Duapuluh-enam
Dia muncul lagi, kata dokter. Setelah sekian lama nggak muncul, apa banget ya munculnya ketika gue lagi bahagia begini. Harus banget ya, ngerusak semua momen indah gue? Harus banget ya, muncul lagi? Kenapa sih lo muncul lagi...
-Dari Hani yang lagi di infus
••••
Hani membuka matanya dengan suasana dan bau khas yang masih sama. Juga, di tempat yang sama. Dan, pada ruangan yang juga sama. Kedua matanya melirik ke arah selang infus yang terpasang di tangan kirinya, lalu beralih ke langit-langit ruangan rumah sakit tempatnya menginap sudah lebih dari 4 hari itu. Ponselnya masih mati dan ia masih belum berniat menghidupkan benda elektronik itu, Hani sengaja tidak menghidupkan ponsel itu sejak ia tersadar 3 hari yang lalu dan mendapati dirinya sudah berada di dalam rumah sakit. Benar-benar ironis, perubahan datang bahkan hanya dalam hitungan detik saja dalam hidupnya.
Membawa posisinya bersandar, Hani melirik ke arah nampan berisi makanan sehat yang mungkin di antarkan oleh perawat pagi tadi untuknya saat ia masih tertidur dan rasa mual langsung muncul mengoyak-koyak perutnya. Hani menutup mulutnya menggunakan tangan kanan sambil memejamkan mata, berharap agar perasaan mual itu hilang. Matanya masih terpejam rapat-rapat ketika bunyi decitan pintu terdengar bergesek dengan lantai berkeramik putih di bawahnya, lalu sosok Bunda muncul disana.
Kedua mata Bunda seketika membeliak penuh antisipasi melihat sang putri yang berada di ranjang itu. Lalu, tubuh wanita setengah baya itu langsung bergegas mendekat. Bunda meletakkan mukena nya diatas meja kecil di dekat nampan makanan, lalu membawa tangannya mengelus sang putri. Ia menatap khawatir, "Kenapa sayang? Apa yang adek rasain?"
"Mual lagi, Bun." Hani menarik napasnya pelan, kemudian menghembuskannya dengan pelan pula. Ditatapnya Bunda dengan senyuman, "Tapi sekarang udah nggak lagi kok." Bohongnya.
Bunda mengerutkan alisnya, membantu menaikkan bagian kepala ranjang itu agar Hani bisa bersandar dengan lebih nyaman lagi. Tangan hangat itu mengusap puncak kening Hani dengan lembut, tatapan sedih Bunda tak bisa ditutupi dan karena itu Hani merasa begitu bersalah.
"Maafin adek ya, Bun..." Hani menyentuh punggung tangan Bunda penuh penyesalan. Dia merasa hidupnya hanya menyusahkan keluarga saja jika sedang seperti ini. Hal yang paling ditakutinya adalah membuat Bunda dan Ayah serta kak Meta sedih. Karenanya seiring bertambahnya usia, Hani mencoba menahan rasa sakit apapun yang sedang ia rasakan selama ini. Hani akan berusaha tegar dan baik-baik saja di depan semuanya. Setidaknya, hal yang ia lakukan itu bisa membuat orang terdekatnya tidak khawatir. "Kalau aja nggak lupa--"
"Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri. Karena Adek nggak salah apa-apa. Ini semua udah diatur sama Tuhan. Oke?" Bunda mengusap pelan kening Hani, lalu mendaratkan kecupan disana. "Sekarang makan dulu, ya. Habis itu minum obat."
Bunda lantas mengambil nampan di atas meja itu, lalu membawa meja lipat kecil dan meletakkannya di tengah-tengah Hani, disusul dengan nampan berisi menu makanan sehat itu. "Sini, Bunda kupasin buahannya dulu." Kata Bunda sambil mengambil buah pir, mulai mengkulitinya dengan pisau di atas plastik sebagai wadah kulitnya.
Hani menatap menu makanan itu sambil menahan mual. Rasanya sulit sekali hanya untuk menyuapkan beberapa sendok ke dalam mulut saja. Mendesah pelan, Hani mulai mengambil sendoknya dengan suara bunda yang mengudara bersamaan dengan sosok Meta masuk ke ruangan,
"Sejak kemarin Unggah nelponin Bunda, kadang kirim SMS juga."
Meta mencium pipi Bunda, meletakkan tas kuliah di atas sofa sudut. Make up nya masih paripurna ketika menatap sang adik yang kini memperhatikan wajah Bunda nya. Lalu mendesah, "Lala juga WA gue mulu. Katanya ntar dia kesini sepulang sekolah."
"Kok di kasih tau sih, kak?" Hani menggerutu pelan.
"Seenggaknya sahabat lo kasih tahu kek, biar nggak khawatir. Nomor nggak aktif, punya pacar di anggurin, punya sahabat di anggurin. Haduh Gigi hadid aja nggak segininya."
"Gue nggak nganggurin mereka. Gue cuman nggak mau mereka khawatir." Hani mendesah pelan. Kepalanya miring menatap sang Bunda, "Terus, Unggah tau juga, Bun?" tanyanya.
Bunda mengiris pir nya, meletakkannya ke dalam mangkuk kecil. "Nggak. Kamu kan nggak mau dia tau. Bunda heran kenapa nggak dibiarin tau aja? Dengan kamu kayak gini, mereka malah tambah khawatir sama kamu, dek."
"Mantuyyy, Bundaaa." Meta menyetujui. Mengambil sepotong buah pir itu dan memakannya. Cewek itu kini duduk di sisi ranjang rumah sakit, menatap sang adik. "Unggah nggak akan kabur liat bare face lo kok. Tenang aja."
"Dih, siapa juga yang mempermasalahkan itu," Hani mendengus pelan. "Gue cuman nggak mau aja dia tau gue sakit-sakitan. Lagian, gue kan cewek mandiri di mata dia."
"Halah, menurut lo aja itu mah dek," Gantian Meta yang mendengus. "Cewek mandiri juga ada sisi terpuruknya, kali. Biarin dia tau yang sebenarnya, kalau beneran cinta nggak akan kabur kok."
"Aduh, nanti dulu bahas cinta-cinta-an nya," Bunda menginterupsi. Meletakkan buahan yang dikupasnya di sisi nampan makanan, "Sekarang, adek makan dulu terus minum obat biar cepat pulih."
"Nggak bisa, Bun. Ngelihatnya aja aku langsung mual...," Hani mendesah pelan. "Tapi, aku coba deh." lanjutnya ketika melihat wajah Bunda yang sedih. Lalu, mulai menyendokkan nasi beserta lauk sehat nya dan memasukkannya ke dalam mulut. Belum juga melewati kerongkongannya, Hani lagi-lagi menutup mulutnya ketika perasaan ingin memuntahkan nasi itu kembali hadir.
Meta, yang semula duduk segera berdiri dan mengambil sick bag dari laci lemari kecil di dekat ranjang, kemudian memberikannya kepada sang Adik. Kedua matanya menatap Bunda yang nampak khawatir sama sepertinya, sedangkan tangan Meta mengusap pelan punggung Hani. "Gue telepon ayah ya, supaya Ayah nanti bawain makanan kesukaan lo, mm? Siapa tau nggak mual kalau makan sushi..." Meta menawarkan ketika ingat Ayah mereka yang sedang berada di daerah Bogor Utara di dekat resto jepang favorit keluarganya untuk mengecek proyek bisnis.
Hani menggeleng lemah. Menutup sick bag setelah selesai menggunakannya, lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah di bawah ranjang. Rasanya sakit sekali ketika perut tak ada isi apapun harus mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Mengaduh pelan, Hani lantas menatap sang Bunda, "Bun, aku boleh minum vitaminnya dulu? Nanti nyusul obat yang lain. Pahit banget lidahku..."
Bunda segera mengambilkan botol vitamin dari meja dan memberikan satu kapsul berikut air mineral kepada putri bungsu kesayangan keluarga. "Ya Allah, bunda sedih kalau liat kamu kayak gini deh."
"Maafin aku ya Bun, buat kalian sedih."
"Nggak sayang, bukan gitu maksudnya...," Ucap Bunda. Kedua tangannya berada di sisi wajah Hani, hingga pipi cewek itu sedikit menggelembung. "Bunda pengin kamu sehat-sehat, ketawa bareng teman lagi, beraktifitas lagi... Bunda pengen kamu bahagia tiap liat makanan, bukannya mual kayak gini..."
Meta menatap interaksi adik dan sang Bunda dengan pandangan lirih. Benar, harus diakui, ia pun merindukan kebawelan sang adik. Padahal belum juga genap seminggu Hani kembali sakit, tapi rasanya sudah setahun. Dia tidak pernah paham bagaimana rasa sakit yang diderita sang adik, namun dia tahu bahwa itu pasti menyakitkan. Diliriknya jam pada pergelangan tangan yang hampir menunjuk ke angka sepuluh itu, kemudian menatap sang adik dengan wajah pucatnya sekali lagi. Meskipun sang adik akan marah nanti, namun sepertinya ia akan melancarkan rencananya kali ini. Mengingat bagaimana bahagianya Hani tiap kali bercerita soal Unggah, Meta yakin pasti akan ada perubahan sedikit jika Unggah bisa berada disini. Menemani Hani.
Setidaknya pula, Unggah tidak dibiarkan kebingungan dalam mencari kabar sang adik. Karena Meta paham bahwa bingung itu tidak enak. Selanjutnya, Meta mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu yang kemudian ia kirimkan kepada sahabat baik adiknya.
***
Suasana sekolah pada jam istirahat nampak ramai sama seperti biasanya. Beberapa anak berjalan melalui koridor secara bergerombongan menuju ke kantin sekolah, sedangkan tak sedikit juga yang memilih bercengkrama di koridor kelas mereka membunuh waktu. Bicara soal membunuh waktu, bagi beberapa siswa yang memilih makanan untuk mengisi ulang energi mereka yang terpakai untuk berpikir soal pelajaran. Termasuk sekelompok anak laki-laki yang sedang menyantap soto ayam lengkap dengan es teh di atas meja panjang kantin itu. Sementara teman-temannya sibuk menghabiskan soto ayam mereka, Unggah masih sibuk berulang kali mengecek apakah centang satu pada chatroom Whatsapp nya sudah berubah menjadi dua, atau bahkan sudah berubah warnanya. Tapi, sayangnya tidak untuk keduanya.
Kapal yang mengirimkan pesan yang dikirimnya sejak 4 hari yang lalu itu sama sekali belum menunjukkan sandarannya. Tidak ada informasi apapun yang diterima Unggah selain omongan Bambang yang mengatakan kalau Hani sakit--itu juga Bu Indri yang berpesan karena orang tua Hani menelponnya pagi itu--dan, sampai sekarang Unggah sama sekali tidak bisa menghubungi Hani. Rumah cewek itu pun juga sepi seperti tak berpenghuni, semakin membuat Unggah senewen dan kebingungan.
Unggah menghela napas kasar. Menyedot Es teh nya yang mulai terasa tawar karena es batu yang dimasukkan mulai mencair, mencoba supaya rasa dingin dari es teh itu setidaknya mampu membuat pikirannya rileks.
"Nih," Tau-tau Bambang sudah berdiri di dekatnya, meletakkan amplop bertuliskan nama rumah sakit di Bogor. "Tadi surat sakitnya nyampe di bawa ceweknya dia." Ujar Bambang sambil menunjuk Dwiki.
Unggah segera membuka surat dokter itu, tapi tidak menemukan kejelasan apapun disana. Ia mendesah, "Tanyain dong sama Lala, Ki, nggak mungkin banget dia nggak tahu cewek gue kenapa sampe di bawa ke rumah sakit."
"Ah gue lupa, tadi Lala minta WA lo sama gue. Katanya ntar mau kasih informasi."
"Tuh, nggak usah galau lagi. Sumpah kayak abis putusan lo, Load." Bima berkomentar setelah menyelesaikan soto ayamnya.
"Bukan lagi, waktu putus tempo lalu aja nggak sampe kayak gini dia, Bim." Timpal Bayu.
Bambang cengengesan melihat Unggah menggerutu di tempatnya karena mendapat ejekan dari teman-teman mereka. Lantas, ia mengambil tempat di kursi kosong berhadapan dengan Unggah, sementara tangannya mengantongi kembali surat dokter milik Hani--karena takut hilang dan itu masih diperlukan sebagai surat izin sakit cewek itu-- Bambang bersuara, "I feel you, bro. Gue juga kesepian nggak ada Hani di kelas."
Unggah menyipitkan matanya. Membuat Bambang tertawa ngakak, "Slo, gue nggak berniat nikung. Banyak cewek gue ini gini-gini."
"Karena lo banyak cewek jadi harus dicurigai, Bembeng. Lo kan jelek-jelek belagu." Ujar Dwiki yang disambut tawa dari seluruh siswa di meja itu.
Sementara itu Bambang langsung mengambil ancang-ancang menoyor kepala temannya dengan kesal, tak terima dikatain 'jelek' oleh orang yang tidak lebih ganteng pula menurutnya.
***
"LALAAAA!" Hani berucap tanpa suara sambil merentangkan tangannya dengan lemah ketika melihat sahabat baiknya yang muncul dari balik pintu geser itu. Dokter serta perawat yang sedang memeriksa, menoleh refleks dan memberikan senyuman.
Lala menundukkan kepalanya sopan menyapa para perawat dan dokter itu. Kemudian, berdiri di dekat Bunda setelah mencium tangan dan memberikan pelukan kepada perempuan setengah baya yang sedang mengenakan rok hitam dipadukan dengan blouse merah muda berbahan sifon.
"Sering-sering ajak teman datang. Biar perasaan happy." Ucap Dokter Lita pada Hani, dengan Stetoskop menggantung di lehernya.
"Iya, sekolah sih dok. Makanya baru sempat menjenguk." Hani meringis, melirik Lala yang sedang memutar bola mata disana. Padahal, bukan itu alasan yang sebenarnya.
Dokter itu tersenyum. Lalu, menoleh kepada perawat laki-laki yang kini sedang memasukkan kembali Sfigmomanometer atau biasa disebut tensimeter ke dalam wadahnya. "Gimana?"
"90/50, dok. Rendah." ucar si perawat.
Dokter Lita menatap Bunda dan Hani secara bergantian. "Semoga lekas membaik ya Hani, nggak mual-mual lagi. Kata Bunda kamu suka makan, kan?"
Hani meringis.
"Sebenarnya, menurut dokter dukungan secara emosional itu penting sekali. Jadi, kalau bisa, Hani ajak teman-teman atau pacarnya kesini saat mau kemoterapi. Beberapa kasus yang pernah saya tangani dulu, hal itu membawa efek positif untuk si pasien. Kamu pasti ada kan teman dekat?"
Lagi-lagi Hani meringis, merasa bingung harus bersikap atau menjawab apa.
Si dokter menyunggingkan senyumnya, mengambil perkakasnya dan membawanya dengan cara memeluk. Lantas, sang dokter pun pamit undur diri. Bunda mengantar hingga ke pintu ruangan, sementara Lala langsung menghambur mendekati sahabatnya. Cewek itu meletakkan tas sekolahnya pada kursi sofa, lalu menoleh ke arah Hani dengan sedikit mendelik. "Dasar jahat."
"Apaan sih, La. PMS ya lo?" Hani menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang.
"Nomor nggak diaktifin, sengaja bener biar dicari ya? Kayak jomblo aja..."
"Sial. Kagak, woi!" Hani terkekeh. Bisa banget memang Lala ini kalau soal ngejek-mengejek.
"Kalau bukan karena kak Meta, gue nggak akan tau lo disini sedang terbaring dan membutuhkan gue." ucapnya dengan hiperbolia
"Ngoook... Jijik gini, ew! Hahaha." Hani mendengus, mengambil buku novel di sisi ranjang yang dibawakan kak Meta tadi pagi dan membukanya. Sebelum itu, ia teringat sesuatu. Kepalanya lantas menatap Lala kembali, "Gimana Unggah?"
"Kok nanya gue? Kan lo yang ceweknya."
Hani berdecak kesal. Salah sekali bertanya sama Lala ini karena cewek itu akan memberikan pertanyaan baru bukannya sebuah jawaban. "Gue kan nggak ngaktifin hape. Jadi lost contact deh. Kangen nggak dia sama gue ya, La? Apa dia gatel sama cewek lain lagi..." bayangan yang enggak-enggak langsung menyelimuti pemikiran Hani.
"Ya lo kangen nggak sama dia?"
"Kangen lah."
"Ya udah, suruh dia kesini. Ntar dia kabur, tau rasa lo." Ujar Lala. Satu tangannya membuka kaleng biskuit dari milik brand ternama yang tergeletak di atas meja. "Gue kira rengginang." Gumamnya asal.
"Lebaran mungkin. Ini kan biskuit hasil bawaan orang-orang yang besuk."
Lala mengangguk-angguk. Kepalanya miring, menatap Hani, "Suruh Unggah kesini, Han. Selip dikit balikan dia sama mantannya."
"Ih, lo kok gitu sih, La!" Hani cemberut. Menutup kembali bukunya, kemudian menegakkan tubuhnya menyerong menghadap Lala. "Gue nggak mau kalau dia tau gue begini."
"Kenapa?"
"Takut aja dia pergi. Nggak siap ditinggalin."
"Dan menurut lo dia bakal ninggalin kalau tau lo lagi sakit? Kalau dia pergi... simpel, berarti dia bukan yang terbaik."
Hani menghela napas, memandangi kuku-kuku tangannya dengan minat berlebih sebelum kembali bersuara dengan nada pelan, "Gue besok kemo. Gue nggak mau kasih liat dia sisi terjelek gue, La."
Ditempatnya, Lala menatap nanar. Tubuhnya berdiri, lantas berjalan mengitari meja sebelum berjalan menuju kursi bulan dengan kaki stainless yang biasanya digunakan untuk menunggui pasien, dan mendudukkan bokongnya disana. Satu tangannya menggenggam jemari Hani, "Han, kata Dwiki cowok lo kusut banget. Kemaren juga sempet ke kelas nanyain lo ke gue, tapi gue bilang nggak tau karena emang gue nggak tau. Kita masih anak SMA, wajarlah mikir kayak gitu, tapi yang gue liat dari gimana cara Unggah memperlakukan lo, cowok itu sama sekali nggak pernah mandang fisik. Gue pikir dia beneran sayang sama lo. Tulus." Lala mengusap pelan punggung tangan Hani, "Jadi, biarin dia kesini dan kasih dukungan buat lo. Kayak gue, kak Meta, Om dan Bunda."
"Menurut lo gitu?"
Lala mengangguk mantap. "Omong-omong, lo dapet salam dari Dwiki sama Bambang. Katanya mereka kangen kebawelan lo."
Hani tersenyum kecil. "Bilang mereka kalau gue akan segera masuk sekolah lagi. Thanks ya, La... lo emang sahabat paling baik sejagat raya!" Kemudian, Hani memeluk Lala erat.
Lala membalas pelukan itu, "Plus, paling cantik."
"Ya-in aja biar cepet dah..."
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co