Tiga
HANI dan Unggah kembali ke sekolah duapuluh lima menit kemudian. Setelah menghentikan laju motor dan memarkirkan NMax silver-nya, Hani segera melesat turun dan mengembalikan helm yang diambilnya dari motor Bima—karena saran dari Unggah tadi. Lalu, kembali lagi mendekat ke cowok yang mengantarnya ke pasar tadi untuk mengambil peralatan yang dia beli.
"Biar gue aja yang bawain, kak," Ucap Unggah seraya membawa ember plastik, sapu ijuk, dan kain pel. Cowok itu mendongak menatap Hani kemudian tersenyum, "Kelas lo dimana?"
"11 IPS 2," Jawab Hani. Kedua matanya sesaat tak berkedip saat melihat senyuman manis dari siswa baru di sekolahnya itu. Tapi, dengan cepat dia menyadarkan diri kembali sebelum mengeluarkan ekspresi yang akan membuatnya malu lagi. Hani menyejajarkan langkah dengan Unggah yang lebih dulu berjalan di depannya. Kemudian berkata, "Lo nggak apa-apa nih bawa ginian? Ntar cewek lo marah lagi."
Unggah menoleh sekilas, "Nggak. Lagian kelasnya juga beda koridor. Jadi nggak akan lihat."
Hani mengangguk-angguk santai. Tidak memperlihatkan ekspresi terkejutnya saat tahu ternyata kekasih Unggah berada di sekolah yang sama dengan mereka, walaupun dalam hati mah jelas kebalikannya. Keduanya terus berjalan memasuki koridor utama yang akan menuntun mereka ke lapangan basket saat Hani mencoba bertanya sambil lalu, "Jadi dia sekolah disini juga?"
Unggah menoleh dengan ekspresi terkejut, "Lo nggak tahu?"
Hani kontan berhenti melangkah, kedua matanya menatap kesal cowok yang kini ikut berhenti melangkah dan masih memandangnya dengan tatapan terkejut. Tatapan yang seolah-olah berkata kalau Hani adalah satu-satunya cewek yang tidak tahu siapa kekasihnya.
"Penting banget gitu gue tahu?" Hani memutar bola matanya, kemudian berjalan mendahului Unggah. Setelah kakinya dua langkah melewati cowok itu, Hani menoleh kebelakang, menatap Unggah dengan pandangan jengkel, "Dan, bisa nggak lo itu nggak usah panggil gue 'kak'? Temen-temen lo aja manggil gue pakai sebutan nama kok."
Unggah menaikkan bahu, "Gue cuma mau sopan aja sama kakak kelas." Kemudian cowok itu berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Hani, satu tangannya yang kosong tiba-tiba memutar tubuh Hani sehingga kembali menghadap kedepan, lalu meletakkan tangannya melingkar di bahu cewek itu, "Yuk!"
Hani melirik lima jemari yang menggantung di bahunya itu dengan perasaan tak karuan. Setengah dari jantungnya terasa akan meledak dan sisa-nya lagi terasa sudah meledak. Di liriknya cowok yang berjalan di sampingnya ini melalui ekor mata dan mendapati raut wajah santai di wajah itu. Unggah bahkan tahu jika Hani adalah kakak kelas nya, dan cowok itu seenaknya saja meletakkan tangannya pada bahu Hani? Bukankah tadi pagi cowok itu begitu cuek dan seperti tak menyadari saat teman-temannya berusaha menggoda Hani? Lantas, kenapa sekarang dia jadi sok akrab begini? Ya, walaupun Hani sih senang-senang saja jika Unggah melakukan itu padanya.
Ini gue murahan nggak sih? Pikir Hani.
Well, bagi Hani tak masalah Unggah punya atau tidak punya kekasih. Karena Hani akan melakukan segala yang terbaik untuk menunjukkan ke cowok itu kalau dia cukup layak di pertimbangkan.
***
Hani memasukkan peralatan 'tempur' yang tadi digunakan ia dan teman-teman cewek nya untuk membersihkan kelas mereka ke dalam lemari di ujung ruangan bersama Lala.
"Jadi, lo nggak mau kasih tahu gue nih, kenapa seorang Hani Azzahra yang best seller di antara anak kelas 11 dan 12 bisa diantar sama dedek gemesh ke pasar tempel?" Lala kembali mencari peruntungannya. Mendesak sang sahabat supaya mau berbagi informasi kepadanya. Pasalnya, dia sama sekali tidak pernah mendengar Hani menceritakan soal cowok yang diketahui-nya bernama Unggah selama liburan kemarin.
Hani menutup pintu lemari itu sambil melirik Lala, "Nggak sengaja. Dia mau keluar, yaudah deh sekalian."
"Sekalian pedekate-nya?" Lala menggoda. Godaannya semakin menjadi-jadi saat melihat sahabat dekatnya memerah dibagian pipi nya, "Duilee, cepet banget lo move on. Tapi nggak apa-apa sih, ganteng kok dia." Lanjut Lala.
Hani berjalan ke arah tumpukan tas di atas meja, lalu mengambil ransel-nya. Lala mengikuti. Keduanya lantas berjalan keluar kelas setelah menutup pintu kelas mereka rapat-rapat. Teman-teman mereka yang lain sudah lebih dulu keluar setelah selesai membersihkan ruang kelas. Sedangkan, tumpukan tas yang ada di atas meja itu adalah tas milik cowok-cowok yang 'kabur' ke kantin dan tidak juga kembali sampai kelas sudah bersih.
"Aldi yang lebih dulu move on kali, di IG dia udah komenan dan like foto cewek aja," Hani memutar bola matanya mengingat apa yang dia lihat tadi pagi yang sempat membuatnya mulas dan tidak bernapsu makan.
Ada raut sedih yang coba di tutupi Hani dari Lala, namun dia bisa melihat kesedihan itu. Aldi Perwira, anak SMAN 61 yang juga merupakan teman satu sekolah Hani dan Lala saat di bangku SMP dulu. Meskipun satu sekolah, namun hubungan Hani-Aldi baru terjalin sejak mereka berada di semester dua kelas sepuluh dan berakhir ketika naik kelas sebelas kemarin. Menurut penerawangan Lala, alasan kandasnya hubungan sahabatnya itu bukan karena Aldi tidak menerima jika Hani terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk cowok itu. Tetapi, lebih karena Aldi sudah memiliki gebetan lain yang satu sekolah dengannya. Begitulah, tidak akan ada cowok yang sanggup berhubungan jarak jauh karena hello kitty akan selalu berkeliaran disamping mereka.
Lala menepuk pelan bahu sahabatnya, "Sabar ya, Han. Kan udah ada yang baru..." katanya. Dengan senyuman lebar sambil menatap ke arah jam sembilan, kening Lala mengernyit, dan menepuk lengan Hani secara pelan agar cewek itu mengikuti arah pandangnya, "Nah, itu bukannya si Unggah? Sama siapa dia?"
Mendengar nama Unggah disebut, Hani lantas menoleh dengan cepat mengikuti arah pandang Lala. Kedua fokus matanya kemudian menemukan dua sosok manusia yang berbeda gender sedang duduk berdua di bangku panjang yang terbuat dari semen. Nampaknya keduanya sedang terlibat argumen dilihat dari ekspresi si cewek yang menatap Unggah dengan raut wajah marah.
Kedua bahu Hani merosot, "Jadi itu ceweknya..."
"Cewek Unggah?" Lala menoleh ke arah Hani.
"Mm-Hm," Hani mencebik. "Tapi, gue doain biar cepet putus!"
Lala mengangkat kedua alisnya. Cewek itu membawa kedua tangannya bersedekap didepan dada, memandangi ekspresi sang sahabat yang langsung jutek dengan mata fokus ke arah Unggah dan pacar cowok itu. Sekali lagi, Lala memerhatikan wajah pacar Unggah dan wajah Hani bergantian. Lalu bergumam, "Cantikan lo kemana-mana. Tenang aja, gue bantuin pake doa."
"Supaya apa gitu?"
Lala memutar bola matanya, "Ya supaya si dedek gemes putuslah sama cabenya! Terus, lo bisa nyalip deh."
Hani mengerutkan dahi, "Pelakor dong gue?"
Lala menyampirkan poni nya kesamping, "Ya enggak lah. Kan udah putus nyalipnya, sekarang sih cek ombak aja dulu, ya kan?"
Hani nampak berpikir. Sambil melanjutkan langkahnya ke gerbang luar, "Caranya?" Tanya Hani.
Dengan riang Lala kembali menjelaskan, "Jadi, pertama lo follow akun medsos dia. Terus, lo minta nomor telpon dia dari temen-temennya. Ajak chat tipis aja, ya kan?"
Lala tampak bersemangat menerangkan langkah demi langkah 'cek ombak' versinya. Dan Hani dengan semangat juga mendengarkan apa yang dikatakan Lala padanya. Keduanya berjalan hingga ke gerbang depan sekolah mereka. Lalu, berhenti di depan halte busway. Menunggu busway yang akan mengantar mereka ke rumah.
***
"Kamu dari mana tadi sama kak Hani?" Rini bersedekap, kedua matanya memicing marah kepada cowok yang berada di depannya kini. Suara Rini bahkan sampai meninggi ketika berbicara, membuat Unggah mendesah kesal.
"Dari pasar. Kan udah gue jawab tadi, Rin."
Satu hal yang membuat Unggah tidak menyukai Rini adalah karena cewek itu terlalu pencemburu dan pengekang. Dia selalu saja tidak senang ketika Unggah dekat dengan teman cewek atau ketika Unggah telat membalas chat nya. Rini selalu saja memaksa Unggah berprilaku romantis seperti cowok-cowok yang ada di novel yang sering cewek itu baca. Dan yang paling mengesalkan, Rini menyuruh Unggah ikut ekskul Basket. Karena menurut Rini, "cowok basket itu adalah tipe ideal cowok-cowok di novel" seperti yang cewek itu baca.
Unggah mendengar Rini berdecak pelan, kemudian keduanya saling beradu pandang, "Aku nggak suka motor kamu di naikin cewek lain!"
"Tolong ya, perkara gitu doang nggak usah panjang lah, Rin." Kedua tangan Unggah dimasukkannya ke dalam saku celana. Kedua matanya menatap ke arah jam tiga, mendapati beberapa siswa Kartini sudah menenteng tas mereka sembari berjalan ke arah gerbang sekolah. Dan, saat itulah Unggah melihat Hani, meskipun dari belakang, Unggah yakin kalau itu adalah kakak kelasnya yang di idolakan hampir semua teman-temannya. Harus diakui Unggah, kalau Hani memiliki wajah yang terkesan imut dan tidak bosan untuk di pandangi lah sepertinya yang menjadi daya tarik cewek itu. Belum lagi, pribadi Hani yang periang dan tidak sombong kepada semua orang yang menyapanya.
Rini mendengus, kedua matanya mengikuti arah pandang Unggah yang mengarah ke gerbang sekolah mereka. "Pacar kamu disini, Unggah. Bukan di gerbang!"
Lagi-lagi Unggah kembali menghela napasnya, menekan emosinya agar tidak berujung pada pertengkaran di antara mereka lagi, "Yaudah. Jadi, lo mau apa?"
"Kamu buruan daftar ekskul Basket."
"Gue nggak suka basket, Rin. Lo kan tahu itu," Ucap Unggah. Kedua manik matanya menatap tajam cewek yang berstatus sebagai pacarnya itu, "Lo nggak bisa maksa kemauan lo kepada gue."
"Kenapa nggak bisa?" Suara Rini jadi meninggi. "Aku mau punya cowok anak Basket." Kemudian Rini menghentakkan kakinya, menatap ke arah Unggah sekali lagi, "Nggak mau tahu, pokoknya sabtu besok kamu harus daftar di ekskul basket." Tambah Rini. Kemudian, tanpa mengucapkan kalimat apapun, cewek itu langsung melesat pergi meninggalkan Unggah yang masih berdiri di tempatnya.
Unggah menatap punggung Rini yang semakin menjauh itu dengan kekesalan yang hampir mencapai ubun-ubunnya. Cowok itu kemudian berbalik dan berjalan menyusuri koridor menuju ke kelas.
***
"Udah?" Tanya Bayu yang sedang duduk di atas meja guru. Kedua matanya menatap Unggah yang masuk ke dalam kelas dengan ekspresi muram.
"Udah apaan?" Tanya Unggah tanpa menghentikan langkahnya. Cowok itu lalu berjalan ke arah meja nya dan mengambil ransel hitam yang hanya berisi satu buku dan satu bolpoin saja. Unggah memakai tas nya itu dengan menggantungkan di satu bahu nya saja, kemudian mengajak Bayu dan beberapa temannya yang lain untuk keluar.
Bayu melompat dari duduknya, "Udah putusnya..." Mulutnya langsung menyeringai lebar saat Unggah memberikan tatapan kesal kepadanya. "Hehehe, bercanda."
"Ung, si Ninin marah-marah tadi sama gue, katanya lo beli spidol aja lama banget. Emang?" Bima menelusupkan dirinya di antara Bayu dan Unggah.
"Drama dia. Cuma dua puluhan menit doang." jawab Unggah.
Bima mendengus, "Lo jalan ke koperasi atau jalan ke Bali?"
"Gue belinya di fotokopian," Ucap Unggah dengan santai. Satu tangannya bergerak mengacak ujung rambutnya perlahan. Kemudian meneruskan, "Sekalian nganter Hani beli alat kelasnya."
"Njir, ngapain lo nganterin Hani segala?" Bima menatap Unggah dengan pandangan menyelidiknya.
"Emang nganterin orang perlu alasan?" Unggah balik bertanya. Kedua matanya menatap heran cowok berpotongan rambut abri itu.
"Gercep amat lo, bro." Bayu terkekeh.
"Tahu nih, berat saingan gue kalau sama lo, Ung." Bahu Bima melengos menyadari kalau ternyata Unggah juga mengincar Hani, Dirinya dan yang lainnya otomatis akan langsung kalah telak. Dari segi tinggi badan sih oke masih sama rata meski Unggah sedikit lebih tinggi, tapi, kalau dari sisi ketampanan? Jangan ditanya...
"Gue nggak ngincer Hani, oy. Jangan mikir aneh-aneh deh, gue juga udah punya cewek kalau kalian amnesia," Unggah mengernyitkan keningnya. Kemudian menatap Bima, "Helm lo tadi di pake Hani. Say thanks to me?"
Bima membelalakan matanya, "Serius?"
Unggah menganguk tipis. Alisnya hampir menyatu ketika melihat ekspresi Bima yang berlebihan setelah dia mengatakan hal itu pada cowok itu.
"Te ha ex, bro. Akhirnya helm gue di berkati!" Bima menyeringai senang.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co