6
JARINYA gemetar saat menekan tombol nomerator pada lift yang tak lama pintunya menutup. Lalu, bibir itu kembali mengigit kuku jarinya dengan gelisah seraya kedua pandangannya yang ia tumpukan pada nomerator yang menyala.
Lantai 1... lantai 2... lantai 3... Suzy menghitung dalam hati dengan gelisah. Setelah telepon dari suster Haesook berakhir, Suzy langsung melarikan diri secepat mungkin menuju Rumah Sakit ini. Beruntung karena tadi dia langsung menemukan taksi hingga dia sampai ke Rumah Sakit hanya dalam waktu 20 menit.
Bunyi Ding! terdengar dan pintu lift terbuka. Suzy segera melangkah keluar dengan berjalan cepat menyusuri lorong koridor yang sepi. Wajar saja, ini sudah jam sebelas malam. Beruntung karena dia masih bisa masuk mengingat jam besuk sudah tidak diberlakukan lagi. Dinding-dinding putih yang panjang yang Suzy lewati itu akhirnya membawa langkahnya berhenti pada satu pintu putih di lantai koridor itu. Suzy menarik napas, kemudian menggeser pintu di depannya perlahan.
"Suzy!" suster Haesook langsung berseru lega, wanita setengah baya yang sedang membenarkan selang infus di tangan Jimin itu langsung menggeser tubuhnya saat Suzy sudah berdiri dalam jarak sentuhnya.
"Apa yang terjadi, Sus?" tanya Suzy, suaranya bergetar dan matanya terasa panas. Perasaan yang terjadi kali ini jelas diluar kendalinya, Soojung pasti akan marah kalau tahu dia menangisi Jimin, tapi rasa khawatir malam ini membuat dadanya sesak dan membuatnya ingin menangis. Untuk kali yang tak terhitung lagi, Suzy mencoba menarik napasnya dalam-dalam berharap supaya air mata yang hendak melesak keluar itu kembali masuk. Setelah merasa lebih bisa mengontrol emosinya, dia kembali bicara. "Aku benar-benar terkejut."
"Janji kau jangan menangis ya?"
"Ada apa memangnya, Sus?" Suzy mendesak penasaran.
Haesook menatap perempuan di depannya ini dengan pandangan kasihan, berhubungan dengan Suzy selama beberapa tahun ini membuat Haesook yang memang sebatang kara sudah menganggap Suzy seperti anaknya sendiri. Dia, dan seluruh staff di rumah sakit ini jelas tahu dan menyimpan rasa kagum kepada Suzy, yang mau bersusah payah merawat Jimin. Pada awalnya mereka mengira kalau Jimin itu adalah kekasih Suzy, namun karena Soojung selalu menegaskan pada setiap orang yang bertanya—bahwa Jimin hanya teman mereka dan bukan kekasih sahabatnya—maka gosip-gosip praduga itu menghilang di makan waktu.
Yang Haesook tahu, Suzy sedang berupaya merawat temannya. Sungguh anak yang benar-benar baik.
"Kondisi Jimin semakin memburuk." Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Haesook mengatakannya. "Tadi, dia sempat terkena serangan lagi. Beruntung Jimin berhasil melewatinya." Haesook membubuhkan pandangannya kepada Jimin.
Suzy mengikuti. Ditatapnya Jimin yang sedang tak sadarkan diri di atas brankar itu dengan raut wajah sendu.
Ini semua salahnya... kalau saja dia tidak bertengkar malam itu dengan Jimin...
"Suster, aku ingin menanyakan sesuatu. Boleh?" Suzy kembali menolehkan kepala ke arah Haesook yang langsung mendapatkan anggukan dari wanita dengan pakaian serba putih di depannya. Menarik napas sebentar sebelum mengembuskannya perlahan, Suzy lalu kembali bicara. "Apakah ada kemungkinan Jimin akan sembuh jika kembali melakukan operasi?"
"Mungkin saja. Tergantung kuasa Tuhan, nak."
"Aku ingin Jimin segera ditangani."
"Suzy, biayanya begitu besar. Kau tahu kan, jika operasi ini tidak berhasil, semuanya akan sia-sia..."
Suzy memejamkan mata sebentar. "Aku benar-benar ingin melihatnya membuka mata lagi."
"Kau sangat mencintainya ya?"
Suzy terdiam. Sejujurnya, dia sendiri bingung atas perasaannya sekarang. Yang jelas... "Aku ingin lepas dari rasa bersalahku, Suster."
Haesook memandang Suzy sebentar, lalu mengangguk. "Aku akan mengatur waktu supaya kau bisa bertemu dengan Dokter dan membicarakan ini lebih lanjut. Ya?"
Suzy mengangguk. "Terima kasih, Suster."
Haesook tersenyum menenangkan. Dan pada saat itu baru lah dia menyadari kalau penampilan Suzy malam ini berbeda. Sepertinya wanita itu habis menghadiri sebuah acara. "Kau dari luar?"
Suzy menatap pakaiannya. Dress satin berwarna nude yang sangat cocok dipakainya. Dress ini diberikan Myungsoo kepadanya saat pertemuan pertama mereka, dia tidak tahu bagaimana Myungsoo bisa tahu ukurannya karena ini sangat pas membungkus tubuhnya. Suzy tersenyum. "Mm, aku habis datang ke acara pernikahan seseorang."
"Oh tuhan, jangan katakan pernikahan Kim Jungwoo dan Lia?"
"Kau tahu mereka?" Suzy nampak terkejut karena jelas dua orang itu bukan dari kalangan artis, sehingga biasanya masyarakat umum tidak mengenal siapa mereka.
"Aku membaca majalah bisnis, jadi tahu siapa orang-orang kaya itu." jelasnya.
Suzy ber-oh ria.
"Jadi, ini yang membuat Soojung frustasi beberapa waktu lalu?"
"Ya." Suzy tersenyum dan mengangguk. "Tapi, dia senang karena berhasil datang ke acara ini juga. Kami menikmati acara ini."
"Kalau boleh jujur, akan terlihat lebih berkelas dan megah jika The J Story yang menangani acara ini. Ini murni pendapatku." Kata Haesook. Dia jelas sudah melihat dari media sosial bagaimana konsep acara pernikahan itu. Dan memang, akan menjadi sempurna jika ditangani oleh perancang pesta sekelas TJS. Bukan yang lain.
Suzy mengangguk setuju. "Ya, aku juga berpikir begitu. Sayang sekali mereka tidak bisa mendapatkan kami."
"Kudengar perayaan ulang tahun anak dari orang kaya Dubai itu sangat berhasil. Katanya hingga trending di kalangan orang kaya Dubai."
"Benarkah?"
Haesook mengangguk. "Kau belum melihat berita daring?"
"Belum." Suzy menggeleng pelan. "Aku belum sempat membuka HP sejak tadi. Soojung pasti bangga sekali saat tahu bahwa TJS menjadi pembicaraan di luar negeri."
"Aku bisa membayangkan wajahnya yang sedang tersenyum lebar dan bangga." Haesook terkikik. Melihat Suzy yang juga ikut tertawa, Haesook menarik napas lega. Setidaknya dia berhasil menarik Suzy dari suasana sedih sebelumnya dan membuatnya tersenyum seperti ini.
***
"Ayah, nanti datang jam berapa?" Ella menaruh tas-nya ke kursi makan di sebelahnya yang kosong. Lalu, mengambil duduk pada kursi satunya lagi. Gadis berkuncir dua itu tersenyum riang, wajahnya berseri-seri karena hari ini adalah hari yang paling ia tunggu.
Myungsoo mengangkat pandang dari iPad yang dipegangnya, guratan bingung terpancar di kedua matanya saat menatap sang putri. Ella langsung cemberut saat tahu bahwa ayahnya pasti lupa kalau ini adalah hari penting untuknya.
"Ayah lupa. Ayah pasti lupa." kedua bahu Ella merosot. Wajah berserinya kini dipenuhi awan berkabut yang tebal. Saat tatapannya kembali kepada Myungsoo, matanya mulai berair. "Hari ini adalah pentas seni di sekolah. Dan semua orangtua murid akan datang untuk mensuport anak mereka." jelasnya.
Benar. Myungsoo lupa. Padahal Ella selalu mengatakan hal itu padanya hampir setiap hari. "Ella, meskipun ayah tidak datang—"
"Ayah tidak bisa datang lagi?" potong Ella. "Tahun lalu tidak datang. Dua tahun yang lalu juga tidak datang." lanjutnya.
"Ayah harus ke Jeju 3 hari. Nenek atau kakek pasti akan datang melihat Ella. Oke?"
"Tidak mau!" Ella bangun. Napsu makannya hilang ditelan pembicaraan pagi ini. ayahnya selalu saja mementingkan tentang Perusahaan, tentang bagaimana cara menghasilkan uang yang banyak. Ella tahu kalau dia tidak akan bisa menang jika melawan Watermart. Jun—sepupunya—sangat enak memiliki ibu yang tersedia 24/7 untuknya, bisa ditanyai apapun, bisa dikeluhkan apapun.
"Ella Kim." Myungsoo meletakkan iPad-nya di atas meja. Lalu, menatap putrinya dengan menahan sabar. Kepalanya jelas sudah pusing tentang masalah pekerjaan, dan kenapa putrinya tidak bisa bersikap dewasa dan mencoba untuk mengerti keadaan?
"Memangnya salah kalau aku ingin ayah yang datang? Teman-temanku selalu dihadiri oleh ayah dan ibu mereka. Sementara aku, setiap tahun hanya ada nenek, nenek, dan nenek."
"Tahun depan ayah berjanji akan datang. Hari ini benar-benar tidak bisa, sayang."
"Tahun lalu ayah juga bicara seperti itu!"
"Ella, turunkan suaramu!"
Ella mendengus. Pipinya sudah basah oleh air mata. "Kalau begitu beri aku Ibu!"
"Ella..."
"Kekasih ayah yang waktu itu," ditatapnya sang ayah dengan sedih bercampur kesal. "aku ingin dia yang datang kalau bukan ayah. Kalau tidak, aku tidak akan bicara dengan ayah selama setahun. Titik!" katanya final. Dengan kalimat itu selesai, Ella langsung turun dan mengambil tasnya.
Lalu, pergi menuju sopir yang biasa mengantarnya ke sekolah.
Meninggalkan Myungsoo yang kini pusing bukan kepalang. Permintaan yang satu ini... haruskah ia lakukan? Atau haruskah dia biarkan?
***
Suzy mengangkat alisnya tinggi saat melihat apa yang terjadi di dalam kantor TJS sekarang. Langkahnya pelan, menuju seseorang yang kini sedang berbicara pada seorang tukang yang nampak memegang sebuah banner super besar dan... norak. Ew.
"Soojung, apa yang sedang terjadi sekarang?" tanya Suzy sambil memerhatikan seisi ruangan yang super ramai. Tidak seperti ruang kerja mereka selama ini.
"Oh, hey, kau sudah datang?" Soojung tersenyum senang. "Bagaimana menurutmu?"
"Agak terlalu... berlebihan?" jawab Suzy.
"Tentu saja tidak!" Soojung mengibaskan tangan. "Lihatlah, dan baca." tunjuk Soojung pada banner yang kini sudah terpasang sepenuhnya.
"Trending #1 in Dubai: The J Story." Suzy membaca tulisan pada banner itu. Astaga, jadi kebisingan pagi ini dikarnakan hal ini?
"Jung, kurasa kita tidak memerlukan banner ini untuk sekadar validasi..." ucap Suzy. Keningnya berkerut pertanda kalau dia masih tidak percaya akan apa yang sedang dilihatnya kini. Jujur, ini diluar dugaan. Plot twist sekali.
"Ini memang bukan untuk validasi, namun kata-katamu aku jadi punya ide. Bagaimana kalau kita pasang banner seperti ini di luar gedung TJS?"
"Tidak!" seruan serempak dari orang-orang The J Story yang kini berada di dalam ruangan ini.
Soojung langsung menatap mereka satu per-satu dan terkikik. "Ayolah, aku hanya bercanda. Kulakukan ini karena kakak dan ayahku akan datang ke TJS hari ini, aku ingin membuktikan pada mereka kalau The J Story sudah naik level. Itu saja."
"Huff," Suzy mengelus dada. "Kupikir kau sudah mulai panik hingga begini."
"Sejak kapan Soojung panik? Tidak diajak menikah-menikah saja aku tidak panik." kata Soojung santai. Tetapi Suzy tahu kalau Soojung sangat amat menginginkan ajakan itu meskipun dia tidak mengatakannya secara langsung atau apapun mengenai hal itu.
Suzy mengangguk. "Benar. Sahabatku adalah wanita paling kuat sejagad raya."
Soojung tertawa. "Jadi, kau ada acara apa hari ini?"
"Tidak ada yang begitu mendesak. Mungkin kebanyakan brainstroming, The J Story butuh rancangan baru."
"Bagus!" Soojung menjentikkan jari. "Kau gantikan aku mengawasi di lapangan ya? memang ada Kim Nara di sana, tapi tidak ada salah satu di antara kita. Kau mengertikan maksudku?"
Suzy mengangguk. "Oke, tentu saja. Di Sekolah Dasar Cheon-Ah kan?"
"Ya. Gumawo, chingu-ya!" Soojung memeluk senang.
"Kalau begitu aku akan kesana dan—" ucapan Suzy terputus saat ponselnya berdering. Suzy segera mengambil benda elektronik itu dari dalam tas dan mendapati nomor Myungsoo menari-nari di layarnya.
"Ya, Myungsoo?" sapa Suzy sesaat setelah mengangkat panggilan itu. Soojung yang ingin pergi dari sana, mendadak membeliakkan mata dan memasang telinganya tajam. Senyumannya semakin lebar saat tatapannya dan Suzy saling bersirobok.
"Loudspeaker, tolong." Bisik Soojung yang langsung mendapatkan penolakan dari Suzy. Soojung cemberut, namun tetap mencuri dengar.
"Suzy, kau sedang sibuk?"
"Tidak. Ada apa?"
"Dia pasti ingin mengajakmu kencan." bisik Soojung.
Suzy memutar bola mata.
"Kau sudah di TJS ya? Aku berpikir apakah aku bisa meminta bantuanmu atau tidak."
Soojung dan Suzy saling tatap, tidak menemukan clue sama sekali.
"Apa itu Myungsoo? katakan saja, mungkin aku bisa membantumu." jawab Suzy.
"Hari ini Ella ada pentas kesenian di sekolahnya. Dan dia ingin kau hadir. Maksudku, dia ingin aku hadir, tapi aku tidak bisa. Kukatakan padanya bahwa neneknya akan hadir menontonnya, tapi Ella menolak. Dan tiba-tiba dia ingin kau yang hadir... menggantikan aku."
"WOAH DAEBAK!" Soojung menutup mulut tak percaya. Suaranya jelas kencang dan Myungsoo pasti bisa mendengarnya. Suzy menggerutu, kemudian buru-buru pindah dari tempatnya berdiri.
"Aku?" tanya Suzy memastikan. Kali ini Soojung tidak mengikutinya, tetapi tetap memberikan tatapan senang sekaligus menggoda yang terang-terangan. Bahkan sekarang Suzy seperti melihat ada tanduk tak kasat mata di kepala sahabatnya satu itu.
"Ya. Dia ingin kekasih ayahnya yang datang. Ini memang merepotkan," Myungsoo menghela napas diujung sambungan. "jika kau sibuk, aku bisa bilang kalau kau tidak bisa, Suzy. Jangan memaksa."
"Di mana sekolahnya?"
"Sekolah Dasar Cheon-Ah."
"Kau serius?" Suzy membeliakkan mata. Senyumannya terbentuk di bibir. "Aku ada pekerjaan di sana. Sepertinya aku bisa mengabulkan keinginan Ella."
"Sungguh? Astaga, aku benar-benar lega sekarang. Terima kasih, Suzy. Terima kasih."
"Dengan senang hati." balas Suzy.
***
Dah dipanjangin ya, skrg komen ama vote-nya jga dibanyakin okk?👍🏻😘
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co