Truyen3h.Co

Hello mellow

Duapuluh-satu

authoriya

Bunda baru saja mengangkat pisang goreng Thailand -nya, saat mendengar teriakan anak sulungnya dari balik pintu dapur. Kemudian, daun pintu itu terbuka dan langsung menampilkan wajah Meta disana. Meta berlari ke arah Bunda dan menunjukkan ponselnya kepada sang Bunda.

"Bun, liat deh bun, ada gosiiip hawwt!" Ujar Meta sambil cekikikan kecil.

Tiba-tiba, Hani yang muncul dari lokasi yang sama, mencoba merebut ponsel sang kakak yang sedang disodorkan kepada Bunda mereka, "Jangan, Bun... ih, kak, lo ini bala lambe ya?"

"Ye, emang situ artis?" Meta memeletkan lidahnya. Kemudian, kembali fokus pada Bunda sambil menunjukkan ponselnya, "Nih Bun, tadi ada yang dibawain obat gitu deh, uluuhuluuh sok mesra lo!"

Hani mengerucutkan bibirnya. Mengalah, dan memilih mengambil tempat pada salah satu kursi meja makan. Ia bertumpu dagu, "Makanya, cari pacar yang romantis, jangan bisanya main game doang. Ntar ujung-ujung nya nanya deh 'kamu pilih game atau aku?'" ejek Hani sambil mengikuti gaya bicara di telpon tempo lalu, ketika ia tanpa sengaja mencuri dengar saat Meta sedang berkomunikasi via telepon dengan sang pacar.

Diejek begitu, raut wajah Meta langsung merah padam. Melirik kearah Bunda yang juga ikut menahan senyumnya, "Adek, jangan godain kakaknya ah..."

"Lah, kak Meta duluan, Bun." jawab Hani cuek. Mengambil pisang goreng thailand yang baru saja dihidangkan oleh Bunda nya pada piring keramik ke atas meja. Kening Hani mengernyit ketika rasa panas membakar lidahnya. Lalu, mengipasi mulutnya, "Oh ya, Bun, besok Unggah mau kesini ya. Mau belajar bareng."

"Dih, gue aja nggak pernah ngajak pacar gue ke rumah." Sembur Meta. Cewek dengan daster ungu selutut itu mengambil tempat pada kursi di depan adik kesayangannya, menaruh ponselnya ke atas meja.

"Suruh siapa nggak mau ngajakin. Wlee!"

"Siapa yang tidak diajak?" Ayah tiba-tiba sudah berada dalam radius dekat, dengan koran pagi yang tak sempat di sentuhnya, memakai kaos berkerah polos, Ayah berjalan ke salah satu kursi yang biasa menjadi tempatnya duduk. Kedua matanya menatap secara bergantian kearah kakak beradik itu.

"Kak Meta sirik sama aku, yah, soalnya dia nggak mau ngajakin Mas Biru ke rumah."

"Biru mah temen gue, dek! Pacar gue itu Rakanzo. Astagfirullah." Meta geleng-geleng. Tidak menyangka kalau ia mempunyai adik super ngeselin dan pikun. Bagaimana bisa, status sahabat berubah jadi pacar gitu? Eh, bisa saja si ya, tapi, ya mikir-mikir juga kali mau jadiin si Biru pacar. Ya kali...

"Lho, kirain Mas Biru. Orang Kak Meta sering nya jalan sama mas Biru, bukan siapa itu namanya--"

"Ayah juga mengira kalau pacar kamu si Biru,"

"Bunda juga kira kamu sama Biru, kak..." ujar Bunda. Menaruh gelas dan piring keatas meja, mengikuti lauk dan nasi yang sudah lebih dulu disana.

Meta memutar bola matanya. "Bukan, aih... Aku juga milih-milih kalau mau pacaran sama sahabat kali. Masa sama si penghisap batangan kanker, dan tukang bolos kuliah sih."

"Awas lo, kualat! Tau-tau nikah sama mas Biru." Hani ngakak.

"Amit-amit!" Meta langsung menepuk kepala dan sisi meja bergantian.

Gelak tawa terdengar menghangatkan ruang makan malam itu. Dengan menyadari, bahwa sang waktu terus berjalan, menyisingkan segala hal yang terjadi membuatnya menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang mungkin nantinya akan di rindukan oleh setiap objek yang ikut di dalamnya.

***

Berbeda dari suasana di pagi sabtu yang biasanya, pagi ini--tanpa menunggu omelan Bunda--Hani sudah bergegas keluar kamarnya. Bahkan, ketika Bunda bangun jam 5 kurang pagi tadi untuk melaksanakan shalat, anak gadis yang paling bontotnya itu sudah berada di keran wudhu di samping kamar mandi. Dan, jika biasanya setelah melaksanakan sholat, Hani akan kembali tidur hingga siang, pagi ini nampak berbeda karena dia melakukan tugas sebagai 'bibi' dengan membersihkan seluruh perabotan, lantai serta meja sofa di ruang tamu mereka.

"Nggak panas," Meta membawa satu punggung tangannya ke dahi Hani, sedangkan satunya lagi diletakan di bokongnya, "Sama, kok."

Hani, yang sedang berpeluh dengan daster kebanggaannya langsung menepis tangan kakaknya sambil mengoceh, "Dikira gue apaan kali disamain suhu nya sama bokong tepos lo. Ew!"

"Yee, sialan!" Meta tertawa. Dengan segelas susu coklat rendah lemak di tangannya, Meta berjalan melengos melewati adiknya yang sedang mengelap meja sofa. Lalu berkata dengan nada mengejek bercanda, "Yang bersih ya, Bi. Ntar gue kasih bonus liptint bertanda tangan Kang Daniel, deh."

"Serius?!" Hani menoleh semringah. Kemudian kedua matanya memicing ketika melihat seringaian di wajah kakaknya yang seolah-olah mengatakan kepalsuan akan ucapannya barusan. Hani mendengus kesal, "Pasti yang lo maksud itu Kang Daniel yang jualan bakso keliling di komplek ini kan? Yang rambutnya kayak jagung baru mateng... dasar kakak durhaka!" Hani kemudian melemparkan kain lap nya ke arah Meta, membuat sistem refleks Meta langsung hidup dan segera berlari kecil meninggalkan adiknya dengan menjulurkan lidah beserta gelak tawa kerasnya.

Hani sewot. Kakaknya ini kalau laku di OLX, mungkin sudah dijual sejak lama. Untung saja, Meta sering memberikannya produk korea kesukaannya, jadi akan di tahannya niat untuk menjual sang kakak. Omong-omong soal produk korea, Bunda pernah suatu hari geleng-geleng heran ketika melihat meja rias Hani dan Meta yang penuh dengan segala bentuk skincare dan kosmetik. Hani ingat waktu itu Bunda pernah mengomeli karena kurir acap kali datang ke rumah mereka mengantar pesanan, "Aduh, Bunda pusing deh. Dikasih uang jajan bukannya dibeliin makanan enak, malah dibeliin segala korea-koreaan, novel-novelan... apalagi Kakak, kadang uang bensin dipakai belanja daring. Waktu bensin mobil habis, merengek minta uang tambahan. Aduh, pusing Bunda punya anak gadis dua nggak ada yang bisa menyimpan uang, beda banget dengan jaman Bunda dulu." Begitulah kira-kira omelan Bunda tiap kali rumah mereka 'kedatangan' kurir ekspedisi yang mengantarkan paket. Jika begitu, Hani lebih memilih diam dan membiarkan Bunda nya sampai menyudahi 'ceramah ala ibu-ibu'-nya. Sedangkan Meta, berbeda dengan Hani, cewek itu dengan cablak tapi tetap sopan pasti menyela Bunda, "Bun, kalau jaman bunda dulu udah ada skincare routine juga pasti bunda nggak beda jauh sama aku. Sekarang aja tiap bulannya bunda selalu berkunjung ke Erha."

***

"Tante senang kalau ada yang kesini belajar bareng begini." Sapa Bunda dengan ramah, sambil membawa nampan berisi gelas sirup jeruk dingin di sana, kemudian meletakkan dua gelas itu keatas meja. "Hani ini males banget kalau disuruh belajar matematika, udah tau nilainya nggak bagus."

"Walaupun nilai fit body, asal nggak pernah remedial pas ulangan, nggak masalah."

"Nah begini nih nak Unggah, kalau dibilangin tante. Pasti." bunda geleng-geleng.

"Tapi, Bu Indri selalu muji Hani kok tan, di kelas saya." Unggah tersenyum sopan menanggapi.

"Iya?" Bunda sedikit terkejut. Ya, meskipun Hani memang jago di pelajaran-pelajaran selain Matematika, sih...

Unggah mengangguk.

"Ya sudah, jangan lupa diminum ya, nak Unggah. Tante tinggal dulu ke dalam." selesai Bunda, lalu berbalik dan meninggalkan kedua anak itu di ruang tamu mereka.

"Emang iya?" Hani bertanya selepas kepergian Bunda nya. Keduanya duduk bersebelahan di atas karpet, dengan meja sofa di depan mereka. Kedua mata Hani yang dibalut kacamata fashion itu menatap Unggah dari balik kaca nya. "Bu Indri sering muji-muji gue, ya? Jadi, karena itu lo langsung jatuh cinta sama gue?"

"Sekali doang, nggak sering." Unggah mengambil gelas sirup nya, lalu menegaknya. Mata tajam Unggah memandang Hani kemudian, "Ayo, lo baru satu nih yang bener dari lima pertanyaan. Ngapain aja sih, pas di kelas?"

Hani mengerucutkan bibirnya, dagunya bertumpu pada tangan yang terlipat di atas bukunya di meja, "Ganti soal deh, ini bukan gue banget."

"Memang pas ulangan ntar lo bisa request 'ganti soal deh, ini bukan gue banget' begitu?"

"Ya enggak."

"Yaudah, dikerjain. Kan udah gue kasih tau cara cepatnya."

"Iya, iya. Bawel banget sih, untung gue sayang." Gerutu Hani, kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada lembaran bukunya.

Unggah menyunggingkan senyuman kecilnya. Dia tidak pernah tahu jika ekspresi kesal serta gerutuan bisa menjadi semanis ini jika Hani yang melakukannya.

Tiga jam berlalu dengan cepat. Beberapa rumus yang diberikan Unggah memang menjadi lebih efektif dan menghemat waktu pengerjaan. Hani menutup buku Matematika nya dengan senyuman riang. "Gue heran, kok lo pinter banget sih soal beginian? Belajar aja belum. Jangan-jangan, tante Gigi waktu hamil elo lagi ngefans banget sama Leonhard Euler, ya?"

"Pintar itu relatif, bodoh itu yang mutlak. Gue suka main game sejak kecil, jadi dari dulu otak gue mungkin terbiasa untuk berfikir."

Hani mengerutkan dahi, "Gue juga udah biasa mikir sejak kecil." Ucap Hani tidak mau kalah, kedua pandangannya bertemu dengan sorot tanya dari cowok di sampingnya, "Contohnya waktu lebaran, gue selalu mikir duit THR gue mau dibeliin apa supaya cepat habis." Lanjut Hani dengan nada polosnya.

Unggah tidak dapat berkata-kata, kedua matanya menatap sang pacar dengan pandangan bercampur aduk, apalagi ketika cengiran lebar keluar di wajah Hani yang manis. Unggah terkekeh kecil, "Cewek gue bener-bener sesuatu ya. Speechless loh gue, Han"

"Haha!" Hani tertawa, menumpukan dagunya menggunakan satu tangan, kemudian menatap Unggah dengan nada menggoda, "Bener-bener bikin mas Unggah tambah sayang, ya?"

"Iya."

Hani memerah. Niat awalnya cuman menggoda, malah dia yang menjadi salah tingkah dibuat Unggah. Kiranya, Unggah tidak bakal mengatakan jawaban seperti tadi kepadanya.

Unggah mengacak puncak kepala Hani gemas ketika mendapati wajah cewek itu memerah karenanya. Matanya melirik gawai nya untuk melihat pukul berapa sekarang, lalu berujar, "Nyokap lo mana? Gue mau pamit nih, temen-temen gue udah di rumah Dwiki, katanya."

"Kayaknya belum balik dari tadi ke tempat tetangga." Hani melirik ke ruang bagian tengah. "Ntar gue sampein kalau Bunda udah balik."

Menghela tubuhnya ikut berdiri, Hani mengantar Unggah berjalan keluar setelah cowok itu mengenakan jaket bomber hitamnya. "Gue ke rumah Dwiki dulu, ya?"

Hani mengangguk.

"Jangan lupa di minum obatnya."

"Udah nggak sakit."

"Tapi, suara lo masih bindeng." Kata Unggah. "Terus, jangan lupa..."

"Iyaaaaa."

"Kok nggak ditanyain jangan lupa apa?"

Hani mengernyit bingung, "Ha?"

Unggah mengambil helm nya dari atas kursi di teras, lalu mengampitnya di pinggang. Kakinya yang sudah di balut sneakers abu-abu tua maju selangkah ke arah Hani, kepalanya menunduk menatap cewek itu dengan senyuman di matanya, "Jangan lupa di buka bungkusan yang gue taruh di balik bantal sofa ruang tamu lo tadi."

"Ha? Gimana?"

Tidak menjawab kebingungan Hani, Unggah menyunggingkan seringaian nya, kemudian melangkah berbalik menuju motornya yang terparkir di carport. Cowok itu menaiki motor silver, lalu memakai helm yang di pegangnya. Kepalanya menoleh menatap Hani yang masih menganga kebingungan, lalu tanpa diduga, Unggah mengedipkan sebelah matanya kepada Hani, kemudian melesat pergi. Membiarkan Hani berdiri di depan pintu rumah dengan semburat merah yang menjalar.

***

"Anak kecil di Jabodetabek emang beda ya," Meta bergumam kagum dengan fokusnya sibuk menatap jam tangan dalam genggamannya. "Baru juga mengganti celana pendek warna biru ke celana abu-abu panjang, udah ngerti ngasih cewek Alexandre Christie. Pairingan pula." Lanjut Meta masih dengan nada kagumnya. Dulu, paling mahal dia diberi hadiah--itu juga di hari ulang tahunnya--dari kekasih di SMA dulu yaitu sebuah boneka giant teddy bear yang dipesan melalui eBay. Yang sekarang, boneka itu sudah dibuang ke tong sampah karena mereka putus. Jelas beda jauh dengan hadiah dari Unggah untuk sang adik pokoknya.

"Bentar lagi dia pegang KTP, nggak usah ngatain cowok gue anak kecil deh, tolong." Sergah Hani. Kemudian membaca isi pesan whatsapp yang baru saja masuk ke ponselnya.

Unggah :
Udah sepuluh menit lewat, gue yakin kalo lo udah liat hadiahnya.
Norak ya, Han?

Hani :
Enggak!

Tapi ini mahal banget pasti-_-

Unggah :
Nggak tahu, Bokap gue yang beliin, hadiah dari Singapore.

Hani:
Kata kak Meta,
ini jam pairingan gitu. Emang?

Unggah:
Iya, cuman tadi belum gue pake jam nya. Gue juga heran kenapa bokap beliin jam begitu, mungkin dia tau ya kalau anaknya udah punya pacar.
Semacam feeling seorang Bapak.

Hani:
Pengen ketawa.

Unggah:
Jangan ketawa!

Hani:
Kenapa emang?

Unggah:
Lo cantik kalau ketawa,
ntar ada yang naksir.

Hani:
Kayak pernah denger
gombalan ini... *mikir*

Unggah :
Haha.
Gue nggak gombal, gue serius.

Unggah :
Yaudah, gue mau ke Dome dulu ya, ntar gue chat lagi.
Jangan lupa istirahat, Hani- nya Unggah.

Unggah :
Unchhh, i love youuuu

Unggah :
Sial, itu bayu yang bajak.

Hani :
Wkwkwk. Okey, sayang<3

******

Aloow, makasi buat yang masih setia baca ceritaku ini:3

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co