Lima
"HAN, merpati pagi lo tuh lagi lari keliling lapangan!" ucap Lala, tangannya menepuk-nepuk lengan Hani supaya cewek yang sedang larut dalam angka-angka yang terdapat di buku besar itu bisa merespons cepat.
Hani langsung menegakkan kepala dari posisi awal. Sejujurnya Hani sedang pusing mencari letak kesalahan perhitungan atau penempatan angka pada neraca saldo-nya yang ia kerjakan kemarin siang karena hasil akhir yang tidak balance seperti sekarang. Hal biasa yang selalu terjadi pada anak-anak jurusan IPS kalau sudah mulai berkutat dengan mata pelajaran ekonomi-akutansi.
Kedua mata Hani lantas mengikuti arah jari telunjuk Lala dan mendapati beberapa siswa kelas sepuluh yang sedang berlari mengitari lapangan. Senyuman lebar lantas tersungging di wajahnya kala mendapati seseorang yang ia cari ada di antara barisan siswa yang berlari. Hani mengamati dengan fokus melebihi kamera lensa mahal, lalu berkomentar, "Keringetan aja ganteng..." gumam Hani dengan suara kecil ketika melihat cowok yang dimaksudnya sedang menyeka keringat di dahinya.
"Siapa yang ganteng?" Bambang, yang tiba-tiba sudah berada di samping meja Hani dan Lala ikut mengamati ke arah luar. "Unggah?" Selidiknya ketika melihat sosok adik kelas mereka di sana.
Hani melirik sebal, lalu kembali menatap ke lapangan. "Bukan urusan lo! Udah sana, suruh Dwiki panggil Bu Tuti, udah lima menit nih, tapi belum dateng-dateng."
"Katanya suruh Sekertaris sama Bendahara aja yang tengokin ke ruang guru," Jawab Bambang, ditegakkan kembali tubuhnya yang semula membungkuk. "cowoknya Lala takut ketemu Bu Indri di kantor."
Lala berdecak kesal sambil melihat ke arah Dwiki yang sedang bermain game di ponselnya, "Dasar ketua kelas nggak berguna!"
Meskipun makian kasar dan selalu sebal akan ulah Dwiki itu, Lala tetap saja mengajak Hani pergi ke kantor guru untuk memanggil Bu Yuli, guru kesenian mereka yang masih berusia muda.
Keduanya lantas berjalan bersisian keluar.
"Rambut gue rapi, nggak?" Tanya Hani sambil menoleh kepada Lala.
"Tolong ya, ini kita mau ke kantor bukan ngapelin Unggah." Lala memutar bola mata malas. Cewek itu lantas membawa tangannya terlipat di depan dada.
Hani menyisir rambutnya dengan jemari sebelum kembali menjawab sanggahan Lala tadi, "Kalau mau ke ruang guru kan lewatin lapangan, jadi otomatis mau nggak mau gue harus cantik dong, siapa tahu Unggah ngeliat gue."
"Inget, dia masih status pacar orang."
Hani menoleh sekilas ke arah Lala, "Terus, kenapa? Bentar lagi juga putus." Responsnya dengan nada santai. Seolah-olah status hubungan Unggah dan pacarnya itu sepele dan tidak membuatnya panik sedikitpun. Padahal, kemarin-kemarin ada yang galau berat karena Unggah terdeteksi punya pacar.
Mendengar jawaban dari sahabatnya itu, Lala hanya bisa geleng kepala. Sejak putus dengan Aldi, tak membutuhkan waktu lama bagi Hani untuk menyukai cowok lain. Tentu saja Lala senang, karena terakhir kali Hani berakhir dengan mantannya sebelum Aldi, cewek itu menangis semalaman di kamarnya hingga membuat semua orang kebingungan. Termasuk Lala, yang saat itu diminta Hani untuk menginap di rumahnya. Padahal jika di telaah, saat itu umur mereka baru genap lima belas tahun. Masih bau kencur!
Astaga...
***
Matahari pagi sudah sampai di atas kepala ketika bunyi peluit milik Pak Burhan—yang biasa di sapa dengan panggilan 'Babe' oleh siswa Kartini—memberi interuksi kalau lari mengitari lapangan futsal sudah selesai. Unggah mengibaskan baju olahraganya yang sedikit basah karena keringat, cowok itu sedang duduk dibangku panjang, bersama Bayu dan Bima yang juga sedang melakukan hal yang sama dengan Unggah.
Dari tempat mereka duduk, Unggah bisa melihat sosok Hani dan satu cewek yang dia yakini kalau itu adalah temannya sedang berjalan. Kedua mata Unggah yang terus mengikuti tubuh Hani berjalan itu rupanya disadari oleh Bayu.
Bayu tersenyum lebar, "Jangan dilihatin terus kali," Cowok itu menyenggol bahu Unggah dengan bahunya.
Tangan Unggah yang sedang mengibaskan baju olahraga langsung berhenti, kedua mata tajamnya melirik cowok yang sedang tersenyum lebar menggoda dirinya itu dengan ekspresi datar, sebelum kembali mencari angin. "Lihatin siapa?"
"Yang barusan masuk ke dalam ruang guru itu lah." Tunjuk Bayu dengan dagunya.
Kedua mata Unggah menatap punggung yang menghilang di balik pintu itu sekilas, kemudian bangkit dari duduknya ketika mendengar suara Babe yang menginteruksi seluruh siswa laki-laki kelas mereka untuk ke lapangan futsal, sedangkan para siswi ke lapangan basket. Unggah mengambil bola yang ditendang Babe ke arahnya dengan kaki kanannya. Cowok itu menoleh ke arah Bayu dan Bima yang juga sudah berdiri di sampingnya. Tanpa berniat mengelak apa yang di katakan Bayu tadi, Unggah langsung mengoper bola futsal itu ke Bayu dan berlari ke tengah lapangan. Diikuti dengan siswa yang lainnya.
Sedangkan Babe, setelah memberikan interuksi kepada siswa-siswa yang diajarnya ini, langsung pergi ke area basket untuk meninjau siswi-siswinya di sana. Di SMA Kartini sebenarnya memiliki jadwal jam mata pelajaran penjaskes dibagi menjadi dua sesi, yang pertama adalah di pagi hari untuk teori, sedangkan siang hari setelah sekolah adalah untuk prakteknya. Namun, karena hari ini Babe yang merangkap sebagai wakil kesiswaan juga ada urusan mendesak sehingga guru itu memilih untuk membiarkan murid yang diajarnya pagi ini untuk berkeliaran di lapangan daripada membuat keributan di dalam kelas tanpa pengawasan dan membuat guru yang sedang mengajar pada kelas yang berhimpitan dengan kelas yang diajarnya ini naik pitam karena suara-suara yang ditimbulkan mereka.
***
Unggah masuk kedalam kelas diikuti oleh Bima dan Bayu di belakangnya. Sebotol air mineral dingin berada dalam genggaman tangan kanan, sedangkan satu tangannya lagi dimasukkan kedalam saku celana abu-abu. Cowok itu duduk di atas meja paling depan di bagian ujung sambil menyenderkan tubuhnya pada teralis kaca, tangannya bergerak membuka tutup botol air mineral yang tadi ia beli di kantin sekolah, lalu menegaknya. Sementara Bayu, mengambil posisi di atas meja lainnya di bagian depan dengan meja guru, dan Bima sedikit mendudukkan bokongnya pada meja guru dengan pempek bercuka yang dimasukkan kedalam plastik bening ditangannya.
Walaupun Bel tanda berakhirnya jam pelajaran baru saja berbunyi—sekarang baru saja menunjukkan waktu istirahat, namun sebagian siswa dan siswi di kelas itu sudah berganti pakaian dengan seragam putih abu-abu mereka bahkan sebelum bel berbunyi. Beberapa siswa langsung mangkal di kantin untuk membeli nasi uduk atau nasi sayur atau sekedar untuk membeli minuman pelepas dahaga mereka. Berbeda dengan para siswa, kaum cewek biasanya menghabiskan waktu mereka di toilet dan baru keluar setelah bel istirahat berbunyi. Hal itu yang masih menjadi misteri sampai sekarang alasan kenapa para siswi sangat menyukai berlama-lama didalam toilet.
Bima melempar bungkusan pempeknya ke dalam tong sampah dengan gaya bak pemain basket professional, lalu berdecak bangga saat lemparannya masuk tepat ke sasaran. Tangannya terulur mengambil sebotol air mineral di atas meja dan menyesap isinya hingga setengah.
"Cuy, ntar siang kan nggak ada jadwal penjas nih, futsal aja gimana?" Bima bersuara. Tangannya menaruh kembali botol air mineralnya di atas meja kemudian mengelap ujung mulutnya menggunakan punggung tangan. Matanya menatap Unggah dan Bayu secara bergantian.
"Di Dome?" tanya Unggah.
"Boleh deh," Ucap Bayu. Diikuti dengan anggukan dari Unggah.
Meskipun sebelumnya Unggah nampak berpikir, sebenarnya hari ini dia ingin membeli kado untuk diberikan kepada Rini saat cewek itu ulangtahun, tetapi Unggah masih bingung akan memberikan apa sebagai kadonya. Lagipula, Rini masih terus mendiaminya hanya karena masalah sepele itu. Daripada pusing memikirkan ketidakjelasan kisah cintanya, lebih baik dia mengiakan saja ajakan Bima barusan.
Unggah mengangguk, "Oke."
Ketiganya kembali ketempat duduk mereka masing-masing saat seorang guru berbadan besar dengan kacamata membingkai wajahnya dengan tegas. Menampilkan ekspresi gahar versi siswa-siswa. Setiap pasang mata yang melihat guru mata pelajaran PKN itu langsung menyimpulkan dalam hati mereka kalau sang guru yang memasuki kelas mereka saat ini termasuk kedalam 'geng Pasal 3 Ayat 1' yaitu; jika pasal tiga salah, kembali ke pasal satu.
***
Pada satu menit berikutnya satu kelas itu mengetahui bahwa nama guru mata pelajaran itu adalah Ibu Indriyani. Atau biasa murid memanggilnya Bu indri, Walikelas dari 11 IPS 2.
Ntah harus bersyukur bagaimana lagi karena mereka tidak mendapati Bu Indri sebagai wali kelas mereka, perawakannya yang terkesan seram menimbulkan presepsi buruk dimata siswa-siswa itu.
"Gue bisa tewas kalau dapet walikelas model beliau..." bisik Bayu pada Unggah pelan.
Mau tak mau, Unggah harus menyetujuinya. Mereka patut bersyukur karena mendapatkan walikelas semacam Bu Viola yang begitu keibuan dan sangat lemah-lembut. Tidak bisa dibayangkan jika harus mendapatkan walikelas semacam guru didepan mereka ini selama tiga tahun penuh. Kelas akan menjadi neraka, mungkin saja. Tapi... kening Unggah mengernyit ketika mendengar satu kelas disebutkan. Sepertinya...
"Kalau nggak salah, Ibu ini walikelasnya Hani deh." Unggah berbisik, bertepatan dengan suara Bu Indri yang kembali terdengar,
"Saya tidak suka jika anak didik saya tidak memiliki buku. Kau bisa membeli di koperasi buku ataupun meminjam dengan kakak kelas kalian yang pernah saya ajar," Satu tangan mengambil buku tebal berdominasi warna putih dan menunjukan ke arah siswa-siswanya. "Ini adalah bukunya. Kau-kau bisa mencatat nama penerbit dan pengarangnya, nanti." Lanjut Bu Indri.
"Kok lo bisa tahu, Ung?" tanya Bayu.
"Kenapa cuy, kenapa?" Bima tiba-tiba saja sudah menyembulkan kepalanya di antara Unggah dan Bayu dengan penasaran.
"Coba kalian bertiga," seluruh pasang mata yang ada dikelas itu lantas menoleh mengikuti tatapan tajam milik guru PKN nya bermuara. "Saya sedang menjelaskan buku yang akan kita pakai dalam dua semester kedepan, tetapi kau-kau ini malah asyik mengobrol."
Ketiganya menunduk. Kalau bukan karena suara Bima yang tidak tahu sikon ini, mereka tidak akan terkena semprot begini. Ini namanya pamali. Untuk cowok bandel, di marah guru memang bukan hal yang khusus, tapi ya juga harus tahu kondisi. Masa baru pertama kali masuk sudah kena daftar hitam?
"Apa yang sedang kalian obrolin? Coba maju ke depan dan ulangi obrolan seru kalian di sini." Perintah Bu Indri.
"Nggak, Bu. Tadi cuma nanya kalau mau beli buku barengan," Bima menjawab dengan suara pelan. Menampilkan ekspresi penuh penyesalan karena membuat sang guru naik pitam atas kesalahpahaman yang lagi-lagi menurutnya. Padahal, tidak ada kesalahpahaman yang sebenarnya terjadi.
Bu Indri diam. Wanita itu sebenarnya tahu kalau itu hanyalah bualan anak muridnya ini karena dirinya sendiri sudah mengajar selama hampir satu dekade dan pastinya sudah menyelami asam garam kehidupan. Bu Indri menghela napas dalam-dalam, "Ya sudah. Minggu depan mulai hafalan UUD dan Pasal. Tiga orang pertama maju untuk menyetor ke saya adalah kalian bertiga." Tukas Bu Indri.
Kemudian, sang guru PKN itu kembali melanjutkan bahasan tentang buku yang akan digunakan dalam mata pelajaran yang di ampunya.
***
Rini : Aku mau ngomong, nti jangan pulang dulu.
Unggah kembali mengingat pesan yang di terima nya tadi saat jam pelajaran terakhir. Tangannya bergerak memasukkan buku tulisnya kedalam tas ransel hitamnya saat merasakan tepukan pada bahu kirinya,
"Yuk, cabut!" Ajak Bayu. Satu tali ranselnya sudah menggantung dibahu kiri cowok itu.
"Yuk, yuk, yuk!" Bima bangkit dari duduknya dan berjalan duluan ke depan.
Unggah menutup resleting ranselnya, lalu berdiri. "Lo sama Bima duluan aja deh, ntar gue nyusul. Gue ada urusan bentar." Unggah menepuk pundak Bayu dan berlalu melewati cowok itu.
"Kemana?" Tanya Bima ketika Unggah mengatakan hal yang sama kepadanya saat berlalu dihadapannya.
"Eksekusi." Jawab Unggah singkat. Cowok itu melenggangkan kakinya keluar kelas tanpa menoleh ke arah dua sahabatnya itu lagi. Meninggalkan Bayu dan Bima yang menatap punggung Unggah sambil mengedikkan bahu.
***
"Apaan?" Unggah bertanya. Meminta Rini untuk mengulangi ucapannya untuk sekadar memastikan apakah pendengarannya itu benar atau salah. Namun, ketika Rini kembali mengulang kalimatnya, Unggah tahu kalau yang di dengarnya pertama kali adalah sebuah kebenaran.
"Kita putus aja." Kedua bola mata Rini menatap lurus-lurus Unggah. Tidak ada keraguan dibola mata itu, bahkan dari cara Rini mengatakan kalimat itu Unggah tahu kalau cewek itu sudah membulatkan tekadnya.
Unggah menarik napas pelan, "Kenapa?"
"Kamu udah berubah, nggak mau nurutin kemauan aku lagi, Ung." Rini mencebikkan bibirnya, "Aku butuh cowok yang—"
"Yang jago basket? Supaya bisa di pamerin sama temen-temen lo?" Unggah terkekeh sinis, "Jadi, setahun belakangan ini sia-sia aja dong apa yang udah gue lakuin buat lo, ya?" Tanya Unggah dengan satu sudut bibirnya yang terangkat ke atas kala mengatakan hal itu.
Rini menggenggam erat tali tas selempangnya, membalas pandangan Unggah dengan bara dikedua matanya. "Lo ngelakuin apa emangnya? Cuma disuruh daftar jadi anggota basket aja nggak mau. Nggak ada ambilan lagi lo itu!"
"Oke, kalau gue nggak ada ambilannya, putus aja."
"Jadi, lo milih putus daripada masuk ekskul basket?" Rini bertanya dengan intonasi kencang.
"Gue bukan boneka lo, Rini. Kalau lo pengin punya cowok anak Basket, cari aja. Tapi bukan gue. Paham?" Kata Unggah, rahangnya mengerat seiring mengatakan perkataannya tadi, kedua matanya menatap Rini dengan nyalang. Kemudian, tanpa menunggu balasan apapun dari cewek yang kini berstatus sebagai mantannya itu, Unggah melesat pergi.
Dia memang menyukai Rini, karena sikap manja cewek itu dulu kepadanya. Tetapi, Rini yang sekarang adalah Rini yang berbeda dengan yang di kenalnya dulu. Dan Unggah tidak menyukai fakta jika ada orang yang memerintahnya sesuka hati seperti yang Rini lakukan padanya. Jika perpisahan akhirnya menjadi jalan yang terbaik, maka itulah yang akan terjadi.
Rini menatap punggung Unggah yang menjauh itu dengan wajah memerah, "Unggah, lo bakalan nyesel karena mau putus sama gue!"
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co