Truyen3h.Co

Hello mellow

Duapuluh-tujuh

authoriya


Ini hari Jum'at dan jarum jam menunjukkan tepat di angka 8.15 pagi. Pagi-pagi sekali, Setelah melakukan tes darah standar yang biasanya memang dilakukan sebelum menjalani kemoterapi, diantar oleh Ayah, Bunda, kak Meta; Hani kembali ke ruangannya diantar oleh ketiga keluarga yang ia sayang. Dokter mengatakan, jika nanti Hani masih harus melakukan tes Radiologi seperti tes ultrasound, X-ray, MRI, CT scan dan PET. Yang biasanya dilakukan sebelum, saat dan sesudah kemoterapi. Waktu yang diperlukan juga tidak sebentar, makanya dibutuhkan sesuatu yang nyaman dan stamina yang bagus saat melakukan itu. Juga, selain itu, kesiapan mental adalah hal utama.

Kedua mata Hani membelalak ketika melihat siapa yang masuk melewati pintu geser ruangan tempatnya menunggu. Dengan jaket kebanggaannya, juga senyuman semanis gulali, Unggah masuk dengan nampan makanan ditangan. Itu adalah nampan makanan yang diberikan petugas tadi pagi, namun belum sempat disentuh Hani karena sudah mual duluan.

"Kata Bunda lo belum sarapan?" tanya Unggah, mengambil tempat di ujung ranjang yang Hani duduki.

Hani lantas menoleh kepada Bunda, "Kok Bunda nggak bilang ada Unggah?"

"Iya, kamu tadi di dalam bersama kak Meta saat nak Unggah datang," Bunda menjelaskan. Seulas senyuman kecil terbit, "Sekarang makan dulu ya, kan pangerannya sudah datang."

"Bundaaaa," Hani tersipu malu.

"Dih, liat nih yah, anak Ayah. Masih kecil juga..." Meta mengadu. Meski begitu, senyuman terbit di wajah cantiknya.

Ayah yang melihat hanya menyunggingkan senyumnya. Dia tahu siapa laki-laki muda yang sedang dekat dengan anak gadisnya yang paling sulung itu. Bagi Ayah, tidak masalah selama apapun yang dilakukan masih dalam koridor sehat. Makanya, menatap anak sulungnya dengan senyuman khas kebapakan, Ayah bersuara, "Obat sekali sepertinya ada Unggah datang."

Unggah tersenyum sopan. "Dari pertama masuk sini nggak mau makannya, ya om?" Tanyanya sambil membuka plastik wrap yang membungkus nampan makanan Hani, memberikan air mineral sebelum menyuapi sesendok nasi beserta sayuran hijau untuk cewek itu.

Ayah mengangguk, "Dibelikan makanan Jepang kesukaan juga tetap nggak masuk, Nak Unggah." Jawaban Ayah dibarengi dengan ponselnya yang berbunyi. Ayah lantas pamit pergi keluar sebentar untuk mengangkat panggilan teleponnya. Sedangkan, Bunda dan Meta lebih dulu pamit untuk melakukan proses administrasi di lantai bawah.

Sambil mengunyah nasi nya pelan, Hani sedikit tercenung heran. Kedua tangannya terpaut di atas paha dengan selang infus yang masih terpasang. Matanya menatap Unggah yang sedang mengambil sesendok nasi untuk Hani lagi, lantas cewek itu segera mengikuti membuka mulut ketika Unggah kembali menyodorkan sendok yang dipegangnya.

"Ini aneh sekali," Hani bergumam di tengah-tengah mengunyahnya. Kedua matanya lurus menatap Unggah. Cowok itu mendongak, mengernyitkan keningnya dengan pandangan bertanya.

"Kenapa? Mual lagi?"

Hani menggeleng cepat.

"Terus? Mau minum?"

Lagi, Hani menggeleng. Menelan makanannya dengan lancar, lalu bersuara. "Nggak, bukan." Katanya sambil menggeleng pelan. Hani menatap Unggah sedikit mengerutkan kening, "Lo sebenarnya apa sih, Ung?"

Kali ini, gantian Unggah yang mengerutkan keningnya bingung. Gerakan menyendok makanannya berhenti, "Maksudnya gimana?"

"Gue dari kemarin ngeliat makanan aja mual, minum obat juga mula, apalagi sampe mau menelannya gini. Ini... ketika lo datang, kenapa mualnya langsung hilang?" Hani melirik nampan yang berada diatas paha Unggah, lalu kembali menatap mata cowok setengah arab itu, "Bahkan nasinya udah mau abis tanpa sedikitpun gue keluarin lagi."

Tersenyum kecil, Unggah meletakkan nampan di pangkuannya itu ke pinggir ranjang yang kosong. Satu tangannya menggenggam tangan kiri Hani, sedangkan satunya lagi mengusap lembut pipi Hani. "Jangan pernah ngerahasiain apapun dari gue lagi, oke?"

"Gue cuman nggak pengin lo ngeliat gue dalam keadaan begini..." Hani menatap kuku-kuku jemarinya. Suaranya bergumam sehalus angin saat mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Unggah. Namun, kepala mungil Hani langsung mendongak ketika Unggah membawa jarinya ke dagu Hani, membuat cewek itu menatapnya.

"Gue sayang sama lo, Han. Lo kan tahu..." Ucapnya sungguh-sungguh. Seharusnya, Hani bisa merasakan apa yang ia rasakan sekarang, sehingga tidak ada pikiran-pikiran aneh yang bersarang di kepala cewek itu. Karena yang harus ia pahami adalah, bahwa Unggah akan selalu menerimanya luar dan dalam. Tanpa syarat apapun.

Setetes air mata mengalir di pipi Hani, "Makasih ya." Kemudian, Hani bergerak dengan pelan mencondong ke depan, memeluk Unggah dengan tubuhnya yang ringkih. Merasakan bau menenangkan khas Unggah, yang mungkin saja hanya akan menjadi kenangan indahnya nanti.

Pada detik ini Hani hanya berharap agar waktu bisa berhenti berjalan, agar jarum jam bisa berhenti berputar, karena apa yang sedang terjadi sekarang adalah sebuah hal yang mungkin saja mengantarkannya kepada akhir cerita. Dan Hani, masih ingin ada di Bumi jika itu bersama Unggah, bersama keluarga dan teman-temannya.

Hani menjauhkan diri, mendongak menatap Unggah. "Omong-omong, Lo nggak sekolah?"

"Baru nyadar ya?" Unggah tersenyum kecil. Tangannya bergerak menyampirkan anak rambut di kening Hani. Cewek itu mengangguk.

"Bolos? Ih, nggak suka ah!" Hani cemberut. Ia paling tidak suka dengan orang yang suka bolos sekolah, apalagi karena dirinya penyebabnya.

"Enggak bolos kok," Jawaban Unggah membuat cewek itu melirik melalui ekor mata. Unggah mengusap pelan puncak kepala Hani, lalu berujar. "Gue minta tolong Bayu bikinin surat sakit. Kakaknya kan ada yang dokter umum."

"Nipu dong? Durhaka lho ntar..."

"Gue bilang ke nyokap kok kalau nggak sekolah hari ini. Kan durhaka itu kalau bohongin orangtua, bukan bohongin guru." Unggah menjawab dengan santai. Pandangannya merujuk pada pintu geser ruangan yang terbuka.

Hani mengikuti.

"Saudara Hani? Di mohon bersiap ya, 10 menit lagi kita pasang infus lalu uji coba regimen." ujar seorang perawat berpakaian seragam putih-hijau dengan rambut di sanggul rapi kebelakang.

***

Sekitar jam 8 malam pasca kemoterapi, kelopak mata Hani akhirnya terbuka. Sayup terdengar, suara Ayah, Bunda, dan juga Meta sedang mengobrol santai dengan televisi di biarkan menyala. Setelah kedua kelopak matanya benar-benar terbuka, Hani mendapati sinar dari lampu di atasnya langsung menusuk indera penglihatan. Dengan mengernyit sedikit, Hani lantas menolehkan kepalanya dan memanggil pria setengah baya yang sedang menonton siaran berita malam. "Ayah..."

Ayah otomatis mendongak, agak terkejut melihat putri sulungnya sudah terbangun, lantas segera berdiri dan mengambil langkah mendekat. Diusapnya puncak kepala Hani dengan lembut, melalui lensa kacamata yang bertengger di hidung bangkirnya, Ayah melihat wajah pucat pasi disana. Hati kebapakannya teriris, mengerut sakit seperti di tusuk sembilu. Namun, tentu saja hal itu tak pernah ditunjukan Ayah, karena terlihat tegar dan menenangkan adalah tugasnya. Maka, Ayah bersuara pelan, "Ada yang sakit?"

Hani menggeleng.

"Mau minum? Atau makan sesuatu?"

Lagi, Hani menggeleng.

"Lalu?" tanya Ayah setelah dua pertanyaannya mendapatkan jawaban yang sama.

Mengedarkan kedua matanya, Hani tidak menemukan objek yang dicarinya. Seolah tahu, Ayah menambahkan, "Bunda dan Kakakmu tadi pulang sebentar mengambil pakaian ganti."

Cewek itu mengangguk paham. Bola mata coklatnya tanpa sengaja melirik ke samping kiri, dimana single chair berada dan menemukan boneka panda memegang gitar berukuran jumbo terduduk seolah sedang memandangnya. "Ini punya siapa, Yah?" Hani menoleh lemah ke arah sang Ayah.

"Punya kamu. Dari Gigi, Mamanya Nak Unggah."

Hani membelalakkan mata, "Tante Gigi dari sini?"

"Tidak." Ayah menggeleng pelan. Mengambil boneka panda itu, memberikannya kepada sang putri. "Di bawa ketika nak Unggah kesini. Mau langsung kasih ke kamu, tapi kamu belum bangun." tuturnya.

Hani meraih boneka panda itu dengan mengukir senyum kecil, satu tangan yang bebas dari selang infus bergerak mengelus lembut bulu pada boneka yang ukurannya hampir membalapnya itu. "Yah, tolong ambilin hape aku di atas atas lemari itu?" tunjuknya pada lemari sudut tempat meletakkan pakaian yang disediakan oleh pihak rumah sakit.

Ayah mengangguk, melangkah lebar mengambil benda persegi itu dan memberikannya kepada Hani, "Jangan kelamaan main ponselnya, kan masih pemulihan."

"Siap, Pak Jendral!" Hani memamerkan sederet gigi putihnya. Menatap benda persegi itu dan mengaktifkannya.

***

Langkahnya memburu ketika menuruni undakan tangga di rumahnya. Dibalut celana katung dan kaos hitam, Unggah terus menjajaki undakan tangga itu hingga tangga terbawah dengan tangan kanan menggenggam ponselnya. Senyumannya menggembang sejak satu pesan masuk yang berasal dari cewek kesayangannya itu ia terima lima menit yang lalu.

"Senyum terus, di follback Via Vallen ya?" Perempuan setengah baya--Gigi-- mengomentari, memalingkan matanya yang semula fokus menatap layar televisi yang sedang menayangkan tayangan pada salah satu stasiun TV masa kini.

"Ha?" Unggah terkekeh kecil, menggaruk kepalanya sekilas lalu mengambil tempat di sebelah sang Mama. "Via Vallen mah lewat, Ma." lanjutnya. Mengutak-atik ponselnya sebentar, lalu menunjukkannya kepada Gigi.

Gigi mengambil ponsel itu, senyumnya mengembang ketika melihat siapa yang memenuhi layar ponsel Anak laki-lakinya yang beranjak dewasa ini. Dengan senyuman yang mampu menularkan kepada siapapun yang melihat, di balut dengan baju pasien rumah sakit, Hani memeluk boneka Panda pemberian Gigi dengan senyum menggembang. "Cantik sekali." gumam Gigi.

Unggah tersenyum menyetujui. Diambilnya kembali ponsel itu, mengetikkan sesuatu disana. Lalu, berujar pada sang Mama, "Katanya, 'Makasih tante. Tau aja aku suka panda.' "

"Mama besok mau jenguk, ya. Kamu mau kan antarin?"

"Siap, Ma!" Unggah tersenyum lebar. Di lanjutkan obrolan lainnya dengan Unggah yang tetap berbalasan pesan dengan Hani sepanjang malam itu hingga tanpa sadar jatuh tertidur dengan ponsel tergenggam di tangan. Well, Feromon pada orang yang sedang jatuh cinta memang seperti itu cara kerjanya.

***

"Tuh, Gi, anak gue mirip gue banget nggak sih?" Bunda dengan irisan brownies di piring tupperware di tangan, berjalan menuju mini sofa set di pojok ruangan dekat pintu masuk. Menawarkan supaya Gigi menyantap kue dan air mineral botol yang dihidangkannya.

Gigi mengikuti arah pandang Bunda, lalu tersenyum kecil. "Banget. Lo tapi lebih agresif sih Jeng."

"Haha, sial." Bunda tak urung tertawa. Membawa tungkainya naik pada tungkainya yang lain, Bunda membawa sejumput rambut kebelakang telinga.

"Tapi, gue bener-bener makasih banget loh, Gi." Bunda melirik putri sulungnya yang sedang disuapi oleh putra sahabatnya itu. Kemudian, kembali memandang sang sahabat, "Anak gadis gue sejak pertama dilarikan kemari sama sekali nggak bisa nelan nasi, Gi. Keluar mulu. Sejak Unggah kesini aja, lah kok bisanya mualnya hilang."

"Tipis lah kayak lo waktu di PMR dulu, jijik banget makan nasi campur-campur kan? Eh, jadi lupa segalanya pas kakak kelas kita dateng. Siapa tu namanya, Jeng?"

"Akbar." Bunda tersenyum mengingat kejadian itu.

"Ah iya, dia dimana sih sekarang? Masih di Indo kan?"

Bunda mengangguk, mengeluarkan ponselnya, mengutak-atiknya, lalu menunjukan benda persegi itu kepada sahabatnya setelah layarnya menunjukkan salah satu foto bayi munggil yang di bagikan pada salah satu jejaring sosial yang saat ini fenomenal di kalangan Ibu dan Bapak seusia mereka. "Nih, istrinya baru lahiran anak keempat..."

Lalu, obrolan seputar masa lalu timbul tenggelam membunuh waktu hari ini. Sedangkan, Mama dan Bunda yang sibuk bernostalgia di sofa itu. Hani menyudahi makannya hingga tandas. Ia mengambil tisu basah yang diberikan Unggah untuk mengelap sisa-sisa makanan di mulut dan tangannya. Sedangkan, setelah itu meraih air mineral yang diberikan Unggah padanya.

"Gue nggak sabar pengen masuk sekolah." ucap Hani setelah memberikan gelasnya kembali kepada Unggah dan mengucapkan terima kasih.

Unggah meletakkan kelas itu di dekat nampan makanan kosong, "Kan senin besok udah bisa sekolah lagi. Tapi, jangan kecapekan."

Hani mengangguk. Kepalanya tak sengaja menunduk dan melihat beberapa rambutnya yang rontok di ranjangnya. Wajahnya berubah masam sambil memunguti rambut-rambut itu dan memasukkannya ke kantong kecil. Lalu mata sendu itu menatap manik mata Unggah, "Kalau rambut gue ntar mulai hilang, kita nggak usah ketemu dulu deh ya..."

"Kenapa coba?" Unggah mengangkat alisnya bingung.

"Gue pasti jelek banget. Gue nggak mau lo nyesel sama gue," Bahunya melorot dengan bibir cemberut. Bagi Hani yang sudah pernah mengalami efek samping kemoterapi itu tentu saja tau betul jika rambut panjangnya ini akan menghilang seiring dengan ia menjalani pengobatan ini. "Jadi, kita telponan sama chattingan aja."

"Nggak setuju. Lagian gue kan pengin liat lo, bukannya rambut lo, Han."

"Tapi kan---"

Unggah mendesah, mencubit pelan pipi kiri Hani seraya menyela kalimat yang hendak dilontarkan cewek itu dengan segera. "Protesnya ntar aja ya kalau udah sampe waktunya."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co