Truyen3h.Co

Girlfriend Rent

7

authoriya

"EOMMA!"

Suzy menoleh, menatap dengan pandangan bingung pada anak perempuan kecil yang kini sedang berlari ke arahnya. Rambutnya yang dikuncir dua berterbangan terhempas angin, kedua tangannya terentang lebar dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya yang polos. Saat langkah kecil itu semakin masuk ke dalam jarak sentuhnya, Suzy otomatis berlutut, dan membiarkan tangan itu merengkuh lehernya.

"Bagaimana penampilanku, eomma?" tanya Ella setelah pelukan terlepas.

Suzy bingung, terakhir kali bertemu Ella, gadis itu masih memanggilnya dengan sebutan bibi. Bukan ibu seperti sekarang. Otaknya mulai bertanya-tanya, namun melihat apa yang terjadi sekarang—banyak pandangan anak-anak seumuran Ella yang kini sedang menatap ke arah mereka—Suzy berpikir kalau ini memang disengaja.

"Super keren!" jawab Suzy sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

Ella tersenyum bangga. Matanya kemudian ia bawa untuk melirik satu persatu ke arah teman-temannya. Suzy bisa membaca tatapan itu, itu adalah tatapan yang menunjukan sebuah bukti.

Seorang anak langsung datang menghampiri, Suzy bisa merasakan perubahan gestur Ella didekatnya. Ada tatapan jumawa di wajahnya.

"Mian, aku mengaku kalah."

"Sebenarnya kau memang selalu kalah dariku, Eunbi." jawab Ella.

Suzy mengikuti percakapan antara dua anak di dekatnya itu dengan tak mengerti. Saat tatapan anak perempuan bernama Eunbi itu ke arahnya, Suzy tiba-tiba ikutan gugup. Tubuhnya langsung tegak—tidak sesantai sebelumnya—dan menyunggingkan senyum. Berusaha ramah.

"Benar, bibi calon ibunya Ella?"

Suzy yang kelihatannya tidak menduga kalau dia akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Suzy berdeham pelan, dia melirik Ella yang kini juga sedang menatapnya dengan senyum diwajah. Karena tidak ingin mengecewakan Ella di depan 'teman'-nya, akhirnya Suzy tersenyum. "Mm. Siapa namamu?"

"Bukannya bibi sudah mendengar tadi. Aku Eunbi." jawab Eunbi.

Benar-benar kurang sopan... Suzy jadi bertanya-tanya apakah anak zaman sekarang memang seperti ini? tapi, melihat Bian yang begitu ramah dan punya sopan santun, sepertinya tidak semua anak seperti Eunbi. Lagi-lagi ini adalah pola didik orangtuanya.

"Okay, senang bertemu denganmu, Eunbi." kata Suzy pada akhirnya. Wanita itu berdiri dan menatap Ella. "Ella, err—eomma harus kembali ke kantor. Kau masuk ke kelas ya?"

Ella mengangguk, senyuman tak lepas dari wajahnya. "Hati-hati, eomma. Sampai bertemu!"

Suzy mengangguk. Melambaikan tangannya sebentar sebelum berbalik menuju beberapa karyawan TJS yang sedang merapikan peralatan. Dalam langkahnya yang semakin menjauh, Suzy masih bisa mendengar sayup-sayup suara Eunbi yang berbicara pada Ella sebelum akhirnya suara itu bias dan hilang terbawa angin.

"Itu benar calon ibumu yang banyak dibicarakan orang-orang itu?"

"Kau dengar sendiri kan jawabannya tadi?"

"Baiklah aku mengakui kalau Ayahmu ternyata memang tidak homo. Pilihannya juga lumayan."

"Mwoya, lebih dari kata lumayan. Ibuku jika dibanding dengan ibumu jelas levelnya jauh diatas, kali. Ibumu tanpa kekayaan ayahmu itu bukan apa-apa. jadi, jangan cuma bilang "lumayan". Hellow!"

"Yya, Ella Kim! Aku kan tidak mengejekmu, kenapa kau menyebalkan!?"

"Percayalah, aku menyebalkan seperti ini hanya kepadamu, Eunbi."

***

SUZY : Ella benar-benar berbakat di dunia peran. Aku menangis melihat actingnya.

MYUNGSOO : Benarkah? Ada fotonya?

SUZY : Ada. Sebentar.

SUZY : 

SUZY : SALAH!

SUZY : (pesan telah dihapus)

SUZY : Ini dia.

MYUNGSOO : Apa Ella membuatmu kerepotan tadi?

SUZY : Tidak sama sekali. Kau harus mengajaknya pergi di akhir pekan sebagai hadiah untuknya. Aku hanya menyarankan, keputusan ada padamu.

---
Setelah beberapa saat dan Myungsoo tidak juga membalas, Suzy yang hendak meletakan ponselnya ke atas meja, mendadak terkejut ketika menemukan nama Myungsoo menari-nari di sana. Dengan menggeser ikon pada layar, Suzy mengangkat panggilan itu.

"Ya, Myungsoo?"

"Apa kau bisa ikut?"

"Hah?"

"Saranmu yang tadi. Sejujurnya aku belum pernah pergi berdua dengan Ella diakhir pekan. Kau tahu... kupikir terlihat aneh." katanya.

Suzy mengangkat alis. "Kenapa pula terlihat aneh?"

"Entahlah, aku hanya belum pernah melakukannya."

"Lalu, kenapa mengajakku?"

"Mungkin tidak akan terlihat aneh jika bertiga?"

Suzy tersenyum, kedua matanya tanpa sengaja bersinggungan dengan Soojung yang langsung menatapnya curiga dengan mata yang sedikit disipitkan. Tak berniat untuk meladeni godaannya, Suzy langsung mengalihkan pandangannya. Kali ini kedua matanya lurus menatap kalender yang terdapat di atas meja kerjanya dengan pandangan mengunci di lingkaran pada salah satu tanggalnya.

Berdoa untuk Jimin.

"Apakah tidak masalah jika aku ikut?"

"Ella mungkin akan senang. Kudengar dari gurunya tadi dia bahkan memanggilmu "Ibu". Kau pasti terkejut. Aku minta maaf." Myungsoo mendesah diujung sambungan.

Suzy menggeleng, meskipun tahu kalau yang kini sedang berbicara padanya tak mungkin bisa melihat. "Hanya sedikit terkejut. Tapi, aku oke dengan itu, kupikir dia melakukan itu karena ingin pamer dengan teman sekelasnya."

"Jadi...?"

"Baiklah. Mungkin aku bisa ikut jika itu hari minggu. Karena hari sabtu aku harus mengunjungi kakekku."

"Baiklah." Entah kenapa Suzy bisa tahu ada kalau Myungsoo pasti sedang tersenyum saat menjawabnya barusan, membuat Suzy mau tak mau jadi ikutan tersenyum.

"Err... kalau begitu sudah dulu ya? bosku terus-terusan menatapku, sepertinya dia kesal melihat karyawan favoritnya malah bertelepon ria di jam kerja. Kita harus mengakhiri sambungan ini segera."

"Oh, maaf. Aku lupa kalau ini masih jam kerja. Aku habis dari meeting dan sedang istirahat di hotel."

"Hotel?"

"Ya. aku sedang di Jeju."

"Wow. Menginap atau langsung terbang ke Seoul hari ini juga?"

"Menginap. Besok masih ada yang perlu dilihat dan dilakukan."

"Oh begitu..." Suzy mengangguk. Sekali lagi tatapannya bertemu dengan Soojung, lalu dia buru-buru bicara pada Myungsoo. "Err, sepertinya aku harus benar-benar mengakhiri sambungan ini, Myungsoo."

"Baiklah. Sampai bertemu, Suzy."

"Sampai bertemu, Myungsoo."

Lalu sambungan telepon itu terputus.

Suzy meletakkan ponselnya ke atas meja bersamaan dengan suara Soojung yang terdengar. "Kau ini berdosa sekali... bisa-bisanya kau bawa-bawa namaku."

"Aku tidak berbohong," Suzy tersenyum lebar. "Kau kan memang sedang menatapku penuh dengan keingintahuan yang besar." tukasnya.

"Ya, tapi kekasih gadunganmu itu pasti menyangka kalau aku galak. Oh my god, sebagai bayarannya, kau harus membiarkanku mendekor acara pernikahanmu dan Myungsoo kelak. Oke?"

"Yya, Jung Soojung."

"Amin-kan saja itu. itu doa baikku untukmu, tahu?"

Suzy memutar bola mata. "Kurasa temanku benar-benar sudah tidak waras. Oh tuhan!"

Soojung tertawa. "Omong-omong, kau ada rencana apa dengan hot daddy itu?"

"Rahasia."

"Mwoya... sejak kapan di antara kita ada rahasia-rahasiaan?" Soojung cemberut. "Kalian mau kencan ya?"

"Tidak ada kencan. Hubungan kami profesional."

"Tentu saja, aku akan menunggu from this to this kalian. Dari Profesional menjadi Personal. Uwu!"

Suzy geleng-geleng. Kalau dia terus meladeni, omong kosong ini jelas tidak akan ada habisnya, karena itu dia memilih untuk menghidupkan layar komputernya dan membuka folder pekerjaannya. Setidaknya, hari ini dia harus sudah menghasilkan satu konsep desain yang baru. Mungkin dia akan menghubungi tim-nya setelah jam makan siang nanti untuk brainstroming.

***

selamat berpuasa semuanya~

Sori ya pendek updatenya. Semoga next chap agak panjangan. Tp ttp vote dan komen #maksa😘

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co