Truyen3h.Co

Hello mellow

Duapuluh-lima

authoriya

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika babak penyisihan berhasil dilewati dengan begitu sempurna. Pertandingan yang berhasil membawa tim futsal dari SMA Kartini melawan SMAN 61 Bogor menuju final. Yang nantinya, akan membawa mereka ke GBK untuk bertarung dengan tim futsal dari kota-kota lainnya. Semua pemain mendapatkan waktu istirahat sebentar sebelum melayangkan adu penalti karena skor akhir seri. Di tribun, semua penonton yang masih setia mendukung nampak berbisik-bisik saling adu argumen dan berdoa supaya tim sekolah mereka yang akan menang. Sementara, untuk beberapa siswa yang tim futsal sekolahnya sudah kalah duluan, mereka sibuk adu argumen tentang tim futsal dari mana yang akan memenangkan perlombaan di final ini.

"Menurut gue anak Kartini yang menang. Lo liat nggak yang paling tinggi itu, yang mukanya kayak arab? Gilaaa, udah jago, ganteng pula. Minta di doain banget nggak sih?"

Satu suara lumayan ceriwis yang terdengar tak jauh dari tempat Hani berdiri langsung membuat telinga cewek itu dalam mode aktif. Hani mengerutkan kening, tahu sekali cowok mana yang dimaksud cewek-cewek itu. Menoleh dengan tatapan kesal, Hani menemukan satu cewek berambut pirang yang di cepol dan dua temannya dengan rambut hitam sedang bergerombol. Tangan mereka memegang kipas yang memiliki warna berbeda. Dan sepertinya cewek-cewek itu baru datang ketika jam 6 sore tadi--karena sejak siang Hani tidak melihat batang hidung mereka-- lalu, si cewek berambut pirang nampak histeris memukul bahu kedua temannya pelan sambil memperhatikan ke arah tangga sambil memekik pelan, "Itu, itu anaknya kesini. Omaga! Omaga! Omaga!"

Hani, spontan mengikuti arah pandang itu. Dan disanalah dia.

Dengan pakaian yang membuatnya tampak lebih ganteng berpuluh kali lipat, Unggah berjalan ke arahnya. Lalu, memeluk Hani dengan gerakan impulsif.

"Mau nge-charge energi lagi." bisik Unggah.

Berbeda dengan sesi pelukan di mobil tadi pagi, pelukan kali ini tak berlangsung lebih dari sepuluh detik. Namun, degup jantung Hani melebihi pelukan tadi pagi.

Hani tersenyum mesem, "Gue yakin lo pasti bisa. Kalian pasti menang."

Unggah tersenyum. Mengacak pelan rambut Hani, "Nggak capek kan?"

"Nggak kok," Hani menggeleng pelan, "Kan duduk."

"Anjir, udah ada kuntilanak-nya wooi!" bisik suara yang sama dengan suara yang sebelumnya Hani dengar. Mendengarnya, mau tak mau membuat Hani tersenyum bangga.

Rasain! Batin Hani.

"Ih iya. Tapi, B aja tuh." Saut salah satu teman si rambut pirang itu sambil memperhatikan Hani.

Hani mendesis sebal. Dasar cewek, nggak bisa banget muji cewek lainnya. Ew!

Sedangkan Unggah, langsung tersadar atas tindakannya barusan, matanya melirik ke sekitar dan mendapati seluruh pasang mata yang berada di tribun itu sedang menatap mereka. Menggaruk tengkuknya pelan, Unggah lantas kembali undur diri, "Yaudah, gue kebawah lagi ya?"

Hani mengangguk. Kedua matanya terus memperhatikan punggung Unggah yang mulai menjauh dengan tatapan cinta ala remaja pada umumnya. Kemudian, menoleh dengan senyuman bodoh saat Lala berkomentar, "Lo sama Unggah lagi syuting Film ya?"

"Ha?"

"Sumpah ya, gue kira adegan begini cuman ada di drama korea dan Film doang. Njir!" Lala bergumam sambil menggelengkan kepalanya. Ia masih tak percaya akan apa yang barusan terjadi tepat di depannya adalah adegan yang benar-benar persis dengan yang sering ada di film-film.

Hani mengibaskan rambut, "Adek kesayangan gue emang suka bikin nge-fly. Gue juga curiga jangan-jangan dia suka nontonin drama korea atau film india."

"Iya, gue juga curiga gitu." Angguk Lala sepaham dengan sahabatnya.

***

Bunyi peluit menandakan bahwa babak pinalti akan dimulai. Para penonton yang memenuhi tribun otomatis langsung berdiri, mendekat tembok pembatas dengan perasaan antusias yang tinggi. Hani merepalkan kedua tangannya di depan dada, batinnya sibuk mendoakan agar tim futsal sekolahnya bisa menang pada babak penentuan ini. Dengan mata yang menatap kearah lapangan di bawah tribun itu, semuanya nampak was-was ketika Bambang sebagai pemain pertama yang dipilih untuk menendang bola ke gawang lawan.

Bambang bersiap-siap ditempatnya. Kedua matanya menatap lurus ke arah kiper dan gawang didepannya. Dan Hani berani bersumpah kalau itu adalah pertama kalinya Bambang memasang wajah seriusnya. Perkara di marah guru ketika di kelas saja Bambang masih sempat-sempatnya cengengesan.

Bambang mengambil posisi, melangkah dengan lugas dan menendang bola di depannya dan... GOLLL!

Sorak-sorai dari tribun dimana SMA Kartini berkumpul langsung terdengar memekakan telinga, berbanding terbalik dengan SMA Kartini, beberapa desahan nampak sayup terdengar dari siswa-siswi yang berasal dari SMAN 61 Bogor karena gawang mereka kebobolan. Hani memperhatikan pergantian pemain itu, kali ini satu pemain laki-laki nampak bersiap-siap dengan tendangannya. Sedangkan Bayu, nampak memposisikan dirinya dengan benar. Kedua matanya fokus memperhatikan arah bola yang ditendang oleh tim lawan dan...

"Yaaaaay!" Teriakan kedua kembali berkumandang dari SMA Kartini. Hani dan Lala bahkan ikut terlarut dalam euforia itu, keduanya sampai berpelukan dan melompat-lompat saking senangnya.

Lalu, disusul dengan satu pemain futsal dari SMA Kartini yang diketahui bernama Jun. Tetapi, bola yang ditendangnya tak berhasil masuk ke gawang lawan. Berbanding terbalik dengan tadi, kali ini tim futsal SMAN 61 Bogor berhasil memasukkan bola mereka membuat skor menjadi 1:1.

"Laki gue udah peluk-peluk depan umum, awas aja nggak masuk!" Hani bergumam pelan. Kedua matanya memperhatikan Unggah yang berdiri di depan sana dengan wajah serius. "Ayo dong, plis plis plis..." Hani mengepalkan tangannya kedepan wajah seraya matanya terus menatap ke arah lapangan itu.

Menghitung sampai tiga, ketika bunyi peluit berbunyi dan Unggah mulai menendang bola itu, Hani otomatis memejamkan matanya tak berani.

Satu... dua...

"Yaaaaay!!!" Sorakan dari teman-temannya membuat cewek itu menghela napas dan membuka matanya. Kedua matanya tanpa sadar berkaca-kaca ketika melihat Unggah dan beberapa tim futsal mereka saling berpelukan riang walaupun hasil akhir baru akan diketahui ketika pemain terakhir dari SMAN 61 Bogor menendang bolanya.

Berekspresi sama, seluruh penonton seolah sedang menahan napas mereka ketika pemain terakhir dari SMAN 61 Bogor mulai berjalan dengan slow motion, menendang bola di depannya dan...

Bayu berhasil menangkap bola itu dengan sempurna!

Suara dari MC yang ikut riang menyelamati tim futsal dari SMA Kartini terdengar menggema bersamaan dengan sorak kemenangan dari penonton yang berasal dari sekolah yang sama itu. Bahkan, secara terkoordinir, anak-anak cowok mulai menyanyikan kembali Chant suporter mereka.

"Han, kebawah yuk? Mereka pada kebawah juga tuh!" Ajak Lala setelah pembagian hadian selesai dan kini sedang sesi foto-foto. Hani mengangguk, kemudian keduanya berjalan mengikuti beberapa anak yang juga hendak turun ke lapangan.

"Hani!" Satu suara cowok memanggil namanya. Hani menolehkan kepala ke belakang dan mendapati Aldi dan satu temannya berdiri tak jauh dari ia dan Lala.

"Apa?"

"Temen gue mau kenalan sama Lala." Aldi menggeser tubuhnya ke samping kiri. Mempersilahkan temannya.

Menggaruk kepalanya yang tak gatal, Lala meringis pelan. "Ng... hallo."

"Boleh minta nomor WA nggak?" Tanya cowok itu langsung.

Wah eror nih cowok, emang gue cewek apaan minta-minta nomor WA padahal baru juga tahu... Lala menggerutu dalam hatinya. Namun, cewek itu tetap merespon sopan. "Gue nggak hafal nomor WA gue. Ntar deh kalau cowok gue udah selesai foto-foto disana, gue ngambil ponsel gue. Soalnya yang pegang ponsel gue dia. Hehe."

Kedua cowok itu saling tatap, memberikan kode yang hanya cowok yang tahu. Kemudian, dengan mengucap salam perpisahan secepat mungkin, keduanya langsung melesat pergi menjauh.

Hani melihatnya dengan ekspresi ternganga sekaligus menahan tawanya, "Savage..." gumam Hani. "Panutan emang lo ini, La."

"Iya dong," Lala mengibaskan rambut, "Jelek-jelek gitu, kalau di lapangan jadi idola tu laki gue. Masa mau gue lepas." Kikiknya.

***

Lagu Eternal Flame milik The Bangles sedang mengalun merdu menemani Hani dan Unggah di sepanjang perjalanan pulang mereka. Tadinya, Unggah ingin mengajak Hani membeli makanan dulu, tapi beberapa kedai yang biasanya buka di pinggiran jalan nampak sudah tutup semua. Sedangkan, kios makanan cepat saji pun sudah pada tutup juga. Hanya 2 kedai dari menu olahan ayam terkenal yang memang buka 24 jam, yang tersisa.

"Beneran nggak mau?" Unggah kembali bertanya. Kepalanya menoleh menatap Hani yang sedang sibuk dengan hasil dari kamera Instax tadi. Dua foto mereka berdua sedang berpose dengan piala milik Tim Futsal.

Hani mengangguk. "Mm, gue chubby banget ini, badan gue disini juga melar banget ini. Yaallah, mirip monokuro boo banget!" Ujar Hani, lalu dengan cepat menunjukkan dua foto yang dipegangnya. "Nih, liat dong..."

"Cantik kok."

"Tapi gendut, chubby dan--"

"Cantik ya cantik, Han. Cantik itu C-a-n-t-i-k, bukan Kurus atau Tirus." Unggah menimpali. Melirik Hani melalui ekor matanya, kemudian kembali bersuara, "Lagian, gue suka kok sama pipi lo. Gemesin."

"Ah abang ah, neng jadi malu..." Hani memukul pelan lengan Unggah membuat cowok itu tergelak.

"Anjir, geli! Hahaha."

"Btw, Ung, kok lo bisa ganteng banget sih?" Tubuh Hani berbelok dengan bagian bahu kanan menyandar pada kursi jok sambil menatap Unggah dengan serius.

"Nggak biasa aja."

"Iya kok, tadi ada cewek tiga rambut blonde gitu berdiri dekat gue sama Lala, terus mereka lagi ngomongin lo. Katanya lo ganteng. Tapi, langsung diem pas tau lo udah punya kuntilanak katanya."

Unggah tersenyum kecil. Lantas, melirik Hani sesaat, "Tadi lo ketemu mantan lo ya?"

"Iya. Nggak ngobrol lama kok, cuman Say Hi doang. Tapi, tadi ada kakak panitia yang mintain nomor WA gue."

Unggah mengangkat alisnya. "Terus?"

"Gue kasih nomor lo. Hehe."

"Parah."

"Terus, gue kasih nomor gue aja nih? Nggak papa?"

"Awas aja kalo sampe ketahuan kasih-kasih nomor lo ke cowok lain." jawab Unggah dengan cepat.

"Lo juga, awas aja ketahuan chat sama cewek lain!"

"Nggak bakal."

"Siapa yang tahu, kan?"

Unggah mendesah. "Gue nggak pernah balesin chat cewek kalau gue nggak suka sama dia. Kecuali memang penting banget. Lo bisa percaya gue soal itu."

***

Angin yang berasal dari AC yang menyala langsung menyambut Hani saat ia keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu dengan handuk melingkari bahunya. Dibalut dengan piyama tidur coklat, Hani melangkah menuju meja riasnya sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk yang melingkar di bahu itu. Gerakan tangan dan langkah kakinya seketika berhenti ketika tiba-tiba merasakan kepalanya berdenyut keras, ia memejamkan matanya sambil memegang kepala. Dan, pada saat itu juga Hani semakin merasakan kesakitan yang menyerang kepalanya itu bertambah.

Sebenarnya, rasa sakit ini sudah dirasakannya sejak menginjakkan kaki di GOR tadi siang. Namun, Hani merasa harus menahannya karena ini adalah hari penting Unggah. Jika dia sampai mengeluh, cowok itu dan temannya pasti akan menyuruh Hani pulang. Dan Hani tidak ingin.

Kedua kaki Hani mundur selangkah dan tiba-tiba melemas, membuat cewek itu langsung terjatuh terjerembab di ubin kamar. Handuk yang semula digunakan untuk mengeringkan rambut itu terlepas. Hani mengernyitkan dahinya seiring rasa sakit yang semakin menelangsa. Merasakan ada suatu cairan yang keluar dari dalam hidungnya, Hani dengan cepat membawa tangan kanannya mengusap pelan diantara lubang hidung dan mulutnya.

Darah. Hidungnya kembali mengeluarkan darah. Nafasnya tersendat, kepalanya semakin pusing saat setelah melihat darah yang berasal dari dalam hidungnya itu. Hani merasakan pandangannya mengabur, lalu cewek itu berusaha untuk bangkit mengambil obatnya yang berada di meja kecil samping ranjang tidurnya. Namun, tidak bisa.

Menghela napas perlahan, Hani mulai membawa tubuhnya merangkak pelan menuju meja kecil itu, sedangkan dengan kepala sedikit mendongak Hani menggunakan satu tangannya menahan supaya darah mimisan itu tidak semakin banyak keluar dari dalam hidung. Tapi, sebelum tangan putih itu meraih botol obatnya, pandangan memburam itu perlahan berubah menjadi menggelap seiring dengan tubuhnya yang langsung terkapar di ubin lantai.

Hani kehilangan kesadarannya.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co