Tigabelas
HANI terbangun dengan kedua mata sembap yang sangat kentara menghiasi wajahnya. Ini hari jumat, tapi tanggal merah, sehingga seluruh aktifitas di liburkan dan akan kembali mulai pada hari senin nanti. Sehingga Hani melakukan kegiatan movie marathon—yang tak sempat dilakukannya ketika hari sekolah—sampai jam dua pagi. Tertawa sendiri, menangis sendiri. Semalaman.
Dan Hani baru menyesalinya saat sembap di kedua matanya sudah seperti habis diputusin oleh pacar saja.
"Gue kayak habis di selingkuhin Unggah deh, padahal pacaran juga belom..." Hani mengeluh sambil menatap kaca yang menggantung di sebelah jendela kamar.
Cewek itu masih memakai daster tidur bermotif kucing dengan rambut acakan ala medusa yang semakin menambah keseraman. Masih menatap pantulan dirinya di kaca, kedua mata Hani melirik ke arah pintu ketika suara Bunda tiba-tiba terdengar.
"Astaga!" Bunda menutup mulutnya kaget, "Kamu kenapa, dek?" tanya Bunda.
Bunda membiarkan pintu kamar Hani terbuka setengah dan masuk menghampiri anak bontotnya sambil geleng-geleng kepala. Bunda sudah tampak rapi dan cantik dengan balutan batik tunik berwarna marun lengkap dengan makeup yang menyapu natural di wajah.
Hani tersenyum lebar seraya menggeleng. Ia tidak mungkin memberitahu Bunda alasan di balik wajahnya yang mengerikan begini karena Bunda bisa langsung menganggapnya aneh dan konyol. Sambil berjalan menjauhi kaca, Hani kembali duduk di atas ranjang tidur. "Mau kemana, Bun? Rapi amat pagi-pagi gini."
"Tuh kan, lupa pasti nih," Bunda mendesah, memerhatikan anak gadisnya yang selalu saja melupakan janji mereka. "Kemarin kan kamu udah setuju mau nemenin Bunda ke rumah tante Gigi, arisan." Bunda mengingatkan.
Kedua mata Hani terarah ke atas seperti sedang mencoba mengingat sesuatu, kemudian menatap Bunda lagi, "Kak Meta aja deh, Bun..."
"Gimana sih, kak Meta kan lagi liburan ke Bandung, sayang."
"Oh, iya!" Hani menepuk jidatnya pelan. Dia sampai amnesia begini kalau sang kakak sedang tidak di rumah. Hani menghela napas pelan, sebenarnya ia malas sekali ke rumah Tante Gigi itu. Selain karena dia lupa siapa tante Gigi itu—yah, kecuali kalau Tante Gigi yang dimaksud Bunda adalah Nagita Slavina, baru deh Hani tahu. Alasan lainnya adalah karena mata sembap ini, nggak mungkin, kan, Hani keluar rumah dengan mata begini, bisa-bisa jadi pusat perhatian orang-orang di sana lagi. Tapi, melihat wajah Bunda yang sudah agak sedih begitu, Hani jadi tidak tega membatalkan janjinya kemarin, karenanya Hani mengangguk, "Iya deh, kalau gitu aku mandi dulu ya, Bun..."
Bunda tersenyum semringah, "Sip! Dandan yang cantik, anak tante Gigi ganteng lho, dek katanya." Bunda mengedipkan kedua matanya seolah menggoda sang anak sebelum membawa dirinya melangkah keluar kamar dan menutup pintu kamar itu.
Hani memutar bola matanya. Baginya, cuma Unggah Lazuardi saja yang ganteng selain Park Chanyeol EXO kecintaannya—tentu saja. Jadi, Hani sama sekali tidak tertarik dan tergugah ketika Bunda berbicara begitu padanya. Kemudian, Hani mengambil handuk pada gantungan dekat kamar mandi dan berjalan masuk ke dalam.
***
"Lama-lama hampir mirip ibu kota aja macetnya ya, Bun." Ucap Hani bernada kesal ketika mobil yang mereka kendarai kembali terjebak lampu merah. Ini sudah kedua kalinya mereka terjebak di lampu merah yang sama, hanya saja jika tadi mereka terjebak pada posisi agak sedikit jauh, sekarang mobil jazz merah metalik itu berada di posisi nomor dua setelah mobil kijang di depan mereka.
"Ya namanya juga tetanggaan, dek. Lagian, di Kapten Muslihat ini kan ada Stasiun Bogor, Mall, nggak heran kalau selalu macet." Jelas Bunda, berbalut kacamata plusnya, Bunda nampak serius dengan jalanan di depan mereka saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.
Hani mengangguk setuju. Untung saja sekolahannya bukan berpusat di jalan ini, bisa-bisa Hani harus meluangkan waktunya berangkat lebih pagi tiap hari supaya terhindar dari kemacetan lalu lintas. Kedua matanya menatap kedepan mengikuti lalu lalang kendaraan di depan mobil mereka. Kemudian, kembali menoleh ke arah Bunda ketika ia tiba-tiba mengingat sesuatu, "Bun, Tante Gigi itu yang mana deh? Aku kok nggak tahu ya?" Tanyanya.
"Udah lama emang nggak main ke rumah. Wajar kalau kamu nggak inget." Ujar Bunda, "Tante Gigi, Giarti, itu teman Bunda sejak SMK di Yogyakarta, kuliah bareng juga cuma beda jurusan."
"Oh, terus kok Bunda baru ini cerita tentang tante Gigi?" Tanya Hani bingung. Seingatnya, Bundanya ini nggak pernah cerita tentang temannya itu pada dirinya atau pada kakaknya.
Bunda membenarkan letak kacamatanya, lalu menoleh sekilas, "Habis lost contact bertahun-tahun, tapi ketemu lagi di Facebook angkatan, lalu bikin group deh kami dan sekarang ngadain arisan sekaligus ajang reunian dadakan." Jelas Bunda dengan nada bangga.
Oke. Ibu-Ibu with their life. Facebook.
Hani hampir tidak pernah lagi mendengar tentang sosial media satu itu dan sekarang dia mendengar kembali melalui Bundanya. Bahkan, Hani pun baru mengetahui jika bunda bermain facebook.
Oh my god!
"Bunda punya akun facebook?" Tanya Hani tak percaya.
"Iya dong, masa HP cuma buat chattingan doang, lagian Bunda juga masarin kue-kue Bunda di sana," jelas Bunda, "Gimana nih kamu, tanya-tanya dong makanya jangan sibuk nonton drama korea atau baca novel melulu. Berinteraksi juga sama dunia luar." Ledek Bunda
Mendengar perkataan Bunda, Hani mau tak mau tersenyum lebar. "Ya maaf, Bun. Aku kan nggak peka."
"Halah, bisa aja kalo jawab mah." Bunda tersenyum kecil menanggapinya, tangannya dengan lihai membawa stir mobil berbelok ke arah kanan ketika menemui pertigaan yang akan membawa mereka kepada satu komplek perumahan di sana. "Omong-omong, kamu nggak suka mual atau kepala pusing lagi kan, dek?"
"Nggak kok,"
"Jangan di tahan lho, bilang kalau ngerasain apa-apa." Tegur Bunda dengan nada menenangkan.
Hani mengangguk. Matanya mengamati nama perumahan yang mereka masuki, lalu mengejanya, "Botania Residence..." Keningnya mengerut, "Kok kayak nggak asing, ya?"
"Kenapa, dek? Temanmu ada yang tinggal disini juga?"
Hani menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Kayak pernah baca gitu Bun, tapi aku lupa..."
"Aduh kamu ini, masa masih kecil udah pikunan sih." Bunda geleng-geleng kepala.
"Hehe, maklum Bun, banyak beban pikiran." Jawabnya dengan asal.
Kemudian Hani kembali menyandarkan punggungnya pada jok dan menatap deretan rumah-rumah yang ada di kompleks itu ketika mobil mereka sepenuhnya memasuki perumahan tadi. Sama seperti komplek di rumahnya, bangunan-bangunan di perumahan ini juga nampak sebagian besar yang sudah di renovasi dari bentuk awal. Beberapa bahkan ada yang sudah di tingkatkan, seperti pada salah satu blok yang kini ditelusuri oleh mobil jazz mereka, bagian pada blok ini lebih mengarah ke perumahan bertingkat dua dengan balkon pada lantai atas.
"Bun, buat balkon juga dong, kenapa deh dulu nggak buat balkon juga? Kan seru bisa duduk santai di sana sambil memandang langit." Hani menoleh ke arah Bunda yang kini sibuk memindai satu persatu nomor rumah.
"Kamu kira buat balkon kayak buat kue tart?" Jawab Bunda tanpa menoleh.
"Ya, enggak..." Hani mengerucutkan bibirnya. Siapa juga yang berpikir begitu? Jelas saja beda. Bunda gimana sih?
"Nah, sampe! Ini nih kayaknya rumah si Gigi."
"Nagita Slavina?" Hani langsung menoleh, bertanya dengan nada bercanda pada sang Bunda.
"Tante Gigi, sayang. Masa iya Bunda kamu temenan sama artis?" Bunda menggelengkan kepala. Melepaskan safety belt nya lalu menatap kaca spion guna melihat penampilannya.
Hani hanya tertawa tanpa suara. Dia senang sekali menggoda Bundanya, apalagi kalau soal istri presenter kondang itu. Pasalnya, Bunda suka sekali menonton gosip dan selalu heboh sendiri saat memuji artis tersebut tiap kali wajahnya muncul di televisi. Dengan cekatan, Hani juga membuka safety belt-nya. Merogoh ponselnya dari dalam tas untuk mengubah fungsi sementara menjadi kaca. Hani membenarkan tatanan rambutnya yang kosong tanpa hiasan, juga floral dress setinggi betis yang di kenakannya. Lalu, dilihatnya kedua matanya yang—untung saja—sudah tercover oleh fondation dan bedak yang di ia gunakan, kalau tidak ini bisa jadi pertanyaan awal yang ditanyakan si tuan rumah nantinya.
"Yuk, dek!" Ajak Bunda.
Kemudian keduanya turun dari mobil dan berjalan memasuki bagian carport rumah berlantai dua itu.
***
Kedua mata Hani kontan membulat kaget ketika melihat motor NMax yang terparkir tampan di sebelah mobil di dalam garasi yang pintunya terbuka lebar. Degup jantungnya yang semakin menjadi, Hani mengamati lebih fokus lagi pada motor berwarna silver itu, membaca nomor polisi yang menggantung di bagian belakang motor dengan seksama sebelum hati dan pikirannya kembali sinkron untuk meyakini kalau itu adalah motor yang di kenalnya, bukan hanya sekadar mirip.
"Dek, sini! Kok malah bengong?" Suara Bunda membawa Hani kembali ke kenyataan lagi.
Bunda sudah berdiri di depan pintu dengan satu perempuan seumuran yang menggunakan hijab berwarna senada dengan bajunya. Sambil tersenyum kikuk, Hani berjalan mendekat. Menggunakan kedua matanya Hani melirik ke arah perempuan yang ia yakini bernama tante Gigi itu, kemudian membalas menyunggingkan senyum saat perempuan itu tersenyum pada Hani.
Hani lalu menyaliminya.
"Ini anak lo?" Tanya tante Gigi kepada Bunda, sambil memegang pundak Hani.
"Mm, cantik kan kayak gue?" Bunda membanggakan diri.
"Hooh, cantik. Tapi, yang ini lebih mirip Faisal deh. Yang satunya yang mirip lo. Yang dikirim di group. Siapa, Meta, ya?"
Bunda mengangguk. Lalu menjawab, "Iya, kakaknya lagi liburan ke Bandung, Gi."
Tante Gigi nampak terkejut mendengarnya. Lama tidak berkabar dengan salah satu sahabat karibnya ini membuatnya ketinggalan informasi, tahu-tahu sahabatnya ini sudah punya anak dua saja. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata satu anaknya sedang mengecap bangku kuliah.
"Yaudah, ngobrol di dalem aja yuk, sekalian nunggu yang lain dateng." Ucap Tante Gigi, kemudian menoleh ke arah Hani dan tersenyum, "Yuk, sayang..." ajaknya, kemudian membawa Hani berjalan di sebelahnya dengan tangan yang melingkar di pundak cewek itu.
Hani tidak bisa menghentikan ritme jantungnya yang semakin menggila ketika memasuki ruang tamu rumah itu dan kedua matanya langsung menatap foto keluarga ukuran besar tergantung di dinding ruang tamu. Matanya langsung melahap habis wajah Unggah di sana berbalut jas silver dengan dalaman kemeja putih. Wajah Unggah dalam foto itu masih lucu dan lugu. Hani yakin kalau foto itu diambil sudah lumayan lama, mengingat wajah Unggah yang sekarang jauh lebih kelihatan dewasa serta tinggi badannya sudah jauh berbeda.
Gilaaa, ini sih namanya rejeki anak sholehah! Batin Hani riang.
Tante Gigi membawa Hani dan Bunda masuk dan duduk di karpet tebal berwarna coklat dengan gambar bunga krisan di bagian tengahnya. Hani membenarkan posisi duduknya, tanpa memerdulikan obrolan kedua wanita dewasa itu, matanya menatap sekeliling ruangan ini. Hani menebak kalau ini merupakan ruang keluarga, dilihat dari ukurannya yang lebih lebar dari ruang tamu tadi, juga karena disini ada televisi, tangga penghubung ke lantai dua dan lemari jati sedang yang menyimpan beberapa figura-figura kecil. Hani tidak bisa mengamati jelas foto dalam figura itu, namun dia yakin jika salah satu dari beberapa figura itu ada foto Unggah dan hal itu langsung membuat hatinya jadi tergelitik ingin melihat.
"Hani, sekolah dimana?"
Pertanyaan tante Gigi sontak membuat Hani menoleh. "Di SMA Kartini, tan." Jawab Hani dengan sopan.
Sama kayak anak tante yang ganteng itu lho... terusnya dalam hati.
Kedua mata tante Gigi nampak membulat kaget, "Wah, sama kayak anak bujang tante dong! Unggah Lazuardi, kamu kenal?"
Kenal bangeeeeet, tante! Jodohin ke aku dong, tan! Jawab Hani lagi-lagi dalam hatinya.
"Eh?" Itulah jawaban yang terlontar dari mulutnya. Lebih baik pura-pura tidak ngeh dulu deh, daripada first impression dengan calon mertua jadi kacau karena tante Gigi mikir kalau dia begitu agresif dan lebai.
"Anak lo sekolah di Kartini juga?" Bunda menginterupsi. Membuat Tante Gigi yang baru mau merespon Hani tiba-tiba kembali membuka obrolan bersama Bunda.
"Iya, masih newbie sih. Baru masuk."
"Kenal nggak kamu?" Kali ini Bunda yang bertanya.
"Aku tahu sih, tapi takut salah orang..." jawab Hani.
Tante Gigi nampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "Anak bujang gue lagi di atas deh kayaknya, biasanya dia main PES kalau nggak ngelayap main futsal."
Tepat pada saat tante Gigi menyelesaikan kalimatnya, seorang cowok bertubuh tinggi dengan celana katung dan polo shirt nampak berjalan menuruni tangga dengan cepat.
"Nah, itu anak gue!" Seru tante Gigi, kemudian memanggil sang anak, "Ung, sini, nak! Mama mau kenalin kamu sama temen mama dan anak gadisnya yang cantik."
Jantung Hani kembali berpacu kencang ketika kedua manik matanya bersinggungan dengan milik Unggah. Cowok itu nampak sedikit terkejut ketika melihat Hani duduk bersama sang Mama. Namun, dengan cepat Unggah menguasai diri lalu berjalan mendekat.
Tante Gigi tersenyum dengan semringah. Khas Ibu-Ibu kalau memperkenalkan anak kebanggaan kepada teman-teman mereka. Sambil menepuk pelan bahu Unggah, tante Gigi berbicara lagi, "Ini anak gue, Jeng." ucapnya, kemudian menoleh ke arah Unggah, "Sapa dulu tante Ajeng nya..."
Bunda, sedikit terkejut lalu bergumam, "Ya ampun, dunia kecil banget ya, ini sih pernah ke rumah nyusul anak gue, Gi."
"Ah, yang bener lo?" Tante Gigi agak terkejut kemudian melihat ke arah sang anak, "Kok kamu nggak bilang Mama?"
"Unggah mana tahu kalau tante Ajeng itu temannya Mama." Jawab Unggah. Tangan kanannya bergerak menyalimi Bunda yang dibalas Bunda dengan senyuman.
Hani yang sejak tadi diam saja padahal dalam hatinya senyum-senyum kesenangan karena takdir yang tak disangka-sangka nya ini. Luar biasa!
"Cucok em," ujar tante Gigi girang, kemudian menatap Hani, "Hani sama Unggah aja ya? Udah ada pacar belum? Eh, tapi anak tante ini agak cuek makanya diputusin sama pacarnya kemarin. Tapi, tante sih seneng mereka putus, nggak sreg tante sama ceweknya kemarin..."
"Ma," Unggah menegur, mencoba menghentikan pembicaraan sang mama yang tiba-tiba jadi beralih topik begini.
Namun, seolah tak mendengar, Tante Gigi terus saja menyerocos, "Mau nggak, sayang?"
Mau bangeeeet, tan! Teriak Hani dalam hatinya. Namun, lagi-lagi, jawaban itu hanya sampai di ujung mulutnya saja karena Hani tidak mungkin menjawab seperti itu. Bisa mencemarkan nama baik Bunda, pikirnya.
Jadi, lagi-lagi, Hani hanya tersenyum simpul. Kedua matanya berserobok dengan manik mata milik Unggah. Manik mata hitam pekat itu seolah menguncinya dengan tatapan yang Hani sendiri tidak bisa menjelaskannya. Sebelum Hani sempat memalingkan pandangan, Unggah dengan mendadak menyunggingkan senyum tipis.
Kepadanya.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co