Tujuh
Oke, ini jam berapa?
Anyone still awake?
Aaaaaa. Hani senang!
Lo tahu, gue tadi dianterin balik sama Unggah dong. Hehe, walaupun mungkin dia terpaksa karena disuruh ama si Bambang. (Should I thank to him?)
Oke, kayaknya kalau gue udah jadian sama dia gue bakal teraktir nasi uduk bang toyib buat Bambang. HAHA.
Besok disambung lagi deh, gue mau tidur dulu karena besok gue mulai naik busway ke sekolah. Kakak gue liburan sama temen-temennyaaaa :( #sedih
***
KEMERLIP bintang ditambah sinar rembulan malam ini nyatanya cukup bisa menerangi balkon-balkon yang menghadap ke arah jalanan komplek. Ada enam balkon berjejer dengan model rumah yang berbeda di komplek itu, dan satu di antaranya terisi oleh seseorang yang sedang hanyut dalam pikirannya.
Unggah, duduk menyandar pada kursi malas dengan gitar di pangkuannya. Sesekali jemarinya bergerak memetik secara random senar gitar tersebut. Suasana di perkomplekan rumahnya terasa lebih sunyi di malam hari. Ditambah sekarang, hatinya yang kosong seperti membuatnya ingin berlari. Unggah ingin teriak atas cinta dan pengorbanannya yang ternyata tak berarti apa-apa untuk Rini. Bukan karena tidak terima kalau kisahnya berakhir, hanya saja dia merasa seperti melakukan hal yang sia-sia.
"Sialan!" Unggah mendengus keras. Tangannya bergerak memetik senar pada gitarnya, lalu bernyanyi, "Kau hancurkan aku dengan sikapmu, Tak sadarkah kau telah menyakitiku..."
Nyanyian Unggah hampir mencapai bait terakhir saat ponsel miliknya bergetar. Jemarinya berhenti memetik senar, diambilnya ponsel itu dari meja kecil yang memiliki warna yang sama dengan warna kursi yang di duduki, lalu menghidupkan layar.
Satu notification undangan grup. Unggah membukanya.
—
Bima invited you to a JOJOBA's group.
Bayu : Welkam tu de grup kakak Unggahqu! *Tiup lilin*
Bima : Welkam tu de grup kakak Unggahqu! *Tiup lilin*
Bayu : Yah, gak kreatif. Dasar netizen~
Unggah : Sial. Gue kira group ini hanya mitos, ternyata beneran ada.
+628578998 join to the group.
+628788760 join to the group.
+628578998 (Bams) : si Bima, disuruh buat group biar gampang omongin futsal, malah bikin group pake nama beginian...
+628788760 (Dwiki) : Gue sempet mikir kalau ini masih hape Lala, tahunya...
Bayu : Gue kira ini buat selebrasi Unggah abis putusan.
Unggah : Kejam banget temen-temen gue ini.
Bima : Maap kakak:*
+628578998 (Bams) : send a contact.
+628578998 (Bams) : itu nomor boleh di simpen buat yang lain, tapi yang boleh flirting cuma dedek Unggah.
Bima : Kok nggak adiiiilllllll!? Dedek Bima juga ingin qaqaq :(
—
Unggah mengernyitkan keningnya ketika membaca nama kontak person yang dikirimkan Bambang ke group chat mereka.
Haniquu. Tulisan di kontak yang dikirim Bambang itu. Unggah heran, kenapa juga Bambang menyebarkan nomor Hani pada mereka. Kalau sampai cewek itu tahu, Unggah yakin Hani pasti akan mencekik Bambang hingga sekarat.
Ia tersenyum kecil, disimpannya nomor Hani dengan mengganti namanya. Sebenarnya dia juga tidak mengerti kenapa dia perlu menyimpan nomor cewek itu, tapi kalau saja nanti ada perlu dengan Hani, dia tidak perlu repot-repot lagi mencari nomor teleponnya.
Setelahnya Unggah meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja, dan kembali mengambil gitarnya. Unggah memainkan lagu-lagu secara acak mengikuti apa yang otaknya perintahkan. Dan tanpa ia sadari, lagu-lagu itu membuatnya memikirkan cewek yang tadi di boncengnya sepulang sekolah. Tentu saja, Unggah sudah bisa menebak kalau cewek itu begitu ceriwis dan ternyata memiliki hobi mengomentari orang-orang di jalan raya. Secara acak. Bukan dalam hal negatif, namun lebih ke komentar-komentar receh yang anehnya mampu mendistraksi pikiran Unggah dari hal-hal lain dan seakan dunianya berhenti saat itu. Membuat Unggah lupa kalau dia semestinya sedih karena hubungannya baru saja kandas.
***
"Bundaaaaaa, rok batik adek mana?" seru Hani dari dalam kamarnya. Baju seragam berwarna putih tulang sudah melekat di tubuhnya saat tangannya bergerak mengacak-acak seluruh pakaian yang ada di lemari kayu bercat putih di kamarnya. Jarum panjang jam yang menggantung di dinding sudah menunjuk ke angka empat, yang berarti tinggal tersisa sekitar 35 menit lagi sebelum bel di sekolahnya berbunyi. And the problem is... Bogor itu macetnya sudah hampir menyamai ibu kota tiap paginya, jarak tempuh antara Rumah Hani dan sekolah yang seharusnya hanya memakan waktu lima belas menit bisa jadi dua kali lipat kalau pagi hari, apalagi dia akan naik angkutan umum...
"Aaaa... Bunda mana deh—"
"Apasih, dek?" Bunda menyembulkan kepala di antara pintu yang sedikit terbuka. Apron berwarna biru laut masih terpasang ditubuh Bunda, dan bau nasi goreng tercium melalui indera penciuman. Bunda kemudian berjalan masuk, "Kenapa?"
"Rok batik aku mana coba?" Hani mengeluh, ia mendudukan tubuhnya di ujung ranjang dengan handuk coklat masih melilit di pinggang.
"Ya di lemari, dek. Masa di dapur?" Bunda menggelengkan kepala.
"Nggak ada, Bunda," Ucap Hani dengan memanjangkan kata terakhirnya, "Aku udah acak-acak semua isinya, tapi nggak ketemu."
Bunda mendesah, "Awas ya sampai Bunda nemuin rok kamu, bunda sumpelin ke mulut ya?" ancam Bunda. Kemudian tangannya bergerak ke sisi kanan dan mencari-cari di bagian teratasnya.
Hani mengikuti menggunakan matanya. Satu kakinya bergerak mengetuk-ketuk lantai marmer berwarna putih dengan pelan. Kemudian, pupil mata Hani langsung membesar saat melihat Bunda berbalik dengan tangan memegang rok yang sejak tadi dicari-carinya.
"Ini apa?" Bunda menyodorkan rok itu kedepan. Kepala Bunda menggeleng-geleng ketika melihat satu cengiran muncul di wajah anak bungsunya tersebut. "Makanya dek, lain kali kalau nyari barang itu nggak pake gupek."
"Tadi nggak ada," Hani menampilkan deretan gigi putihnya, "Hehe, makasih Bunda!"
Bunda ber-hemm dan mengiakan. Kemudian wanita setengah baya itu berbalik dan kembali menuju dapur setelah menyuruh Hani untuk menyusulnya kalau sang anak sudah selesai bersalin. Dan juga, Bunda memberikan peringatan agar Hani segera bergegas jika tidak ingin terlambat ke sekolah.
***
Hani mendesah, melirik kembali jam pada pergelangan tangan kanannya dengan kesal. Busway yang melewati sekolahnya sejak lima menit tadi tidak juga muncul-muncul padahal ini sudah mepet waktu banget.
"Gimana coba," Hani mengeluh. Bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Apa gue pesen ojek online aja ya?"
Tadi, dia tidak sampai terpikirkan untuk memesan ojek online karena selisih tarif busway dan ojek online cukup tinggi juga. Hani bukan tipikal orang yang gengsi dan kekinian, walaupun uang jajannya sebulan sangat lebih cukup hanya untuk ongkos ojek online, tetapi Hani lebih memilih naik Busway yang tarifnya 'bermasyarakat' sekali. Maklumlah, sebagai anak remaja yang hobi baca novel dan nonton drama korea, ngemol beli makanan-makanan korea, Hani harus irit agar kebutuhan yang bagi Hani termasuk kebutuhan primer itu bisa terus berjalan. Novel-novel di toko buku selalu baru setiap minggu, belum lagi kegiatannya membeli segala pernak-pernik lucu dari negeri gingseng itu. Apalagi kalau produk itu di pasarkan oleh Boy Group idolanya, Exo. 'Wajib banget harus bisa beli meskipun ngirit jajan selama seminggu' adalah prinsip Hani dan Lala.
Hani merogoh ponselnya dari dalam tas ranselnya, membuka unlock kemudian mencari aplikasi ojek online yang biasa digunakannya untuk mengorder makanan. Bisa dihitung pakai jari Hani mengunakan ojek online untuk mengantarnya kemana-mana, karena memang Hani lebih menyukai naik busway. Untuk Hani, di busway dia bisa melihat orang-orang menggunakan perspektif yang lain.
"Oke, ini namanya kebutuhan tersier..." gumam Hani pada dirinya sendiri, tangannya mulai mengetikkan nama sekolahnya pada kolom, dan berhenti ketika suara klakson motor berbunyi di depannya.
"Hoi, lo nggak dapat mobil?"
Hani yang masih menundukkan kepalanya, melirik ke sisi kiri dan kanannya, mencari tahu siapa orang yang di 'Hoi'-in oleh si pemilik motor itu. Karena nggak mungkin dia langsung mendongak, bisa disangka kegeeran nanti, pikir Hani. Namun, ketika dia tidak menemukan kaki-kaki lain yang menapak di lantai halte, barulah Hani mendongakkan kepala.
Kepala berbungkus helm hitam di depannya itu langsung membuat jantung Hani berdegup kencang. Sedangkan efek lain yang di timbulkan adalah seperti kupu-kupu yang sedang terbang di dalam perutnya.
Itu Unggah!
"Ngapain lo di sini?" Tanya Hani ketika sudah bisa mengendalikan dirinya.
Kedua mata tajam Unggah menatap Hani dengan penuh, "Rumah gue lewat sini," jelas Unggah singkat. Lalu, bertanya. "Mau bareng nggak?"
Mauuuuuuuuu!!! Ucap gadis batin Hani.
Hani berdeham, "Emang lo bawa helm dua?"
"Gue tahu jalan tikus buat ke sekolah kita kok. Kalau mau, ayok." Kata Unggah singkat. Kedua tangannya menggas pelan motor kesayangannya itu, dengan gerakan dagu, Unggah menyuruh Hani untuk segera naik ke motornya.
Tidak ada alasan untuk Unggah mengajak Hani ikut bersamanya. Rumahnya memang melewati daerah rumah Hani dan kebetulan tadi dia melihat seorang cewek dengan seragam batik sepertinya duduk di bangku halte sendirian dengan pandangan fokus ke ponsel yang di pegang. Seperti ada bisikan yang menyuruh Unggah untuk memberhentikan motornya dan menawari cewek itu untuk berangkat ke sekolah bersamanya.
"Yaudah deh kalau lo nya maksa." Hani tersenyum kecil. Tangannya menepuk rok bagian belakangnya sebelum kaki yang dibalut pantofel hitam itu berjalan ke arah motor Unggah.
Unggah mendengus pelan, namun tak urung satu senyuman kecil terbit di wajah yang ditutupi helm hitam legam saat mendengar suara Hani yang berkata demikian.
***
"Dua tiga empat lima, bagaimana Unggah dan Hani bisa datang bersama-sama?" Bima berpantun mengikuti salah satu tokoh di film anak-anak besutan Malaysia yang tayang setiap hari di tivi lokal itu. Suara itu mampu membuat perhatian teman-teman sekelas mereka yang sudah pada datang dan menatap Unggah dengan ekspresi terkejut mereka.
Ketika nama Hani disebut, satu sosok cewek dengan wajah baby face yang merupakan kakak kelas mereka itu langsung bersliweran di dalam otak mereka—menghasilkan kesimpulan yang sama dari setiap otak-otak yang ada di dalam kelas itu. Dan tentu saja mereka sedikit banyak kaget karena ucapan Bima barusan. Setahu mereka, Unggah memiliki pacar anak jurusan IPA. Dan fakta itulah yang membuat kaum cewek gigit jari karenanya.
"Unggah itu gemesin, loveable dan pacarable banget, Dia bukan tipe cowok kayak di novel yang badboy gitu, ya walaupun nakal dikit karena mungkin terkontaminasi sama air keruh macam Bima. Tinggi dan punya kumis tipis lagi. Pokoknya boyfriend material banget deh!" Begitulah kira-kira kesimpulan dari tiap-tiap siswi yang kalau ditanya soal Unggah.
Unggah menaruh tasnya di dalam laci meja, "Nggak sengaja."
"Nggak sengaja, atau pura-pura nggak sengaja?" Bima menyipitkan matanya dengan gaya menggoda, "Lo gercep banget, baru juga masuk group Jojoba."
"Tahu nih, tapi nggak apa-apa deh kalau ceweknya dia mah." timpal Bayu yang sedang duduk bersandar di dinding dengan ponsel ditangannya. Jangan ditanya dia sedang ngapain, karena jawabannya dia pasti sedang bermain gim di ponselnya.
"Gue nggak sengaja ketemu Hani di halte. Rumahnya sama gue searah."
"Widih, tunggu, tunggu," Rendi yang sedang menghapus white board tadi langsung mendekat, "Emang lo udah putus, Ung, sama yang lama?"
"Kemaren eksekusi, Ren. Kasian Unggah sampe nangis-nangis!"
"Sialan, enggak!" Unggah melemparkan tatapan jengkel kepada Bima yang menyebarkan gosip.
Sinting banget, nggak mungkin ia menangis hanya karena putus cinta? Mau diletakkan dimana mukanya sebagai laki-laki... batin Unggah.
Bima terbahak kencang-kencang, Diikuti dengan Bayu dan juga Rendi. Sedangkan anak-anak yang lain mereka hanya menggeleng-geleng dan beberapanya lagi memilih untuk tidak peduli.
***
"Apaan sih, La?" Hani mengarahkan bola matanya ke atas, memandangi punggung tangan Lala yang berada di dahinya.
Lala memutar bola matanya, "Lo yang apaan, dari tadi pagi senyum-senyum mulu." Jawabnya, Lala menurunkan tangannya dan kembali fokus pada kipas mini yang dipegangnya.
Yang diucapkan Lala barusan kembali membuat Hani tersenyum lagi, Hani tidak bisa mencegah senyuman itu menghiasi wajahnya, membuatnya secerah matahari di pukul setengah empat sore ini. Sedikit aneh karena jam mata pelajaran olahraga ditempatkan di jam-jam seperti ini, jam disaat anak-anak harusnya selesai pada kegiatan sekolah mereka dan digunakan untuk menyegarkan otak akibat dipakai berpikir setengah hari penuh.
"Kayaknya lo jangan sering-sering deh berangkat bareng sama Unggah." Lala memandang Hani sambil geleng-geleng kepala.
"Kenapa?" Hani mengerutkan keningnya.
Sambil menaikkan bahunya Lala menjawab santai, "Mungkin lo bisa jadi gila kalau tiap hari pergi ke sekolah bareng Unggah."
"Apa? Apa?" Bambang langsung menimbrung duduk tepat di sebelah Hani, "Kenapa dengan Unggah? Lo dianterin sampe rumah kan kemaren?" Tanya Bambang.
"Mm-Hm," Hani mengangguk, lagi-lagi, senyuman turut hadir diwajahnya. Cewek dengan rambut di kuncir kuda itu kemudian menatap Bambang dengan pandangan serius, "Doi putus ya?"
"Nggak tahu," Bambang menggedikkan bahu, menolak memberitahu yang sebenarnya dan membahas obrolan lainnya. Kedua mata Bambang memandang ke arah teman-temannya yang sedang bermain basket sambir berujar, "Tadi sih di kantin mereka pada sibuk mau minjem buku pelajaran bu Indri."
"Bilangin ke Unggah, pinjem buku punya gue aja! Nggak apa-apa gue rela deh kalo nggak dibalikin juga." kata Hani dengan cepat.
Bambang menaikkan sebelah alisnya, "Lo naksir beneran ya sama Unggah?"
"Hm, bukan lagi, udah bucin si Hani mah." celetuk Lala.
Hani tidak menggubris perkataan kedua teman-temannya itu, lalu kembali mengulang kalimatnya, "Ya, ya, lo tolong panas-panasin aja dek Unggah biar pinjem bukunya kak Hani. Oke, Beng?"
"Dapat apa gue?"
"Gitu aja lo pake perhitungan," Hani berdecak, "Lo minta lihat tugas Akuntansi dan Bahasa Inggris aja gue nggak pernah tuh pamrih."
"Buset, tugas di bawa-bawa... dasar cewek," Bambang terbahak, "udah gue bilang kalau mau pinjem buku ke lo dan pacarnya Dwiki aja, kata gue. Mungkin ntar malem mereka pada chat kalian."
"Kok bisa?"
"Kok gue dibawa-bawa juga sih?" Lala cemberut.
Bambang berdiri, "Nggak usah pelit, La. Ilmu itu di bawa sampai mati, kalau buku enggak." kemudian mata cowok itu menoleh pada Hani, "Waktu itu gue kirimin nomor lo ke group chat kami. Jadi tunggu aja ya, ayang beb."
Hani membenarkan rambutnya yang diacak oleh Bambang. Dengan senyuman yang makin lebar, kedua bola matanya memindai keseluruhan sekolah yang sudah mulai sepi. Kemudian, ia terpaku pada pintu kelas yang tertutup di arah jam sembilan, Hani menepuk-nepuk lengan Lala hingga membuat cewek itu menoleh.
"La, temenin ke kelas nya si Unggah yuk?" Ajaknya.
"Ngapain?"
"I have something to do," Hani nyengir. "Lagian kita kan udah tadi ngambil nilai ngedribble basketnya. Yuk?"
"Ntar kalau ditanyain Babe gimana?"
"Bilang aja mau ke toilet, kan udah mau balik juga." Hani tetap kekeuh pada keinginannya, membuat Lala akhirnya menghela napasnya, kemudian mengangguk.
Hani berjingkat riang dan mengampit tangan Lala dengan kedua tangan. Keduanya lantas berjalan menuju guru olahraga SMA Kartini yang akrab dipanggil Babe itu, meminta izin untuk pergi ke toiet. Setelah mendapatkan izin, kedua cewek dengan tinggi yang hampir sama itu berjalan menjauh dari lapangan basket.
Dua pasang tungkai berbalut sepatu olahraga hitam itu melangkah semakin dekat dengan tujuan mereka. Di SMA Kartini, menyambangi deretan kelas sepuluh IPS yang berada berjajar dengan satu atap yang hanya dipisahkan oleh dinding sekat. Ada 4 kelas berjejer di sana, mulai dari 10 IPS 1 sampai dengan 10 IPS 4. Dan semua ruang kelas itu tertutup, menandai jika sudah tidak ada yang melakukan kegiatan jam belajar lagi. Tentu saja, ini sudah hampir pukuk empat sore, sedangkan batas akhir jam belajar-mengajar adalah pukul setengah dua siang. Kecuali jika ada kegiatan ekstra kulikuler, itu juga tidak di dalam ruang kelas melakukannya karena di SMA Kartini memiliki gedung tersendiri yang letaknya di dekat area parkir dan berhimpitan dengan kantin. Hanya Ekskul Pramuka, PMR, Basket, Futsal dan Marching Band-lah yang biasanya melakukan kegiatan ekskul di lapangan sekolah.
"Kalau kita terciduk gimana, Han?" Tanya Lala pelan. Kepalanya sibuk menoleh kesembarang arah untuk memastikan tidak ada yang memerhatikan mereka berdua. Sedangkan Hani, dengan menggunakan kedua tangannya cewek itu bergerak membuka pengait daun pintu di depan mereka. Dan terbuka.
"Anjay, bahasa lo udah kayak kita lagi mau maling aja. Lagian siapa juga yang mau menciduk kita?" Hani menjawab dengan keki, kemudian mengajak Lala untuk mengikutinya melangkah masuk, "Yuk, masuk."
"Ya kali aja Pak Yono tiba-tiba nongol dan mikir yang enggak-enggak." Jawab Lala santai, lalu mengikuti Hani masuk ke dalam, "Gue kan nggak mau kalau imej cewek baik tercemar karena nemenin lo ngebobol kelas orang."
"Bahasa lo ada yang lebih alus dikit nggak?" Hani menggerutu. Membuat Lala terkikik pelan.
Lala mengambil tempat di kursi guru, memerhatikan sang sahabat yang sibuk dengan spidol yang dia ambil dari wadah yang menggantung di dinding samping white board. Hani tersenyum selagi tangannya membuka tutup spidol itu. Kemudian, dengan menggunakan tangan kanan, Hani mulai menuliskan sesuatu pada papan putih didepannya dengan huruf kapital dan ditulis dengan jenis font size yang bisa membuat orang rabun sekalipun bisa membacanya dengan jelas.
"Unggah Lazuardi." Lala tanpa sadar ikut mengeja selesai Hani menuliskan itu.
"Yes, My baby Upload." Hani tersenyum menjawab, cewek itu kemudian menambahkan gambar hati kecil di sisi-sisinya.
"Lo beneran suka ya sama Unggah?"
Hani menutup spidolnya kembali, kakinya berjalan menuju meja dan meletakkan spidol itu di atasnya. Hani mengangguk, "Emangnya kapan gue penah pura-pura sih, La?"
"Ya enggak, gue heran aja." Lala menggaruk kepalanya. Seumur hidupnya mengenal Hani, dia tidak pernah melihat sahabatnya itu segini nekat dan niatnya seperti sekarang. Mana yang disukain sejenis adik kelas begini, wajar saja Lala bertanya menyelidiki kebenarannya kan?
"Tunggu sampai gue jadian sama Unggah ya, gue akan buat dia nggak akan bisa ngelihat cewek lain selain gue." Hani menyunggingkan senyum kembali. Matanya mengamati hasil karya nya kemudian keluar kelas. Hani kembali menoleh ke arah Lala dan mengajaknya segera keluar dari dalam sana, "Udah nih, La. Cabut yuk?"
Lala mengangguk.
***
Hani mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk sambil tungkainya berjalan keluar dari dalam kamar mandi yang terletak di kamar, mendekat ke arah ranjang. Tepat pukul setengah 6 sore di Bogor, dan dia baru selesai membersihkan diri. Kakinya pegal-pegal karena sewaktu olahraga tadi dia tidak melakukan pemanasan dengan benar. Huh, mata pelajaran olahraga adalah mata pelajaran yang paling di bencinya. Dia selalu gagal melakukan apapun kegiatan olahraga di sekolahnya. Hani bahkan sampai berpikir apakah dirinya sebegitu bodohnya sampai mendribble bola basket saja tidak bisa? Untung saja, Lala juga sepertinya. Ya, walaupun Lala setingkat lebih dikit di atasnya karena kakak Lala adalah seorang atlet basket jadi mungkin Lala sering melihat kak Kenta—nama kakak Lala—latihan basket di lapangan kompleks rumahnya.
Bola mata hitam kecoklatan milik Hani mendapati led pada ponselnya yang mengedip-ngedip berwarna putih, menandakan kalau ada notifikasi yang belum dibaca. Tangannya berhenti bergerak mengusapkan handuk ke rambut, membiarkan handuk itu menggantung di bahunya, kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang.
Terdapat 4 pesan WhatsApp yang masuk. 4 notifikasi dari instagram. 1 pesan spam dari nomor yang tak di kenal.
Tanpa membaca lebih lanjut isi pesan spam itu—Hani dengan santai langsung menghapusnya. Tolong banget deh ya, ini udah jaman millenial dan moderen, masa masih ngirim pesan yang bunyinya, "Saya setuju dengan harga tanah yg ditawarkan, silakan transfer uangnya ke rekening atas nama Dedi Suparto." Berikut dengan sederet angka yang merupakan nomor rekening si penipu.
"Ngirim pesan kayak gini ke anak sekolahan, bego banget." Gumam Hani.
Setelah menghapus pesan itu, Hani langsung membuka WhatsApp-nya. Ada empat pesan dari pengguna yang berbeda. Dua nomor tak dikenal, berisi pesan yang sama, yang menanyakan mengenai peminjaman buku cetak PKN milik Hani berikut nama pengirimnya; Bima dan Bayu.
Hani mendesah pelan, lalu membaca dua pesan lainnya tanpa berniat membalas dua pesan dari adik kelasnya itu lebih lanjut. Untung saja, Hani menonaktifkan fitur 'last seen' dan 'report' pada WhatsApp-nya, sehingga Hani tidak perlu merasa tidak enak kalau belum membalas pesan tersebut. Seorang yang diharapkannya meminjam bukunya belum mengiriminya pesan dan Hani akan menunggu hingga ia selesai mengerjakan tugas akutansinya. Kalau cowok bernama Unggah itu tidak juga menghubunginya untuk meminjam buku miliknya, maka Hani akan melepaskan buku cetak PKN-nya kepada salah satu di antara dua orang teman Unggah.
Hani membuka pesan WhatsApp dari Lala.
Han, besok dateng pagi ya.
Gue nyontek akuntansi, ntar Matematika gue yang ngerjain. Oke?
Hani sumeringah. Tawaran yang tentu saja akan Hani terima dengan ikhlas dan ridho. Sejak mengenal matematika di bangku SMP, Hani sudah memutuskan untuk mengibarkan bendera perang dengan mata pelajaran tersebut. Ia yakin jika belajarnya sudah maksimal, tapi tetap saja nilainya tidak lebih dari angka 75. Selalu.
Ini juga yang menjadi alasannya memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial saat ikut tes di SMA kemarin, namun ternyata meskipun dirinya memilih jurusan ini, Matematika tetap menghantuinya.
Setelah mengetikkan balasannya Hani lantas membuka satu pesan lagi yang berasal dari Bambang.
Honey, besok gue jemput ya? Mau nyalin tugas Akuntansi ama MTK nih. :)
Kurang asem...
Banyak cerita di novel-novel yang menceritakan kalau setiap kelas pasti memiliki troublemaker yang nakal tapi punya wajah tampan dan otak encer. Tapi, menurut Hani itu memang betul-betul karangan penulis yang ikut arus semata. Di kehidupan real sepertinya, boro-boro si trouble maker itu punya wajah tampan karena jelas-jelas Bambang punya wajah dibawah KKM dan juga otak yang sama levelnya dengan nilai rata-rata wajah cowok itu. Zonk lah pokoknya. Namun yang bikin heran adalah gebetannya Bambang ituloh... banyak dan good looking semua. Pokoknya definisi cantik menurut orang-orang. Padahal, untuk Hani yang sudah mengenal Bambang sejak MOS dulu, cowok itu sama sekali tidak memiliki pesona apapun.
Hani mendengus, membalas pesan itu dengan mengiakan keinginan Bambang yang mau menyontek—atas pertimbangan Bambang yang sudah baik kepadanya waktu itu—dan menolak tawaran Bambang untuk menjemputnya besok. Dia tidak ingin salah satu dari sekian banyak gebetan cowok itu tiba-tiba melihatnya dan berakhir dengan labrak-melabrak ala istri sah kepada si pelakor.
Kalau disawer duit sih, nggak masalah... batinnya.
***
Hani merenggangkan otot-otot tangannya saat jurnal umum yang menyita perhatiannya sejak jam tujuh malam akhirnya terselesaikan dengan baik dan balance. Itu yang terpenting. Perkara benar atau salah itu mah gampang, yang terpenting adalah harus balance terlebih dahulu. Karena, jika hasilnya sudah balance nilai akhir dari pekerjaan Hani pasti menjurus ke benar. Setelah menutup buku besarnya dan menaruhnya ke dalam tas, Hani bergerak menuju ranjangnya. Mengambil ponselnya dan mulai berselancar ke dunia maya. Tadi, Hani belum mengecek notifikasi instagramnya.
@BayuUng started following you
@Bimaderajatselsius started following you
@RendiFajri started following you
@UnggahLazuardi likes your photo
Cewek itu menahan napasnya ketika membaca sederet pemberitahuan di ponselnya. Dengan cepat Hani langsung membuka foto yang disukai Unggah barusan. Tidak, lebih tepatnya lima jam yang lalu dan barusan ia baca. Oh tuhan, kenapa dari sekian banyak postingannya yang kebanyakan mirror selfie itu, kenapa harus cowok itu menekan tombol sukanya pada postingan aib ini? Postingan di hari ulang tahunnya tahun lalu.
"Ih sebel, kenapa juga dia nge-like foto yang muka gue-nya penuh dengan tepung gini sih!" Hani memanyunkan bibirnya, matanya terus menatap layar ponselnya dengan kesal karena seharusnya ia lebih bisa memilih foto-foto yang di posting pada Instagramnya sehingga tidak menjatuhkan nilai jualnya di mata gebetan.
Tapi...
Hani terdiam memikirkan sesuatu. Jempolnya kembali menekan ikon notifikasi dan baru menyadari kalau Unggah bahkan tidak mengikutinya!
"Berarti dia stalking gue dong?" Pertanyaan itu ditunjukan untuk dirinya sendiri dengan wajah mesem-mesem kegirangan. Tanpa menunggu lama, Hani segera menuju akun profile Unggah dan menekan tombol 'follow' nya.
Dan pada detik selanjutnya, satu nomor asing memanggilnya. 12 deret nomor yang tak dikenalinya itu menghasilkan getaran-getaran, meminta agar Hani segera mengangkatnya. Sebenarnya, dia malas mengangkat panggilan dari nomor tak di kenalnya. Selain karena berpontensi kalau dia orang iseng, juga karena Hani takut di hipnotis seperti di cerita-cerita itu. Namun, ntah kenapa jemarinya malah menggeser ikon hijau dilayarnya lalu meletakkan ponselnya di telinga kanan.
"Hallo?" Sapa Hani.
"Kak Hani?"
Hani mengernyit, suara ini sungguh di hafalnya, belum lagi sapaan sopan yang tidak disukai Hani itu kembali terdengar. Belum sampai Hani menebak siapa si penelpon itu, suara disebrang sana kembali terdengar,
"Ini gue, Unggah."
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co