Duapuluh-delapan
"Honeey, gilak ya, gue kangen banget sama lo!" suara Bambang mengudara dari dalam kelas. Cowok kurus itu berdiri dari sikap duduknya ketika melihat Hani di ambang pintu kelas bersama Unggah di sampingnya.
Bambang beserta seringaian tengilnya segera melangkah mendekat, "Kok udah masuk, emang udah baikkan?" tanyanya, berjalan mundur mengikuti Hani dan Unggah yang melangkah masuk. Ia melongok ke depan hingga membuat Hani berjengit mundur. Lalu, satu seringaian muncul kembali di wajah Bambang, "Lo cantikkan deh. Cuma kurusan aja, tapi Mas Bem masih like kok."
"Alus bener, lupa tah yang lagi di modusin ini pacar temennya?" Unggah mendengus pelan. Membantu Hani untuk duduk di bangkunya ketika mereka telah sampai di meja cewek itu. Disana, sudah ada Lala yang sigap mengambil tas Hani dan meletakkannya di atas lantai di samping kursi.
Bambang menyeringai, "Sori, sori, gue kan cuman nanya sebatas teman doang, Load. Haha."
Sedang Hani sendiri lagi tersenyum-senyum dan menjawab pertanyaan Lala, Unggah memutar bola matanya. Kemudian menolehkan kepala kepada Hani, "Gue ke kelas ya? Ntar chat aja kalo mau makan apa-apa, atau pusing."
Hani mengangguk sambil menyunggingkan senyuman.
Satu tangan Unggah terulur mengusap pelan puncak kepala Hani, lalu mengucap pamit kepada Lala dan Bambang, sebelum membiarkan kakinya melangkah membawa dirinya keluar dari ruang kelas itu.
Sepeninggal Unggah, Bambang langsung mengambil tempat pada kursi di depan meja Hani, kedua tangannya terlipat di atas kepala kursi. "Gue rasa cowok lo itu playboy dari lahir deh."
"Enak aja!"
"Tau nih, jangan samain semua cowok kayak lo dong, Beng." suara Lala mengudara. Tangannya bergerak mengeluarkan amplop putih dari dalam tas dan menaruhnya di atas meja.
Bambang terbahak, "Sial! Tapi gue kasih tau aja ya, kalau tipe cowok di bumi ini cuman ada 2; tukang main cewek atau tukang main cowok." Cowok itu menyeringai, "Kalau gue sih yang pertama, jelas."
"Yang gue tau, tipe cowok itu cuman dua...," Hani terkekeh kecil, mengambil ponsel dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja. Kedua bola mata kecoklatannya menatap Bambang dengan nakal, "Kalau nggak ganteng, ya sok ganteng."
Membuat kedua temannya itu langsung melempar tawa. Bambang sampai memegangi perutnya sebelum suaranya kembali mengudara, "Terus, gue apa dong menurut lo?"
"Ya sok ganteng lah! Pake nanya lagi." kali ini yang menjawab adalah Lala. Yang langsung diangguki oleh Hani.
"Njir, untung dua-duanya pacar temen. Kalau nggak, udah gue tikung."
"Well, asalkan muka lo berubah kayak Noah Centineo, gue rela deh di tikung." Jawab Lala asal.
Hani geleng-geleng. Kalau dia sih nggak mau, karena bagi Hani cowok paling ganteng selain Ayah, ya Unggah. Mau Noah Centineo kek, Noah kucingnya Aji kek, vokalis Noah band kek. Untuk Hani... Unggah sudahlah cukup.
Gelak tawa renyah dari Bambang kembali terdengar. Lalu, ketika cowok itu menyadari satu hal, ia melempar pertanyaan pada Lala. "Dwiki nggak masuk?"
Lala menggeleng. "Diare."
Hani menoleh ke arah sahabatnya, "Kok bisa?"
"Biasa, sok-sokan makan pedas padahal nggak doyan pedas." Lala mendengus ketika mengingat kemarin mereka menyambangi bakso malang pada salah satu tempat yang letaknya dekat rel kereta, bakso itu termasuk bakso legendaris karena sudah berjualan sejak 10 tahun yang lalu. Kuah dari bakso malang itu saja sudah terasa pedas-untuk yang nggak suka pedas-tapi, Dwiki dengan pongahnya menambahkan cabe hijau ke mangkuknya dua sendok penuh. "Dasar nggak ngotak emang!"
Hani terkekeh sambil menggelengkan kepalanya pelan. Pantas saja semalam Ibunda Dwiki agak sedikit melakukan 'sesi curhat' dengan Bunda saat menjenguk Hani, perempuan setengah baya itu memberikan wejangan juga kepada Hani untuk tidak makan makanan pedas supaya tidak berakhir seperti anak laki-lakinya. Dan ketika pulang, Bunda langsung aware mengatakan untuk jangan makan pedas. Astaga, gimana mau makan pedas kalau sekarang liat sushi atau sasimi aja langsung mual? Tapi, Hani mengangguk-angguk paham saja supaya Bunda-nya berhenti merepet.
"Pantesan, tadi malem camer lo kerumah sambil curhat masalah makanan pedas."
"Demi?"
Hani megangguk.
Lala menahan napasnya, memiringkan posisi duduknya untuk menghadap Hani, ia bertanya dengan kaku, "Terus, Mama gue kek gimana reaksinya? Ada bahas-bahas soal gue nggak?"
"Mama?" Hani mengerutkan dahi, kedua matanya menatap tak percaya pada cewek yang memiliki status sebagai sahabatnya itu. Whoaa... "Najong, ngapain lo manggil tante Ayu 'Mama'?"
"Biar akrab aja. Hehe." Lala nyengir, "Terus, gimana? Duh jangan sampe dia mikir gue yang jahatin anaknya. Bisa nggak lolos sensor gue ntar."
Memutar bola matanya jengah, Hani lantas menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki. "Ya kali, ngapain juga 'Mama' lo ngebahas lo. Dia juga tahu anaknya suka nggak ngotak, apalagi temenannya sama yang modelan Bembeng." Ucapnya sambil membentuk kedua tangannya membentuk tanda petik dua.
Terdengar helaan napas lega diiringi dengan cengiran lebar dari cewek berbandana biru tua itu. Lalu, ia mengibaskan rambut dengan pongahnya, "Iya sih, disini kan yang punya peran setan bukan gue."
"Nah, Mas Bem dengar ya, wahai para istriku." Ujar Bambang dengan fokusnya yang masih pada video gim pada ponselnya.
"Najong, ew!"
***
Panas matahari menjelang siang memang benar-benar membuat apa saja yang sedang di jemur cepat kering, padahal dalam siaran ramalan cuaca yang tak sengaja di tonton Hani tadi pagi jelas menuturkan kalau hari ini akan mendung. Tapi, lihat saja... boro-boro mendung, wong matahari semangat sekali menyidari Bumi dengan sinar panasnya begini sekarang. untung saja, saat ini dia sedang duduk di gazebo taman yang letaknya di dekat perpustakaan sekolah. Di taman belakang ini, banyak tanaman obat serta bunga-bunga yang sengaja di tanam supaya sekolah terlihat asri.
Bersama Unggah, Hani duduk di atas gazebo dengan santai. Tadi, Unggah memberitahunya untuk datang ke taman belakang sekolah karena cowok itu sudah menunggunya disana. Hani yang bingung, lantas menurut saja dan menolak ajakan Lala untuk makan di kantin sekolah, lagipula ia sama sekali sedang tidak semangat makan. Belum lagi, larangan dokter yang mengatakan untuk tidak dulu mengkonsumsi makanan berlemak tinggi dan goreng-gorengan-yang mana, sebagian besar isi kantin sekolah adalah dua dari larangan dokter-alhasil, Lala melenggang sendiri bersama satu teman sekelas mereka untuk ke kantin, sedangkan Hani pergi menemui Unggah ke taman belakang sekolah mereka.
Kedua mata cewek itu fokus pada kupu-kupu dengan kepakan sayapnya yang begitu indah sedang hinggap pada bunga mawar untuk mengambil sari madu pada bunga dengan tangkai berduri itu. Sedangkan, bento lunchs yang disiapkan Tante Gigi untuknya sudah berhasil di habiskan dengan cepat dan tanpa drama; mual atau pusing.
Untuk lima menit berlalu sejak suapan terakhir Unggah untuknya, Hani memiringkan kepala. Fokusnya berganti menatap Unggah yang sibuk dengan kertas sketsa dan pensil di tangan cowok beralis tebal di sampingnya. Unggah nampak begitu larut dengan apa yang sedang dikerjakannya. Menggambar.
Sedetik berikutnya, senyuman terbit di wajah Hani kala ia menundukan kepala ke bawah, menatap kertas bergambar itu. Adalah gambarnya berarsir kasar nampak dari samping sedang menatap lurus ke depan. Aduh...
"Dasar paparazi."
Untuk pertama kalinya, Unggah mendongak dari pekerjaannya. "Paparazi itu kalau motret orang sembarangan. Gue kan gambar." Jawabnya dengan satu tangan membawa buku sketsa itu berjajar dengan wajah Hani, lalu mengamatinya. "Gue tahu gue emang pinter."
"Buat gue!"
Unggah menaikkan alisnya, menarik buku sketsanya ke depan dada persis seorang anak kecil yang takut mainannya di ambil, "Nggak. Ini punya gue...,"
"Untuk lo kasih pigura dan di pajang di kamar?" Hani tersenyum senang menebak.
"Bukan lah. Ngaco."
"Ha?"
"Untuk ngusir tikus di dapur."
Ucapan itu langsung di sambut repetan kekesalan dari Hani yang membuat Unggah tertawa keras. Cowok itu menghalangi segala bentuk kekerasan tangan Hani yang melayang mencubit, memukul dengan membabi buta. Benar saja, siapa juga yang nggak marah kalo punya wajah cantik-cantik malah dibilang berguna buat mengusir tikus nakal di rumah?
"Aduh! Ampun... becanda sayaaaang." Ungah meringis saat serangan bertubi-tubi Hani berhasil lolos tanpa dapat dipatahkannya. Dengan gerakan impulsif, ia lantas mengambil kedua pergelangan tangan Hani dan mengurungnya menjadi satu. Suara kekehan terdengar seiring dengan helaan napas tak teratur, Unggah menatap kedua manik mata cewek yang kini cemberut total itu dalam-dalam. "Gue emang nggak butuh pigura sketsa ini untuk kamar gue, karena gue udah punya pigura foto kita waktu lo maksa photobox kayak anak alay di Lippo."
"Ih,"
"Ih." Unggah membeo.
"Tsk,"
"Tsk." Lagi, cowok itu membeo.
Menatap sebal cowok beralis tebal itu, Hani membela diri, "Nggak alay loh. Ini tuh tren yang muncul lagi setelah vakum beberapa tahun. Huuu..."
"Iya, tren." Jawab Unggah. Cowok itu menguraikan genggaman tangannya pada Hani. Sebenarnya, apa yang ia katakan soal 'alay' itu hanyalah sebuah bualan semata. Unggah hanya ingin membuat cewek yang kini berstatus pacarnya itu kesal karena wajah cemberut begitu lucu baginya. Baik, meskipun ketika cewek itu tersenyum adalah yang terbaik dari segala halnya. Tangannya terulur memberikan sketsa gambarannya kepada Hani, "Jangan sampe hilang lho."
"Siaaap." Hani tersenyum lebar.
Sesaat, Unggah terpana. Lantas, dengan cepat ia mengambil ponselnya dan menekan ikon kamera di perangkat itu; membidik senyuman itu.
Senyuman lepasnya, tawanya, Unggah sadar bahwa dia membutuhkan itu dalam hidupnya.
"Peluk..."
"Ha?"
Unggah mengedipkan mata, cuitan burung yang hinggap di atas atap gazebo terdengar mengalun di keheningan taman itu. Unggah berdeham, menggeleng pelan, "Nggak. Bukan apa-apa."
Tapi, alih-alih percaya, Hani malah memicingkan matanya. Sebenarnya, dia tadi mendengar samar gumaman dari mulut cowok itu, hanya saja dia perlu memastikannya supaya nggak terlihat kepedean. Tapi, lihat aja... bukannya mengulang gumamannya, Unggah malah beringkas membereskan wadah bento berwarna biru terang itu ke dalam tas kecil hitam. Ih, nyebelin! Gue kan mau lho peluk lo dek Unggah...
Eh, gimana?
Hani mengedipkan mata, memikirkan kenapa dia bisa jadi agresif seperti macan begini, padahal sebelumnya ia adalah seekor kucing anggora. Ugh.
Melihat Unggah yang sudah mau berdiri-dan Hani yakin bahwa sebentar lagi cowok itu akan mengajaknya kembali ke kelas-maka tekadnya dibulatkan. Dengan bertaruh menahan malu, Hani bersuara pelan-pelan sambil membawa tatapannya pada Unggah, "Gue mau kok di peluk."
Tidak ada jawaban.
Duh, apa gue yang kepedean dan salah dengar ya? Batinnya mulai meragukan kualitas pendengarannya.
Hani sudah akan membuka mulutnya lagi untuk menambahkan kalimat yang mengudara sebelumnya, ketika Unggah dengan gerakan impulsif menarik tubuhnya hingga membentur tubuh cowok itu. Unggah memeluknya.
Wajahnya memerah, itu sudah pasti. Degup jantungnya juga tak kalah berisik mengimbangi. Untuk sesaat Hani menahan napasnya tanpa sadar. Bahkan, cowok ini sudah pernah memeluknya ketika mereka berada di GOR waktu itu. Tapi... ada perasaan lain yang terasa dalam pelukan hangat ini. Apalagi ketika Hani merasakan telapak tangan Unggah bergerak mengelus rambutnya. Tanpa sadar, Hani tersenyum.
Dibalasnya pelukan itu sama eratnya. Lalu, berbisik pelan. "Gue sayang lo."
Unggah tersenyum, jemarinya masih mengelus rambut Hani dengan lembut, "Gue juga..." tiba-tiba ucapannya terhenti kala melihat apa yang ikut menyangkut di telapak tangannya. Cowok itu menegang, kedua matanya menatap nanar pada helaian rambut yang berada di telapak tangannya itu.
Sedangkan Hani, yang merasa bahwa kalimat Unggah barusan akan ada lanjutannya, namun nyatanya tidak, hendak menguraikan pelukan mereka. Tapi, Unggah menahannya. Keningnya mengerut, "Lo kena-"
"Janji sama gue kalau lo hebat dan akan sehat lagi, ya?"
"Ha?"
"Janji?"
Kedua kelopak mata Hani mengedip, sedikit bingung tapi tak urung dianggukkan juga kepala mungilnya. "Iya... gue janji."
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co