Truyen3h.Co

Hello mellow

Empat

authoriya

Hi, guuuys!

Capek banget hari ini. Biasalah hari pertama masuk di semester baru dan pastinya jadi sok sibuk gini. Bersih-bersih kelas, udahnya balik.

Tapi ada senengnya! Hehehe

Gue tadi ke pasar beli peralatan kelas—karena di patahin sama cowok-cowok  nggak bertanggung jawab itu—dan ditemenin sama si...

Haha, ntar deh gue kasih tahu namanya!:p

***

DENTING suara piring dan sendok yang beradu terdengar dari ruang dapur pada jam makan malam yang kini sedang berlangsung. Lima kursi mengelilingi satu meja bundar beraksen kayu jati dengan model ukiran bunga, namun yang terisi hanya empat kursi saja. Ke empatnya duduk mengelilingi meja persegi dengan Bunda dan Ayah yang duduk bersebelahan, sedangkan dua anak gadis mereka duduk bersisian.

Hani mendorong piringnya sedikit ke depan saat isinya telah tandas. Tangan kanan cewek itu bergerak mengambil gelas berisi air mineral, lalu menegaknya hingga setengah.

"Udah makannya, dek?" Suara Ayah terdengar mengalun lembut. Kedua mata berbingkai kacamata plus itu menatap Hani sekilas sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

"Iya, udah kenyang, yah." Jawab Hani.

"Jangan terlalu dikit makan, nanti kamu semakin kurus." Nasihat sang Ayah yang nampak tak menyukai jika sang putri bertubuh terlalu kurus. Seperti halnya setiap orangtua yang sangat repot jika anak-anak mereka tidak berbadan berisi dan sehat. Entah sejak kapan dan dari mana awalnya, tetapi bagi para orangtua melihat anak mereka yang berisi rasanya lebih enak daripada terlalu kurus. Padahal sebaliknya bagi anak-anak itu—apalagi kaum cewek.

Hani mengangguk mengiakan.

"Gimana tadi di sekolah, kak? Bisa ngerjain UAS nya?" Kali ini Ayah menatap Meta, anak pertamanya.

"Alhamdulillah, Yah. Tapi, nggak tahu deh terkadang nggak sepemikiran dengan dosen." Keluh Meta.

"Lho, asalkan inti jawaban kakak sama seperti penjelasan dosen selama ini, Ayah rasa baik-baik saja," Ayah mendorong piringnya sedikit ke depan menandakan bahwa beliau telah selesai makan. "kalau bisa mempertahankan IP semester kemarin, atau malah bisa bulat jadi 4, Ayah dan Bunda kasih kakak liburan ke Bandung dengan teman-teman kakak."

Kedua mata Meta langsung berbinar mendengarnya. Ucapan Ayah barusan laksana angin malam yang menyejukkan pikiran di sela-sela UAS yang membuat kepala Meta pusing tujuh keliling. Cewek berambut cepol itupun tersenyum,

"Beneran, Yah? Bun?" Tanya Meta mengonfirmasi. Kedua matanya menatap Ayah dan Bunda secara bergantian. Dan ketika anggukan kecil sebagai jawaban atas pertanyaannya diberikan oleh kedua orangtuanya, Meta langsung bersorak senang.

Hani memanyunkan bibir. "Ayah... Aku kan pengin ikut juga tahu ke Bandung." Ucap Hani sambil memandang Meta dengan raut wajah iri.

"Makanya kuliah dong, biar bisa liburan lama kayak gue." Meta menjulurkan lidahnya. Tak peduli dengan raut wajah iri sang adik. Akhirnya, dia dapat izin juga untuk liburan! Asik! Batin Meta senang.

"Dih, sombong!" Hani mendengus pelan. Kemudian, ditatapnya Ayah dan Bunda dengan wajah memelas, "Aku ikut kak Meta ya, Yah? Bun?"

Kening Ayah berkerut. "Nanti ada giliran adek juga liburan kalau sudah bebas UN, ya. Kita sama-sama ke Jogja mengunjungi eyang."

Bunda mengangguk, "Iya, udah lama kita nggak liburan bareng kesana kan?"

"Yah... masih lama itu mah." keluh Hani dengan kedua bahu merosot ke bawah.

***

"Fatar fatar monitor tar monitor fatar monitor! Tu pacar klien kita lagi ngomong sama siapa?" Bima bereaksi bak presenter reality show ketika menyadari kemana fokus Unggah berada.

Unggah, Bayu, Bima dan beberapa teman mereka yang lain saat ini sedang duduk di bangku kantin paling ujung dengan batagor dan piring nasi sayur, piring siomay, dan mangkuk soto di atas meja panjang depan mereka. Berkumpul dengan beberapa murid kelas sebelas dan dua belas di SMA Kartini. Terdengar suara bising dari beberapa anak yang saling bercanda memenuhi penjuru kantin SMA Kartini pada jam istirahat kedua ini.

Bayu yang menyadari kode yang diberikan oleh Bima barusan langsung cepat menanggapi. Dengan gaya yang sama-sama bikin orang yang melihat ingin menempeleng kepala mereka berdua. Bayu memulai mengikuti drama siang ini. "Monitornya rusak, bos! Belum beli yang baru." Jawab Bayu.

Bima mendesah, "Gimana sih, kasian klien kita mukanya udah kayak nahan berak gitu. Coba Carlos alat penyadap suara, Carlos!" Ucap Bima kembali, dengan ekspresi wajah yang dibuat seserius mungkin seperti sedang dalam acara sungguhan.

Unggah melirik jengkel ke arah teman-temannya itu. Cowok itu paham sekali bahwa lagi-lagi ia menjadi target guyonan mereka. Unggah kemudian mendengus, "Lo pada senang banget ya kalau kawannya lagi begini."

"Tenang, Ung. Geng jojoba masih buka rekruitmen anggota baru kok. Kami padamu..." kata Bayu dengan gaya sambil merentangkan kedua tangannya seolah memberi ucapan selamat datang.

"Sial!" Unggah berdecak.

Kalau soal kongek-mengongek dan membuat jengkel orang, cowok-cowok ini memang tiada tandingannya. Tipikal anak cowok kebanyakan makan mecin. Mereka akan selalu punya cara untuk meramaikan suasana yang sepi. Well, meskipun Unggah tidak 'segila' Bayu dan Bima. Namun, wajah Unggah yang enak di pandang lah yang membuatnya balance dengan dua cowok biang ribut itu.

Kedua mata Unggah mengamati Rini dalam. Setelah kemarin bertengkar di sekolah, kemudian ditambah lagi bertengkar di Whatsapp dan berakhir dengan Rini yang menghapus namanya di akun media sosial cewek itu. Dan siang ini, Unggah malah dipertontonkan adegan dimana cewek itu sedang tertawa dengan satu cowok yang tidak ia kenali. Kedua orang itu nampak memasuki koperasi sekolah yang menjual jajanan ringan dengan santainya. Bahkan, ketika pandangan Unggah dan Rini beradu, cewek itu sama sekali tidak tersenyum kepada Unggah dan tetap melanjutkan pembicaraan dengan cowok di sebelahnya.

"Kalau bukan karena udah pacaran lama, udah gue putusin tu cewek!" Unggah bergumam kesal. Satu tangannya dengan cepat mengambil es teh-nya dan menyesap isinya hingga setengah.

"Putus aja kali, bro." Celetuk Bima dengan tempe goreng di mulutnya.

Unggah menoleh ke arah Bima sekilas, "Sayang, udah lama." Balasnya tanpa minat.

Mendengar hal itu sontak teman-teman cowok itu langsung meledeknya kembali. Bima bahkan mengatakan kalau Unggah lemah karena takut menjomblo. "Gorengan jatuh aja lo sayang, belum lima menit. Ya, kan?"

Dijawab dengan dengusan oleh Unggah.

Lalu, cowok-cowok itu kembali menyantap makanannya ketika melihat dua orang laki-laki yang dikenal mereka sebagai anak kelas sebelas, mengambil tempat di sebelah mereka.

"Gimana, udah pada daftar belum?" Tanya satu cowok bernama Bambang kepada Bima.

Bima menggeleng, "Belum. Sabtu deh, ya? Ada tiga orang nih yang mau. Ya kan, Bay, Ung?" Tanya Bima kepada teman-temannya.

Bayu lantas mengangguk setuju.

Kemudian mata Bima menatap Unggah yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Cowok berpotongan rambut Abri itu mencondongkan tubuhnya ke arah meja, "Woy, Upload? Jadi nggak daftar futsal juga?"

"Namanya Upload?" Tanya Bambang heran. Sepanjang sejarah hidupnya, cowok itu baru sekali menemui nama langkah sejenis cowok yang dipanggil Upload tadi. Kalau namanya sih, jangan ditanya... jika di kumpulkan mungkin bisa jadi tim suporter sepak bola di GBK untuk sea games nanti.

Bima tersenyum lebar, "Bukan. Tapi, bahasa Indonesianya alias Unggah." Ucap Bima. Lantas kedua bola matanya kembali melirik Unggah, "Jadi, daftar nggak lo?"

Unggah tampak berpikir sejenak. Kemudian mengangguk, "Oke."

Persetan dengan paksaan Rini kemarin padanya. Unggah sama sekali tidak tertarik dengan bola basket, sejak dulu Rini pun tahu hal itu. Jika Rini memang mengerti dirinya, cewek itu tidak akan memaksanya untuk pindah haluan jadi pemain basket dan membuat mereka bertengkar akan hal yang tidak penting seperti itu.

"Eh, ada Hani sayang blaem-blaem!"

Unggah menoleh ke arah Bambang yang sedang melambaikan tangannya ke atas dengan senyuman lebar di wajah cowok itu. Lantas, mengikuti arah pandang Bambang. Kedua matanya langsung menemukan cewek yang kemarin diboncengi nya sedang berjalan hendak memasuki koperasi sekolah yang letaknya tepat berhadapan dengan kantin. Cewek itu berhenti tepat di depan pintu, terlihat memandang orang yang memanggilnya dengan sebutan 'sayang' itu dengan satu alis terangkat. Firasat buruk, pasti mau minta duit nih! Batin Hani.

"Hani, Hani aja kali. Sayang, sayang aja kali." Dwiki meralat ucapan Bambang barusan.

"Berisik!" Gerutu Bambang. Kemudian cowok itu kembali menatap Hani yang berdiri bersisian dengan Lala, "Bagi duit dong, Ayang beb?"

"Yee minta duit mulu, emangnya gue emak elo?" Hani berdecak. Matanya tanpa sengaja melirik ke arah samping teman sekelasnya itu dan mendapati Unggah, Bayu, Bima yang juga sedang duduk di sana. Dan juga sedang menatap ke arahnya.

Bambang tertawa lebar, "Lo kan bendahara kelas..."

Terus apa hubungannya? Emang dikira duit kelas itu buat disedekahin ke cowok-cowok macam Bambang dan Dwiki gitu?

"Auk ah. Bye!" jawab Hani sambil memutar bola matanya, tangannya langsung mengapit Lala yang sedang bermain kode-kodean dengan Dwiki. Hani heran, mereka berdua—Lala dan Dwiki—pacaran sudah lama, tetapi masih saja kalau di luar kelas begini senyum-senyuman seperti baru pedekate saja. Sedangkan di kelas, kerjaan Lala memarahi Dwiki yang bertingkah mengesalkan bersama Bambang dan teman cowok yang lainnya.

Bambang menatap kepergian kedua cewek itu dengan lesu, "Lo minta duit gih sama Lala. Pasti dikasih, lumayan buat nambah beli rokok nanti pas pulang sekolah." Ujar Bambang kepada Dwiki.

"Turun harga diri gue minta-minta duit sama cewek, bro." Dwiki menolak mentah-mentah. Kemudian kembali menyantap siomay rebus-nya.

Bambang menggerutu, "Udah nggak ada harga diri lagi juga lo itu di kelas karena terlalu bucin, Ki."

"Setan!" maki Dwiki tapi dengan suara tawa mengikuti.

"Bang, si Hani cewek lo?" pertanyaan Bima yang serta-merta langsung membuat Dwiki tersedak siomay rebusnya. Cowok itu langsung mengambil es teh miliknya, dan meneguk hingga setengah.

"Bukan lah! Mana mau Hani sama sumbu kompor macem Bambang." Ucap Dwiki sambil tertawa terbahak-bahak.

Bambang tertawa, "Sial!" kepala Bambang lantas menoleh, "Kok lo kenal dia?" Tanyanya pada Bima.

"Panitia MOS kemarin." Bima mengedikan bahu. Cowok itu kembali menyeruput es teh miliknya hingga tandas, kemudian bertanya kembali, "Dia udah ada pacar belum? Dari muka-mukanya sih, udah ya?" Bima mulai sok menerawang.

Dwiki mengangguk, "Tapi, kata cewek gue dia baru putus sama pacarnya. Jadi mangga muda dia sekarang." Dwiki melirik ke arah Bambang sekilas, "Makanya makin demen si Bambang godainnya." Ujarnya.

Mendengar apa yang diucapkan Dwiki barusan, lantas membuat Bambang menyeringai lebar. Satu tangannya merogoh ponsel dari dalam saku celana osis ketika merasakan ponselnya bergetar. Dengan senyuman lebarnya, cowok itu kemudian menggerakkan ibu jarinya menari-nari di atas layar android-nya. Dwiki memutar bola matanya malas, "Ni sumbu kompor, padahal udah ada gebetan di sekolah lain. Tapi suka banget gangguin cewek sekolah ini."

"Ralat. Yang gue gangguin cuma Hani doang kali," Bambang memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Kok jadi bahas Hani gini sih? Keselek lidi-lidian ntar dia." kata Bambang memention pada satu jajanan yang di gandrungi anak-anak di SMA Kartini. Jajanan itu serupa sapu lidi dengan balutan bumbu pedas yang membuat melek mata. Biasanya murid-murid SMA Kartini bisa menemukan jajanan itu di koperasi sekolah mereka dengan harga dua ribu lima ratus rupiah saja.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co