. Menyisakan keheningan yang sama sekali tidak ditebak sebelumnya. Hingga akhir dari acara ini berlangsung, Kim Bin tidak lagi berbicara dan tenggelam dalam renungannya sendiri.
***
"Sepertinya kakekku benar-benar terpukul mendengar kabar itu." ucap Myungsoo dibalik kemudi. Kedua matanya melirik ke arah wanita yang duduk di kursi penumpang sebentar, sebelum kembali tenggelam pada jalan raya.
"Ya," Suzy menghela napas.. "Aku seketika menyesal memberitahunya. Tapi, itulah kenyataan, kakekku sudah tiada."
"Tidak apa-apa. Mungkin besok dia akan bertanya kepadamu di mana tempat abu kakekmu ditaruh. Kakekku pasti ingin menemui kakekmu."
"Aku akan mengantarnya langsung. Sebenarnya aku memang ada rencana untuk ke makam kakek akhir pekan nanti."
"Aku akan memberitahu haraboji kalau begitu."
Suzy mengangguk. Lalu, menoleh ke kursi belakang. Ada seorang anak kecil yang senang tertidur pulas di sana. masih mengenakan pakaian yang sama saat tadi ia pertama kali bertemu anak kecil itu. Ella Kim.
"Pulas sekali. Dia pasti kelelahan."
"Tentu saja, dia terus berlari-lari dengan sepupunya. Aku benar-benar pusing karena Ella tidak bisa diomongi."
Suzy menatap ke arah Myungsoo dan menemukan wajah tegang di sana. Entah hanya firasatnya atau memang Myungsoo sepertinya terlalu mendisiplinkan Ella. Ia tahu kalau itu memang bukan urusannya, tapi dia juga merasa kasihan kalau Ella terus-terusan kena omel Myungsoo. Astaga, sangat wajar untuk anak seumur ini memiliki energi berlebih kan? Asal tidak merusak saja Suzy pikir tidak jadi masalah.
"Menurutku sangat wajar karena anak seumuran Ella memang lagi senang-senangnya bermain." kata Suzy.
"Dia harusnya tahu tempat."
Suzy diam. Dia tahu, berdebat dengan orang yang punya perbedaan pandangan soal anak kecil tidak akan ada gunanya. Lagipula, lepas dari itu semua, dia tidak sedang dalam kapasitas untuk menasehati apalagi ikut berkomentar. Dia bukan siapa-siapa... jangan ikut campur.
Perjalanan pulang kali ini diisi dengan keheningan. Tidak ada suara mengobrol, tidak pula ada suara radio yang menyala. Hanya hening, hingga sampai di daerah rumah Suzy, Myungsoo kembali bertanya. "Di mana tempat tinggalmu?"
Suzy menimang sebentar.
"Aku tidak bisa membiarkanmu turun di pinggir jalan. Aku harus memastikan kau pulang dengan aman, Suzy. Tenang saja, aku tidak akan macam-macam." Ucap Myungsoo lagi seolah tahu apa yang sedang Suzy pikirkan.
Suzy itu penganut privasi tinggi. Dia tidak membiarkan orang lain selain orang yang dia percaya dan kenal dekat tahu dimana tempatnya tinggal. Walaupun dia bukan artis atau semacamnya, hanya saja keamanan adalah hal utama.
Suz mengigit bibir bawahnya pelan. Lalu mendesah, "Di sana." tunjuk Suzy pada salah satu gedung bertingkat yang menjulang paling tinggi di antara yang lainnya.
"The Helios?"
Suzy mengangguk. "Ya. di sana."
Tidak lebih dari tiga menit, mobil sampai di depan pintu masuk The Helios. Myungsoo memberentikan mobil, tapi tetap membiarkan mesin mobil menyala. Suzy melepas sabuk pengaman, dan sedikit menyerong ke arah Myungsoo. "Terima kasih. Lain kali kau tidak perlu mengantarku segala. Merepotkan."
"Aku tidak berpikir ini merepotkan." jawab Myungsoo sungguh-sungguh.
Suzy mengangguk. "Err, kalau begitu aku masuk dulu. Sekali lagi terima kasih dan... menyetirlah dengan hati-hati?" ucapnya yang lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan.
Myungsoo tersenyum kecil. "Ya, aku akan menyetir dengan hati-hati."
Suzy balas tersenyum. Lalu, turun dari mobil itu. Ia menunggu hingga mobil Myungsoo menghilang dari pandangannya kemudian barulah ia berbalik. Tepat pada saat itu, ponselnya berdering. Suzy menghentikan langkah dan merogoh ponselnya dari dalam tas, jantungnya berdegup kencang saat melihat nama penelepon dilayar ponselnya; seorang suster dari rumah sakit.
Suzy menggeser ikon ke arah kanan dan meletakkan benda elektronik itu ke telinga.
"Akhirnya kau menjawab juga, Suzy!"
***
Terimakasih antusiasnya, sista. Hehehe voment jgn lupa👍🏻😆
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co