Truyen3h.Co

Hello mellow

Duapuluh-dua

authoriya

"Kemana Bambang dan Dwiki?" Tanya Bu Indri kepada seisi kelas saat mata berbingkai lensa tebal itu tidak mendapati si biang kerok kelas. Bu Indri mendudukkan bokongnya pada kursi kayu dan menaruh perkakasnya di atas meja.

"Dispen bu, dipanggil Babe latihan futsal untuk turnamen pocari sweat besok."

"Nilai sudah pas-pasan, Dispen terus. Suruh mereka temui saya di kantor setelah pulang sekolah." ucap bu Indri bersuara dingin, mengeluarkan buku absensinya dan mulai mengabsen satu persatu anak murid di kelas 11 IPS 2.

"Ini nih, udah tau punya emak galak masih aja hobi futsalan." Lala merepet judes, menaruh buku pelajarannya ke atas meja dengan kasar.

Hani mendesah. Baru juga masuk pelajaran pertama, tapi teman sebangku nya ini sudah marah-marah. "Lo kayak nggak tau emak kita aja, La. Paling cuman di ocehin tipis doang, apa lagi lo tau kan yang paling banyak nelurin piala di etalase sekolah itu anak futsal. Dan, tiap kali dipanggil setelah upacara selesai pasti yang maju si Bembeng kalau nggak ya cowok lo," Hani mencoba memperbaiki suasana hati Lala, "Dan Bu Indri akan selalu tersenyum lebar saat itu. Lo juga lihat itu kan, La?"

"Iya sih, tapi..." Lala mendesah, kedua matanya melirik ke arah Bu Indri yang sedang mengabsen sampai di inisial nama F. Kemudian melanjutkan, "Gue tuh nggak mau aja dikira nyokapnya Dwiki kalau nilai anaknya jelek karena kebanyakan main sama gue. Padahal kebanyakan bergaul sama bola."

"Nggak, lah. Tante Ani nggak gitu kok orangnya."

Lala mengerucutkan bibirnya. Kedua matanya melirik ke meja dan pada saat itulah dia menyadari ada sesuatu yang baru di pergelangan tangan Hani. "Oh god! Alexandre Christie!" Pekik Lala pelan, menggunakan kedua tangannya, Lala meraih satu lengan Hani untuk melihat lebih dekat kepada jam tangan itu.

"Ih! Di beliin kak Meta, ya?" Tanya Lala antusias. Kedua matanya melahap habis jam baru yang bertengger manis di pergelangan tangan sahabatnya itu.

"Kak Meta kikir, dari pada beliin gue jam mahal begini mending dia beli buat dirinya sendiri, La." Hani memutar bola matanya.

"Terus, siapa? Bunda ya? Apa Om?" Tanya Lala lagi.

Hani menggeleng dengan senyuman rahasia di bibirnya.

"Hadir, bu." Jawabnya ketika terdengar suara Bu Indri yang mengabsen namanya.

"Siapa dong?" Lala melepas pergelangan tangan Hani, "Nggak mungkin kalau Unggah. Cowok lo kan--" kalimatnya berhenti ketika melihat senyuman di wajah Hani semakin membesar, kedua pupil mata Lala membeliak. "SERIUSS?!"

"Syaila Pratiwi," suara Bu Indri terdengar.

"Hadir." Jawab Lala cepat, kedua matanya masih menatap Hani dengan ekspresi tak percaya. "Ha, beneran? Gil--"

"Siapa pula yang mengabsen kau..."

"Eh?" Lala menoleh cepat. Kedua matanya menatap sang guru yang kini memberikan death glare untuknya.

"Coba kau jelaskan dulu Upaya Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia oleh Pemerintah Indonesia, berikut dengan UU nya di depan kelas sini. Sejak tadi kuperhatikan, kau sibuk mengobrol asyik dengan Hani." Bu Indri menutup buku absensi nya.

Hani langsung pura-pura fokus pada buku materi yang di buka nya secara acak, menahan tawa nya yang hampir keluar ketika telinganya mendengar umpatan Lala secara pelan, sebelum mengambil buku materinya dan maju ke depan kelas. Berdiri tepat membelakangi papan tulis.

"Hani, kau yang selanjutnya."

"Mampus gue!" Gerutu Hani pelan, kedua matanya langsung menatap Lala dengan kesal, sedangkan cewek itu malah menjulurkan lidahnya sambil terkekeh di depan sana menatapnya.

Dasar, Lala!!!!

***

Jam sekolah telah berakhir, sebagian besar siswa-siswi SMA Kartini telah berhambur keluar, tradisi berhimpitan berebut saling sikut demi mencapai gerbang duluan sudah tidak terlihat lagi. Sekolah benar-benar sudah sepi sekarang, hanya menyisakan beberapa anak kelas 12 yang mulai diwajibkan ikut Pendalaman Materi yang diadakan setiap 3 kali dalam seminggu. Sedangkan, beberapa siswa kelas 10 dan 11 memilih duduk di pinggiran lapangan futsal untuk sekadar membuang waktu mereka menonton latihan futsal sejak tadi pagi yang berjeda dan dilanjutkan sekarang.

Seruan dari tim futsal menandakan berakhirnya latihan mereka untuk hari ini, membuat para penonton dadakan langsung berhamburan pergi bersamaan dengan tim futsal yang juga mulai meninggalkan lapangan. Hani dan Lala bangkit dari tempatnya duduk sejak 2 jam yang lalu. Bungkusan siomay rebus dan es teh tarik sudah berserakan di dekat mereka sebagai bekal menunggu selama itu. Hani menepuk rok bagian belakangnya, kemudian bersama Lala, keduanya membawa bungkusan makanan yang telah kosong itu ke tempat sampah yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk.

"Hani, mauan aja kamu nemenin Lala nungguin pacarnya." Babe, dengan celana training beserta bola di tangannya, bersuara dengan nada menggoda yang ditujukan kepada anak murid perempuan dengan rambut dikuncir kuda tak jauh darinya. Langkah kaki Babe sengaja berhenti, karena niat menjahili itu.

"Wah, Be, Hani mah sekarang bukan nemenin saya doang Be," Lala menjawab, "Hani sekarang--"

"Nggak ding, Be!" Hani bersorak menginterupsi, kemudian menatap Lala sambil memberi kode yang hanya bisa mereka berdua yang memahaminya, "Jangan bikin gosip, La."

"Lho, bener ya ntar ilang loh dedek nya..." Lala menyikut lengan Hani sambil mengejek.

"Unggah?"

"Iya, Be!"

"Kok tau?"

Kedua suara datang bersamaan yang memiliki beda intonasi dan kalimat itu adalah milik Hani dan Lala. Hani menatap guru olah raga yang paling nyentrik dan supel di SMA Kartini itu tak percaya, bagaimana bisa gosip murid bisa sampai ke telinga guru? Ya, walaupun tidak salah karena Babe termasuk guru yang paling dekat dengan siswa-siswi SMA Kartini sih...

"Jadiannya aja Babe tau. Di perpustakaan kan?"

"Iya, Be!" Lala menjawab antusias, padahal, jelas sekali bahwa pertanyaan itu bukan ditujukan untuknya.

"Kok Babe tau sih?"

Babe tertawa, menoleh ke arah gerombolan anak yang sudah berganti pakaian dan sedang berjalan mendekat ke arah mereka bertiga sekilas, "Bagus, tau kamu mana yang ganteng, Han." Lanjut Babe, lalu dengan semena-mena guru olahraga itu berjalan meninggalkan kedua siswi itu dengan berlawanan arah.

"Wah, gue rasa mereka tim dispatch deh, Han."

Hani mendengus. "Bukan tim Dispatch, tapi CCG."

"Ngakak. Cowok gue nggak suka gosip woooi."

"Iya nggak suka gosip, tapi tukang gosip."

"Siapa yang tukang gosip, beb?" Suara menyebalkan Bambang terdengar bersamaan dengan langkah kaki semakin mendekat. Dengan cepat, Bambang langsung merentangkan tangannya, berniat untuk memeluk Hani kalau saja Hani tidak lebih cepat menggeser tubuhnya ke sisi kiri, memandang Bambang dengan raut wajah kesal. "Lo nih pasti dalangnya."

"Ya Allah, gue baru dateng udah di salahin aja," Bambang geleng-geleng bak cowok innocent, kepalanya lalu miring menatap Unggah, "Cewek lo nih, Ung, pencemaran nama baik karena menuduh tanpa memiliki bukti yang jelas. Gue tikung ntar."

"Weh, tikungan tajam pemirsa." Dwiki bersiul.

Unggah hanya merespon dengan kekehan kecilnya, "Cewek gue bukannya pencemaran nama baik, Bambang, tapi emang lo masih punya nama baik, ya?"

Suara gelak tawa langsung tercipta di detik itu juga.

"Setuju."

"Dalem."

"Panutanqu."

Tiga suara milik Bayu, Bima dan Dwiki terdengar saling beriringan dengan gelak tawa yang hadir.

***

"Ha? Masuk sini?" Hani melongo. Ditatapnya Juke biru metalik yang terparkir di parkiran sekolah mereka dengan bingung. "Bukannya motor lo di--" pandangan Hani mengarah ke tempat biasa Unggah memarkirkan motornya, tapi tidak ada. Bahkan, di tempat lain pun, motor yang plat nya sudah sangat dihafal oleh Hani pun tidak ditemukan.

"Gue nggak bawa motor." Ucap Unggah, kemudian menekan tombol pada kuncinya, hingga mobil itu tidak terkunci lagi. Unggah membuka pintu bagian penumpang pada Juke biru metalik itu, "Masuk. Atau, lo pengin gue gendong ya biar kayak di sinetron malam itu?"

"Ih, ogah!" Hani bergidik ngeri, kemudian segera melompat naik ke dalam mobil itu.

Langkah Unggah bergegas menyusul masuk melalui pintu lainnya, diiringi dengan seringaian muncul di wajah Unggah yang sedikit ke-arab-an itu dan melesatkan mobilnya melaju menuju jalan raya.

"Kok gue nggak tau lo bawa mobil? Emang lo udah ada SIM A? SIM C aja nggak punya..."

Unggah tersenyum congkak. Lalu, mengeluarkan sebuah dompet dari dalam kantong celananya dan memberikan dompet hitam itu kepada Hani, "Cek, kalau nggak percaya. Di depan kok, SIM nya." Unggah melirik Hani sekilas diantara fokusnya kepada stir kemudi.

Masih dengan pandangan tak percaya nya, Hani langsung menyambar dompet itu dengan cepat, membukanya dan pandangannya dengan cepat di penuhi dengan Surat Izin Mengemudi, tidak tanggung-tanggung, langsung sekali dua!

"Ih, kok bisa?" Hani menyipitkan matanya, menatap penuh curiga pada cowok di balik kemudi, "Nembak ya, lo? Hayo ngaku?!"

"Satu-satu nya yang gue tembak di dunia ini sampai detik ini cuman lo doang, Han." Unggah meletakkan dompet yang dikembalikan Hani kepadanya ke atas dashboard. "Gue udah belajar mobil dari SMP, tapi baru dapet SIM seminggu yang lalu."

"Ih, gue serius!" Hani memberucut dengan wajah memerah, "Kok bisa sih?" Tanya Hani lagi-lagi. Posisi duduknya sampai miring untuk menghadap Unggah, pandangannya menyelidik. Karena pasalnya, dirinya sendiri saja belum memiliki SIM karena ulang tahun nya baru bulan depan. Kenapa, adik kelas yang merangkap sebagai pacarnya ini malah sudah dapat duluan?

"Gue baru inget, di biodata yang di kasih Bambang waktu itu nggak ada tahun lahirnya..." Hani bergumam.

"Ha? Biodata apaan?"

"Eh, nggak!" Hani meringis. Hampir saja ia menahan malu karena ketahuan Unggah kalau biodata cowok itu sebagai iming-imingan Bambang karena tidak melakukan piket kelas. "Jadi? Kok ada SIM duluan sih?"

"Ya gue kan lahir lebih dulu dari lo, makanya gue punya SIM duluan." Jelas Unggah. Membawa mobilnya berhenti ketika lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Kepalanya menoleh ke arah Hani, menikmati wajah Hani yang nampaknya masih memikirkan perkara surat izin mengemudi itu.

"Kok bisa sih? Lo kan adik kelas gue!" Hani menyandarkan kepalanya pada jok.

Pertanyaan itulah yang lantas membuat Unggah menaikkan sebelah alisnya, "Terus, kalau gue adik kelas lo, nggak bisa gitu lahir duluan?"

"Ha? Maksudnya gimana?"

"Yakin nih lo masuk 5 besar di kelas? Nggak bikin koalisi sama Bu Indri? Kok gue jadi curiga gini sih..."

"Sial!" Hani terkekeh pelan, menatap mobil di depan mereka yang sudah berjalan pelan, diikuti dengan mobil yang ditumpanginya kini. Lalu, satu pikiran terbesit dalam benaknya. "Gue liat lagi," ucap Hani langsung menyambar dompet Unggah.

Dan, rasa penasaran Hani terjawab sudah.

Tahun lahir Unggah, sama dengan tahun lahir nya. Hani melirik curiga, "Nggak naik kelas ya lo pas SD?"

"Lo bisa tanya nyokap gue seberapa membanggakannya gue di Al-Azhar." Jawab Unggah dengan nada suara kalem. Tidak berusaha menyombongkan diri dengan mengklarifikasi, namun menyombongkan diri dengan jawaban lain. "Dulu gue TK dua kali karena waktu kecil badan gue kecil banget, dan nyokap nggak tega liat gue masuk SD."

"Serius? Padahal badan lo sekarang bagus banget--maksud gue, tinggi dan proporsional, gitu." Ralat cewek itu ketika menyadari apa yang hendak diucapkannya pertama kali sedikit ambigu.

Unggah tertawa, "Ntar malem gue kirimin fotonya dari Album keluarga ya, biar lo percaya kalau gue nggak membual."

"Noted." Hani tersenyum senang ketika akhirnya bisa melihat foto masa kecil Unggah. Kepalanya miring menatap cowok itu kembali, "Terus, kenapa bawa mobil? Lo kan sayang banget sama motor lo kata Tante Gigi waktu itu..." ucap Hani mengingat perkataan Tante Gigi ketika membicarakan tentang anak laki-laki nya dengan Bunda.

"Gue nggak mau lo kehujanan lagi, dan sakit lagi kayak waktu itu."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co