Truyen3h.Co

Hello mellow

Duapuluh-tiga

authoriya

"Emangnya boleh ya, timnas Kartini makan makanan junk food?" Hani memiringkan kepalanya menghadap Unggah. Suaranya yang bernada agak mengejek tak perlu ditutup-tutupinya, ketika mobil yang dikendarai Unggah masuk ke area McD di jalan Juanda, Bogor.

Unggah tertawa, "Timnas juga manusia, Han," kemudian memberhentikan laju mobilnya tepat pada plang bertulisan 'Pesan disini' . "Lo mau pesan apa?" Tanyanya pada Hani ketika suara dari alat Customer Order Display terdengar bertanya mengenai jenis pesanan mereka.

"Happy meal!" Hani menjawab tanpa ragu.

Jawaban Hani yang kemudian langsung membuat Unggah menaikkan sebelah alisnya, kepala Unggah menoleh miring. "Serius?"

"Kenapa?" Hani malah balik bertanya.

Unggah menggeleng. Kemudian mulai berbicara pada alat COD di sampingnya, mengatakan pesanan mereka. Unggah melajukan kembali mobilnya mengikuti jalur, hingga pesanan mereka siap.

Membawa mobilnya menuju area pinggir jalan yang dilindungi pohon besar nan rindang, Unggah memberhentikan mobil itu dan memberikan kepada Hani menu pesanan mereka.

Happy meal untuk cewek di sebelahnya, dan double cheeseburger untuknya.

"Lo kayak ponakan gue yang di sekolah dasar, sukanya makan happy meal."

"Muka gue kan emang masih imut-imut gitu, jadi wajar ya kalau masih demen menu Happy meal." Hani terkikik. Membuka menu makanannya dengan perasaan riang, lalu mengambil burger miliknya dan mulai memakannya dengan lahap.

Sedangkan Unggah, yang melihat itu tanpa sadar mengukirkan senyumnya. Baru kali ini dia benar-benar melihat perempuan yang tanpa malu-malu mengatakan kalau dia lapar--padahal sudah memakan 5 siomay rebus dan beberapa makanan ringan selama menunggunya tadi--dan tanpa ragu memesan Happy meal--Lagi, disaat cewek-cewek lain akan marah, atau memilih tidak makan junk food karena kadar lemak yang akan membuat tubuh mereka bengkak--tapi pacarnya ini malah sebaliknya. Dan, Hani tidak berbohong ketika dia mengatakan kalau cewek itu sedang lapar, karena pasalnya, Unggah bisa melihat bagaimana cewek itu tanpa malu-malu melahap burgernya hingga tandas.

"Kok nggak di makan?" Hani memasukkan pipetnya ke dalam cup minuman soda, memasukkan pipet itu kedalam mulutnya dengan kepala miring menatap Unggah yang belum memakan double cheeseburger milik cowok itu. "Ntar gue pengen lagi kalau liat burger nganggur."

"Nih...," Unggah menyodorkan burgernya.

"Nggak, cuman bercanda sayangku..." Tawanya pecah. Menaruh cup minumannya pada cup holder, Hani memberikan senyumannya pada Unggah.

"Gue juga cuman bercanda nawarinnya." Unggah menjulurkan lidahnya, lalu membuka kemasan burger dan menggigitnya.

"Ih, selin mah!" Hani berdecak pelan dan masih tetap tersenyum. Ditatapnya Unggah yang menyunggingkan seringai kecil sebelum kembali melahap habis burgernya.

Senja mulai menampakkan wujudnya sore itu. Berteman dengan kemacetan jalanan kota Bogor, mobil biru metalik itu berhambur dengan deretan kendaraan lain yang memadati, membawa keduanya menuju ke tujuan mereka.

Sesampainya di depan pagar rumah Hani, cewek itu melepaskan safety belt nya. Memakai tas ranselnya yang diletakkan di bawah dekat kaki, lalu tubuhnya sedikit bergeser miring untuk menghadap Unggah. Cowok itu juga sedang menatapnya dengan satu tangan mencengkram stir kemudi. "Besok pagi gue jemput ya?"

"Nggak usah, gue bareng sama kak Meta aja. Lagian, besok kan kalian tanding..."

"Kan kumpul dulu di sekolah," Unggah memutar bola matanya, "Lagian kasian kakak lo, lo repotin mulu. Mending gue jemput aja ya?"

Hani menyipitkan matanya, bibirnya tersenyum menggoda sambil mentoel lengan Unggah pelan, "Lo pasti kangen banget ya sama gue sampai-sampai keukeuh pengen menjemput gue gini?"

"Iya."

"Kok iya sih?!" Hani mengerutkan hidung, pipinya sedikit bersemu ketika mendengar pendeklarasian Unggah barusan.

"Lo nanya, ya gue jawab. Emangnya salah?"

"Kan gue jadi nggak tau mau balas apa..." jawab Hani sambil menggembungkan kedua pipinya.

"Ya pokoknya gue pengen ketemu sama lo dulu sebelum tanding besok. Lagian, kelas lo kan besok ada jadwal olahraga, pasti Babe akan nyuruh kalian buat dateng pas sorenya. Jadi, gue pengen ketemu lo dulu paginya. Ya?"

"Lo pasti sayang banget sama kakak kelas lo ini ya." Hani tersenyum senang. Ketika melihat mulut Unggah sudah ingin berbicara, dengan cepat Hani langsung membawa jari telunjuk kanannya kedepan. "Stop! Jangan ngomong apa-apa! Biarin aja ini jadi misteri. Dan besok lo jangan sampai telat ya jemput gue nya." Lanjut Hani dengan cepat.

Hani sungguh memahami apa yang akan dilontarkan cowok itu sebagai jawaban. Namun, dirinya belum siap dengan perasaan deg-degan tak karuan setelah mendengar ucapan tersebut dari mulut Unggah. Meskipun sangat ingin mendengarnya, tapi Hani merasa belum cukup siap. Sedikit aneh memang jika dibandingkan Lala yang sangat menyukai perkataan manis seperti 'aku kangen kamu' dan 'aku sayang kamu' , tapi kinerja jantungnya akan tak beraturan jika mendengar kata-kata seperti itu secara langsung. Dan Hani masih ingin panjang umur... argh!

"Gue emang sayang sama lo. Dan gue yakin lo juga gitu."

"Tuh kaaaan," kedua tangan Hani refleks memegangi daerah jantungnya. Merasakan degup yang langsung berdetak cepat disana. Ia melirik Unggah dengan memberengut, "Aku tuh nggak bisa diginiin aku tuh. Lemah jiwa aku tuh..."

"Emangnya dulu nggak pernah diginiin?" Unggah tertawa.

"Ya pernah, tapi kan udah lupa. Gue mah orangnya nggak suka nengok ke belakang. Sori aja," Jelasnya sedikit bercanda. Hani ingat sekali kalau saat bersama si mantan pacar, jantungnya normal-normal saja. Berbeda sekali ketika bersama Unggah sekarang.

Unggah tersenyum simpul. Diusapnya puncak kepala Hani dengan gemas, lalu berujar, "Ya udah, masuk gih. Udah mahgrib nih, ntar dikira ayah dan bunda lo, gue ngapa-ngapain lo lagi."

"Nggak bakal, Bunda gue kalau sama cowok ganteng bawaannya Husnudzooon aja." Hani berkata sesuai riset yang didapatkan selama menjadi anak Bunda hampir 17 tahun belakangan ini. Diketahui, jika memang bunda selalu menaruh prasangka baik kepada setiap laki-laki yang memiliki attitude dan wajah diatas KKM.

Unggah lagi-lagi menahan senyum. Entah sudah berapa kali kerecehan Hani membuatnya ingin tertawa seperti ini. Cewek ini, Unggah merasa begitu beruntung mengenalnya dalam hidup. Setelah kembali menyuruh Hani untuk segera masuk ke rumah, memperhatikan Hani yang berdiri di depan pintu pagar sambil melayangkan lambaian tangan kepadanya, Unggah

***

"Dek Ung, sering-sering aja jemput Hani. Gue jadi kan bisa pensiun dini jadi supir gratisannya." Meta berdiri diantara satu pintu pagar yang terbuka, tangannya memegang besi pagar sambil menyandarkan setengah tubuhnya yang di balut dengan baju tidur ¾ dengan nyaman. Pandangannya bertatapan dengan Unggah yang sudah berada di dalam mobil, dan adik satu-satunya yang kini memasang muka jutek.

Unggah tersenyum. "Siap, kak."

"Bacot kakakqu, gue aduin Bunda sama Ayah ntar biar nggak di kasih lagi duit bensin." Hani melongokan kepalanya menghadap ke posisi kanan.

"Ye, sewot. Dah gih berangkat ntar dedek ganteng gue telat lagi, kalo lo sih nggak pa-pa, dek."

Hani mendesis. "Udah, yuk Ung. Kakak gue emang otaknya rada ngurang tiap bangun tidur."

"Yaudah, kak. Kami berangkat dulu ya..." Pamit Unggah kepada Meta.

Meta menganggukkan kepala. Kedua tangannya yang semula terlipat di depan dada terurai, kemudian melambai dengan riang yang tentu saja itu ditunjukan untuk cowok di dalam mobil Juke biru metalik sebelum kaca mobik itu tertutup dan mobil itu membawa kedua anak SMA itu melesat meninggalkan komplek perumahan.

Meta menegakkan tubuhnya yang sebelumnya bersandar pada pagar. Tubuhnya memutar kemudian dengan cekatan tangannya menarik pintu pagar hingga tertutup. Meta menjalankan tungkai panjangnya yang dibalut sandal jepit berwarna ungu kearah rumahnya, lalu masuk. Kakinya melangkah dengan santai menuju ruang dapur dan menemukan Bunda sedang memasukkan potongan bawang kedalam minyak panas, yang wanginya langsung memenuhi indera penciumannya.

"Adek udah berangkat, kak?" Tanya Bunda dengan melirik kearah Meta yang kini mendudukkan bokongnya pada kursi di meja makan.

Meta mengangguk, "Mm, baru aja, Bun."

"Yasudah, kamu juga mandi gih, ntar buru-buru kuliahnya."

"Dosennya nggak dateng dong, Bun. Lagi ke Thailand." Meta menjelaskan. Tadi pagi, ketika dia bangun dan mengecek ponselnya yang mati semalaman. Satu pesan jarkom dari group kelasnya mengatakan kalau dosen Sistem Informasi Akuntansi mereka tidak dapat hadir karena ada pelatihan di Thailand.

Bunda bergumam mengerti.

"Lho, Bun... ini bukannya obatnya adek ya?" Meta mengambil botol kecil berwarna putih yang tergeletak didekat gelas minum. Lalu berjalan menghampiri sang Bunda. "Kok nggak dibawa?"

"Aduh, pasti adek kamu lupa deh." Bunda mengecilkan api kompor gasnya, lalu mengambil botol putih itu dan memerhatikan nama obat yang tertera di bagian depannya.

"Kayaknya sih, Bun. Terus, gimana?"

"Aduh, coba kamu telpon kak." Bunda meletakkan botol kecil putih itu di sebelah toples gula.

"Oke, Bun." Meta kemudian meraih ponselnya dan mencoba menghubungi sang adik. Namun, tak diangkat. "Nggak diangkat, Bun."

"Biasanya adek pulang jam setengah 2. Semoga aja dia udah sampe jam 3 nanti di rumah." ucap Bunda.

Meta mengangguk setuju.

***

"Nanti ke stadion sama Lala jangan boncengan sama cowok." Unggah melepaskan safetybelt yang terpasang di tubuh Hani yang di balut dengan seragam putih abu-abu saat keduanya sudah berada di parkiran sekolah.

Hani mengangguk, merapihkan rambutnya. "Sama Lala kok, dia bawa motor sekarang."

"Pake helm."

"Hm-mm,"

"Bilang Lala jangan selon. Kalau lampu lalu lintas udah kuning, jangan malah tancap gas."

"Hm-mm,"

"Istirahat nanti, jangan beli makanan yang banyak mengandung MSG, beli sari roti aja."

"Mahal kalee," Hani cemberut, menatap Unggah melalui bulu-bulu matanya, "Lo bawel banget hari ini. Harusnya gue yang bawelin lo."

"Kan tuaan gue."

Hani berdecak. "Tapi secara umum tetep aja gue kakak kelas lo."

"Iya deh, kak."

"Ngeselin." Ucap Hani dengan tersenyum kecil. Cewek itu kemudian meraih tasnya di dekat kaki lalu memakainya. "Yang fokus ya, jangan mikirin gue aja. Ntar kalau menang gue kasih hadiah."

"Apa? Xbox 360 Wireless Controllers?" Saut Unggah tanpa tedeng aling-aling.

Ditempatnya, Hani menatap Unggah dengan pandangan ngeri. "Lo pikir gue sugar mommy, ha?"

Unggah menyeringai. Tanpa berfikir secara rasional lagi, cowok itu kemudian menarik Hani dalam pelukannya. Unggah membenamkan kepalanya di antara rambut Hani yang tergerai. "Bentar, gue nge-charge energi dulu sebelum tanding." Ucapnya sehalus angin sambil menarik Hani lebih erat dalam pelukan.

Hani yang sama sekali tidak menyangka, menahan nafasnya dengan spontan. Kedua pupil matanya membelalak, matanya tak berkedip hingga akhirnya Unggah menguraikan pelukan itu dan mengajaknya untuk turun.

"Gue anter ke kelas lo?"

"Nggak!" Sergahnya dengan cepat. Ketika melihat Unggah yang menaikkan satu alisnya, Hani buru-buru menambahkan, "Maksudnya lo pasti udah ditungguin sama yang lain kan. Gue ke kelas sendiri aja, nggak pa-pa."

Unggah mengangguk.

"Ntar tanding sama anak SMA mana? Gue baru sadar kalau nggak nanya-nanya soal ini dari kemarin."

"SMAN 30. Ohya, kata Dwiki mantan lo anak sana juga?"

Aih! Dasar Dwiki bermulut lemes, sama aja kayak si Bambang! Gerutu Hani dalam hati. Bibirnya cemberut, "Nggak tau gue juga, udah lupa. Udah ah, gue ke kelas ya!" Hani melambaikan tangan dan buru-buru berlari ke koridor penghubung.

Meninggalkan Unggah yang menatapnya dengan heran.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co