Truyen3h.Co

Hello mellow

Duapuluh-empat

authoriya

"Gue kira nggak bakal serame ini."

Adalah komentar pertama yang keluar dari mulut Hani ketika mereka sampai di GOR Padjajaran. Membayar sejumlah uang kepada ojek mobil berbasis daring, keduanya lantas turun dari dalam mobil Avanza hitam yang mengantar mereka itu dengan mengucapkan terima kasih kepada pengemudi mobil sebelumnya.

Untung saja Lala mengurungkan membawa motor hari ini. Kalau tidak, tidak bisa dipastikan akan seperti apa belang antara tangan, kaki dan tubuh mereka karena sinar matahari siang yang sekarang sedang panas-panasnya itu langsung menusuk penglihatan kedua perempuan berseragam sekolah itu, membuat keduanya otomatis menyipitkan mata sambil membawa tangan menutupi sinar yang mengenai wajah mereka. Dibalut dengan kardigan berwarna coklat dengan kedua matanya yang masih menyipit, Hani lantas segera mengajak Lala untuk segera memasuki GOR. Kedua cewek itu berlari kecil melewati beberapa pedagang dadakan yang menjual berbagai minuman dingin dan makanan ringan.

"Sejak kapan ada futsalan sepi. Tanding di sekolah antar kelas aja rame kayak mau tawuran..."

"Hehe, iya sih." Hani meringis, "Eh, Bentar, La." Kata Hani. Cewek itu mengeluarkan selembar uang lima ribu kemudian berjalan mendekat kepada pedagang minuman dingin.

"Pak, air mineralnya... lo mau?" tanya Hani kepada Lala.

Lala menggeleng sambil menepuk tas ranselnya, "Masih ada kok punya gue."

Mengangguk pelan, Hani lantas kembali berbicara pada pemilik dagangan itu, "Satu, pak.Berapa?"

"Lima ribu, neng."

Hani lantas memberikan selembar uangnya tadi kepada si pedagang.

Karena ini sudah hampir jam tiga, dan Hani harus meminum obatnya tepat waktu. Bulu kuduknya langsung merinding, membayangkan kemoterapi yang dilakukannya pada saat kelas lima sampai kelas enam SD. Saat itu, dokter rumah sakit mengatakan kalau Hani hanya terkena flu biasa. Tapi,.ketika sakitnya tidak juga sembuh--malah Hani sempat pingsan dan mimisan beberapa kali--Ayah mulai membawanya ke rumah sakit lain. Melakukan scanning, dan akhirnya mengetahui kalau ada tumor ganas yang hidup di rongga hidungnya. Atau, biasa disebut dengan kanker Nasofaring. Naasnya, hasil itu diketahui ketika sel kanker sudah mulai menyebar dan membesar dan memasuki stadium 3, hingga membuat Hani harus menjalani pengobatan dan kemoterapi untuk beberapa waktu.

Untung saja, sejak masuk SMA entah kenapa benjolan dalam hidungnya mengempis dan menghilang. Tidak menyerang, membuat kesakitan dan lemas harus melakukan kemoterapi tidak dilakukannya lagi. Dokter rumah sakit mengatakan, kalau Hani bisa melakukan pengobatan jalan selama 6 bulan sekali. Hingga dokter menyatakan kalau benjolan itu hilang, namun Hani tetap harus meminum beberapa vitamin melalui resep dokter sesuai jam yang dianjurkan.

"Yuk." Ajak Hani, menolehkan kepalanya kemudian, "Anak-anak yang lain kemana, kok nggak keliatan?"

Lala mendongak dari ponsel yang dipegangnya. Memasukkan ponsel itu ke dalam saku roknya, lalu mengapit lengan Hani dan mengajaknya berjalan, "Di group sih bilang udah pada di dalem. Emang nggak setia kawan bener mereka tu."

Keduanya berjalan, menemukan beberapa cowok dan cewek yang umurnya jauh diatas mereka sedang menunggu di balik meja dengan tulisan "Registrasi" yang diletakkan diatas meja tersebut.

"Itu bayar?" bisik Hani.

"Gratis lah. Kayaknya sih."

"Halo, dari sekolah mana?" Sapa seorang cowok berkacamata dengan ramah.

"SMA Kartini, kak." Jawab Hani.

Cowok itu kembali memasang senyuman ramah yang khas. Hani bisa menduga umur cowok itu sekitar 23 tahunan. Mungkin baru lulus kuliah, atau bahkan masih sibuk mengejar cinta dosen pembimbingnya Hani tidak peduli. Kemudian, cowok berkacamata itu memberikan buku serupa buku tamu lantas menyuruh Hani dan Lala menuliskan nama mereka.

"Jangan lupa cantumkan nomor telepon kalian juga ya."

"Ini yang lainnya nggak nulis, kak?" Lala mengerutkan alis. Menunjukkan deretan nama diatas mereka yang hanya mengisi kolom Nama dan Asal sekolah saja. Bahkan, disana sama sekali tidak ada kolom nomor telepon.

"Pepet terooos..." kata seorang yang duduk di kursi sedikit di belakang cowok berkacamata.

"Wadau, modus dia mah dek, dari tadi emang udah menandai temen lo." saut cowok yang memakai baju yang sama, dengan bandana di jidatnya.

"Iya tuh. Jangan mau, dia ceweknya banyak." saut lainnya.

"Woooi, njir!" si Cowok berkacamata menggaruk tengkuknya sambil cengengesan tanpa dosa.

Hani dan Lala saling tatap, memberikan bahasa verbal yang hanya keduanya saja yang bisa mengartikannya. Setelah mengisi buku itu, Hani mengembalikan bolpoin yang digunakannya tadi kepada si cowok berkacamata.

"Langsung masuk aja kan, kak?"

"Ntar, di cap dulu," Kali ini suara seorang cewek cina berkuncir kuda yang berbicara. Dengan membawa stempel di tangan. Tangan putih cewek itu terulur, memberikan sebuah cap di punggung tangan kedua pelajar itu. "Nanti langsung masuk aja, ya."

Keduanya mengangguk.

"Tunggu!" Si cowok berkacamata menghentikan langkah Hani dan Lala. Masih dengan senyuman khasnya, cowok itu berkata terang-terangan sambil memberikan ponsel hitamnya. "Karena gue udah ketahuan, jadi langsung tembak aja ya. Bagi nomor whatsapp dong?" permintaan itu ditujukan untuk Hani.

"Umm,"

"Gue orang baik kok. Jangan percaya sama temen-temen gue yang bacot itu. Gimana, boleh?"

Hani melirik Lala sebentar. Kemudian mendesah. Diambilnya ponsel itu lalu mengetikkan sederet nomor telepon disana.

Si cowok berkacamata menyeringai lebar, menghiraukan ledekan teman-temannya disana. Lalu berujar, "Nanti gue WA ya."

Hani tersenyum sopan. Lalu, menarik Lala dengan langkah cepat masuk ke dalam GOR.

"Tumben kasih asal nomor lo. Kakak kelas tahun lalu minta nomor lo aja, lo pelitnya naudzubillah..." Lala memiringkan kepala.

"Kata siapa gue kasih nomor gue?"

"Ha?"

Sambil menaiki undakan tangga yang akan mengantar mereka ke atas tribun di sayap kanan, Hani menjawab santai, "Gue kasih nomor WA Unggah."

Lala tergelak. "Anjir, marah ntar cowok lo. Dwiki aja tau gue di smsin sama nomor spam, gue langsung disuruh ganti nomor."

"Itu mah cowok lo aja yang alay!"

"Iya, alay bets emang dia. Kesel Raisa kadang-kadang." Lala curhat dadakan.

Keduanya sampai di tribun langsung disambut oleh dengan beberapa murid SMA Kartini yang melambaikan tangan mereka, memberitahu keduanya kalau tim hore sekolah duduk di bagian sana. Lantas, mereka langsung melangkah bergegas mendekat.

"Emang gue juga males, that's why gue put--"

"Hani?" Sapaan dari seseorang yang berdiri di dekat Hani dan Lala berjalan membuat langkah kedua cewek itu refleks terhenti. Keduanya spontan menoleh bersamaan dan mendapati cowok berseragam putih abu-abu dibalut dengan jaket bomber berwarna khaki.

"Aldi?" Kedua mata Hani membeliak. Kemudian dengan kaku menoleh ke arah Lala yang berdiri di sampingnya. Keduanya saling pandang, tak menyangka kalau mereka akan bertemu Aldi disini. Walaupun sebenarnya, Hani lah yang jauh lebih tak menyangka.

"Lo ngapain disini?"

Hani berdehem sekali, rasa kesalnya karena diajak putus oleh Aldi sebenarnya sudah tidak ada lagi. Toh, dirinya juga sudah memiliki pengganti cowok itu. Dan, cowok itu juga sama sepertinya, sudah memiliki penggantinya. Tapi, walaupun begitu ada di dalam sebagian diri Hani yang masih menyimpan rasa kesal terhadap cowok itu. Mungkin, ini juga yang dinamakan brokenheart's effect. Karena, tidak ada yang bisa menyalahkan perubahan sikap seseorang ketika hatinya telah dipatahkan.

"Lo sendiri ngapain disini?" Hani melempar balik pertanyaan yang diajukan Aldi untuknya dengan ketus.

Aldi tersenyum. "Dukung anak futsal sekolah gue dong. Ketus amat sih, Han?"

"Ya sama, gue juga." Hani mendengus. Melirik Lala melalui ekor mata, dan menyenggol lengan cewek itu guna memberikan kode supaya mereka segera pergi dari sini. "Kalo gitu, gue duluan ya." Ucap Hani pada Aldi.

Kemudian, kedua cewek itu langsung melenggang pergi dari sana.

"Gue heran, kok dia bisa B aja ya ketemu lo. Pake senyum pula, kayak nggak ada dosa." Bisik Lala.

"Tau tuh, nggak ngotak emang." Hani mendengus.

"Jadi, masih sakit hati nih?"

"Ngarang! Kagak!"

Mendengar nada bicara Hani dan cewek itu yang menggerenyotkan bibirnya, tak urung membuat Lala tertawa terpingkal disana. "Canda, canda."

***

Unggah sedang melakukan peregangan dan pemanasan dibawah tribun saat Bayu datang dengan minuman botol di tangannya. Memakai seragam futsal hitam dengan garis berwarna lime yang berbeda warna dengan yang dipakainya dan anak-anak lain yang memakai warna putih dengan dua garis berwarna lime vertikal dan celana senada dengan warna garis pada bajunya--karena Bayu seorang kiper-- dengan langkah bergegas cowok itu menghampiri Unggah seraya berseru-seru bersamaan dengan suara teriakan dari penonton saat salah satu tim yang sedang bermain berhasil memasukkan bola ke dalam gawang, "Load, cewek lo udah diatas tuh."

"Sama siapa? Cewek Dwiki?" tanya Unggah dengan masih melakukan peregangan tangan. Dan, sesekali melompat-lompat kecil di tempat.

"Sama cowok lagi ngobrol!" Bayu menginformasikan.

Siapa? Kedua alis Unggah naik, cowok itu berhenti melakukan aktivitas semulanya.

"Nggak tau." Bayu mengangkat bahunya.

Tepat di waktu yang sama, Dwiki menuruni tangga penghubung tribun dan lapangan GOR itu dengan cepat, lalu bersuara dengan nada senang. "Load, Load! Cewek lo ketemu mantan nya tuh tadi gue liat."

"Siapa? Emang dia ada mantan di sekolah kita?"

"Bukan. Tapi, yang anak Pelita itu."

Ah, seharusnya Unggah lebih dulu menyadari kalau salah satu tim yang sedang bertanding sekarang adalah sekolah yang sama dengan sekolah cowok yang katanya adalah mantan pacar Hani. Mencoba bersikap biasa, Unggah menjawab. "Wajar sih ketemu. Gue mah santai kok asal tu cowok nggak kemenelan sama cewek gue."

"Yakin?" Bambang tau-tau sudah berada di dekat mereka. "Lumayan loh dia, tapi tinggian lo si emang."

"Yang penting Hani sukanya sama gue."

"Baddaaas." ketiga cowok itu tertawa dengan lugas kemudian.

Mengambil ponselnya dari dalam tas, Unggah lantas melangkah ke arah tangga.

"Kemana?"

"Ngasih handphone ke Hani." Jawabnya sambil mengangkat satu tangannya ke atas tanpa menoleh.

***

"Aduh, obatnya nggak ada lagi, La." Hani bergumam dengan tangannya masih merogoh-rogoh kantong tas ranselnya. Mencari-cari keberadaan obatnya ditempat biasa ia menaruh--di resleting bagian dalam--tapi tidak ada. Kemudian, Hani bergerak membuka resleting tas di bagian depan, dan tidak ada.

"Nyelip kali, Han. Coba cari lagi." Lala menatap cemas.

Menggeleng lemah, Hani kembali bersuara, "Nggak ada. Aduh, mati gue pasti diomelin Bunda karena ceroboh begini."

"Coba lo telpon Bunda deh. Siapa tau ketinggalan?"

"Lo lupa, Handphone gue kan ketinggalan di rumah." Keluh Hani.

"Kenapa?" Suara Unggah tiba-tiba terdengar di dekat mereka. Membuat Hani menoleh, kemudian satu senyuman lebarnya tercetak di bibir cewek itu. Unggah selalu tampan tiap kali memakai seragam futsalnya.

"Nggak pa-pa. Cuman ketinggalan handphone." Jawab Hani setengah tidak jujur. Dia tidak ingin Unggah mengetahui kalau dia tidak membawa obat dan vitaminnya. Karena bisa-bisa, Unggah akan menyuruhnya untuk pulang dan tidak usah menonton pertandingan pertama cowok itu di SMA. Tidak mau, Hani menggeleng samar. "Abis ini, kalian kan?"

Unggah mengangguk. Lalu menyodorkan ponselnya. "Nih. Biar nggak bosen nunggunya lo bisa main game atau apa kek."

"Pubg, Mobile Legend, mana ngerti gue. Otak gue hanya sebatas main The Sims freeplay doang." Ucapnya, namun tepat mengambil ponsel itu dari tangan Unggah.

"Kalo gitu gue turun lagi, ya?"

Hani mengangguk. "Nggak mau peluk lagi?"

"Dasar, gatel..." Lala mendengus mendengarnya.

Hani terkikik geli, "Becanda, wooi." lalu, menatap Unggah kembali, "Ya udah, sana."

Tersenyum kecil, tanpa diduga satu tangan Unggah terjulur mengajak pelan puncak rambut Hani. Lalu, berbalik dan menuruni undakan tangga di depan mereka.

"Iiiiiih, ini mah namanya adek-adek semakin terdepan." Seru Lala dengan nada iri nya. "Cowok gue aja kesini sebentar doang tadi, boro-boro mau mantisin gue. Malah yang ada dia cuman minta minum...hfft!" Keluh Lala.

"Setiap pasangan punya cara sendiri untuk mengekspresikan rasa sayang. Jadi, ada dua kemungkinan; antara pasangan lo yang emang cuek, atau pasangan lo mengekspresikan rasa sayangnya ke yang lain." Hani terkikik.

"Dasar Hani-siyalan-Azzahra!"

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co