Duapuluh-sembilan
"Nggak boleh kasih hadiah 100 hari jadian kaos couple tau. Cari yang lain deh. Next..." suara Lala mengudara bernada komplain ketika laptop Hani sedang menayangkan situs belanja daring dilayarnya.
Kedua cewek bersahabat baik itu kini sedang berada di atas ranjang di dalam ruangan bercat biru langit dengan tubuh tengkurap bersisian di atas ranjang itu serta fokus menatap layar laptop yang menampilkan website belanja berskala Internasional itu.
"Kena-why emangnya?" Hani menoleh, mengerutkan alisnya sambil membenarkan letak bantal yang menopang dadanya.
Jam di dinding menunjukan pukul 15:30 sore, sudah lewat dua jam sejak jam pulang sekolah. Tadi, Lala ikut dalam mobil Unggah karena katanya ia ingin main dulu ke rumah Hani. Padahal, sebenarnya, itu alasan juga agar bisa bertemu kekasih cewek itu yang sedang bedrest di rumah akibat insiden diare-nya. Tapi, diurungkannya karena Dwiki bilang bahwa ada Mama dan Papa cowok itu di rumah. Lala memang cemen kalo soal yang satu ini, meskipun Lala tahu persis bahwa dia tidak akan di 'apa-apa'-in oleh kedua orangtua Dwiki sebenarnya.
"Ntar putus. Tetangga gue gitu, Han." respon Lala, cewek itu memutar tubuhnya hingga ke dalam posisi berbaring menatap langit-langit kamar Hani yang di tempeli stiker bintang-bintang di plafonnya.
Hani mendengus. Menumpukan tangannya pada dagu, sambil menatap deretan foto etalase baju couple dari beberapa penjual di situs itu. "Itu mah emang dia nya aja nggak awet pacarannya, La. Pake nyalahin baju couple lagi. Haha!"
"Ih, serius. Pokoknya jangan deh. Next."
"Aih... Terus apa dong? Sepatu?"
Lala menolehkan kepala menatap sahabatnya dari samping, "Lo emaknya emang?"
"Njir. Gue Mbak-nya. "
Kemudian keduanya tertawa kencang.
"Next." Ucap Lala kembali.
"Jam tangan?"
"2018 ini, mbak. Next."
Hani menarik napas dalam-dalam, agak senewen karena semuanya ditolak dengan kalimat 'next' dari Lala. Cewek itu gayanya bak artis terkenal yang banyak permintaan. Duh, duh.
Dengan dahi yang berkerut maksimal menandakan kalau si empunya memang sedang berpikir keras sekarang, kedua mata Hani memandang tanpa fokus ke arah ponsel yang ia letakkan tepat di sebelah laptop. Kemudian, secercah ide tiba-tiba muncul disana.
"Aha! tuan krab aku punya ide!" Hani menjentikkan jari. Lalu, dengan cepat jemarinya menari-nari di atas keyboard laptop untuk mengetikkan sesuatu disana. kemudian, enter.
Seketika layar laptop itu dipenuhi oleh gambar serupa dengan macam-macam harga disana. Hani menepuk lengan Lala cepat, "La, ini gimana?"
Kembali memutar tubuhnya, Lala segera memusatkan pandangannya pada layar terpal di depan mereka. Hani tersenyum bangga ketika melihat kedua mata sahabatnya yang berbinar kagum.
Keren, gue emang bakat kalau mikir kek gini, katanya dalam hati.
"Amazing 'kan?" suara Hani kembali terdengar agak bangga. Membawa posisi tubuhnya duduk bersila.
"Everlasting rose?" tanya Lala, mengikuti sahabatnya memposisikan tubuh duduk bersila.
Hani mengangguk.
"Keren sih ini." Lala manggut-manggut, lalu memicingkan mata menatap sahabatnya, "Lo lagi menuntaskan ke-haluan lo ya, karena pengin dikasih hadiah begini nggak kesampaian?"
"Sial," Hani tertawa. "Maksud gue, everlasting rose kan bisa awet 2-3 tahun kedepan, asalkan di tempat yang bagus siklus udaranya. Nah, gue pengin aja gitu ngasih sesuatu yang kalau dia lihat tu barang otomatis inget sama gue, gitu."
"Berat ya cui...," Lala geleng-geleng. "Ini gue accept. Cuss di checkout."
Dengan hati gembira, Hani segera menekan button checkout pada portal website itu, mengisikan beberapa data serta alamat, memilih metode pembayaran lalu selesai. Senyuman puas keluar dari wajah Hani, segera cewek itu menyampirkan laptopnya ke atas meja saat ia selesai menggunakannya. Dan kembali berbaring di ranjang dengan beberapa bungkus obat di tangannya serta segelas air mineral.
Bibirnya benar-benar kering dan lidahnya terasa pahit. Melihat bungkusan obat-obatan itu tak ayal rasa mual kembali menerpa perutnya. Ugh, padahal tadi sewaktu di sekolah rasanya ia baik-baik saja. Makan bento yang dibuatkan Tante Gigi juga baik-baik saja, pun setelahnya Hani meminum beberapa obat dan vitamin juga sama sekali tidak merasakan apa-apa. Tapi, kenapa saat di rumah rasanya berbeda jauh sekali ya?
"Han, lo kenapa? Kok mengkerut gitu dahinya? Mual lagi ya?" Lala menyadari ekspresi berbeda dari sahabatnya itu.
Hani menggeleng pelan, "Nggak. Nggak pa-pa kok. Cuman gue rada bosen aja minum obat mulu. Hehehe." ucapnya sambil menyunggingkan tawa menggunakan tiga suku kata. Hani mulai membuka obatnya.
Sedangkan Lala, mulai memperhatikan dalam diam. Dia sama sekali tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang diucapkan Hani. Ia tahu, jika cewek itu pasti sedang merasakan mual dan tidak enak badan. Karena efek dari kemoterapi adalah hal-hal seperti itu.
"Astaga, Hani!" Lala berseru dan segera menyambar sickbags, lalu menyodorkannya kepada Hani dengan cekatan ketika melihat sahabatnya itu hendak mengeluarkan apa yang baru akan ditelan oleh cewek itu. Membantu mengusap punggung Hani pelan, sebelum ia beranjak berdiri dan berlari keluar kamar Hani. "Bentar, gue panggil tante Ajeng."
***
Wajah Hani pucat pasi. Sebenarnya, Bunda dan Ayah enggan membiarkan anak gadisnya itu ke sekolah, namun kalimat rewel bertajuk setengah memaksa yang dikeluarkan Hani tak urung membuat kedua pasang suami-istri itu mengambil napas panjang dan mengizinkan. Dengan nada mewanti-wanti khas Ibu-ibu, Bunda terus meminta Unggah untuk melihati kondisi Hani jika di sekolah.
"Nak Unggah, tante minta tolong banget ya, dijaga Hani nya. Jangan dibolehin kalau mau makan jajanan kantin dulu, suruh makan bekal aja. Terus, bilang sama Lala untuk follow up ke tante soal kondisi Hani di kelas. Ya?" begitulah Ungkapan Bunda setelah Hani berhasil duduk di kursi penumpang pada mobil yang dibawa Unggah.
"Iya, Tante."
"Maafin Tante-mu ini ya, Nak Unggah. Biasa Ibu-ibu suka khawatir berlebihan." suara Ayah mengudara menatap Unggah dengan senyuman kebapakan, ia mengusap lengan Bunda dengan lembut, sebelum mengedarkan pandangan pada anak bungsunya. "Ingat pesan ayah?"
Hani tersenyum. "Kalau pusing langsung telpon Ayah?" Ayah menganggu. Masih dengan senyuman, Hani kembali bicara dengan tangan hormat, "Siaaaap, kapten!"
Mau tak mau Ayah tersenyum mendengarnya. Tangan kanannya terulur saat Hani mengambilnya untuk salim. "Bunda, adek nggak pa-pa. Udah sehat kok."
"Apaan pucat gitu." Perempuan setengah baya itu mengerut kening.
"Pucat doang, tenang aja, Bundaaa..." Hani berupaya menyunggingkan senyuman lebih lebar lagi agar Bunda berhenti mengkhawatirkannya. Ditatapnya Bunda dengan pandangan penuh keyakinan. "Adek janji langsung telpon Bunda kalau ngerasa apa-apa deh."
"Janji?"
Hani mengangguk.
***
Sepertinya, matahari siang ini benar-benar ingin menunjukkan eksistensinya dalam menyinari Bumi. Karena nyatanya, jarum jam yang sudah menunjukkan hampir waktu sholat ashar, tapi sinarnya tak kunjung redup. Malah, semakin menggila.
Lapangan futsal menjadi saksi bagaimana siswa-siswi kelas 11 IPS 2 dan beberapa siswa kelas lainnya pada lapangan basket tampak kepanasan sedang melakukan pemanasan sebelum olahraga dimulai.
"Han, kalau capek bilang ya? Ntar gue izinin ke Babe biar lo duduk aja." bisik Lala di tengah-tengah Stretching. Mereka sedang melakukan perentangan tangan pada tahap awal.
"Iya, lo udah kayak nyokap gue deh, La."
"Jangan iyo-iyo bae. Aku ni serius, Han."
Mendengar pelafalan bernada Palembang yang amat jarang di dengar keluar dari mulut Lala itu spontan membuat kekehan muncul dari bibir Hani. Bukan maksud mengejek, tapi sahabatnya itu tidak cocok sekali bicara ke-palembang-an begitu. Mungkin karena Lala memang besar di Bogor, sehingga aksen melayu khas kota yang terkenal dengan menu olahan ikan itu tidak terasa pas di lidah Lala.
"Ketawa kau, ketawa?"
"Idak." Hani mengikuti aksen Lala.
"Sial, ngeledek lagi."
"Hahaha. Nggak cocok lo, La. Sumpah deh."
Lala cemberut, "Kemarin pas ke rumah Dwiki di dalam sana keluarganya full pakai bahasa Palembang, Han. Gue sebagai orang yang satu suku merasa gagal paham dengernya."
"Makanya, ngomong nggak usah which is - which is-an."
"Ye, probably nothing. Asalkan sedikit doang mah." jawab Lala santai.
Hani geleng-geleng. Jika Bu Tuti sampai mendengar, Hani yakin Ibu Guru itu akan merasa gagal dalam mengajarkan bahasa Nasional yang sesuai dengan KBBI.
Tiga menit berikutnya, Babe sudah menginstruksikan supaya anak didiknya membentuk sebuah barisan karena materi hari ini adalah lari jarak pendek. Posnya sih hanya mengelilingi dua lapangan outdoor yang ada di sekolah; lapangan futsal dan lapangan basket saja. Makanya, Hani yang sudah dilarang oleh Unggah--yang setia menunggu cewek itu di bangku sekolah depan koridor--tetap bersikeras untuk ikut. "Gue nggak pa-pa, Unggah. Beneran deh." begitulah kalimat yang Hani lontarkan dengan berulang saat Unggah tidak setuju. Bahkan, ketika Babe dan Lala turut andil supaya Hani duduk saja tidak usah ikut dalam pengambilan nilai hari ini, cewek itu tetap kekeuh untuk ikut. Katanya, "Penyakit itu nggak boleh di manjain."
Begitulah akhirnya, Unggah terus menajamkan mata pada satu titik yang dikuncinya. Hani Azzahra.
Hingga, ketika fokus itu sedikit goyah karena seorang guru di dalam kelas lain yang memanggilnya untuk mengambilkan absensi yang tertinggal di meja kerja. Kembalinya Unggah malah disambut dengan kerumunan anak memakai pakaian olahraga yang nampak berbisik-bisik dan dua diantaranya mengangkat sebuah tandu yang ditiduri seorang cewek berpakaian olahraga. Tidak jelas, karena posisinya memang agak jauh dari tempat Unggah berdiri. Namun, tangisan Lala yang dilihatnya itu nyatanya membuat sudut pandang perspektif Unggah menyimpulkan sesuatu.
Karenanya, Unggah langsung berlari sekencang mungkin menyambangi ke kerumunan itu.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co